Skip to main content

Republik Maya: Bab 2

Selamat Datang

Malam selalu menjadi waktu yang paling panjang bagi Raka.

Dulu, pukul sembilan malam adalah waktu ketika ia menunggu pesan dari Selena. Kini, yang ia tunggu hanyalah balasan lamaran pekerjaan yang entah kapan datangnya.

Ponselnya bergetar, Layar latopnya selalu membuka tampilan email. Seperti seseorang yang tanpa tau kejelasan, Raka terus menerus digantung oleh HRD dan perusahaan, dalam suasana bosan dan suntuk, tiba-tiba kevin menegur Raka lewat pesan singkat.

"Rak, lagi ngapain, jangan kayak orang bingung terus lu"

"Nggak ngapa-ngapain vin, lu sendiri ngapain"

"Masuk sini lah sebentar Rak"

"Kemana vin, ke rumah lu?"

"Bukan bego!"

"Lah terus kemana pinter!"

"Nih, masuk group server Rak"

"Apaan lagi tuh vin"

"Tempat orang-orang gabut kumpul, join lah, seru kok"

"Gue gak kenal siapa-siapa tapi vin"

"Ya makannya sini kenalan Rak"

"Males"

"Kocak anjir, lu kalau terus begitu, lama-lama entar gue liat lu teriak-teriak sendiri di pom bensin sama entar gue ngeliat lu ngobrol sama setan. Kocak!!!"

"Iye...iyee...bawel lu"

"Nah gitu dong, nih gue kirim link buat join"

Raka tersenyum tipis mengingat omongan Kevin tadi.

Beberapa menit kemudian...

ia menekan tombol Join Server.

Layar memperlihatkan sebuah nama. "REPUBLIK MAYA"

Masuk pertama kali, Raka hanya diam, mic dimatikan, kamera juga. Belasan orang sedang mengobrol, seolah mereka sudah berteman bertahun-tahun.

"Lah ada orang baru."

"Siapa tuh?"

"Kevin nyulik orang lagi?"

"Tolong jangan toxic dulu, kasihan."

Suara tawa memenuhi kanal.

Kevin tertawa.

"Santai, ini temen gue."

Lalu tidak lama...

sebuah suara langsung menyela.

"Halo, bro. Salam kenal. Kalau di group server ini tiap bulannya iuran 100 ribu ya, buat kas"

Raka langsung panik.

"Hah? Serius nih vin, gue mesti bayar iuran, anjir lu vin, inimah ngejebak gue namanya"

Semua orang tertawa.

"Satu monyet ketipu."

"Itu Adit ya, woilah stop tipu-tipu orang"

Adit, Mahasiswa semester akhir, orang pertama yang menyambut Raka. Pekerjaannya hampir setiap malam adalah membuat semua orang tertawa. Apa pun bisa dijadikan bahan bercanda. Kadang receh. Kadang garing. Tetapi entah bagaimana, semua orang menyukainya. Kalau Adit sedang online, server terasa hidup.

Belum selesai Raka mengenal satu orang...

suara lain muncul.

"Eh bentar. Kalian sadar gak kalau harga minyak naik itu pasti ada hubungannya sama ini gasih..."

"Anjir mulai lagi."

"Politik lagi nih. Gak lama juga entar bahas konspirasi lagi, eh tapi gapapa seru kok Mik haha"

Semua langsung mengeluh.

Kevin berbisik ke Raka.

"Itu Miko."

Miko, Kalau sudah berbicara soal politik dan konspirasi, apalagi debat, tidak ada yang bisa menghentikannya. Apalagi kalau sudah membahas game, ia bisa lupa waktu. Kalau sudah debat, bahkan Donald Trump pun bisa menyerah tuh. Itulah Miko dengan segala wawasannya yang cukup luas, dia orang yang seru untuk diajak ngobrol dari hal random sampai serius, tapi faktanya aslinya Miko adalah orang yang pemalu, jangankan buat ngobrol atau debat sama orang lain, Miko hampir tidak pernah berani mengangkat tangan ketika dosen bertanya.

Belum sempat percakapan selesai.

Notifikasi lain muncul. Mia is streaming.

"Eh Mia online."

"Anjir artis datang."

"VIP masuk."

