Skip to main content

Memoar Horor Masa Kecil: They Came When I Was Little

Ada memori yang memudar tertelan oleh waktu. Namun, ada pula memori yang tetap hidup, seolah menunggu malam tiba untuk kembali menghantui ingatan. Masa kecilku bukan hanya dipenuhi tawa dan permainan, tetapi juga pengalaman tak terlupakan yang hingga hari ini belum pernah berhasil aku jelaskan dengan logika.

Seluruh cerita dalam tulisan ini adalah potongan-potongan pengalaman yang masih aku ingat dengan jelas. Aku tidak meminta siapa pun untuk mempercayainya. Aku hanya ingin menceritakan apa yang pernah aku lihat, dengar, dan rasakan. Karena terkadang, hal yang paling menyeramkan bukanlah hantu—melainkan kenyataan bahwa sebagian memori tidak pernah benar-benar pergi dan terus menghantui kita. Semoga kalian bisa menikmati cerita horor masa kecilku ini, mari kita masuk ke palung memori dan ingatan terdalamku—sebelum itu aku sarankan, lebih baik kalian matikan lampu kamar, pasang selimut, dan kuucapkan selamat membaca.

1. Teror Lampor: Keranda Terbang

Sidoarjo, 2006. Saya masih kecil saat itu, tetapi ada satu ketakutan yang hingga sekarang masih kuingat dengan jelas: Lampor. Di kampungku, nama itu mendadak menjadi buah bibir. Orang-orang membicarakannya dengan wajah serius, seolah bukan sekadar cerita rakyat, melainkan ancaman yang benar-benar sedang berkeliling mencari korban.

Rumor itu semakin menjadi-jadi karena dalam waktu yang berdekatan, terdengar kabar di kampungku beberapa orang meninggal secara mendadak tanpa penyebab yang benar-benar dipahami oleh warga. Entah kebetulan atau tidak, setiap kematian seolah memperkuat keyakinan bahwa Lampor memang sedang melintas.

Sebagai anak kecil, aku tentu tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Yang kutahu hanyalah rasa takut yang perlahan memenuhi kepala setiap menjelang malam. Orang-orang tua mulai mengingatkan agar anak-anak tidak berkeliaran saat maghrib. Bahkan muncul larangan yang sampai sekarang masih kuingat, jangan tidur di lantai, karena katanya siapa pun yang tidur di lantai saat Lampor lewat bisa menjadi korban berikutnya.

Yang paling menyeramkan bukanlah cerita tentang keranda terbang, melainkan kabar bahwa Lampor akan mengetuk pintu rumah. Jika terdengar ketukan di malam hari, jangan dibuka. Jangan menjawab. Jangan menyahut. Karena yang datang belum tentu manusia.

Saat itu, aku menganggap semua cerita itu nyata.

Dan entah kebetulan atau bukan, keluargaku pernah mengalami sesuatu yang hingga hari ini masih kami ingat.

Malam itu sekitar pukul sepuluh.

Bapak masih bekerja dan belum pulang ke rumah. Di dalam kamar hanya ada ibu, kakak, aku, dan adikku. Karena berita tentang Lampor sedang begitu ramai, malam itu tidak ada yang berani tidur sendiri. Kami semua berkumpul di kamar ibu, duduk berdekatan tanpa banyak berbicara.

Di luar rumah...

Sunyi.

Tidak terdengar suara televisi tetangga. Tidak ada anak-anak bermain. Bahkan suara jangkrik yang biasanya memenuhi malam seolah menghilang.

Yang terdengar hanya detak jam dinding...Tik... tok... tik... tok...

Entah mengapa, malam itu terasa jauh lebih panjang dari biasanya.

Lalu...

Tok... tok... tok...

Terdengar suara ketukan yang jelas dari jendela kamar.

Bukan pelan.

Bukan samar.

Tetapi benar-benar terdengar jelas dari jendela kamar.

Tubuhku langsung menegang.

Ibu spontan berdiri.

"Pak'e wis muleh, koyok e...", pikir ibu bahwa itu adalah bapak yang baru saja pulang kerja

Tanpa berpikir panjang, ibu langsung membuka jendela itu. Kami semua yakin yang mengetuk adalah bapak. Karena Memang sudah menjadi kebiasaan bapak untuk mengetuk jendela terlebih dahulu agar ibu membukakan pintu belakang.

