Kali ini aku ingin menceritakan tentang pengalaman mengerikan yang kualami setelah perjalanan kami ke Gunung Kawi beberapa tahun lalu.
Demi menjaga privasi dan kerahasiaan beberapa orang yang terlibat, aku akan menggunakan nama, tempat dan latar waktu samaran dalam cerita ini. Bukan karena ingin terlihat misterius, tapi karena ada hal-hal yang tidak bisa aku ceritakan secara terbuka. Aku hanya berharap, lewat cerita ini, kalian bisa mengambil pelajaran dan lebih berhati-hati kalau suatu hari nanti memutuskan untuk datang ke tempat yang sama.
2020, Desember - Libur Natal
Pada waktu itu aku masih menjadi karyawan baru di sebuah kantor di Malang, Jawa Timur. Setiap akhir tahun, tepatnya di bulan Desember — bulan yang juga bertepatan dengan perayaan Natal bagi umat Kristiani — kantor biasanya memberikan libur selama lima hari sampai awal tahun 2021.
Di kantor saat itu aku sudah punya beberapa teman di lingkungan kerja, salah satunya adalah Mas Deden. Dia merupakan karyawan senior yang sudah bekerja di sana sekitar dua tahun. Karena kami cukup akrab, kami sering nongkrong bareng setelah jam kerja. Pada bulan November 2020 aku sempat menghadiri pernikahan Mas Deden dengan istrinya Mbak Romi, yang waktu itu digelar cukup sederhana.
Tidak banyak hal menarik yang bisa aku ceritakan tentang pengalaman bekerjaku kala itu, karena memang aku masih tergolong baru. Singkat cerita, tibalah masa liburan akhir tahun yang sudah kami tunggu-tunggu.
Pada suatu malam, aku menerima telepon dari Mas Deden. Dia mengajakku untuk ikut perjalanan ke Gunung Kawi. Rencananya, sebagian dari kami akan ada yang hanya berkemah di basecamp precet, sedangkan beberapa yang lain berencana melanjutkan pendakian hingga ke Puncak Batu Tulis. Tanpa pikir panjang, aku langsung menerima ajakan itu. Entah kenapa, ada perasaan antusias sekaligus penasaran yang membuatku sulit menolak.
2021, Januari Awal - Precet Menuju Puncak Batu TulisBeberapa hari kemudian, aku yang memang sudah berniat untuk ikut mendaki ke Puncak Batu Tulis mulai menyiapkan segala perlengkapan yang diperlukan. Sebenarnya, ajakan ke Gunung Kawi bukanlah pengalaman pertamaku mendaki gunung. Tapi entah kenapa, begitu mendengar nama Kawi, ada perasaan aneh di kepalaku — seperti ada sesuatu yang memanggil, membuatku merasa bahwa gunung ini harus kudaki.
Meskipun Gunung Kawi bukan termasuk gunung yang tinggi, semangatku tetap sama besarnya seperti saat akan mendaki gunung-gunung lain. Ada rasa penasaran, campur antusias, yang sulit dijelaskan.
Singkat cerita, tibalah hari keberangkatan. Aku berangkat menuju rumah Mas Deden dan Mbak Romi, tempat kami semua berkumpul sebelum berangkat ke lokasi. Suasananya cukup ramai, penuh obrolan ringan dan tawa kecil. Tak ada yang menyangka, malam itu akan menjadi awal dari pengalaman yang sampai sekarang masih sulit dilupakan.
Akhirnya kami berangkat menggunakan motor. Waktu itu, aku satu motor dengan Mas Deden dan posisiku berada di paling belakang rombongan. Jaraknya sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 40 menit perjalanan dari pusat kota.
Kebetulan hari itu adalah hari Jumat — hari yang dianggap baik bagi umat Islam namun cuaca seperti tidak mendukung, karena waktu itu cuaca berubah menjadi mendung dan gerimis. Di tengah perjalanan, rombongan kami sempat terpisah. Aku dan Mas Deden tertinggal cukup jauh di belakang karena perjalanan kami bertepatan dengan waktu salat Jumat. Akhirnya, kami memutuskan untuk berhenti sejenak dan mencari masjid terdekat sembari berteduh dari gerimis. Sambil menunggu waktu salat selesai dan kabar dari rombongan yang sudah lebih dulu di depan, kami beristirahat sejenak di pelataran masjid.
Tak lama setelah selesai salat Jumat, akhirnya rombongan memberi kabar posisi mereka berhenti. Aku dan Mas Deden pun segera bersiap dan tancap gas untuk menyusul mereka. Jalanan mulai sedikit basah karena gerimis kecil, tapi untungnya kami masih bisa melaju dengan cukup cepat. Sekitar setengah jam kemudian, kami berhasil bertemu kembali dengan rombongan di sebuah warung kecil pinggir jalan.
Tanpa menunda terlalu lama, kami semua kembali melanjutkan perjalanan menuju base camp pendakian. Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang, dan langit tampak mulai menggelap — awan menumpuk tebal, pertanda hujan akan segera turun. Udara juga terasa lebih lembap dan dingin saat kami mulai memasuki area perbukitan.
Beberapa kali kami harus memperlambat laju motor karena jalanan mulai menanjak dan licin. Suasana perlahan berubah; dari yang tadinya ramai dengan kendaraan, kini semakin sepi, hanya suara mesin motor dan desir angin yang terdengar di telinga.
Setelah menempuh perjalanan sekitar empat puluh menit, akhirnya kami tiba di base camp pertama — Precet, jalur pendakian yang akan kami gunakan untuk naik ke Puncak Batu Tulis. Di sana anehnya tidak tampak beberapa pendaki lain, kami mengira bahwa hari itu kami akan mendaki dengan beberapa pendaki lain, namun kenyataanya tidak. Kami memarkir motor, merapikan barang bawaan, dan beristirahat sebentar sebelum mulai mendaki dan mendirikan tenda untuk teman teman yang lain berkemah.
Di titik itulah, entah kenapa, suasana mulai terasa sedikit berbeda. Tidak terlihat satu pun pendaki lain di sekitar kami bahkan loket pendakian pun tidak ada orang, padahal biasanya jalur ini cukup ramai, apalagi di musim liburan. Kami sempat saling bertanya satu sama lain, apakah hari ini memang tidak ada yang mendaki, atau mungkin ada sesuatu yang membuat orang-orang enggan lewat jalur ini?
Namun, kami mencoba berpikir logis. Saat itu memang masih masa pandemi COVID-19, dan pembatasan kegiatan masyarakat masih cukup ketat. Mungkin itu alasan yang paling masuk akal, pikir kami waktu itu. Jadi, tanpa banyak curiga, kami tetap melanjutkan persiapan untuk mulai mendaki dan mempersiapkan kamping, sambil menepis perasaan aneh yang sempat muncul sesaat.
Setelah semuanya siap—tenda untuk yang kamping di base sudah berdiri rapi, perlengkapan makan dan pendakian juga sudah disusun—langit tiba-tiba berubah drastis. Angin mulai bertiup lebih kencang, dan tak lama kemudian hujan deras. Suaranya menghantam atap tenda begitu keras dan air masuk kedalam tenda.
