Selamat Datang di Rumah
Seminggu telah berlalu sejak malam ketika Kevin dan anggota Republik Maya mendatangi apartemen Yana.
Jakarta kembali sibuk seperti biasanya.
Lampu lalu lintas berganti warna tanpa pernah benar-benar memberi jeda. Deretan kendaraan kembali memenuhi jalan sejak pagi. Orang-orang berangkat bekerja, mengejar waktu, mengejar mimpi, atau sekadar menjalani rutinitas yang sama seperti hari-hari sebelumnya.
Begitu pula dengan Raka. Setiap pagi ia tetap berangkat ke kantor penerbitan. Membawa tas ransel hitam yang mulai terlihat usang. Menyapa satpam di lobi. Naik lift menuju lantai editorial. Duduk di meja kerjanya. Membuka laptop. Lalu menatap layar cukup lama sebelum mulai bekerja.
Rutinitasnya tidak berubah. Namun, ada satu hal yang terasa berbeda.
Meja di sudut ruangan itu, akhirnya kembali terisi.
Saras sudah kembali bekerja. Tidak ada pengumuman khusus. Tidak ada penyambutan. Ia datang seperti biasa. Mengenakan kemeja putih sederhana dengan cardigan abu-abu favoritnya.
Membawa segelas kopi. Menyapa semua orang dengan senyum yang sama.
"Selamat pagi."
"Selamat pagi, Mbak Saras."
"Morning."
Tak ada yang menganggap aneh. Bagi rekan-rekan kantor, Saras memang hanya mengambil cuti untuk beristirahat. Tidak lebih.
Namun, bagi Raka, kehadiran perempuan itu justru membuat pikirannya semakin penuh. Sejak hari pertama Saras kembali, mereka hampir tidak pernah berbicara lebih dari urusan pekerjaan.
"Rak, halaman empat belas masih ada typo."
"Siap, Sar."
"Bab tiga bisa dipadatkan sedikit."
"Baik."
"Itu aja."
"Iya."
Hanya sebatas itu. Bukan karena mereka saling menghindari. Melainkan karena mereka sama-sama belum tahu harus memulai dari mana. Raka beberapa kali ingin bertanya.
"Apa kabar?"
"Kenapa waktu itu menghilang?"
"Kenapa Nara juga ikut menghilang?"
Namun setiap kali pertanyaan itu hampir keluar, ia selalu mengurungkannya. Bukan karena takut. Melainkan karena merasa, belum waktunya.
...
Malam hari, Republik Maya perlahan kembali hidup. Voice Channel kembali dipenuhi suara tawa. Adit masih menjadi orang paling berisik.
"WOI!"
"Rio!"
"Main yang bener dong!"
Rio hanya terkekeh.
"Skill issue."
Miko masih setia mengoreksi semua strategi mereka.
"Kalau muter dari kiri lebih cepat."
Mia masih sesekali menghilang karena sedang siaran langsung. Kevin tetap seperti biasa. Menjadi orang yang paling sering mendengarkan. Server itu kembali ramai. Kembali hidup. Namun, Raka selalu memperhatikan satu hal. Nama Nara memang sudah kembali muncul di daftar anggota.
Tetapi, lampu hijaunya tidak sesering dulu. Kadang online. Kadang offline. Kalaupun masuk voice, ia hanya mendengarkan. Tidak banyak bercanda. Tidak lagi menjadi perempuan yang selalu menghidupkan suasana. Raka beberapa kali mencoba mengajaknya berbicara.
"Nar..."
"Hmm?"
"Udah baikan?"
"Iya kok."
Jawaban itu selalu sama. Singkat. Hangat. Tetapi terasa ada jarak. Dan Raka tidak tahu, jarak itu datang dari mana.
...
Di sisi lain. Kevin memilih diam. Rio sebenarnya beberapa kali bertanya.
"Vin."
"Lu yakin kita gak perlu bantu lagi?"
Kevin mengangguk pelan sambil menyendok kuah Indomie dari mangkuknya.
"Enggak."
"Loh?"
"Kita udah ngelakuin bagian kita."
Adit yang sedang menyeruput es teh langsung menyela.
"Emangnya udah selesai?"
Kevin tersenyum kecil.
"Belum."
"Terus?"
"Selebihnya..."
"...biar Tuhan yang bekerja."
Semua terdiam. Tak ada lagi yang membahas Raka maupun Yana malam itu. Mereka percaya, ada beberapa pertemuan yang memang tidak boleh dipaksakan.
...
Hari Minggu tiba. Untuk pertama kalinya setelah sekian minggu. Raka tidak memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan. Ia bangun sedikit lebih siang. Membantu ibunya menyiram tanaman di depan rumah. Membersihkan motor. Lalu duduk di teras sambil memandangi langit yang sejak pagi dipenuhi awan tipis. Ibunya keluar membawa dua gelas teh hangat.
"Dari kemarin ibu lihat kamu banyak melamun."
Raka tersenyum kecil.
"Kelihatan ya, Bu?"
"Iya."
Ibunya duduk di sampingnya.
"Capek kerja?"
Raka menggeleng.
"Bukan."
"Lagi banyak pikiran aja."
Ibunya mengangguk pelan. Tidak bertanya lebih jauh. Sejak kecil, ibunya selalu tahu. Ada beberapa luka yang tidak bisa disembuhkan dengan pertanyaan. Hanya bisa ditemani sampai pemiliknya siap bercerita. Setelah beberapa menit menikmati teh hangat. Raka berdiri.
"Bu."
"Aku keluar bentar ya."
"Mau ke mana?"
Raka memasang helmnya.
"Gak tahu."
"Pengen muter aja."
Ibunya hanya tersenyum.
"Hati-hati."
"Iya, Bu."