Namun ketika jendela dibuka...

Tidak ada siapa pun.

Ibu menoleh ke arah kami. Kami saling berpandangan. Tidak ada yang berbicara. Perasaan kami berubah menjadi tidak nyaman. Kalau bukan bapak, lalu siapa yang baru saja mengetuk jendela?

Aku masih ingat bagaimana wajah ibu berubah saat itu. Tatapannya menyapu ke kanan dan ke kiri halaman rumah, berharap bapak sedang bercanda.

Namun semakin lama ibu melihat ke luar...

Semakin jelas bahwa memang tidak ada seorang pun di sana.

Belum sempat rasa penasaran itu hilang, beberapa waktu setelahnya suara itu kembali terdengar...

Tok... tok... tok...

Namun kini suara itu berasal dari pintu depan rumah.

Lebih keras.

Lebih jelas.

Seolah orang yang mengetuk berdiri tepat di balik pintu rumah.

Aku bisa mendengar suara napas kakakku mulai tidak beraturan.

Adikku mulai memegang erat baju ibu.

Tidak ada satu pun dari kami yang berani bergerak. Hanya ibu yang pada akhirnya mengumpulkan keberanian untuk kedepan menuju ruang tamu. Kami bertiga berjalan di belakang ibu dengan langkah pelan. Sebelum membuka pintu, ibu mengintip melalui celah jendela terlebih dahulu, namun terkejutnya ibu, terlihat jelas di teras itu...

Kosong...

Tidak ada siapa pun di teras rumah, yang terlihat melalui celah jendela.

Namun suara ketukan itu terdengar begitu nyata yang membuat ibu yakin ada seseorang yang baru saja berdiri di depan rumah kami.

Dengan napas yang tertahan dan dengan sisa keberanian, ibu perlahan membuka pintu.

Pelan...

Pelan...

Kami menunggu.

Beberapa detik...

Lalu ibu berbisik pelan...

"...Ora ono wong.", (Tidak ada orang.)

Dan yang benar saja..!

Tidak ada siapa pun di luar dan bahkan tidak terlihat bekas jejak kaki apapun, tanpa pikir panjang...

Saat itu juga kami berempat langsung berlari kembali ke kamar. Jantung saya berdegup sangat kencang. Sebagai anak kecil, saya benar-benar yakin bahwa cerita tentang Lampor bukan lagi sekadar rumor.

Kami hanya bisa diam di dalam kamar, berharap bapak segera pulang.

Kami mencoba menenangkan diri...

Namun...!

Beberapa waktu kemudian, entah sekitar pukul 11 kurang, kami mendengar suara itu lagi..

Tok... tok... tok...

Suara ketukan itu terdengar lagi dari arah jendela.

Saya masih ingat, tubuh kami semua langsung menegang.

Teringat kejadian yang belum lama meneror kami, tidak ada yang berani hingga...

Terdengar suara seseorang memanggil dari luar.

Belum sempat kami bereaksi...

Terdengar suara laki-laki dari luar.

"Buk, bukakno lawang mburi", pekik keras terdengar suara bapak meminta ibu membukakan pintu belakang.

Suara itu sangat kami kenal, itu sudah jelas bapak.

Suaranya sama.

Nada bicaranya sama.

Bahkan cara beliau memanggil ibu pun sama persis.

Ibu langsung berdiri dan bergegas menuju pintu belakang dan membukakannya. Benar saja, ibu terkejut terheran, tidak ada satupun orang yang berdiri di depan pintu belakang...!

Hanya ada angin tipis yang berhembus menghempaskan debu.

Dan saat itulah...

Tubuh ibu mendadak kaku.

Tidak ada siapa-siapa.

Tidak ada motor.

Tidak ada bayangan.

Padahal suara itu terdengar begitu dekat.

Seolah seseorang baru saja berdiri tepat di depan pintu belakang.

Aku melihat wajah ibu berubah pucat.

Beliau perlahan mundur tanpa sepatah kata.

Untuk pertama kalinya malam itu...

Aku melihat ibu benar-benar ketakutan.