Kami terpaksa menunda pendakian sementara waktu. Tidak ada pilihan lain selain menunggu hujan reda. Suasana di luar tenda benar-benar gelap; kabut mulai turun dari arah atas gunung, tebal dan dingin, membuat jarak pandang hampir nol. Sesekali terdengar gemuruh petir yang membuat suasana semakin mencekam.
Sekitar satu jam kemudian, hujan perlahan mulai mereda. Rintiknya masih terdengar, tapi tidak sekuat sebelumnya. Beberapa dari kami memutuskan untuk tetap melanjutkan pendakian sore itu, dengan alasan waktu sudah semakin mepet dan mereka ingin segera sampai di Puncak Batu Tulis sebelum malam benar-benar turun.
Sementara itu, aku memilih untuk tetap tinggal di base camp. Menurutku, cuaca masih terlalu berisiko untuk mendaki. Kabut masih tebal, kilat sesekali masih terlihat di kejauhan, dan jalur yang basah jelas akan menjadi licin. Ada perasaan tidak enak yang sulit aku jelaskan, sehingga membuatku tidak untuk melanjutkan perjalanan itu.
Aku pun membantu menjaga tenda dan barang-barang kami, sementara beberapa teman lain mulai berjalan perlahan menembus kabut, membawa senter dan perbekalan seadanya. Kuharap mereka bisa sampai dengan selamat begitupun ketika mereka kembali.
Sambil bersantai dan menikmati sebatang rokok, dari kejauhan aku melihat beberapa temanku yang tadi melanjutkan pendakian tampak menuruni gunung kembali. Awalnya aku sempat bingung — kukira mereka sudah hampir sampai di Pos 2, karena waktu itu matahari sudah mulai condong ke barat dan waktu maghrib hampir memasuki jadwalnya.
Tak lama kemudian, mereka akhirnya tiba di area camping kami dengan napas terengah-engah. Raut wajah mereka tampak lelah sekaligus cemas. Kami semua langsung menghampiri dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi di atas sana.
Salah satu dari mereka menjawab bahwa kabut di jalur pendakian terlalu tebal, membuat jarak pandang nyaris tidak ada. Yang lain menimpali, mengatakan bahwa jalanan sangat licin dan berlumpur, sehingga langkah mereka sering tergelincir. Seorang lagi menambahkan bahwa jika pendakian dilanjutkan dalam kondisi seperti itu, risikonya terlalu besar.
Mendengar penjelasan itu, kami semua sepakat bahwa pendakian sebaiknya ditunda dulu. Namun, di antara mereka ada satu orang yang hanya diam — Fika. Ia adalah seorang siswi SMA yang kebetulan sedang libur dan ikut mendaki bersama kami. Fika merupakan sepupu dari Mbak Romi, salah satu teman dalam rombongan kami. Dari raut wajahnya, terlihat jelas rasa kecewa karena pendakian harus ditunda.
Akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan pendakian keesokan paginya, jika cuaca memungkinkan. Lagipula, Gunung Kawi bukanlah gunung yang terlalu tinggi — hanya sekitar 2.600 meter di atas permukaan laut. Jadi, rencananya, kami akan berangkat pagi-pagi buta, mencapai puncak di siang hari, dan turun kembali ke base camp sebelum malam tiba.
Malam pun perlahan turun, dan suasana di sekitar base camp mulai terasa sunyi. Hanya terdengar suara serangga malam dan sesekali hembusan angin yang melewati pepohonan. Karena memang sebelumnya tidak ada pendaki lain selain dari rombongan kami, itupun juga hanya kami yang mendirikan tenda di basecamp. Malam-malam berjalan seperti seharusnya, kami bercerita, memasak makanan, kadang juga kita saling melontarkan candaan, dan juga membakar makanan yang terlihat lezat setelah turun hujan.
Waktu pun sudah hampir menunjukkan tengah malam. Di depan tenda, hanya tersisa kami bertiga — aku, Mas Deden, dan istrinya, Mbak Romi. Yang lain sudah lebih dulu tertidur, sebagian lagi sedang bersiap untuk beristirahat di dalam tenda. Suasana di sekitar basecamp begitu sepi; hanya terdengar suara jangkrik dan desir angin.
Sambil duduk melingkar di depan tenda, kami mengobrol ringan untuk mengusir rasa kantuk. Entah siapa yang memulai, tapi tiba-tiba saja aku spontan menceritakan pengalaman hororku di masa lalu. Mas Deden dan Mbak Romi mendengarkan dengan serius, lalu mereka juga berbagi cerita serupa yang pernah mereka alami. Obrolan kami pun semakin larut.
Malam terasa semakin dingin, api unggun kecil di depan kami mulai meredup, dan makanan yang tersisa tinggal sedikit. Saat itu suasana begitu tenang… sampai tiba-tiba, tanpa aba-aba yang jelas, Mbak Romi berdiri dengan terburu-buru dan langsung masuk ke dalam tenda. Ia hanya sempat berucap lirih, hampir seperti berbisik, “Aku ngantuk duluan, ya…”
Nada suaranya terdengar datar dan agak aneh, seolah ada sesuatu yang membuatnya gelisah. Aku dan Mas Deden sempat saling pandang, tapi kami tidak banyak bicara. Kami hanya diam beberapa saat, mendengarkan suara kain tenda bergesekan pelan, sementara angin malam makin terasa menusuk kulit.
Akhirnya aku dan Mas Deden kembali melanjutkan obrolan. Meskipun mata sudah terasa berat, rasa kantuk itu perlahan hilang, tergantikan oleh perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Entah kenapa, setelah kejadian Mbak Romi tadi, suasana di sekitar tenda terasa sedikit berbeda — seperti ada sesuatu yang diam-diam mengawasi dari kejauhan.
Aku sudah kehabisan bahan cerita, jadi untuk mengusir rasa gelisah aku mulai memainkan senter kecil yang sedari tadi kugenggam. Aku menyorotkan cahayanya ke sekitar, sekadar iseng — dari satu pohon ke pohon lain, dari semak ke batu besar di sisi kanan, lalu ke arah pepohonan di sebelah kiri.
Awalnya semua tampak biasa saja. Namun, ketika kuarahkan cahaya senter ke sebuah pohon besar di sisi kiriku — agak menyerong dari posisi dudukku — tiba-tiba tubuhku refleks terdiam. Jaraknya mungkin sekitar dua puluh sampai dua puluh lima meter dari tempatku duduk. Pohon itu berdiri cukup besar dan gelap, tapi entah kenapa ada sesuatu di sana yang terasa… tidak wajar.
Sosok itu… besar. Wajahnya pucat, rambutnya panjang terurai, dan gaun putih yang ia kenakan menjuntai hingga menutupi kakinya. Dalam remang cahaya malam, aku bisa melihat matanya — tidak terlalu jelas, tapi cukup untuk membuat bulu kudukku berdiri. Dari tatapannya, aku tahu… dia sedang marah.
“Mas… itu, di sana. Lihat gak, Mas? Sosok putih besar di dekat pohon itu?” tanyaku pelan dengan suara bergetar.
Mas Deden yang duduk di sampingku menoleh perlahan ke arah yang sama. Dan saat matanya membulat, aku tahu — dia juga melihatnya. Kami berdua saling pandang, sama-sama tidak yakin dengan apa yang baru saja kami lihat.