Saat Raka hendak mengambil kunci motor di atas meja, langkahnya terhenti. Pandangannya tanpa sengaja jatuh pada sebuah bingkai foto yang tergantung di dinding ruang tamu.
Foto almarhum ayahnya.
Sudah bertahun-tahun bingkai itu berada di tempat yang sama. Setiap pagi sebelum berangkat kerja dan setiap malam sebelum tidur, Raka hampir selalu melihatnya. Namun hari itu, entah mengapa, ia melangkah mendekat.
Perlahan, ia mengangkat bingkai tersebut. Permukaan kacanya mulai dipenuhi debu tipis. Dengan ujung lengan bajunya, ia mengusap perlahan hingga wajah ayahnya kembali terlihat jelas.
Raka tersenyum kecil.
"Kangen ya, Yah..."
gumamnya lirih.
Saat hendak meletakkan kembali bingkai itu, sesuatu tiba-tiba meluncur dari baliknya.
Pluk.
Selembar foto kecil jatuh ke lantai. Raka mengernyit. Ia membungkuk, lalu mengambil foto yang mulai menguning dimakan usia itu. Begitu melihat isinya, napasnya seketika tertahan.
Di dalam foto itu, tampak tiga anak kecil sedang tertawa di bawah sebuah pohon mangga tua. Seorang anak laki-laki berdiri sambil mengangkat ranting kecil seperti pedang. Di sampingnya, seorang anak perempuan sedang tertawa sambil memegang sebungkus permen. Sementara satu anak laki-laki lainnya duduk di atas ayunan kayu yang digantung di dahan pohon.
Sudut bibir Raka perlahan terangkat. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Basara..."
gumamnya pelan, seolah memanggil dirinya sendiri di masa lalu. Kenangan yang selama ini terkubur perlahan kembali memenuhi kepalanya. Suara tawa. Ayunan yang berderit tertiup angin. Aliran sungai kecil. Dan pohon mangga yang selalu menjadi tempat mereka pulang setiap sore.
Tanpa sadar, jemarinya mengusap pelan wajah anak perempuan dalam foto itu. Seolah ada bagian dari dirinya yang selama ini tidak pernah benar-benar melupakannya. Raka mengembuskan napas panjang. Lalu memasukkan foto kecil itu ke dalam dompetnya.
"Hari ini..."
"...kayaknya aku pengin ke sana lagi."
Ia mengambil kunci motornya. Mengenakan helm. Lalu melangkah keluar rumah. Suara mesin motor perlahan menjauh meninggalkan halaman rumah.
...
Di waktu yang hampir bersamaan, di sebuah apartemen di Jakarta. Saras berdiri di depan cermin. Ia mengenakan kemeja lengan panjang berwarna krem dan celana jeans sederhana.
Tidak ada riasan.
Tidak ada parfum berlebihan.
Ia hanya mengikat rambutnya seadanya.
Di atas meja, terdapat sebuah kotak kecil berisi beberapa benda yang selama bertahun-tahun selalu ia simpan.
Sebuah foto lama.
Selembar kertas lusuh.
Dan sebungkus permen stroberi.
Saras memandang benda-benda itu cukup lama. Lalu tersenyum tipis.
"Hari ini..."
"...aku cuma pengen pulang sebentar."
Ia mengambil kunci mobil. Mematikan lampu apartemen. Lalu keluar. Tidak memberi tahu Kevin. Tidak memberi tahu Republik Maya. Tidak memberi tahu siapa pun.
Karena hari itu, ia hanya ingin kembali mengunjungi tempat yang selama ini hidup di dalam ingatannya.
Tempat di mana seorang anak perempuan bernama Yana pernah berjanji, bahwa ia tidak akan pernah meninggalkan dua sahabat kecilnya.
Dan tanpa pernah mereka sadari, di bawah langit Minggu yang cerah itu, dua orang sedang menempuh jalan yang berbeda.
Menuju tempat yang sama.
...
Motor Raka melaju pelan meninggalkan hiruk-pikuk kota. Semakin jauh ia berkendara, jalanan mulai berubah.
Gedung-gedung tinggi perlahan berganti dengan rumah-rumah sederhana. Trotoar yang ramai berubah menjadi jalan kecil yang dipayungi pepohonan.
Udara pun terasa berbeda. Lebih sejuk. Lebih tenang.
Raka tidak benar-benar mengingat setiap tikungan yang ia lewati. Namun anehnya, tangannya seperti tahu harus membawa motor itu ke mana.
Seolah tubuhnya masih menyimpan ingatan yang sudah lama dilupakan pikirannya. Beberapa menit kemudian, ia memperlambat laju motornya.
Di hadapannya terbentang sebuah jalan kecil yang dipenuhi pepohonan rindang. Raka mematikan mesin motornya.
Sunyi.
Hanya terdengar suara burung-burung yang sesekali melintas. Ia melepas helmnya perlahan. Menghirup udara dalam-dalam.
"...Masih sama."
Meski banyak bangunan baru bermunculan di sekitar kampung itu, ada satu tempat yang hampir tidak berubah.
Di ujung jalan. Masih berdiri kokoh, sebatang pohon mangga tua. Pohon yang pernah menjadi saksi begitu banyak tawa anak-anak.
...
Di sisi lain, sebuah mobil berwarna putih perlahan berhenti tak jauh dari lokasi yang sama. Saras mematikan mesin mobilnya. Ia tidak langsung turun. Tangannya masih menggenggam kemudi. Matanya menatap lurus ke arah pohon mangga yang terlihat dari kejauhan.
Sudah belasan tahun, ia tidak pernah benar-benar kembali ke tempat itu. Bukan karena tidak ingin.
Melainkan, karena tidak pernah memiliki keberanian.