"Hi guys maen game yuk apa nonton film, tapi gue sambil live ya hehe, dah ditagih nih dari kemaren sama pengikut gue buat maen the mimic, game horor paling viral tuh.."

Suasana langsung ramai.

Mia, Streamer, Cantik, Kaya Raya, dan Ceria. Pengikutnya puluhan ribu, selalu terdengar ceria, dan juga tawanya apalagi yang paling keras. Suka banget menghibur semua orang. Kalau ada yang sedang sedih, biasanya Mia yang pertama menghibur. Soal popularitas dia nomor satu, banyak pengikutnya melihat Mia sebagai sosok yang keren, apalagi pembawaanya di live stream tuh gak ada obatnya, apotik tutup, begitu kata banyak orang. Namun dibalik itu semua, di group server, teman-temannya tahu bagaimana perjuangan Mia untuk menyakinkan papanya yang gak setuju kalau Mia hanya jadi seorang streamer.

Beberapa saat kemudian, seseorang masuk.

Tidak bicara.

Tidak menyapa.

Hanya terdengar suara keyboard. Lalu keluar lagi.

"Lah?"

"Rio?"

"Buset baru lima detik."

"Rekor anjir."

Semua tertawa.

Kevin hanya geleng-geleng kepala.

Rio, tidak ada yang benar-benar mengenalnya. Dia masuk karena diajak sama Mia, kadang ia online setiap hari. Kadang menghilang berhari-hari. Kalau ditanya ke mana saja, jawabannya selalu sama.

"Kepo lu pada, yang penting kan gue masih hidup."

Tidak ada yang pernah tahu apakah itu bercanda atau serius. Namun justru karena itulah, Rio menjadi salah satu orang yang paling ikonik di Republik Maya.

Tidak lama dari kejadian Rio keluar, ternyata Rio masuk lagi.

"Eh sorry bro, gue tadi kepencet masuk, tapi yaudah deh, keknya tadi gue lihat ada anggota baru, hoi kenalan lu buru" 

"Iya bro kenalan dulu lah, pemalu amat lu gue liat-liat romannya", Sahut Adit

"Iyanih, kenalan dulu ih"

"Kenalan cuy, entar gue ajak ngobrol bumi datar atau donat deh"

Disusul suara dari Mia dan Miko

"Iya Rak sapa temen-temen dulu gih", Balas Kevin 

"Baiklah, karena kalian memaksa, kenalin gue Raka, gue temen kecilnya Kevin, seneng bisa kenal sama kalian semua, gue juga enjoy kok disini, gue rasa bakalan cocok nih sama kalian, gue juga tertarik buat kenal kalian lebih dalem, semoga kehadiran gue di Republik Maya, jadi pertanda bagus dan membawa kesan baik ke kalian semua ya, tengkyu guys"

"Wohooo mantab Raka...", Teriak Mia.

"Keren lu bro", Balas Rio.

"Baiklah sebagai owner server disini, lu gue terima Rak, tapi jangan lupa ya iurannya tadi haha"

"Ah tai lu dit masih aja bercanda haha"

Disusul suara tawa dari Adit dan Miko.

"Welcome To The Jungle Rak", Sambutan terakhir dari Kevin

Malam itu Raka tidak lagi menjadi Raka yang lebih banyak diam. Ia senang sekali mendengarkan. Sesekali tersenyum, sesekali tertawa. Sudah lama sekali ia tidak mendengar begitu banyak suara memenuhi malamnya.

Ia belum mengenal mereka lebih dalam. Namun entah mengapa, tempat itu terasa hangat. Seakan-akan semua orang datang membawa cerita masing-masing. Dan tanpa disadari, malam itu menjadi malam pertama setelah sekian lama Raka tidak merasa sendirian.

Dan malam-malam berikutnya...

Dia selalu kembali. Awalnya hanya untuk mendengarkan. Lalu mulai ikut tertawa. Sesekali melempar candaan. Sesekali ikut berdebat tentang film, game, atau hal-hal remeh yang entah mengapa selalu menyenangkan untuk dibahas. Tanpa disadari, Raka mulai mengajak orang lain bergabung. Ia membagikan tautan server itu ke teman-teman yang ditemuinya di dalam game, forum internet, hingga media sosial. Baginya, tempat seperti ini terlalu hangat untuk dinikmati sendirian.