Rasa takut dan penasaran bercampur jadi satu. Untuk memastikan, aku memutuskan mendekat beberapa langkah. Jarak kami kini tinggal sekitar sepuluh meter. Karena gelap, aku menyalakan senter kecil yang sedari tadi kugenggam. Perlahan kuarahkan cahayanya ke arah sosok itu…
Dan saat sinar senter menyentuh tubuhnya — sosok itu menghilang. Begitu saja.
Aku tertegun. Kuturunkan senter, dan saat cahaya padam, sosok itu muncul lagi, berdiri di tempat yang sama. Aku mencoba lagi. Kuarahkan senter — hilang. Matikan — muncul lagi. Begitu terus, berulang kali, sampai akhirnya tubuhku terasa kaku karena ketakutan.
Dalam hati aku tahu, apapun itu, bukan manusia. Semua cerita yang dulu sering kudengar tentang makhluk itu tiba-tiba terasa sangat nyata di depan mataku. Dan malam itu, aku benar-benar yakin… sosok yang kulihat adalah Kuntilanak.
Sialnya dalam keadaan ketakutan, aku dan Mas Deden baru teringat kalau kami berdua tidak mendapatkan jatah tempat untuk tidur di tenda, "Siall...", ucapku menggerutu dalam keadaan kesal, akhirnya kami terpaksa mencari tempat yang sekiranya masih bisa melindungi kami dari hujan dan juga lebih jelasnya melindungi kami dari apa yang barusan kami lihat tadi. Akhirnya aku dan Mas Deden berlindung dibawah kanopi tenda, dan berusaha tidur sekuat mungkin dengan beralaskan terpal dan bebatuan.
Dalam keadaan panik dan gelisah, kami berdua berusaha memaksa diri untuk tidur. Rasa tidak nyaman, dingin, dan takut bercampur jadi satu, tapi tubuh kami terlalu lelah untuk terus terjaga. Akhirnya, entah bagaimana, kami sempat tertidur sejenak — masih dalam keadaan waspada dan penuh kecemasan.
Namun, sialnya, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Aku terbangun ketika kulihat jarum jam di pergelangan tanganku menunjukkan pukul dua dini hari. Udara terasa makin dingin, dan suasana di sekitar begitu sunyi, hanya terdengar rintik hujan yang jatuh pelan di atas tenda.
Aku menoleh ke arah Mas Deden yang juga tampak terjaga. Dengan suara gemetar, aku berbisik, “Mas… dia masih di sana. Lihat, wujudnya makin besar… dan sekarang kelihatan semakin jelas.”
Mas Deden menatap ke arah yang kutunjuk — pohon besar di sisi kiri tempat kami tidur. Wajahnya langsung berubah pucat. Sosok itu benar-benar masih berdiri di sana, dan kali ini bentuknya jauh lebih jelas. Seolah-olah ia bukan lagi bayangan, melainkan sesuatu yang benar-benar nyata.
Kami berdua panik, tidak tahu harus berbuat apa. Dengan terburu-buru, kami menutupi tubuh kami dengan sarung, berusaha seolah-olah tidak melihat apa pun. Tapi rasa takut itu tidak hilang — justru semakin menjadi.
Di luar, hujan kembali turun, disusul dengan suara guntur yang bersahutan di kejauhan. Angin berembus pelan tapi dinginnya menusuk tulang. Dan di tengah semua itu… terdengar suara.
Suara tawa melengking, panjang, berputar-putar di kepala. Seperti tidak berasal dari luar, melainkan dari dalam pikiranku sendiri. Mungkin juga Mas Deden mendengarnya, karena dia sedari tadi hanya melamun dengan tatapan kosong.
Malam itu terasa seperti tidak akan pernah berakhir.
Akhirnya malam kelam itu terlewati, kejadian horor yang kualami bersama dengan Mas Deden tidak terceritakan sama sekali di pagi harinya, karena kami tertidur pulas dengan perasaan heran, memilih untuk tidak menceritakan pengalaman buruk itu ke teman-teman yang lainnya. Setidaknya agar mereka tidak perlu khawatir, dan jadi untuk meneruskan pendakian ke puncak Batu Tulis.
Namun naas, bahkan sebelum rencana pendakian menuju puncak dilaksanakan, sebuah kejadian aneh menimpa salah satu teman kami. Tanpa tanda-tanda sebelumnya, dia tiba-tiba tertunduk lemas dengan tatapan kosong. Wajahnya pucat, keringat dingin mulai mengucur di pelipisnya, lalu tanpa sengaja ia memuntahkan isi perutnya di depan kami.
Kami semua panik. Jangankan untuk menjawab pertanyaan, sekadar mengucapkan satu kata pun ia sudah tidak sanggup. Tubuhnya gemetar, pandangannya kosong menatap ke tanah.
Belum sempat kami memahami apa yang sebenarnya terjadi, tiba-tiba satu teman lain juga menunjukkan perilaku aneh. Anak itu mendadak menjadi sangat hiperaktif, melompat-lompat seperti orang kesurupan — gerakannya cepat, tak terkendali, mohon maaf, tapi bisa dibilang mirip monyet. Kami mencoba menenangkannya, tapi sama sekali tidak berhasil.
Suasana menjadi kacau. Beberapa dari kami ketakutan, sebagian lagi mencoba menolong, sementara langit di atas kami mulai diselimuti kabut tebal. Dengan kondisi yang semakin memburuk, akhirnya keputusan pun diambil: pendakian harus dibatalkan.
Kami segera menghubungi rekan yang membawa mobil untuk menjemput dan membawa teman-teman kami turun demi keselamatan bersama. Semua terlihat cemas, tak ada lagi canda atau semangat seperti awal kami datang ke sini.
Hari itu kami tutup dengan perasaan campur aduk — antara takut, bingung, dan tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Tapi kalau kalian mengira kisah ini berakhir di situ, kalian salah besar. Justru… di sanalah semua kejadian aneh itu benar-benar bermula.
2021, Januari Akhir - Kejadian Aneh Selanjutnya
Berminggu-minggu setelah kejadian horor di kawasan Gunung Kawi, hidupku perlahan kembali berjalan seperti biasa. Aku kembali bekerja, kuliah, dan berusaha melupakan semua hal aneh yang terjadi waktu itu. Tidak ada kejadian janggal, tidak ada mimpi buruk — semuanya terasa normal. Aku bahkan mulai berpikir bahwa semua itu mungkin hanya efek lelah dan sugesti semata.
Namun, aku salah.
Teror itu ternyata belum benar-benar berakhir.
Suatu hari, ketika keluargaku berencana menginap di rumah kontrakan yang kusewa di Malang, kejadian aneh itu justru mulai kembali.
Sore itu aku mendapat kabar dari orang tuaku — bapak dan ibu bilang mereka akan datang berkunjung. Dengan senang hati tentu saja aku menyambut kabar itu. Lagipula, sudah cukup lama aku tidak bertemu mereka karena sibuk dengan kerja dan kuliah. Di kontrakan aku tinggal bersama satu teman dan adikku. Kebetulan masih ada satu kamar kosong, jadi kamar itu bisa mereka tempati selama menginap.