Hari ini ia memberanikan diri. Saras mengambil napas panjang. Kemudian membuka pintu mobil. Angin sore langsung menyambutnya. Membawa aroma tanah yang begitu akrab.
Ia tersenyum kecil.
"Aku pulang..."
bisiknya pelan.
Langkah Saras terasa lambat. Setiap beberapa meter ia berhenti. Memperhatikan rumah-rumah yang dulu pernah dikenalnya. Sebagian sudah direnovasi. Sebagian lagi berganti penghuni. Warung kecil di pojok jalan kini sudah menjadi minimarket. Lapangan tempat mereka bermain layang-layang kini dipenuhi rumah-rumah baru.
Namun ketika pandangannya jatuh pada pohon mangga tua itu. waktu seolah berhenti.
Pohon itu masih sama. Batangnya memang lebih besar. Kulit kayunya semakin kasar. Namun bentuknya tetap sama. Tanpa sadar, Saras tersenyum. Ia berjalan mendekat. Lalu mengusap perlahan batang pohon itu dengan telapak tangannya.
Seolah sedang menyapa seorang teman lama.
"Kamu masih berdiri di sini ya..."
gumamnya.
Matanya mulai berkaca-kaca. Di bawah pohon itulah, seorang anak perempuan bernama Yana pernah tertawa tanpa memikirkan apa pun.
Di bawah pohon itu pula, ia pernah mengucapkan janji yang pada akhirnya tidak mampu ia tepati.
...
Sementara itu...
Raka memilih memarkir motornya di sisi jalan. Ia berjalan perlahan menyusuri jalan setapak menuju pohon mangga. Sesekali ia tersenyum sendiri ketika melihat beberapa sudut yang masih dikenalnya.
"Di sini dulu..."
"...aku pernah jatuh dari sepeda."
"Di sana..."
"...Jay pernah dikejar angsa."
Raka terkekeh kecil. Kenangan-kenangan itu bermunculan begitu saja. Ringan. Hangat.
Hingga akhirnya...langkahnya perlahan terhenti.
Dari kejauhan...ia melihat seseorang sedang berdiri membelakanginya.
Seorang perempuan. Rambut panjangnya tertiup angin sore. Tangannya masih menyentuh batang pohon mangga.
Entah mengapa, siluet itu terasa begitu familiar. Raka memicingkan mata.
"...Saras?"
Suara itu membuat perempuan tersebut perlahan menoleh. Mata mereka bertemu. Untuk sesaat tidak ada yang berbicara. Saras tampak sedikit terkejut.
Namun keterkejutan itu perlahan berubah menjadi senyum yang begitu lembut.
"Halo..."
sapanya pelan.
"Raka."
Raka ikut tersenyum.
"Kirain aku salah lihat."
"Ngapain Sar di sini?"
Saras mengalihkan pandangannya kembali ke arah pohon mangga.
"Aku..."
"...lagi pulang."
Raka mengernyit pelan.
"Pulang?"
"Iya."
"Pulang ke tempat yang udah lama banget gak aku datengin."
Raka memandang sekeliling.
"Loh..."
"Emang kamu dulu tinggal di sekitar sini?"
Saras mengangguk pelan.
"Waktu kecil."
Raka tersenyum kecil.
"Serius?"
"Iya."
"Wah..."
"Berarti kita sama."
"Aku juga dulu sering main di sini."
Saras menoleh. Tatapannya seakan sedikit berubah.
"Aku tahu."
Raka tertawa kecil.
"Iya sih, tadi aku keceplosan."
"Maksudku..."
"...aku juga dulu tinggal di sini."
Saras hanya tersenyum. Ia tahu. Lebih dari yang Raka bayangkan. Namun hari itu ia tidak ingin terburu-buru.
Ia ingin untuk pertama kalinya bercerita sebagai dirinya sendiri.
Bukan sebagai Nara.
Bukan sebagai Saras.
Bukan sebagai seseorang yang sedang menyembunyikan identitasnya. Melainkan sebagai seorang perempuan yang akhirnya kembali ke tempat di mana semuanya bermula.
Saras memandang ayunan kayu yang kini tinggal menyisakan seutas tali usang di salah satu dahan. Lalu ia menoleh kepada Raka.
"Rak..."
"Duduk sebentar, yuk."
Raka mengangguk.
"Boleh."
Keduanya kemudian duduk berdampingan di bawah pohon mangga tua itu. Tak ada yang menyadari...bahwa sore itu, takdir akhirnya mempertemukan mereka kembali.
Bukan sebagai senior dan junior.
Bukan sebagai Nara dan Raka.
Melainkan dua anak kecil yang pernah dipisahkan oleh waktu.
...
Angin sore berembus pelan. Daun-daun mangga berguguran satu per satu. Di kejauhan, terdengar suara anak-anak berlarian di lapangan kecil. Sesekali terdengar tawa mereka, begitu lepas, begitu akrab.
Raka dan Saras duduk berdampingan di bawah pohon mangga tua. Tak ada yang berbicara. Mereka hanya memandangi hamparan rumput di depan mereka.
Rasanya aneh. Padahal mereka sudah berkali-kali mengobrol di Discord. Sudah berbulan-bulan bekerja di kantor yang sama.
Namun justru sore itu terasa seperti percakapan pertama mereka.
Saras menarik napas panjang.
"Rak..."
"Hm?"
"Boleh aku cerita sesuatu?"
Raka mengangguk.
"Tentu."
Saras tersenyum kecil.
"Tapi..."
"...jangan dipotong dulu ya."
Raka tertawa pelan.
"Iya."
"Aku janji."
Saras kembali memandang ke depan. Matanya mengikuti beberapa daun mangga yang jatuh perlahan ke tanah.
"Dulu..."
"...di tempat ini..."
"...aku punya dua sahabat."
