Kevin Sanjay
Lima tahun kemudian. Jakarta berubah. Semua orang berubah. Hanya satu hal yang tidak berubah. Di sudut sebuah jalan, berdiri sebuah kafe sederhana bernama
Kedai Republik
Di bawah logonya tertulis kalimat kecil.
"Rumah bagi siapa pun yang ingin pulang."
Kevin masih memakai celemek. Masih sibuk. Masih mondar-mandir.
Bedanya...warung Indomie kecil itu kini berubah menjadi kafe dua lantai.
Menu favoritnya tetap sama. Indomie.
Hanya sekarang...pilihannya mencapai puluhan menu.
...
Pagi sampai malam. Kevin hampir tidak pernah duduk.
"Mas, meja tujuh!"
"Mas, kopinya satu!"
"Bang Kevin, gas habis!"
"Bang, stok telur tinggal dikit!"
Kevin hanya tertawa.
"Iya... iya... bentar!"
Adiknya yang sejak dulu membantu perlahan mengambil alih dapur. Sementara Kevin lebih sering menyapa pelanggan.
Semua mengenalnya. Tidak sedikit pelanggan yang datang bukan hanya untuk makan.
Tetapi untuk mendengar cerita Kevin.
Karena semua orang tahu pemilik kafe itu selalu punya waktu mendengarkan siapa pun.
...
Pintu terbuka.
"Yo!"
Raka masuk sambil menggendong seorang anak perempuan kecil berusia sekitar dua tahun.
Di belakangnya...Yana membawa beberapa naskah.
Masih sama. Yang satu editor. Yang satu penulis.
Bedanya...sekarang nama mereka terpajang di rak bestseller hampir di seluruh toko buku Indonesia.
Novel mereka.
Republik Maya.
Menjadi buku yang mengubah hidup banyak orang. Tidak sedikit pembaca yang mengirim surat. Mengaku...berdamai dengan masa lalu setelah membaca kisah mereka.
Kevin tersenyum.
"Biasalah..."
"Penulis terkenal telat."
Raka tertawa.
"Macet."
Yana langsung menyela.
"Bohong."
"Dia lama nyari parkir."
Semua tertawa.
...
Tak lama kemudian...
Rio datang. Kini memakai kemeja rapi. Di sampingnya...Mia.
Mereka kini mendirikan perusahaan kreatif yang cukup besar. Studio kecil yang dulu mereka impikan...kini memiliki puluhan karyawan. Rio masih tenang. Mia masih cerewet. Tidak ada yang berubah. Mereka adalah pasangan yang serasi.
...
Lalu...
Adit masuk. Belum sempat duduk. Sudah ada pelanggan yang mengenalinya.
"Bang Adit!"
"Foto dong!"
Adit menghela napas dramatis.
"Capek ya jadi artis."
Semua langsung menimpuknya dengan tisu. Tawa memenuhi ruangan. Setelah memenangkan kompetisi stand-up nasional beberapa tahun lalu...hidup Adit berubah. Namun satu hal yang tidak berubah. Lawakannya tetap receh.
...
Pintu kembali terbuka.
Miko datang paling terakhir. Kini mengenakan kemeja lengan panjang dan membawa tas kerja.
"Dosen killer datang."
Rio langsung menyambut. Mahasiswa di kampus mengenalnya sebagai dosen yang tegas. Nilainya sulit. Tugasnya banyak.
Namun...tak ada mahasiswa yang membencinya. Karena Miko selalu menjadi orang pertama yang membantu ketika mahasiswanya kesulitan. Ia hanya tersenyum tipis.
"Kalian masih berisik."
...
Mereka duduk di meja yang sama. Sudut favorit. Yang selalu Kevin sisakan. Tidak boleh dipesan siapa pun. Di dinding dekat meja...terpajang satu foto.
Foto lama.
Di bawah pohon mangga. Tujuh orang. Dengan senyum paling tulus yang pernah mereka miliki. Di bawah foto itu tertulis.