Sore itu suasana terasa biasa saja, kami menyiapkan kamar untuk bapak dan ibu, membersihkan sedikit bagian rumah. Tidak ada yang mengira, malam-malam selanjutnya itu justru akan menjadi awal dari gangguan yang jauh lebih menyeramkan daripada apa pun yang pernah kualami.
Keesokan harinya, akhirnya kedua orang tuaku tiba di Malang. Dengan penuh semangat, aku menjemput mereka dan mengantar ke rumah kontrakan. Ada rasa bahagia yang sulit digambarkan — setelah hampir satu tahun tidak pulang karena masa pandemi, akhirnya aku bisa bertemu lagi dengan bapak dan ibu.
Malam pertama mereka menginap terasa tenang. Kami makan malam bersama, bercanda ringan, lalu beristirahat tanpa gangguan apa pun. Suasananya hangat, seperti rumah yang penuh kehadiran keluarga. Tidak ada tanda-tanda aneh, semuanya berjalan normal.
Namun, ketenangan itu hanya bertahan sementara. Pada malam terakhir sebelum mereka pulang, ibuku tiba-tiba bercerita kepadaku. Dengan suara pelan dan wajah yang sedikit ragu, ia berkata bahwa semalam ia tidur di kamar belakang — kamar yang letaknya paling dekat dengan kamar mandi.
Dari cara bicaranya, aku bisa merasakan ada sesuatu yang tidak biasa akan ia ceritakan.
Dan benar saja, seperti yang sudah aku duga, ibuku mulai bercerita dengan wajah yang masih tampak pucat. Ia mengatakan bahwa semalam, saat tidur di kamar belakang, ia tiba-tiba terperanjat dan terbangun. Dalam keadaan setengah sadar, matanya menangkap sosok perempuan bergaun putih sedang duduk di atas lemari — tepat di hadapan tempat tidurnya.
Sosok itu memiliki rambut panjang terurai dan kuku yang begitu panjang, menjuntai kebawah. Ia duduk sambil mengayunkan kakinya perlahan, seolah sedang menunggu sesuatu.
Ibuku, yang tidak pernah takut melihat hal-hal semacam itu, awalnya berpikir mungkin itu hanya mimpi. Sebagai latar belakang, kedua orang tuaku adalah penganut kejawen atau kapitayan — mereka percaya pada hal-hal gaib, tapi tidak pernah mengalami gangguan langsung seperti itu. Maka dengan keberanian yang tersisa, ibuku mencoba bertanya pelan, “Kamu siapa…?”
Namun sosok itu tidak menjawab. Ia hanya menatap lurus ke arah ibuku, lalu tersenyum — senyum tipis yang perlahan berubah menjadi tawa kecil yang lirih tapi menusuk.
Saat itu, ibuku merasa tubuhnya tidak bisa digerakkan. Ia bilang seperti tindihan; sadar sepenuhnya, tapi tidak mampu bangun. Bedanya, kali ini mulutnya masih bisa berbicara dan matanya benar-benar melihat jelas sosok itu di atas lemari.
Beberapa detik kemudian, sosok perempuan itu turun perlahan dari atas lemari. Langkahnya pelan, tapi setiap gerakannya membuat udara di sekitar kamar terasa dingin. Ia mendekat ke arah ibuku, lalu… duduk tepat di atas tubuhnya.
Dengan tangan pucatnya, sosok itu mengelus wajah ibuku pelan, lalu meletakkan jarinya di dada ibuku. Ibu bilang, saat itu ia benar-benar ketakutan setengah mati. Ia berusaha keras untuk melawan rasa berat di tubuhnya, memaksa dirinya bangun dari “tidur semu” itu. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya ia berhasil tersadar sepenuhnya dan langsung berlari keluar kamar, menuju kamarku.
Pagi harinya, barulah aku mengerti kenapa waktu bangun, ibuku sudah ada di sampingku. Rupanya malam sebelumnya ia diganggu oleh sosok yang sama seperti yang kualami sewaktu di Gunung Kawi, namun aku belum berani untuk menceritakan pengalamanku pada waktu itu kepada kedua orang tua ku.
Siang harinya, semuanya tampak berjalan seperti biasa. Semua beraktivitas seperti hari-hari sebelumnya. Namun, ada satu hal yang membuatku sedikit heran — sejak pagi, bapak belum juga keluar dari kamar belakang.
Beberapa kali aku melirik ke arah kamar itu, pintunya sedikit terbuka. Dari celahnya, kulihat bapak masih tertidur pulas. Awalnya aku berpikir mungkin beliau hanya kelelahan karena perjalanan jauh dari rumah. Aku tidak tega membangunkannya, jadi aku biarkan saja.
Namun, waktu perlahan bergulir. Matahari mulai condong ke barat, menandakan sore menjelang. Rasa khawatirku mulai muncul. Bagaimana bisa bapak tidur selama itu tanpa sekalipun keluar dari kamar? Akhirnya, aku memutuskan untuk membangunkannya.
Saat aku mengetuk pintu dan masuk, aku mendapati bapak sudah bangun. Ia berjalan pelan menuju kamar mandi tanpa banyak bicara. Beberapa detik kemudian, terdengar suara dari dalam — seperti orang muntah, diselingi batuk keras yang membuatku spontan mendekat.
Aku dan ibu tanpa pikir panjang membuka pintu kamar mandi yang ternyata tidak terkunci. Betapa terkejutnya kami saat melihat bapak dalam keadaan sangat pucat dan lemas, berjongkok di depan wastafel sambil menahan sesuatu di tangannya.
Ketika ibuku melihat tangannya, ia kaget — ternyata bapak sedang batuk darah kecil.
Kami segera menolong secepat mungkin. Dengan pertolongan seadanya, kami membantu bapak keluar dari kamar mandi, memberinya air hangat, dan sedikit obat yang ada di kotak P3K. Sore itu terasa begitu panjang dan menegangkan. Aku dan ibu terus berdiskusi untuk segera membawa bapak ke rumah sakit.
Namun, malam harinya, ketika kondisinya mulai sedikit membaik dan ia sudah bisa duduk, bapak menatap kami dengan wajah lemah dan berkata pelan,
“Bapak nggak usah ke rumah sakit, nggak apa-apa. Besok aja, biar bapak sama ibumu pulang. Nanti bapak mau ke dokter yang bapak percaya.”
Aku terdiam, sulit menerima keputusan itu. Tapi ibuku berusaha menenangkanku, meyakinkan bahwa bapak akan baik-baik saja. Dan memang, malam itu bapak terlihat sedikit lebih segar dibanding sebelumnya. Akhirnya besoknya kedua orang tua ku pulang dengan keadaan yang cukup bugar, aku mengantar kepulangan mereka.
Namun entah kenapa, jauh di dalam hatiku… ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Seperti firasat buruk yang pelan-pelan mulai tumbuh — bahwa kejadian ini mungkin tidak sepenuhnya wajar.
Dan benar saja, beberapa hari setelah kepulangan bapak dan ibuku tepatnya pada bulan Februari, kabar duka datang tiba-tiba. Pagi itu aku menerima telepon dari ibuku, mengabarkan jika nenekku meninggal dunia. Katanya, beliau terjatuh di kamar mandi.
