Prologue
"Jangan bawa perasaan di grup"
Raka tahu aturan itu. Semua orang tahu.
Lalu datanglah Nara.
Awalnya biasa saja. Ia hanya anggota baru yang sering muncul di kanal musik setiap malam. Suaranya tenang, dan caranya mendengarkan membuat siapa pun merasa dihargai.
Mereka semua mulai sering berbincang. Tentang film, musik, konspirasi, sampai mimpi-mimpi yang bahkan belum berani mereka ceritakan kepada dunia nyata.
Tanpa sadar, Raka mulai menunggu notifikasi yang hanya berasal dari satu nama.
Kalimat itu berkali-kali muncul di kepalanya.
Ia ingin mengatakannya. Sangat ingin.
Namun setiap kali jari-jarinya menyentuh keyboard, kata-kata itu menghilang begitu saja.
"Hi..."
Dihapus.
"Apakah kamu sibuk..."
Dihapus lagi.
Berulang kali.
Berkali-kali ia mencoba merangkai kata-kata. Berkali-kali pula layar chat hanya dipenuhi tulisan yang tak pernah terkirim.
Ironisnya, di Republik Maya semua orang pandai berbicara termasuk Raka. Mereka bisa berdebat berjam-jam tentang game, musik, politik, bahkan teori konspirasi. Tetapi ketika Raka ingin menyapa Nara, ia mendadak kehilangan bahasa.
Malam demi malam berlalu.
Raka mulai bertanya pada dirinya sendiri.
Barangkali Nara juga menyimpan pertanyaan yang sama.
Barangkali tidak.
Dan justru "barangkali" itulah yang paling sulit dijelaskan.
Suatu hari, Nara bercerita bahwa ia akan jarang online.
Kesibukan?
Pekerjaan baru?
Mungkin pindah kota?
Atau hanya ingin istirahat saja?
Tidak ada yang benar-benar tahu.
Semua anggota grup mengucapkan semoga sukses. Memberi emoji tepuk tangan. Mengirim GIF lucu seperti biasa.
Raka pun ikut mengirim.
"Semangat ya :)"
Hanya itu.
Padahal di balik dua kata sederhana itu, ada ribuan kalimat yang tak pernah lahir.
Malam itu, ruang musik terasa lebih sepi.
Lagu-lagu tetap diputar.
Orang-orang tetap bercanda.
Grup tetap hidup.
Hanya saja, seseorang yang selama ini menjadi alasan Raka membuka Republik Maya setiap malam kini perlahan menghilang dari daftar online.
Beberapa hari kemudian, avatar Nara mulai jarang terlihat menyala.
Statusnya berubah menjadi Invisible.
Dan akhirnya, hanya tersisa pesan-pesan lama yang terus naik ketika Raka menggulir layar ke atas.
Ia membaca semuanya.
Tertawa sendiri.
Lalu terdiam.
Di situlah ia akhirnya mengerti.
Kadang memang seseorang harus berani memaksa untuk bicara.
Tetapi anehnya, itu juga yang membuat seseorang sering kehilangan seluruh kosakatanya.
Ia tak pernah tahu apakah Nara juga memikirkan hal yang sama.
Ia juga tak pernah tahu apakah jika malam itu ia benar-benar mengirimkan pesan itu, ceritanya akan berbeda.
Dan seperti banyak kisah lain di Republik Maya...
Cerita ini bukan tentang bagaimana seseorang jatuh cinta.
Melainkan tentang apa yang terjadi ketika seseorang terlambat mengucapkan sesuatu yang sebenarnya sudah lama ingin ia katakan.
Karena tidak semua penyesalan lahir dari kata-kata yang salah.
Kadang...
Penyesalan lahir dari kata-kata yang tidak pernah terkirim.
Comments
Post a Comment