Suasana makin sepi dan aneh, ibu sebisa mungkin mencoba untuk menenangkan ketiga anaknya.

Di tengah teror tersebut, terdengar suara motor tua bapak dari kejauhan, pertanda bahwa bapak sudah pulang dari kerja, seperti biasa, bapak mengetuk pintu jendela kamar ibu.

Kali ini berbeda.

Kami mendengar suara mesin motor yang masih panas.

Terdengar bunyi standar motor diturunkan.

Ada suara sepatu menggesek tanah.

Semuanya terdengar nyata.

Ibu mengintip, dengan langsung ibu menjawab, "yo sik tak bukakno lawang mburi", ibu langsung bergegas untuk membuka pintu belakang.

Bapak akhirnya pulang. Rasanya seperti beban yang sejak tadi menghimpit dada tiba-tiba hilang begitu saja.

Kami langsung menceritakan semua kejadian yang baru saja kami alami. Mulai dari ketukan misterius di jendela, ketukan di pintu depan, hingga bagaimana setiap kali kami membuka, tidak pernah ada siapa pun di luar.

Malam itu, tidak ada seorang pun yang berani tidur sendiri.

Kami berlima memilih berkumpul di kamar yang sama, menunggu waktu berlalu, berharap pagi segera datang dan mengusir semua rasa takut yang memenuhi rumah kami.

Sampai sekarang aku tidak pernah tahu siapa atau apa yang mengetuk rumah kami malam itu. Mungkin hanya seseorang yang iseng. Mungkin pula hanya kebetulan yang diperbesar oleh rasa takut akibat rumor yang sedang menyebar.

Namun bagiku yang masih kecil saat itu, pengalaman tersebut terasa begitu nyata. Dan setiap kali mendengar cerita tentang Lampor, ingatanku selalu kembali ke malam ketika rumah kami diketuk berkali-kali... oleh sesuatu yang tidak pernah kami lihat.


2. Andong: Kereta Kuda Berhantu

Jika tahun 2006 masyarakat Sidoarjo dihebohkan oleh rumor Lampor, maka setahun sebelumnya, sekitar tahun 2005, ada cerita lain yang tak kalah mengerikan.

Seorang warga di desa Karangbong, Sidoarjo, mengaku melihat sebuah kereta kuda (andong) melintas pada malam hari. Namun dari ceritanya, jelas itu bukan andong biasa.

Seperti kebanyakan cerita mistis lainnya, kabar itu menyebar begitu cepat. Hampir semua orang membicarakannya dan tidak sedikit pula yang memilih untuk tidak keluar rumah ketika malam semakin menuju sunyi.

Aku yang waktu itu masih berumur 6 tahun tidak pernah menyangka bahwa suatu malam, aku dan bapak akan melihat sesuatu yang tidak masuk akal untuk pertama kalinya.

Malam itu kira-kira menunjukkan waktu tengah malam. Seluruh orang di desa seharusnya sudah tertidur. Jalan di depan rumah benar-benar kosong. Tidak ada kendaraan, tidak ada suara orang berbincang, bahkan suara jangkrik pun terdengar begitu jauh.

Lalu...

Di tengah keheningan itu, terdengar suara...

Ting... ting... ting...

Suara lonceng.

Suara yang sangat khas.

Suara lonceng kereta kuda.

Awalnya terdengar sangat jauh, seolah berasal dari ujung desa. Namun perlahan suara itu semakin dekat.

Semakin jelas.

Semakin keras.

Bersamaan dengan bunyi lonceng itu, suara derap tapal kaki kuda juga terdengar menghantam jalan beraspal.

Tak... tak... tak... tak...

Irama langkahnya terdengar berat dan cepat, memecah sunyi malam hingga membangunkanku dari tidur.

Bapak yang tidur satu kamar denganku juga langsung terbangun. Kamar kami memang berada di bagian depan rumah, sehingga setiap kendaraan yang melintas pasti terdengar jelas.

Namun malam itu berbeda.

Tidak pernah ada kereta kuda yang melintas pada dini hari.

Apalagi di jalan desa yang biasanya sudah benar-benar sepi.

Rasa penasaran akhirnya mengalahkan rasa kantuk.

