Aku mendapati diriku kembali duduk di bangku SMA. Hari itu, jadwal ujian Biologi tiba-tiba datang menghampiri, meski aku tak paham mengapa harus mengikutinya. “Apa pentingnya ujian ini bagiku?” pikirku bingung. Namun, entah dorongan dari mana, aku tetap memutuskan untuk ikut.
Aku memilih duduk di barisan paling belakang, shaft kedua dari empat. Guru mulai membagikan lembar soal, dan perasaanku sempat tenang—aku merasa siap, seolah ujian ini takkan sulit. Aku awali mengambil kertas dari buku tulis untuk dijadikan lembar jawaban. Namun, saat mulai mengerjakan, semua keyakinan itu runtuh. Satu soal pun tak mampu kujawab. Menuliskan nama saja terasa berat. Meskipun dalam pikiranku, soal ini gampang, bahkan dengan waktu terbataspun aku bisa mengerjakanya.
Waktu berjalan. Di depan mataku, teman-temanku sudah melaju, bahkan ada yang sampai nomor dua puluh lima. Panik mulai menggerogoti. Aku takut, tak hanya karena tak bisa mengerjakan, tapi juga karena tertinggal jauh, sementara lembar jawabanku masih kosong. Dalam putus asa, aku memberanikan diri bertanya pada teman di depanku. Dengan ramah ia menyerahkan kertas jawabannya.
Namun keanehan terjadi—meskipun jawabannya jelas beragam: A, B, C, D, dan E, entah mengapa tanganku hanya bisa menulis huruf A. Aku frustrasi. Berkali-kali kuambil kertas dari buku tulis, mencoba menyalin ulang, tapi tetap sama. Hingga kertas habis, waktu pun hampir habis. Anak-anak mulai mengumpulkan kertas jawaban satu persatu.
Karena melihat aku sendiri yang belum selesai, guru akhirnya memberi tambahan tiga puluh menit. Aku merasa sedikit lega. Seorang teman lain menolong dengan memberikan lembar jawabannya. Kali ini aku berhasil menyalin dengan benar, tidak lagi terpaku pada huruf A. Tapi saat sampai nomor dua puluh enam, yang dimana jawaban bukan lagi tentang pilihan ganda, melainkan isian, tanganku mendadak kaku. Aku paksa menulis, tapi jemariku seakan membeku. Perasaan aneh macam apa ini, kenapa disaat sebelumnya aku kesulitan dengan soal pilihan ganda mendadak aku bisa menulisnya, namun sekarang kenapa bahkan tidak mampu menuliskan satu kalimat pun pada soal isian ini. Saat itu juga perasaan cemas dan gusar kembali datang. Soal demi soal menunggu, sementara waktu terus berjalan.
Dan akhirnya bel berbunyi. Tak ada lagi tambahan waktu untukku. Dengan langkah berat dan hati cemas, aku mengumpulkan lembar jawaban yang jauh dari sempurna. Aku bahkan sudah tidak pernah memikirkan hasil apa yang akan aku dapat, yang bisa kulakukan saat ini, hanyalah berharap keajaiban semoga lembar jawabanku terisi dengan jawaban yang benar.
Lalu aku terbangun. Nafas terengah, dada sesak. Aku sadar, semua itu hanyalah mimpi. Sebuah kegagalan semu—atau mungkin bukan kegagalan? Aku telah berusaha sekeras mungkin, namun tetap saja tanganku tidak dapat diajak kerjasama. Mungkin, di balik semua ketidakberdayaan itu, aku menyadari bahwa meskipun sudah berusaha keras, ada hal-hal yang tetap tidak bisa dikendalikan. Seakan ada pesan yang ingin Tuhan sampaikan: bahwa kita hanya bisa berusaha sebaik mungkin, selebihnya, biarlah kehendak-Nya yang menentukan.
Comments
Post a Comment