Raka ikut memandang ke arah yang sama.
"Oh ya?"
"Iya."
"Mereka nyebelin."
Raka tertawa.
"Emang kenapa?"
"Yang satu suka sok jago."
"Yang satu lagi penakut."
"Tapi kalau ada yang ganggu aku..."
"...mereka berdua selalu paling depan."
Raka tersenyum.
"Berarti mereka baik."
"Iya."
"Baik banget."
Saras terdiam sejenak. Senyumnya perlahan berubah menjadi sendu.
"Kami hampir setiap sore main di sini."
"Kadang manjat pohon."
"Kadang main ayunan."
"Kadang nyari capung atau ikan."
"Kadang..."
"...cuma duduk makan permen."
Raka tersenyum kecil.
"Enak ya masa kecil."
"Iya."
"Enak."
"Terlalu enak..."
"...sampai aku pikir semuanya bakal selamanya."
Suasana kembali sunyi. Beberapa detik berlalu. Lalu Saras melanjutkan.
"Suatu hari..."
"...ayahku dipindahkan kerja."
Raka perlahan menoleh.
"Aku harus pindah."
"Pindahnya mendadak."
"Malam itu juga kami beres-beres."
"Aku bahkan gak sempat pamit."
Suaranya mulai bergetar.
"Besok paginya..."
"...aku udah gak ada di sini."
Raka mendengarkan dengan saksama. Tidak menyela sedikit pun. Saras mengusap pelan sudut matanya.
"Selama bertahun-tahun..."
"...aku selalu kepikiran."
"Apakah mereka marah."
"Apakah mereka sedih."
"Atau..."
"...mereka udah lupa."
Raka tersenyum kecil.
"Kalau sahabat beneran..."
"...kayaknya gak gampang lupa deh."
Saras menunduk.
"Itu juga yang aku harapkan."
Ia memungut sehelai daun mangga yang jatuh di sampingnya. Memutar-mutarnya di antara jemari.
"Lalu..."
"...beberapa tahun yang lalu..."
"...aku mulai nyari mereka."
Raka masih diam.
"Aku cari ke kampung ini."
"Udah beda."
"Aku tanya tetangga."
"Banyak yang udah pindah."
"Aku cari lewat media sosial."
"Gak ketemu."
"Aku hampir nyerah."
"Tapi akhirnya..."
"...aku nemu salah satu dari mereka."
Raka tersenyum.
"Syukurlah."
"Iya."
Raka mengangguk pelan.
"Terus?"
"Dia yang cerita..."
"...kalau sahabat satunya lagi..."
"...udah berubah banyak."
"Dia bilang..."
"...anak itu sekarang namanya Raka."
Raka sedikit terdiam. Entah mengapa, dadanya mulai terasa sesak. Saras melanjutkan.
"Aku pengin banget ketemu."
"Tapi aku takut."
"Takut dia udah benci sama aku."
"Takut dia gak mau kenal lagi."
"Takut..."
"...aku cuma jadi kenangan yang pengin dia lupain."
Raka perlahan menatap wajah Saras. Ada sesuatu yang mulai terasa tidak biasa. Namun ia belum mampu menjelaskan apa.
...
Saras tersenyum kecil.
"Akhirnya..."
"...Sanjay bikin satu tempat."
"Tempat buat mempertemukan kami lagi."
"Republik Maya."
Jantung Raka berdegup lebih cepat. Ia mulai menghubungkan beberapa hal. Namun ia masih memilih diam.
"Aku masuk ke sana..."
"...bukan buat nyari pacar."
"Bukan juga buat main game."
"Aku cuma..."
"...pengen tahu."
"Apakah sahabat kecilku..."
"...baik-baik aja."
Raka menelan ludah. Tangannya mulai terasa dingin. Saras menatap langit sore yang mulai berubah jingga.
"Lalu..."
"...aku ketemu seseorang."
"Dia baik."
"Dia lucu."
"Kadang nyebelin."
"Kadang keras kepala."
"Tapi..."
"...setiap ngobrol sama dia..."
"...aku selalu ngerasa."
"'Ini masih Basara.'"
Nama itu kembali terdengar. Untuk kesekian kalinya. Raka membeku.
Basara.
Nama itu hanya diketahui segelintir orang. Ia mulai menatap Saras dengan penuh tanda tanya. Saras tersenyum kecil. Namun senyumnya kali ini dipenuhi air mata.
"Rak..."
"Aku boleh cerita satu hal terakhir?"
Suara Raka hampir tak terdengar.
"...boleh."
Saras menarik napas panjang. Lalu perlahan berkata,
"Dulu..."
"...di kampung ini..."
"...semua orang manggil aku..."
Ia berhenti. Air matanya jatuh perlahan.
"...Yana."
Sunyi.
Tidak ada suara.
Tidak ada angin.
Tidak ada tawa anak-anak.
Seolah seluruh dunia ikut berhenti bersama satu nama itu. Raka mematung. Matanya membesar. Pikirannya dipenuhi potongan-potongan kenangan yang saling bertabrakan.
Permen stroberi.
Ayunan.
Pohon mangga.
Suara tawa seorang anak perempuan.
Discord.
Nara.
Kantor.
Saras.
Semuanya...
menyatu.
Ia menatap perempuan di depannya dengan napas yang mulai memburu. Bibirnya bergetar.
"...Yana?"
Saras mengangguk pelan.
"Iya..."
Air matanya mengalir tanpa bisa ditahan.
"Aku..."
"...Yana."
Raka masih tidak bergerak. Ia hanya menatap. Seolah takut jika ia berkedip semua ini akan menghilang.
Beberapa detik kemudian, tawa kecil keluar dari bibirnya. Tawa yang bercampur tangis.
"Jadi..."
"...selama ini..."