Sekujur tubuhku terasa lemas mendengar kabar itu. Aku hanya bisa terdiam, mencoba mencerna kalimat yang baru saja kudengar.
Ada perasaan tidak enak yang sulit kujelaskan. Bukan hanya karena kehilangan nenek, tapi juga karena sesuatu di dalam diriku berkata bahwa semua ini… mungkin ada hubungannya.
Aku berusaha menepis pikiran itu. Aku mencoba berpikir logis — mungkin ini hanyalah kebetulan. Namun, semakin kucoba untuk meyakinkan diri, semakin kuat rasa was-was yang muncul.
Aku hanya bisa berharap, semoga apa yang terjadi pada nenek, pada bapak, dan pada kami beberapa waktu terakhir… bukanlah rangkaian dari sesuatu yang sama. Sesuatu yang masih mengikuti kami sejak malam itu, dari Gunung Kawi.
2021, Februari - Tidak Percaya
Setelah menerima kabar duka itu, aku hanya bisa terdiam lama. Rasanya campur aduk antara sedih, kaget, dan tak percaya. Namun karena saat itu masih dalam masa pandemi, aku tidak bisa langsung pulang ke kediaman nenek. Pembatasan perjalanan masih ketat, dan aku harus menunggu sampai situasi benar-benar kondusif sebelum bisa berangkat ke sana.
Setiap malam, aku hanya bisa berdoa dari kejauhan, berharap nenek tenang di sisi-Nya. Tapi entah kenapa, ada sesuatu yang mengganggu pikiranku. Seperti ada perasaan belum selesai — seolah aku masih harus “datang” ke sana, meski hanya untuk sekadar berpamitan.
Beruntung, beberapa hari kemudian keadaan mulai agak longgar. Aku akhirnya memutuskan untuk berangkat ke kediaman nenek, tepat pada hari ketujuh sejak beliau meninggal. Dengan transportasi seadanya, aku berangkat ditemani oleh teman satu kontrakanku, Agung.
Kami berdua menempuh perjalanan cukup jauh menuju kediaman nenek. Sepanjang jalan, aku hanya ingin sampai tepat waktu, dan semoga sempat untuk ikut dalam pengajian nenek yang digelar setelah Isya. Tapi di sela-sela semua itu, ada juga rasa aneh yang sulit kuabaikan.
Sepanjang perjalanan sebenarnya semuanya terasa aman-aman saja. Jalanan sepi, kami bahkan sempat beberapa kali tertawa kecil membicarakan hal-hal remeh di jalan.
Namun, ketika motor kami mulai memasuki kota tempat kediaman nenek, cuaca tiba-tiba berubah drastis. Hujan turun begitu deras tanpa tanda-tanda sebelumnya, memaksa kami menepi ke pinggir jalan. Kami memang tidak membawa jas hujan sama sekali, jadi tidak ada pilihan lain selain menunggu hingga hujan benar-benar reda.
Sekitar beberapa menit kemudian, hujan mulai berhenti. Meski jalanan masih basah kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Setelah beberapa kilometer, akhirnya kami sampai di desa tempat kediaman nenek — sekaligus desa tempat rumah lamaku dulu berada.
Di tengah perjalanan menuju rumah nenek, aku sempat bercanda dengan Agung. Aku menunjuk ke arah jalan yang sedang kami lalui dan berkata sambil tertawa,
“Dulu waktu aku kecil, aku hampir ketabrak truk di sini, Gung. Tapi lucunya, aku malah selamat gara-gara tiba-tiba pengin ngambil mainanku yang jatuh di pinggir jalan.”
Agung tertawa mendengarnya, dan kami terus melaju sambil sesekali bercakap ringan.
Namun, tawa itu hanya bertahan sebentar. Sekitar seratus meter sebelum sampai di rumah lamaku, tiba-tiba saja pengendara motor di depan kami mengerem mendadak. Refleks, aku pun ikut menarik tuas rem sekuat-kuatnya. Ban depan selip sedikit, tapi motor masih bisa kukendalikan.
Sayangnya, nasib tidak sebaik itu bagi pengendara di belakang kami. Dari arah belakang terdengar suara gesekan keras — motor lain melaju dengan kecepatan tinggi dan tidak sempat menghindar.
BRAK!
Tubuhku tersentak keras ke depan. Semua terasa cepat — suara benturan, tubuhku terlempar ke sisi jalan.
Beberapa detik aku tidak tahu apa yang terjadi. Pandanganku kabur. Aku hanya bisa memandangi aspal basah di hadapanku, dan di sela pandangan yang berputar, kulihat Agung tidak mampu untuk berusaha berdiri, menahan sakit di tangan kananya. Karena ternyata tangan kanannya terinjak oleh motor yang ada di belakang.
Kecelakaan itu cukup parah. Tapi anehnya… aku sama sekali tidak merasakan sakit. Tidak ada luka, tidak ada rasa perih sedikit pun. Aku berdiri perlahan, memeriksa tubuhku, dan semuanya tampak baik-baik saja.
Setelah benturan keras itu, kami segera menepi ke rumah warga yang kebetulan berada tidak jauh dari lokasi kejadian. Aku masih sedikit gemetar, tapi mencoba tetap tenang. Agung terlihat kesakitan dan berdarah-darah tepat di kakinya, terutama di bagian tanganya yang tampak memar. Untung saja, di dekat situ ada sebuah warung kecil yang dijaga oleh seorang bapak paruh baya.
Bapak itu dengan sigap membantu kami. Ia mengambil kotak P3K sederhana dan memberikan pertolongan pertama kepada Agung. Luka-lukanya terlihat parah dan cukup membuatnya sulit berjalan untuk beberapa saat.
Sementara itu, aku dan pengendara motor yang menabrak dari belakang saling meminta maaf. Tidak ada emosi, tidak ada adu mulut — kami berdua sadar bahwa kejadian itu murni kecelakaan. Jalanan licin karena hujan, dan jarak pengereman terlalu dekat.
Akhirnya kami sepakat untuk menyelesaikan semuanya dengan damai. Tidak ada yang perlu diperpanjang. Motor kami masing-masing juga tidak mengalami kerusakan serius — hanya lecet di beberapa bagian, dan beberapa bagian ada yang pecah.
Setelah memastikan Agung cukup kuat untuk melanjutkan perjalanan, kami berdua berpamitan kepada bapak penjaga warung dan pengendara tadi. Hujan mulai turun lagi, tapi kali ini hanya gerimis tipis.
Kami kembali melaju perlahan menuju rumah nenek. Mengganti pakaian kami yang lusuh dengan pakaian baru yang kami bawa. Namun, sepanjang sisa perjalanan itu, aku merasa ada sesuatu yang berubah. Udara terasa lebih berat, dan di antara rintik hujan yang jatuh, aku sempat melihat bayangan putih melintas di kejauhan hingga sampai tepat di depan rumah lamaku — entah apa, tapi cukup membuat dadaku kembali berdebar.
Aku mencoba menepis pikiran itu, meyakinkan diri bahwa mungkin itu hanya kabut, atau pantulan cahaya. Tapi jauh di dalam hati, aku tahu… sejak Gunung Kawi, bayangan itu seolah terus mengikuti langkahku ke mana pun aku pergi.