Semakin banyak orang datang.

Semakin banyak cerita bermunculan.

Dan semakin lama, Republik Maya bukan lagi sekadar sebuah server. Ia menjelma menjadi rumah. Rumah yang tidak memiliki alamat. Rumah yang tidak bisa ditemukan di peta. Namun setiap malam, selalu ada seseorang yang pulang ke sana. Dan malam itu...

Raka menemukan rumah keduanya.

Comments

Popular posts from this blog

Republik Maya: Prologue

Prologue Di sebuah tempat bernama Republik Maya, orang-orang hidup berdampingan tanpa pernah benar-benar saling mengenal. Mereka berbicara setiap hari, tertawa di ruang obrolan yang sama, saling mengirim meme, musik, game dan cerita tentang hidup. Namun, di balik semua itu, ada satu aturan yang tak pernah tertulis, "Jangan bawa perasaan di grup" Raka tahu aturan itu. Semua orang tahu. Lalu datanglah Nara. Awalnya biasa saja. Ia hanya anggota baru yang sering muncul di kanal musik setiap malam. Suaranya tenang, dan caranya mendengarkan membuat siapa pun merasa dihargai. Mereka semua mulai sering berbincang. Tentang film, musik, konspirasi, sampai mimpi-mimpi yang bahkan belum berani mereka ceritakan kepada dunia nyata. Tanpa sadar, Raka mulai menunggu notifikasi yang hanya berasal dari satu nama. Kalimat itu berkali-kali muncul di kepalanya. Ia ingin mengatakannya. Sangat ingin. Namun setiap kali jari-jarinya menyentuh keyboard, kata-kata itu menghilang begitu saja. "Hi.....

After Kawi's story

Kali ini aku ingin menceritakan tentang pengalaman mengerikan yang kualami setelah perjalanan kami ke Gunung Kawi beberapa tahun lalu. Demi menjaga privasi dan kerahasiaan beberapa orang yang terlibat, aku akan menggunakan nama, tempat dan latar waktu samaran dalam cerita ini. Bukan karena ingin terlihat misterius, tapi karena ada hal-hal yang tidak bisa aku ceritakan secara terbuka. Aku hanya berharap, lewat cerita ini, kalian bisa mengambil pelajaran dan lebih berhati-hati kalau suatu hari nanti memutuskan untuk datang ke tempat yang sama. 2020, Desember - Libur Natal Pada waktu itu aku masih menjadi karyawan baru di sebuah kantor di Malang, Jawa Timur. Setiap akhir tahun, tepatnya di bulan Desember — bulan yang juga bertepatan dengan perayaan Natal bagi umat Kristiani — kantor biasanya memberikan libur selama lima hari sampai awal tahun 2021. Di kantor saat itu aku sudah punya beberapa teman di lingkungan kerja, salah satunya adalah Mas Deden. Dia merupakan karyawan senior yang su...

Spion Kanan

Hari demi hari berjalan, entah itu kemarin, hari ini, atau besok, kamu selalu sama. Dan tahukah kamu? Itu adalah bagian favoritku. Aku suka setiap kita berboncengan, mengendarai motor bersama, dan merayakan setiap kilometer yang terlewat di jalanan.  Aku bahkan tahu persis apa yang akan kamu lakukan selanjutnya. Memiringkan spion kanan ke arahku, lalu berbisik, 'Cantiknya'. Kamu membiarkan angin membawa kata-kata itu bersamamu, disertai senyum dan tatapan mata yang meneduhkan. Spion kananmu menangkap segalanya: saat-saat aku menangis, tertawa, cemberut, marah, sampai mengomel. Tapi kamu hanya tersenyum manis melihat pantulanku di sana. Saat-saat itu, aku selalu berpikir kita akan terus seperti ini selamanya. Setiap obrolan dan canda tawa yang kita bagi di atas motor, rasanya seperti perjalanan pulang dengan cerita yang tak pernah usai.  Aku tidak pernah berpikir bahwa suatu hari, spion kanan itu tak lagi menangkap wajahku. Karena aku sungguh percaya, kita akan terus melewati s...