"...kamu?"
Saras kembali mengangguk.
"Iya."
"Selama ini..."
"...aku."
Raka menundukkan kepalanya. Kedua tangannya menutupi wajah. Tangis yang selama ini ia tahan akhirnya pecah. Bukan karena kehilangan. Bukan karena penyesalan semata.
Melainkan karena setelah bertahun-tahun mencari jawaban, ia akhirnya menemukan orang yang selama ini hidup di dalam kenangannya.
Dan orang itu, ternyata tidak pernah benar-benar pergi.
...
Tangis Raka pecah. Ia menundukkan kepala cukup lama. Bahu laki-laki itu bergetar pelan. Bukan tangis yang meledak-ledak. Melainkan tangis yang selama bertahun-tahun tertahan di dalam dada.
Yana tidak berani mendekat. Ia hanya memandang Raka dari tempatnya duduk. Air matanya pun tak berhenti mengalir.
Selama bertahun-tahun, ia membayangkan bagaimana reaksi Basara jika suatu hari mengetahui siapa dirinya.
Marah.
Kecewa.
Membencinya.
Namun ia tidak pernah membayangkan, bahwa laki-laki itu justru akan menangis seperti sekarang.
Beberapa menit berlalu. Tak satu pun dari mereka berbicara. Hanya suara angin yang sesekali menggoyangkan dedaunan pohon mangga.
...
Raka perlahan mengangkat wajahnya. Matanya merah. Namun tatapannya tidak lagi dipenuhi kebingungan. Ia menatap Yana lama. Sangat lama. Seolah sedang memastikan, bahwa perempuan di hadapannya benar-benar nyata.
"Jadi..."
"Selama ini..."
"Kamu ada di dekatku."
Yana mengangguk pelan.
"Iya."
"Kamu jadi Nara..."
"Iya."
"Kamu jadi Saras..."
"Iya."
"Dan..."
"...kamu Yana."
Air mata Yana kembali jatuh.
"Iya, Bas."
"Maaf..."
Maaf. Satu kata itu akhirnya keluar. Kata yang selama belasan tahun hanya berputar-putar di dalam hati.
"Aku minta maaf..."
"...karena pergi tanpa pamit."
"Aku minta maaf..."
"...karena bikin kamu nunggu."
"Aku minta maaf..."
"...karena waktu ketemu lagi..."
"...aku malah sembunyi di balik nama lain."
Suaranya mulai tersendat.
"Aku takut."
"Sangat takut."
"Takut kamu udah benci sama aku."
"Takut kamu gak mau kenal lagi."
"Takut..."
"...aku cuma jadi bagian masa kecil yang pengin kamu lupain."
Yana menundukkan kepalanya.
"Makanya..."
"...aku milih jadi Nara."
"Supaya aku bisa kenal kamu lagi..."
"...tanpa memaksa kamu mengingat masa lalu."
Ia tersenyum getir.
"Terus..."
"...pas kita ketemu di kantor."
"Aku pikir Tuhan lagi bercanda."
"Aku pengin bilang."
"Berkali-kali."
"Tapi setiap lihat wajah kamu..."
"...aku gak pernah cukup berani."
Raka mendengarkan semuanya.
Tidak memotong.
Tidak menyela.
Ia membiarkan setiap kalimat Yana masuk ke dalam hatinya. Hingga akhirnya, ia mengembuskan napas panjang.
Lalu tersenyum kecil. Senyum yang dipenuhi air mata.
"Yan."
Yana mengangkat wajahnya.
"Kamu tahu..."
"...aku sempat marah."
Yana menunduk.
"Maaf..."
"Tapi..."
"...aku baru sadar."
Raka memandang pohon mangga di atas mereka.
"Aku marah bukan karena kamu pergi."
Yana perlahan menoleh.
"Aku marah..."
"...karena waktu."
"Waktu ngambil terlalu banyak dari kita."
Raka tertawa kecil.
"Tuhan baik ya."
Yana mengernyit.
"Kenapa?"
"Dia ngasih kita kesempatan ketemu lagi."
"Walaupun harus muter sejauh ini."
Yana tersenyum di sela tangisnya.
"Aku sempat nyalahin diri sendiri."
"Setiap ulang tahun."
"Setiap lihat permen stroberi."
"Setiap dengar hujan."
"Aku selalu kepikiran..."
"'Kalau aja waktu itu aku sempat pamit.'"
"'Kalau aja aku sempat peluk kalian.'"
"'Kalau aja aku gak pergi secepat itu.'"
"Aku hidup bertahun-tahun dengan kata 'kalau'."
Raka menggeleng pelan.
"Jangan."
Yana menatapnya.
"Kita gak bisa ngubah masa lalu."
"Tapi..."
"...kita masih bisa nentuin masa depan."
Yana mengusap air matanya.
"Bas..."
"Hm?"
"Aku boleh jujur?"
"Boleh."
Yana menarik napas panjang.
"Aku gak pernah berhenti nyari kamu."
"Sejak kita kecil."
"Sejak pindah."
"Sejak SMA."
"Sejak kuliah."
"Sampai kerja."
"Aku selalu nyari."
"Dan waktu akhirnya ketemu..."
"...aku malah takut kehilangan kamu lagi."
Raka tersenyum tipis.
"Aku juga."
Yana terdiam.
"Maksudnya?"
Raka menatap langit sore.
"Pas Nara ngilang."
"Aku panik."
"Aku gak ngerti kenapa."
"Aku pikir..."
"...aku cuma kehilangan teman Discord."
"Ternyata bukan."
"Lalu Saras ikut menghilang."
"Rasanya..."
"...aneh."
"Kayak ada bagian hidupku yang ikut hilang."
Ia menoleh kepada Yana.
"Dan sekarang..."