Sampailah kami di tempat kediaman nenek, acara berjalan lancar, dan juga tanpa kendala. Namun satu yang aku perhatikan sedari tadi, bapakku, tatapanya tidak seperti biasanya, cara bicaranya juga tidak selucu biasanya, kali ini dia benar benar menjadi orang yang berbeda, dari yang aku kenal sebelumnya. Seakan-akan ada yang ingin dia sampaikan kepadaku. Malam itu benar-benar semua keluarga besar berkumpul di rumah nenek, namun tidak satupun dari mereka tahu kalau aku baru saja mengalami kecelakaan, karena aku memang tidak ingin bercerita dan membuat mereka khawatir. Tapi tidak dengan bapakku, seolah-olah dia tahu apa yang barusan terjadi kepadaku.
Paginya, aku dan Agung harus pulang lagi ke Malang, karena ada pekerjaan yang tidak bisa kami tinggal, pun juga dengan kuliah kami. Namun sebelum aku berpamitan untuk pulang, bapak memanggilku, tepat di teras rumah nenek, aku disuruh duduk, bapak mengatakan kalimat yang tidak terlalu panjang, namun cukup membuatku terheran-heran, bapak bilang,
"Nak dia masih mengikutimu, dia tahu apa yang akan dia perbuat, berhati-hatilah, dimanapun kamu berada. Bapak tahu kemarin kamu kecelakaan kan, bekas darah temanmu Agung masih menempel di celananya, bapak juga tahu kamu kemarin kecelakaan dimana, sebelum tempat rumah bapak kan nak. Itu semua bukan semata-mata kecelakaan biasa, itu adalah ulahnya, dia ingin mencelakai seseorang, terutama kamu Dik, kamu gausah khawatir sama bapak, bapak akan baik-baik aja, sekarang pulanglah, bapak bisa pastikan keselamatanmu kali ini, ingat Agunging Gusti Allah nak".
Aku terdiam, tidak mampu berkata-kata sedikitpun, seakan tidak percaya untuk sekali lagi.
Bergegas aku beranjak dari rumah itu, berpamitan dengan budhe dan kedua orang tua ku, kulanjutkan perjalanan dengan aman hingga sampai ke kota Malang.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa. Dua minggu penuh kuhabiskan hanya untuk bekerja dan belajar. Tidak ada hal aneh, tidak ada mimpi buruk, tidak ada bayangan yang mengikuti. Semuanya terasa tenang, seolah semua kejadian kelam itu akhirnya benar-benar berakhir.
Namun, ketenangan itu ternyata hanya sementara.
Suatu sore, ketika aku baru saja pulang kerja, ponselku berdering. Di layar, tertulis nama kakakku. Awalnya aku tidak berpikir apa-apa, tapi begitu kudengar suaranya di seberang, nadanya terdengar berat dan bergetar. Dari sana, hidupku seakan runtuh dalam sekejap.
“Bapak... masuk rumah sakit. Sakitnya parah.”
Aku terdiam. Dunia seolah berhenti berputar. Rasanya seperti ditarik jatuh ke dalam lubang yang tak berdasar. Kata-kata kakakku menggema terus di kepalaku — berulang, tapi tetap sulit kupahami.
Hari-hari setelah kabar itu terasa kabur. Bapak dirawat secara intensif di rumah sakit terbaik. Dokter-dokter terbaik sudah berusaha keras, tapi keadaan bapak semakin hari semakin melemah. Aku, ibu, dan kakak serta adik hanya bisa berdoa, berharap ada keajaiban.
Tapi takdir berkata lain.
Beberapa hari kemudian, kabar yang paling tidak ingin kudengar akhirnya datang. Bapak… berpulang.
Aku tak tahu bagaimana menjelaskannya — rasa hancur, sedih, dan kehilangan itu bercampur menjadi satu. Rumah terasa kosong, dunia seakan berhenti.
Dalam diam, aku hanya bisa melihat nelangsanya keluarga kami, kehilangan sosok bapak yang pergi jauh meninggalkan istri dan anaknya, namun semua sudah terjadi, jadi kami perlahan mampu mengikhlaskan kepergian beliau.
Tapi entah kenapa, di sela rasa duka itu, ada satu perasaan aneh yang tak bisa kuabaikan…
Perasaan bahwa semua ini, hal-hal tidak kupercaya ini, semua kehilangan ini. Memunculkan pertanyaan bahwa ini bukan sekadar kebetulan kan?
2021, Maret/Desember - Kejadian Tragis
Setelah kepergian bapak, aku pikir semua mimpi buruk telah berakhir. Aku berusaha kembali menjalani hidup seperti biasa — bekerja, kuliah, menata hati. Namun, ternyata semua itu baru permulaan dari rangkaian peristiwa yang tak masuk akal.
Kejadian aneh pertama datang dari temanku, Agung. Waktu itu aku pulang ke kampung untuk menghadiri pemakaman bapak, meninggalkan dia sendirian di kontrakan. Malam itu, Agung tidur di ruang tamu. Dari posisinya, ia bisa melihat jendela yang hanya tertutup kelambu tipis. Sekitar tengah malam, ia terbangun karena mendengar langkah pelan di luar. Dari balik kelambu itu, tampak jelas sosok berwarna putih berjalan perlahan ke arah kiri — gerakannya kaku, tapi tenang.
Tubuh Agung kaku. Ia ingin berteriak tapi tak bisa. Setelah sosok itu menghilang, ia segera berkemas dan pergi ke kos temannya. Ia berkata padaku kemudian, “Aku gak kuat tidur sendirian di rumah itu, Dik.”
Beberapa hari setelahnya, tepat di hari ke-10 setelah bapak meninggal, aku sendirian di kontrakan. jam 8 malam, saat suasana begitu hening, suara keras tiba-tiba terdengar dari dapur.
Trang! Tring! Klang!
Sendok, piring, dan beberapa peralatan dapur jatuh berantakan seolah ada yang menabraknya. Aku berlari ke dapur, tapi tak ada siapa pun. Pintu tertutup rapat, dan udara di dalam rumah mendadak dingin menusuk. Malam itu aku tidak tidur sama sekali. Karena masih terheran dengan apa yang barusan aku alamin.
Tidak lama setelah kejadian ku itu, adikku yang tinggal bersamaku mulai bercerita hal aneh. Katanya, suatu malam ia melihat sosok kecil berlari di ruang tamu — bertubuh mungil, berkepala botak, seperti tuyul. Lalu kami beritga juga mulai sering menemukan rambut panjang di wastafel kamar mandi, dan aroma aneh yang muncul tanpa sebab.
Bahkan kejadian horor ini tidak hanya terjadi di dalam rumah kontrakan itu saja, ketika aku menginap di tempat kos temanku yang bernama Alex, aku sempat diganggu dengan kehadiran sosok Kuntilanak yang akhirnya membuat aku dan Alex waktu itu tidak dapat berkata-kata lagi, sosok itu muncul dari balik jendela kamar Alex, dan menganggu ku dengan memainkan pintu di kos milik Alex, hingga kejadian terbaiknya adalah lampu di kamar Alex meledak.
