Waktu tak pernah berjalan mundur, namun hati sering kali tertinggal di belakang. Kita adalah dua manusia yang sedang merajut indahnya dunia, sebelum ego dan kelalaian menggunting benang-benang kesetiaan hingga kusut dan tak berbentuk. Kini, di dalam ruang sunyi yang riuh oleh gemuruh penyesalan, hanya ada puing kenangan dan sesal yang berdengung sepi. Mengakui rontoknya rasa akibat keangkuhan diri adalah sebuah kepahitan, menyaksikan keindahan masa lalu yang kini menjelma menjadi debu di sudut ingatan. Di ambang pintu masa lalu yang terkunci, terselip sebuah doa kecil yang dipanjatkan dalam diam. Sebuah ratapan yang mengharap poros waktu sudi berputar balik, sekadar untuk mengetuk kembali hati yang telah telanjur tertutup. Ada sebaris pinta yang tulus untuk memeluk kembali hangat yang hilang, bukan untuk berpura-pura bahwa luka tidak pernah ada, melainkan untuk menyembuhkannya bersama. Permintaan maaf ini adalah sebuah penyerahan diri, sebuah pengakuan bahw...