"...aku akhirnya ngerti kenapa."
Yana memandangnya dalam diam. Raka tersenyum.
"Karena yang hilang..."
"...ternyata orang yang sama."
Sunyi kembali menyelimuti mereka. Namun kali ini, sunyi itu tidak lagi terasa menyakitkan. Justru menjadi tempat di mana dua hati yang lama terpisah akhirnya bisa saling memahami.
...
Raka perlahan mengulurkan tangannya. Bukan untuk memeluk. Bukan pula untuk menggenggam. Hanya mengulurkannya. Seolah memberi pilihan. Yana menatap tangan itu beberapa detik.
Lalu dengan senyum yang dipenuhi air mata, ia meletakkan tangannya di atas tangan Raka.
Hangat.
Sederhana.
Namun terasa begitu menenangkan. Raka tersenyum kecil.
"Selamat datang kembali..."
"...Yana."
Yana menggenggam tangannya sedikit lebih erat.
"Terima kasih..."
"...udah nunggu aku pulang, Basara."
Di bawah pohon mangga tua itu, dua anak kecil yang dulu dipisahkan oleh keadaan, akhirnya benar-benar bertemu kembali.
Bukan sebagai kenangan. Melainkan sebagai dua orang dewasa, yang telah sama-sama belajar memaafkan.
...
Angin sore mulai bertiup lebih pelan. Langit perlahan berubah jingga. Bayangan pohon mangga memanjang, menaungi mereka berdua yang masih duduk berdampingan.
Tak ada lagi tangis yang tersisa. Yang ada hanya keheningan.
Namun kali ini...keheningan itu terasa hangat.
Raka masih menggenggam tangan Yana. Sesekali ia menatap wajah perempuan itu, lalu tersenyum kecil sendiri.
Yana yang menyadarinya ikut tersenyum.
"Kenapa?"
Raka menggeleng pelan.
"Gak ada."
"Bohong."
"Iya."
"Terus?"
Raka mengembuskan napas pelan.
"Aku lagi mikir."
"Mikir apa?"
Raka tertawa kecil.
"Lucu aja."
"Apa yang lucu?"
Raka memandang ke arah hamparan sawah di depan mereka.
"Dulu..."
"...aku kira aku udah selesai sama masa kecilku."
Yana ikut memandang ke depan.
"Hmm..."
"Aku kira Yana cuma tinggal kenangan."
"Aku kira..."
"...aku udah bener-bener kehilangan dia."
Raka berhenti sejenak.
"Lalu..."
"...Tuhan ngenalin aku sama seseorang."
Yana tersenyum tipis.
"Nara."
Raka mengangguk.
"Iya."
"Awalnya aku cuma ngerasa nyaman."
"Setiap malam nunggu dia online."
"Kalau dia gak muncul..."
"...rasanya server sepi."
Yana tertawa pelan.
"Padahal yang lain rame."
"Iya."
"Tapi tetep beda."
Raka tersenyum.
"Terus..."
"...aku kerja."
"Ketemu penulis senior yang nyebelin."
Yana langsung menyenggol pelan lengan Raka.
"Nyebelin?"
"Sedikit."
"Bas!"
"Ya kan?"
"Perfeksionis."
"Kalau salah koma aja disuruh revisi."
Yana tertawa kecil.
"Itu emang kerjaan editor."
"Iya sih."
"Tapi..."
"...aku juga nyaman."
Yana menoleh. Raka ikut menoleh.
"Setiap ngobrol sama Saras..."
"...rasanya gampang."
"Gak perlu pura-pura."
"Gak perlu jaim."
"Gak tahu kenapa."
Yana tersenyum.
"Terus?"
Raka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Terus..."
"...aku mulai suka."
Yana terdiam. Raka tertawa kecil.
"Lucu ya?"
Yana hanya menatapnya. Raka melanjutkan.
"Aku sempat ngerasa bersalah."
"Karena..."
"...aku ngerasa suka sama dua orang."
"Nara."
"Dan Saras."
"Aku bahkan pernah mikir..."
"'Aku ini gampang jatuh cinta ya?'"
Yana mulai menahan senyum. Raka ikut tertawa.
"Padahal..."
"...aku lagi jatuh cinta sama orang yang sama."
Yana akhirnya tertawa. Tawa yang sejak tadi tertahan. Air matanya bahkan masih tersisa di sudut mata.
"Kasihan ya kamu."
"Iya."
"Dibikin bingung sama satu orang."
Raka mengangguk mantap.
"Banget."
Yana menundukkan kepala sambil tertawa kecil.
"Maaf ya."
"Udah bikin hidup kamu ribet."
Raka menggeleng.
"Enggak."
"Justru..."
"...terima kasih."
Yana memandangnya heran.
"Karena..."
"...kalau bukan kamu."
"...aku mungkin gak akan pernah percaya lagi sama pertemuan."
Beberapa detik kemudian...Raka menarik napas panjang.
"Yan."
"Hm?"
"Ada satu hal..."
"...yang dari tadi pengin aku bilang."
Yana menatapnya.
"Katakan."
Raka tersenyum gugup. Untuk pertama kalinya...editor yang biasanya tenang itu terlihat benar-benar kehilangan kata-kata.
"Aku gak tahu kapan tepatnya."
"Mungkin..."
"...waktu kita sering ngobrol di Discord."
"Atau..."
"...waktu kita sering makan siang bareng."
"Atau..."
"...waktu aku panik karena kamu menghilang."
"Aku gak tahu."
"Tapi..."
"...sekarang aku tahu satu hal."
Yana menunggu. Raka menatap mata perempuan di hadapannya.
"Aku jatuh cinta..."
"...sama perempuan yang sama."
"Berkali-kali."
"Saat dia bernama..."
"Nara."
"Saat dia bernama..."