Republik Maya
"Di tempat yang tak nyata, kita sering lupa bahwa perasaan tetap nyata."
Kevin memandang foto itu sebentar. Lalu tersenyum kecil.
"Masih lengkap."
...
Tidak lama setelah kevin memperhatikan foto itu, terdengar bunyi dari arah pintu.
Ting.
Suara lonceng pintu berbunyi pelan. Tidak ada yang terlalu memperhatikan. Kevin yang sedang mencatat pesanan spontan mengangkat kepala.
Lalu...ia membeku.
Seorang perempuan masuk. Rambutnya masih panjang terikat. Senyumnya masih sama. Wajah yang bertahun-tahun hanya hidup di dalam kenangan.
Safira.
Perempuan itu tersenyum ketika melihat Kevin.
"Masih inget aku?"
Kevin tertawa kecil.
"Kalau lupa..."
"...berarti aku kebangetan."
Safira ikut tertawa. Ia berjalan menuju kasir.
"Udah lama ya."
"Iya."
"Hampir sepuluh tahun."
Mereka saling menatap. Suasana mendadak menjadi canggung.
Dari kejauhan...Adit langsung berbisik pelan.
"Woy."
"Itu dia."
Rio langsung menahan tawanya. Mia bahkan sudah menutup mulut agar tidak bersorak. Yana menyikut pelan Raka.
"Jangan ganggu."
Raka mengangguk.
Mereka semua pura-pura sibuk mengobrol. Padahal...diam-diam memperhatikan kasir.
...
Kevin menggaruk tengkuknya. Masih sama seperti dulu. Kalau gugup...ia selalu melakukan itu. Ia ngobrol panjang lebar dengan Fira, mulai dari membahas masa lalu, sampai kesibukan sekarang. Tapi tiba-tiba saja pertanyaan aneh muncul dari Kevin.
"Fira..."
"Hm?"
"Boleh nanya?"
"Boleh."
Kevin menarik napas panjang. Pertanyaan itu sederhana. Namun entah kenapa, menjadi pertanyaan paling sulit dalam hidupnya.
"...pacar atau suami kamu enggak ikut?"
Safira menatap Kevin beberapa detik. Lalu...tersenyum.
Pelan.
Hangat.
"Aku nggak ada siapa-siapa"
Hanya beberapa kata.
Namun...cukup membuat dunia Kevin terasa berhenti beberapa saat.
Kevin menunduk. Lalu tertawa kecil sendiri. Senyumnya begitu lebar hingga sulit ia sembunyikan. Safira ikut tertawa.
"Kenapa senyum-senyum?"
Kevin menggeleng.
"Gak apa-apa."
"Tapi..."
"...syukurlah."
Safira memiringkan kepala.
"Syukur kenapa?"
Kevin menatap perempuan itu. Kali ini...tanpa ragu.
"Soalnya..."
"...aku juga belum menyerah."
Safira terdiam. Pipinya perlahan memerah.
Kemudian...ia tersenyum. Senyum yang dulu membuat Kevin jatuh hati. Dan mungkin...masih akan membuatnya jatuh hati berkali-kali.
...
Di sudut ruangan...
Adit berbisik pelan.
"Anjir..."
"Filmnya belum selesai ternyata."
Rio tertawa kecil.
Miko mengangguk tipis.
Mia menepuk bahu Yana.
Raka hanya tersenyum sambil melihat sahabatnya.
Mungkin...selama ini Kevin memang selalu menjadi orang yang membantu semua orang menemukan rumah.
Kini...akhirnya semesta memutuskan...giliran Kevin yang dipertemukan dengan jalan pulangnya.
Republik Maya telah berakhir.
Namun, seperti semua rumah yang baik...
pintunya akan selalu terbuka bagi siapa pun yang ingin kembali.
༄˖°.🍃.ೃ࿔*:・
Comments
Post a Comment