Skip to main content

Posts

Tertahan Sementara

Perasaan aneh macam apa yang kurasakan, rasanya seperti kalah, padahal tidak ada perlombaan yang pernah benar-benar ku mulai. Tidak ada garis start, tidak ada peluit, tidak ada garis finish, tapi rasanya seperti tertinggal jauh di belakang. Melihat mereka jauh didepan, mereka yang mencoba mengejar garis finish nya, sementara diriku hanya tertahan jauh di belakangnya. Bagaimana mungkin aku bisa menyusulnya, sementara aku selalu menoleh ke belakang, ke arah yang seharusnya aku sudah beranjak dari sana. Lucu ya?, perasaan memang tidak pernah mengenal logika, secara sadar aku sudah tau, untuk tak perlu repot-repot ikut dalam perlombaan ini, aku seharusnya cukup duduk nyaman di kursi penonton, dan setidaknya aku hanya perlu melihat mereka melewati garis finish. Tapi tetap saja hati selalu menyisakan ruang kecil untuk menuntunku ikut dalam perlombaan. Ya akhirnya aku mengikuti perlombaan itu, aku mencoba berjalan ke arah garis start, menunggu peluit ditiupkan, dan tugasku hanyalah berlari se...

4 Valve DOHC 6 Speed

Kalian pernah denger gak sih tentang motor 4-tak, bermesin DOHC, dan punya transmisi 6 gigi? Gue anak motor, gue demen motor, jadi gue paham sedikit banyak tentang itu. Tapi tenang, disini gue gak mau bercerita tentang mesinnya secara teknis, tapi makna dibalik mesin itu. Anggap aja ini semacam filosofi hidup yang gue temuin di jalanan. Kalian mungkin belum semua paham gimana karakteristik mesin itu, jadi izinkan gue jelasin dikit. Mesin 4-tak bertipe DOHC punya karakter yang bisa dibilang lelet di start , tapi gila pas udah jalan . Kenapa gitu? Karena DOHC ( Double Over Head Camshaft ) artinya ada dua camshaft di kepala silinder — satu buat katup masuk, satu buat katup buang. Tujuannya biar mesin bisa "bernapas" lebih bebas di putaran atas. Bahasa simpelnya gini: lo bayangin lo lagi lari. Di awal, lo belum panas, napas masih berat, tenaga belum keluar semua. Tapi begitu udah dapet ritme dan badan mulai panas, lo justru makin kenceng. Nah, mesin DOHC tuh gitu. Dia baru bener-...

Spion Kanan

Hari demi hari berjalan, entah itu kemarin, hari ini, atau besok, kamu selalu sama. Dan tahukah kamu? Itu adalah bagian favoritku. Aku suka setiap kita berboncengan, mengendarai motor bersama, dan merayakan setiap kilometer yang terlewat di jalanan.  Aku bahkan tahu persis apa yang akan kamu lakukan selanjutnya. Memiringkan spion kanan ke arahku, lalu berbisik, 'Cantiknya'. Kamu membiarkan angin membawa kata-kata itu bersamamu, disertai senyum dan tatapan mata yang meneduhkan. Spion kananmu menangkap segalanya: saat-saat aku menangis, tertawa, cemberut, marah, sampai mengomel. Tapi kamu hanya tersenyum manis melihat pantulanku di sana. Saat-saat itu, aku selalu berpikir kita akan terus seperti ini selamanya. Setiap obrolan dan canda tawa yang kita bagi di atas motor, rasanya seperti perjalanan pulang dengan cerita yang tak pernah usai.  Aku tidak pernah berpikir bahwa suatu hari, spion kanan itu tak lagi menangkap wajahku. Karena aku sungguh percaya, kita akan terus melewati s...