"Saras."
"Dan sekarang..."
"...aku tahu."
"Namanya..."
"Narayana Sarasvati."
Air mata Yana kembali mengalir. Namun kali ini, ia tidak menangis karena sedih.
Ia menangis, karena akhirnya mendengar kalimat yang selama ini hanya berani ia bayangkan dalam doa-doanya.
Yana tersenyum.
"Bas..."
"Hm?"
"Aku juga mau jujur."
Raka mengangguk pelan. Yana menarik napas panjang.
"Dulu."
"Aku suka sama Basara."
"Pas ketemu lagi."
"Aku suka sama Raka."
"Pas ngobrol tiap malam."
"Aku suka sama Bas."
"Pas kerja."
"Aku suka sama editor yang selalu ngoreksi tulisanku."
Yana tertawa kecil.
"Padahal..."
"...ternyata orangnya sama."
Raka ikut tertawa.
"Berarti kita impas."
"Iya."
"Sama-sama jatuh cinta berkali-kali."
"Sama orang yang sama."
Mereka saling menatap. Tak ada lagi rasa canggung. Tak ada lagi rahasia. Hanya dua hati yang akhirnya saling menemukan. Yana menggenggam tangan Raka lebih erat.
"Bas..."
"Aku masih cinta sama kamu."
"Bahkan..."
"...setelah semua tahun yang kita lewati."
Raka tersenyum. Tatapannya begitu tenang.
"Untungnya..."
"...aku juga."
"Tapi..."
"...aku gak jatuh cinta sama kenangan."
Yana mengernyit pelan.
"Terus?"
Raka mengusap pelan punggung tangan Yana.
"Aku jatuh cinta..."
"...sama perempuan yang sekarang duduk di depanku."
"Bukan karena dia Yana."
"Bukan karena dia Nara."
"Bukan karena dia Saras."
"Tapi..."
"...karena dia adalah Narayana Sarasvati."
"Perempuan yang tetap memilih kembali..."
"...meski pernah kehilangan jalan pulang."
Tangis Yana pecah sekali lagi. Namun kali ini ia tidak lagi merasa bersalah. Ia merasa akhirnya pulang. Dan untuk pertama kalinya setelah belasan tahun Raka memeluknya.
Pelukan itu tidak tergesa.
Tidak pula berlebihan.
Hanya pelukan sederhana.
Dua sahabat kecil, yang akhirnya menemukan kembali rumahnya.
...
Raka dan Yana masih duduk di bawah pohon mangga. Tak ada lagi air mata. Yang tersisa hanyalah senyum-senyum kecil yang sesekali muncul tanpa alasan.
Sesekali mereka saling menatap. Lalu tertawa sendiri. Seolah sedang menertawakan betapa rumitnya cara Tuhan mempertemukan mereka kembali.
Raka menggeleng pelan.
"Kalau dipikir-pikir..."
"...kita berdua emang bego ya."
Yana langsung tertawa.
"Kenapa?"
"Kamu nyari aku bertahun-tahun."
"Iya."
"Aku ngobrol sama kamu hampir tiap malam."
"Iya."
"Kita kerja satu kantor."
"Iya."
"Tapi aku tetap gak sadar."
Yana menutup mulutnya sambil tertawa.
"Bas..."
"Kamu emang dari dulu agak lemot."
"Eh!"
"Fakta."
Raka pura-pura menghela napas panjang.
"Pantes dulu nilai matematikaku jelek."
Yana mengangguk mantap.
"Nah itu tahu."
Mereka kembali tertawa. Tawa yang begitu ringan. Tawa yang selama ini hilang.
...
Di kejauhan...terdengar suara mesin mobil mendekat.
Namun keduanya tidak terlalu memperhatikan. Beberapa detik kemudian, sebuah mobil berhenti tak jauh dari pohon mangga.
Pintunya terbuka. Yang pertama turun...tentu saja Adit.
"WOIIII!!"
Suara khasnya menggema di seluruh area. Raka dan Yana sama-sama menoleh.
Adit langsung menunjuk mereka berdua sambil tertawa lebar.
"NAH KAN!"
"GUA BILANG APA!"
"GAK MUNGKIN NIH DUA ORANG GAK JADIAN!"
Belum sempat Raka menjawab. Rio turun sambil menggelengkan kepala.
"Berisik banget lu."
Miko ikut keluar dari mobil. Membetulkan kacamatanya. Lalu melihat ke arah Raka dan Yana.
"Sesuai prediksi."
Adit langsung menyikutnya.
"Apaan sesuai prediksi?"
Miko menjawab datar.
"Probabilitas mereka bertemu tanpa campur tangan kita cukup tinggi."
Rio langsung tertawa.
"Masih aja statistik."
Mia yang sejak tadi duduk di kursi belakang akhirnya ikut turun. Begitu melihat Yana...ia langsung berlari kecil.
"YANAAA!"
Yana bahkan belum sempat berdiri ketika Mia sudah memeluknya erat.
"Jangan ngilang lagi ya..."
Suara Mia mulai bergetar.
"Aku kangen."
Yana membalas pelukan itu. Sambil tertawa kecil.
"Iya."
"Maaf."
"Aku bikin kalian khawatir."
Mia menggeleng cepat.
"Yang penting sekarang udah balik."
Kevin menjadi orang terakhir yang turun. Ia tidak langsung mendekat. Hanya berdiri beberapa langkah dari mobil. Memandangi dua sahabat masa kecilnya.
Basara.
Yana.
Akhirnya berdiri berdampingan lagi. Tanpa sadar sudut bibirnya terangkat. Rio berjalan mendekatinya.
"Gimana?"
Kevin mengembuskan napas panjang.
"Lega."
Rio menepuk pelan bahunya.
"Capek juga ya jadi sutradara."