Pelan-pelan bapak membuka sedikit pintu ruang tamu.

Aku berdiri tepat di sampingnya, ikut mengintip keluar.

Dan saat itulah...

Kami melihatnya.

Dari kejauhan, sebuah andong melaju di tengah jalan desa.

Tidak terlalu cepat.

Namun juga tidak pelan.

Di sisi kanan dan kiri kereta tergantung dua lampu antik yang memancarkan cahaya redup kuning. Cahayanya cukup untuk menerangi bentuk kereta, tetapi justru membuat suasana malam terasa semakin mencekam.

Kuda yang menariknya berlari dengan langkah mantap.

Anehnya...

Tidak terdengar satu pun suara cambuk ataupun teriakan kusir.

Semuanya berlangsung dalam keheningan.

Ketika kereta itu semakin dekat dengan rumah kami, aku mulai bisa melihat sosok yang duduk di kursi depan.

Saat itulah seluruh tubuhku merinding.

Kusir itu...

Tidak memiliki kepala.

Di atas lehernya hanya terlihat ruang kosong yang gelap.

Namun kedua tangannya tetap memegang kendali tali kekang, seolah tidak terjadi sesuatu yang aneh.

Kereta itu terus melaju.

Tepat saat berada di depan rumah kami, pandanganku beralih ke bagian belakang kereta.

Di sana...

Dua sosok pocong duduk berdampingan.

Mereka tidak bergerak.

Tidak berbicara.

Tidak menoleh ke kanan maupun ke kiri.

Hanya duduk diam, menghadap lurus ke depan, seakan sedang menunggu perjalanan mereka berakhir di suatu tempat yang bahkan tidak ingin kubayangkan.

Dalam hitungan detik...

Andong itu melewati rumah kami.

Suara loncengnya perlahan menjauh.

Ting... ting... ting...

Hingga akhirnya menghilang bersama gelapnya malam.

Aku dan bapak hanya saling berpandangan.

Tidak ada yang sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

Esok paginya, bapak menceritakan kejadian itu kepada ibu dan beberapa tetangga. Anehnya, beberapa warga mengaku juga mendengar suara lonceng andong malam itu, tetapi tidak ada yang berani keluar rumah untuk memastikan.

Apakah yang kami lihat malam itu benar-benar kereta andong berhantu seperti yang selama ini diceritakan orang-orang?

Atau hanya ilusi yang lahir dari rasa penasaran dan suasana malam yang begitu sunyi?

Aku tidak pernah menemukan jawabannya.

Bertahun-tahun berlalu banyak yang akhirnya membahas tentang kisah andong ini, seperti yang banyak aku temukan di internet, ada yang menyebut cerita setan andong ini adalah arwah para korban dari praktik ilmu hitam yang mati penasaran, dan versi lain menyebutkan bahwa kereta andong ini adalah perwujudan dari arwah sepasang pengantin yang tewas dalam kecelakaan tragis. Ada juga yang menyangkut pautkan peristiwa ini dengan peristiwa lumpur lapindo.

Tidak ada yang bisa memastikan kebenarannya, yang jelas andong ini di dipercaya adalah sebagai pertanda akan munculnya bencana dan mara bahaya.

Namun satu hal yang pasti, hingga hari ini, setiap kali mendengar suara lonceng andong di kejauhan, ingatan saya selalu kembali pada malam ketika sebuah kereta bercahaya melintas di depan rumah... dengan seorang kusir yang tanpa kepala.


3. Wewe Gombel: Penculik Anak

Cerita kali ini berbeda dengan dua kisah sebelumnya.

Aku sendiri tidak begitu mengingat seluruh peristiwanya karena saat itu usiaku masih terlalu kecil. Sebagian besar cerita ini kudengar langsung dari ibuku, bapakku, dan warga desa yang mengalaminya sendiri. Meski begitu, ada satu hal yang masih sangat kuingat hingga sekarang: suasana mencekam yang menyelimuti desa kami selama berminggu-minggu.

Saat itu, sekitar dua puluhan tahun yang lalu, sejak cerita ini aku tulis.

Desa kami mendadak gempar oleh kabar hilangnya seorang anak perempuan bernama Anggun.