Gangguan demi gangguan datang silih berganti. Puncaknya adalah ketika seorang temanku yang sempat menginap di kontrakan — seorang pekerja kapal minyak — melihat sepasang kaki pucat berjalan di sela sela bawah pintu ruang tamu, tempat ia tidur. Beberapa hari setelahnya, kabar duka datang: ia meninggal dalam kecelakaan kapal di laut.
Kami semua terdiam. Tidak ada yang berani membahasnya, tapi di dalam hati kami tahu… sesuatu masih mengikuti kami sejak Gunung Kawi.
Namun, kisah ini tak berhenti sampai di situ. Tepat dua bulan setelah kejadian Gunung Kawi, kabar lain datang — dari Mas Deden. Suatu hari, ia akhirnya jujur bercerita. Dengan suara pelan, ia mengaku bahwa istrinya sempat mengandung, namun kandungannya harus gugur karena janin yang dikandungnya lemah. Ia bilang, “Entah kenapa, sejak pulang dari Kawi, suasana rumah gak pernah sama. Tidur sering mimpi buruk dan beberapa hal aneh terjadi”
Tak lama setelah pengakuan itu, musibah besar menimpanya. Mas Deden mengalami kecelakaan hebat di jalanan kota Malang — menjadikan kecelakaan terbesar dan terheboh saat itu, melibatkan satu mobil, satu mini truk, dan satu motor. Tidak ada korban jiwa, tapi ia harus merelakan kakinya patah dan pelipisnya robek. Seolah nasib buruk tak ingin beranjak darinya, beberapa bulan kemudian ia kehilangan kedua orang tuanya — ibunya terlebih dahulu, lalu ayahnya yang sempat ingin mengakhiri hidup karena tak kuat kehilangan istrinya.
Duka juga menimpa kami khususnya Mbak Romi. Ia harus merelakan kepergian sepupunya karena penyakit misterius. Yang membuatku tercekat, sepupunya itu adalah salah satu dari rombongan yang ikut mendaki Gunung Kawi bersama kami.
Dan seolah semua belum cukup, giliran adikku yang mengalami kejadian mengerikan. Kami waktu itu sudah pindah dari kontrakan ke kos baru karena terlalu banyak kejadian janggal dan memang masa sewa sudah habis.
Suatu malam, ketika aku sedang di luar, adikku mencoba tidur sendirian. Lampu kamar sudah dimatikan. Namun malam itulah ia melihat sosok tinggi besar di pojok kamar, dia yakin itu adalah pocong, katanya, setinggi hampir tiga meter, dengan wajah samar dan mata kosong, menatap tepat ke arahnya.
Dia mencoba membaca doa, berteriak, tapi tubuhnya kaku. Dalam ketakutan, ia akhirnya berlari keluar dan mengetuk kamar temanku, Bimbim — seorang indigo yang sering kami mintai saran setiap kali kejadian aneh terjadi. Malam itu, Bimbim bilang sesuatu yang membuat kami semua merinding:
“Ada yang ngikutin kamu. Dan dia belum selesai.”
Setelah peristiwa itu, adikku jatuh sakit selama seminggu penuh. Setelah sembuh, ia justru mengalami kecelakaan di perempatan kampusnya — motornya rusak parah, tapi untungnya nyawanya selamat.
Dengan segala tragedi yang terjadi — dari keguguran, kecelakaan, kematian, hingga teror yang terus menghantui — aku mulai bertanya pada diriku sendiri:
apakah ini semua hanya kebetulan?
Ataukah... sesuatu dari Gunung Kawi benar-benar menuntut balas?
2022, Bimbim Si Indigo
Tahun itu menjadi titik balik dalam hidupku. Setelah semua kejadian mengerikan yang menimpa kami — mulai dari teror di kontrakan, kecelakaan demi kecelakaan, hingga kehilangan orang-orang terdekat — aku mulai merasa, ada sesuatu yang lebih besar sedang bekerja di balik semua ini.
Aku dan adikku sudah tidak lagi tinggal satu kos dengan Bimbim. Namun hubungan kami tetap dekat. Ia sering datang berkunjung, kadang hanya sekadar mengobrol sambil main game, kadang juga membicarakan hal-hal yang tak bisa dimengerti oleh orang kebanyakan. Bimbim bukan orang sembarangan. Ia dikenal punya “penglihatan” sejak kecil. Orang-orang menyebutnya indigo, tapi aku lebih suka menyebutnya orang yang bisa melihat kebenaran dari sisi yang tak kasat mata.
Waktu itu, aku dan adikku pindah ke rumah kakak kami. Rumah itu sederhana, tapi sudah lama kosong. Kakak memintaku menempatinya sementara agar tidak terlalu lembab dan tidak disusupi hewan liar. Aku pikir, mungkin dengan pindah, semua gangguan itu akan berhenti. Tapi ternyata, justru dari sanalah tabir kebenaran mulai terbuka.
Malam pertama kami di rumah itu berjalan biasa saja. Namun, entah mengapa, di malam kedua aku mulai merasa hawa aneh yang sulit dijelaskan. Bukan hanya dingin, tapi seperti ada tatapan yang mengawasi dari sudut-sudut gelap rumah. Terdengar suara gamelan sangat keras dimainkan, suara itu didengarkan oleh aku dan adikku.
Karena tak ingin berpikiran macam-macam, aku mencoba mengabaikannya. Tapi suatu malam, Bimbim datang. Baru beberapa menit ia masuk rumah, ia langsung terdiam lama di depan pintu, menatap ke arah teras. Aku menegurnya pelan,
“Kenapa, Bim?”
Ia menarik napas panjang, lalu berkata lirih,
“Tempat ini… bukan cuma kosong. Dia minta dijaga karena ada yang belum tenang di sini.”
Aku tak begitu paham maksudnya, sampai kemudian Bimbim mulai membuka cerita. Ia bilang, semua kejadian yang kami alami, mulai dari Gunung Kawi, kontrakan, kos lama, sampai rumah ini — saling terhubung.
Menurutnya, roh yang mengikutiku bukan hanya berasal dari Gunung Kawi, tapi juga roh-roh lain yang “terpanggil” tanpa sengaja ketika aku berada di tempat-tempat tertentu.
“Kamu itu punya energi yang kuat,” katanya pelan.
“Kadang, tanpa sadar kamu mengundang mereka. Dan mereka datang, bukan untuk menakut-nakuti, tapi karena tertarik dengan itu.”
Namun, yang paling membuatku tak bisa berkata apa-apa adalah ketika Bimbim menyinggung soal kamar kos lamaku dulu.
Ia bilang, kamar yang dulu kutempati ternyata pernah dihuni oleh seseorang — seorang mahasiswa — yang meninggal karena tertabrak truk di depan kos itu, tepat di tahun sebelum aku pindah ke sana. Tidak ada seorang pun yang pernah memberitahuku hal itu. Dan yang lebih mengejutkan, Bimbim berkata bahwa roh penghuni lama itu masih “menetap” di sana.
Aku tercekat. Semua kenangan buruk di kamar itu langsung berputar di kepala: mimpi buruk, suara langkah tengah malam, sampai pocong yang dialami oleh adikku. Seketika semuanya terasa masuk akal.