Kevin langsung tertawa.
"Bukan sutradara."
"Cuma tukang buka pintu."
Rio mengangguk pelan.
"Iya juga."
"Pintu yang ngebuka..."
"...tetap mereka sendiri."
Kevin tersenyum.
"Dan yang mempertemukan..."
"...tetap Tuhan."
Raka dan Yana akhirnya menghampiri mereka. Adit langsung menyodorkan tangan ke Raka.
"Selamat ya."
"Selamat apaan?"
"Selamat akhirnya otaknya nyala."
Semua langsung tertawa.
"Buset."
"Gue emang selama ini bego ya?"
Rio langsung menjawab cepat.
"Iya."
Miko mengangguk.
"Setuju."
Mia ikut mengangkat tangan.
"Ikut."
Yana menahan tawanya. Raka menatap Kevin.
"Lah..."
"Lu juga?"
Kevin pura-pura berpikir.
"Hmm..."
"Iya."
Semua kembali tertawa. Raka hanya bisa menggeleng sambil tersenyum.
"Temen-temen begini amat."
Beberapa menit kemudian, mereka semua duduk melingkar di bawah pohon mangga. Persis seperti anak-anak yang sedang piknik.
Kevin membuka sebuah tas kain yang ia bawa. Isinya sederhana. Beberapa botol air mineral.
Keripik.
Biskuit.
Dan...
tujuh bungkus Indomie cup.
Adit langsung bersorak.
"NAH!"
"INI BARU KEVIN!"
"Gak pernah jauh dari Indomie!"
Kevin terkekeh.
"Warung tutup satu jam gara-gara kalian."
"Kalau gak bawa Indomie, rugi."
Rio menggeleng sambil tertawa.
"Emang gak berubah."
Mia membuka salah satu bungkus keripik.
"Ini pertama kalinya ya..."
"...kita kumpul lengkap."
Miko mengangguk.
"Dunia nyata."
Bukan avatar.
Bukan username.
Bukan foto profil.
Mereka semua kini saling mengenal sebagaimana adanya.
Dengan nama asli.
Dengan wajah asli.
Dengan luka masing-masing.
Namun juga dengan tawa yang sama.
Matahari mulai turun perlahan. Langit berubah menjadi jingga keemasan. Adit tiba-tiba berdiri.
"Eh."
"Gimana kalau foto?"
"Foto?"
"Iya."
"Masa Republik Maya gak punya foto bareng?"
Rio langsung menunjuk Adit.
"Itu ide bagus."
"Catat."
Adit langsung membusungkan dada.
"Sesekali otak gue kepake."
Semua tertawa. Kevin mengeluarkan ponselnya. Lalu mencari batu datar untuk dijadikan penyangga.
Timer.
Sepuluh detik.
Ia berlari kecil kembali ke tengah-tengah mereka. Semuanya saling merapat. Mia mengangkat dua jari. Adit memasang wajah paling aneh. Rio tetap datar. Miko malah masih sempat membetulkan posisi kacamatanya. Kevin tersenyum tenang. Raka dan Yana saling berpandangan.
Tanpa sadar, jemari mereka saling bertaut.
Klik.
Suara kamera terdengar pelan.
Mungkin foto itu tidak akan pernah menjadi foto terbaik di dunia.
Namun bagi mereka, itulah foto pertama yang memperlihatkan Republik Maya apa adanya.
Bukan sekumpulan avatar. Melainkan sekumpulan manusia.
Yang akhirnya menemukan rumahnya.
...
Matahari perlahan tenggelam di balik pepohonan. Langit yang semula jingga mulai berubah menjadi biru tua. Mereka masih duduk melingkar di bawah pohon mangga. Tak ada lagi yang banyak berbicara. Semua hanya menikmati sore yang terasa terlalu indah untuk segera berakhir. Kevin memandang satu per satu wajah sahabat-sahabatnya.
Rio.
Miko.
Adit.
Mia.
Raka.
Yana.
Orang-orang yang awalnya hanyalah nama di sebuah server Discord. Kini menjadi keluarga.
Kevin tersenyum kecil.
"Dulu..."
"...Republik Maya aku buat cuma buat tempat nongkrong."
Semua tertawa pelan.
"Gak nyangka..."
"...ternyata jadi rumah."
Sunyi sejenak. Lalu Kevin mengulurkan tangan kanannya ke tengah lingkaran.
"Gue pengin kita bikin satu janji."
Satu per satu mereka menatap Kevin.
"Bukan janji buat selalu bahagia."
"Karena hidup gak akan pernah sesederhana itu."
"Bukan juga janji buat gak pernah pisah."
"Karena setiap orang punya jalannya masing-masing."
Kevin menarik napas pelan.
"Tapi..."
"...kalau suatu hari nanti..."
"...ada satu di antara kita yang kembali hilang."
"...yang lain wajib mencari."
Tidak ada yang langsung menjawab. Rio adalah orang pertama yang meletakkan tangannya di atas tangan Kevin.
"Deal."
Disusul Miko.
"Deal."
Adit.
"Deal."
Mia.
"Deal."
Yana tersenyum sambil menghapus sisa air matanya.
"Deal."
Terakhir...Raka meletakkan tangannya paling atas.
"Deal."
Tujuh tangan kini bertumpuk menjadi satu. Kevin tersenyum.
"Selamat datang..."
"...di rumah."
Mereka mengangguk bersamaan.
"Rumah."
Angin sore kembali berembus pelan. Daun-daun mangga berguguran, mengiringi tawa mereka yang sekali lagi memenuhi tempat itu. Untuk pertama kalinya...Republik Maya tidak lagi hanya hidup di balik layar.
Ia hidup...di dalam hati mereka.
TAMAT 🍃
Comments
Post a Comment