Butterfly Era

Pernahkah kamu merasakan momen ketika jantungmu berdebar tanpa alasan jelas? Ketika sekedar melihat sapa seseorang sudah cukup membuat hari terasa lebih menyenangkan ? Itulah  butterfly era —fase indah penuh debar, penuh rasa canggung tapi menyenangkan. Seolah ada kupu-kupu beterbangan di dalam perutmu- "butterflies in your stomach"  ketika setiap kali bayangnya muncul di pikiran. Nyatanya, ada fase lain yang jauh lebih indah dari butterfly era. Fase di mana cinta tak lagi bergantung pada kejutan kecil atau rasa gugup yang singkat. Fase ketika kita mulai merasa aman, tenang, dan diterima apa adanya. Di titik ini, cinta berubah wujud. Bukan lagi sekadar debar, melainkan rasa nyaman yang menenangkan . Bukan lagi soal kata-kata manis, melainkan tindakan sederhana yang tulus . Bukan lagi soal siapa yang membuatmu tertawa sesaat, melainkan siapa yang selalu ada—bahkan ketika hari terasa berat. Butterfly era memang manis, tapi keindahan sejati hadir setelahnya. Saat cinta tumbuh...

Mindful Love

Terkadang memang kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang diberikan anugerah bernama perasaan, akan selalu merasakan cinta. Bahkan cinta itu tidak hanya tertuju pada sesama manusia, tetapi juga bisa kepada benda, tempat, atau bahkan kenangan. Namun, sering kali kita tidak menyadari bahwa saat mencintai sesuatu, pikiran kita seakan hanya tertuju pada satu titik. Kita terlalu banyak berputar-putar hanya kepada satu hal yang sama, hingga kita perlahan kehilangan kesadaran diri. Di situlah pentingnya konsep  mindful love —sebuah cinta yang hadir dengan kesadaran. Cinta yang tidak membutakan, melainkan membuka mata dan hati kita. Bukan cinta yang membuat kita melayang-layang tidak jelas tanpa arah, melainkan mendewasakan. Mindful love juga berarti bahwa mencintai bukan berarti kehilangan diri sendiri, melainkan menemukan keseimbangan: antara memberi dan menjaga, antara melepas dan menggenggam. Ketika cinta disertai kesadaran, kita tidak lagi menuntut untuk memiliki, tetapi belajar mengha...

Ujian yang Tak Usai?

 Aku mendapati diriku kembali duduk di bangku SMA. Hari itu, jadwal ujian Biologi tiba-tiba datang menghampiri, meski aku tak paham mengapa harus mengikutinya. “Apa pentingnya ujian ini bagiku?” pikirku bingung. Namun, entah dorongan dari mana, aku tetap memutuskan untuk ikut. Aku memilih duduk di barisan paling belakang, shaft kedua dari empat. Guru mulai membagikan lembar soal, dan perasaanku sempat tenang—aku merasa siap, seolah ujian ini takkan sulit. Aku awali mengambil kertas dari buku tulis untuk dijadikan lembar jawaban. Namun, saat mulai mengerjakan, semua keyakinan itu runtuh. Satu soal pun tak mampu kujawab. Menuliskan nama saja terasa berat. Meskipun dalam pikiranku, soal ini gampang, bahkan dengan waktu terbataspun aku bisa mengerjakanya. Waktu berjalan. Di depan mataku, teman-temanku sudah melaju, bahkan ada yang sampai nomor dua puluh lima. Panik mulai menggerogoti. Aku takut, tak hanya karena tak bisa mengerjakan, tapi juga karena tertinggal jauh, sementara lembar...

Impian Harapan & Perasaan

Ada jalan panjang yang tak bertepi, di mana langkah kita terbentuk dari impian dan harapan. Yang membawa sebuah tunas di genggamannya, tunas itu berbentuk perasaan, namun tunas itu sering goyah oleh angin keraguan. Setiap harapan ditenun dari daunnya, setiap perasaan ditanamkan pada tanah yang sunyi. Namun semakin bertumbuh, semakin berat beban yang tak terlihat: bayangan tentang mampu atau tidak menopangnya, mengikat hasil yang telah lama diharapkan kepada langit yang tak pernah menjawab. Langit itu adalah musim semi, tunas yang ingin dijaga dari musim dingin yang panjang. Namun sayangnya hanyalah tanah kering yang terus memohon hujan. Dalam takut: apakah tunasnya bisa menumbuhkan bunga, atau justru membiarkannya layu? Namun perasaan tak pernah lahir dari kepastian. Perasaan tumbuh dari keberanian, Yang memilih bertahan meski dipenuhi retakan. Maka harus terus bertumbuh, karena disitu ada impian dan harapan, menjaga tunas kecil itu dari badai dan kekeringan, dengan...