Tapi yang paling membuat kaget dan heran adalah ketika Bimbim akhirnya bicara tentang “yang dari Kawi.”
“Yang ikut kamu waktu itu… bukan cuma arwah biasa,” katanya pelan.
“Dia kuat. Sangat kuat. Dia gak akan pergi sebelum dendamnya selesai.”
Aku menatap Bimbim dan bertanya.
“Dendam? Dendam siapa, Bim? Bukannya dia cuma mencari tumbal seperti katamu?”
Bimbim menunduk. Suaranya pelan.
“Bukan cuma tumbal. Dia nuntut keadilan. Tapi aku gak bisa ngomong banyak... dia melarangku buat nyebut apa yang sebenarnya terjadi.”
Setelah mengatakan itu, wajah Bimbim tiba-tiba melamun dan terdiam sejenak. Aku mencoba menyadarkannya, tapi ia hanya berkata singkat:
“Kamu harus hati-hati. Ada alasan kenapa dia memilih kamu. Tapi belum saatnya kamu tahu.”
Sejak hari itu, aku tak pernah lagi memandang semua kejadian ini sebagai kebetulan. Aku mulai percaya bahwa ada sesuatu yang jauh lebih tua, lebih dalam, dan lebih berkuasa dari sekadar sosok hantu perempuan bergaun putih.
Bimbim mungkin benar — tempat itu bukan sekadar dihuni oleh makhluk tak kasat mata. Tempat itu menuntut, meminta sesuatu… dan entah kenapa, tuntutan itu belum selesai.
2023, Berakhirnya Semua Kutukan
Setelah bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang teror, akhirnya aku dan Bimbim memutuskan untuk mencari cara agar semuanya benar-benar berakhir. Kami berdua sepakat: cukup sudah semua gangguan, kehilangan, dan rasa takut yang terus menghantui hidup kami.
Beberapa bulan terakhir, kami mulai melakukan berbagai cara — dari mencari tahu sejarah tempat-tempat yang pernah kutinggali, hingga memvisualkan wujud-wujud yang selama ini muncul. Kadang rasanya seperti kami menjadi tim pemburu hantu dadakan — mirip ghost buster, tapi tanpa alat canggih, hanya berbekal keberanian, dan keyakinan.
Dari hasil visualisasi itu, kami melihat berbagai sosok aneh. Ada pocong bermata berdarah yang menatap tajam tanpa bola mata, sosok perempuan cantik yang kerap menggoda lelaki yang lewat di depan rumah, hingga sesosok besar berbulu hitam pekat — genderuwo penunggu kawasan perumahan itu. Semua muncul, silih berganti, seolah ingin menunjukkan bahwa mereka memang ada.
Namun puncak dari semua kejadian itu terjadi pada suatu malam yang sunyi.
Waktu itu aku sedang sendirian di rumah, karena adikku tengah menjalani KKN di luar kota. Aku tidur di sofa ruang tamu, ditemani kucing kecilku, Cepi namanya. Suasana begitu hening, tidak ada suara kendaraan lewat, tidak ada orang berbicara — hanya kesunyian yang aneh dan menekan.
Tanpa sadar, aku tertidur. Tapi ketenangan itu tak berlangsung lama.
Entah dari mana, terdengar suara burung gagak bersahutan di luar rumah. Awalnya hanya satu, tapi lama-kelamaan suaranya semakin banyak — berputar mengelilingi rumah seperti melantunkan pertanda kematian. Tak lama kemudian, terdengar suara gesekan berat di atas genteng, seperti sesuatu yang diseret perlahan.
Jantungku berdetak kencang. Suara itu familiar — aku tahu benar, itu bukan suara hewan.
Itu tanda… kehadirannya. Sosok Kuntilanak yang kujumpai di Gunung Kawi.
Rasa takut mulai menjalar ke seluruh tubuhku. Aku berusaha menenangkan diri, menarik napas dalam, memejamkan mata rapat-rapat, pura-pura tidur. Tapi Cepi, kucing kecilku, terus mengeong — matanya menatap tajam ke arah dapur. Aku tahu sesuatu ada di sana.
“Jangan lihat,” pikirku dalam hati.
“Tolong jangan lihat...”
Tapi hatiku justru menuntunku untuk menoleh. Dan benar saja—
Di sudut dapur, berdiri sosok yang sudah lama kutakuti.
Sosok perempuan bergaun putih panjang, rambutnya menutupi wajah, tubuhnya kaku, tapi tangannya terus berayun pelan. Persis seperti yang pernah diceritakan ibuku dulu. Aku tak bisa bergerak, tak bisa menjerit. Hanya terdiam membeku, seolah waktu berhenti.
Ia tidak menatapku, tapi aku tahu ia sadar aku melihatnya.
Ia melambaikan tangannya dan seolah berkata bahwa ia telah menang, dan aku telah kalah.
Lalu pelan-pelan, ia menunduk... dan menghilang begitu saja.
Saat itu juga, suara gagak di luar rumah ikut lenyap.
Aku hanya sempat berbisik lirih sebelum tertidur lelap tanpa sadar.
Keesokan paginya aku segera menceritakan semuanya kepada Bimbim. Ia hanya tersenyum tenang, lalu berkata pelan,
“Dia sudah selesai dengan dendamnya.”
Aku menatapnya, tak mengerti.
“Maksudmu?”
“Dia sudah mengambil apa yang dia mau. Semua orang yang pernah melihat atau disentuh oleh energinya sudah mendapat bagiannya. Dia ingin kamu juga... tapi sosok di belakangmu melindungimu.”
Aku terdiam.
“Sosok di belakangku?”
Bimbim mengangguk perlahan.
“Ada jin yang diutus Tuhan untuk menjagamu. Sama halnya dengan Mas Deden. Karena itu kamu masih hidup. Kamu dan dia diselamatkan atas izin-Nya.”
Mendengar itu, dadaku terasa hangat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa lega — seolah beban berat yang selama ini menindih dadaku akhirnya terangkat.
“Mulai sekarang,” lanjut Bimbim,
“kamu gak akan diganggu lagi. Semuanya sudah selesai.”
Aku hanya bisa tersenyum, menatap langit yang perlahan berubah abu-abu.
Sejak hari itu, aku memutuskan untuk meninggalkan rumah itu dan mencari tempat tinggal baru. Aku tak ingin lagi menyimpan kenangan buruk di sana. Tapi lebih dari itu, aku menyadari satu hal penting:
Bahwa tidak ada yang terjadi di dunia ini secara kebetulan.
Semuanya punya sebab, punya pesan, dan punya makna yang ingin disampaikan.
Dulu, aku sempat tidak percaya pada Tuhan, pada hal gaib, atau pada takdir. Tapi setelah semua yang kulalui — kehilangan, ketakutan, hingga keajaiban kecil yang menyelamatkanku — aku akhirnya mengerti.
Ada kekuatan yang lebih besar dari kita. Dan di balik setiap kegelapan, selalu ada cahaya yang menunggu untuk ditemukan.
Kutukan itu akhirnya berakhir.
Tapi pelajaran yang ditinggalkannya… akan selalu hidup bersamaku.

Comments
Post a Comment