Usianya sekitar enam atau tujuh tahun. Anggun dikenal sebagai anak yang ceria. Meski memiliki keterbatasan fisik, ia hampir setiap hari bermain di sekitar rumah dan lingkungan desa. Hampir semua warga mengenalnya.

Hingga suatu hari...

Anggun menghilang.

Awalnya semua orang mengira ia hanya bermain terlalu jauh. Namun menjelang malam, Anggun tak kunjung pulang.

Keesokan harinya...

Masih belum ditemukan.

Hari berganti hari.

Tidak ada satu pun petunjuk yang mengarah pada keberadaannya.

Berita kehilangan Anggun dengan cepat menyebar ke seluruh desa. Bahkan kepolisian ikut turun tangan membantu proses pencarian. Sawah, kebun, sungai, hingga rumah-rumah kosong disisir satu per satu.

Namun hasilnya tetap nihil.

Di tengah kebuntuan itu, mulai bermunculan berbagai cerita yang sulit dijelaskan dengan logika.

Sebagian warga mulai percaya bahwa Anggun bukan sekadar hilang.

Mereka meyakini ada sesuatu yang membawanya.

Sosok astral mulai digaungkan, konon makhluk astral dalam cerita rakyat Jawa yang dipercaya gemar membawa anak-anak yang sedang sendirian.

Entah siapa yang memulai cerita itu.

Namun semakin lama Anggun tak ditemukan, semakin banyak warga yang mempercayainya.

Karena semua cara sudah dilakukan, sebagian warga akhirnya menempuh jalan yang tidak biasa.

Hampir setiap malam mereka berkumpul membawa obor.

Di tangan mereka bukan senjata, melainkan wajan, dandang, ember, kentongan, dan berbagai peralatan rumah tangga yang dipukul bersamaan hingga menghasilkan suara yang memekakkan telinga.

Sambil berjalan mengelilingi desa, mereka melantunkan tembang-tembang Jawa kuno.

Konon, suara itu dipercaya dapat menunjukkan keberadaan seseorang yang "disembunyikan" oleh makhluk halus.

Bapakku termasuk salah satu warga yang hampir setiap malam ikut dalam pencarian tersebut.

Sesekali aku juga diajak ikut berjalan di belakang rombongan. Tentu saja aku belum mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Yang kuingat hanyalah malam-malam yang dipenuhi cahaya obor, bunyi pukulan wajan yang menggema di seluruh desa, dan wajah-wajah orang dewasa yang tampak sangat cemas.

Pencarian itu berlangsung selama berminggu-minggu.

Hingga pada suatu malam...

Terjadi sesuatu yang membuat seluruh rombongan mendadak berhenti.

Saat warga sedang menabuh peralatan mereka di dekat sebuah pohon besar yang berada tidak jauh dari pelataran masjid desa...

Tiba-tiba...

Terdengar suara seorang wanita tertawa.

Bukan dari kejauhan.

Bukan dari jalan.

Melainkan...

Dari atas pohon itu.

Suara tawanya nyaring.

Panjang.

Dan menurut cerita warga yang berada di depan barisan, suara itu terdengar seperti sedang mengejek orang-orang yang sedang mencari Anggun.

Malam itu tidak ada seorang pun yang berani mendekati pohon tersebut.

Banyak warga langsung percaya bahwa suara itu berasal dari Wewe Gombel.

Kepercayaan itu bukan tanpa alasan.

Jauh sebelum masjid berdiri di atas tanah milik keluarga, pohon besar tersebut memang sudah ada. Orang-orang tua di desa sejak dahulu sering bercerita bahwa pohon itu memiliki penunggu. Mereka selalu melarang anak-anak bermain terlalu dekat ketika menjelang magrib atau malam hari.

Sejak kejadian malam itu, cerita mengenai Wewe Gombel semakin menyebar.

Sebagian warga mulai menghubungkan hilangnya Anggun dengan sosok yang dipercaya menghuni pohon tersebut.

Namun...

Hari demi hari terus berlalu.

Pencarian tetap dilakukan.

Tetapi Anggun tidak pernah ditemukan.

Lambat laun, harapan warga mulai memudar.

Suara pukulan wajan yang setiap malam terdengar di seluruh desa akhirnya berhenti.

Kehidupan perlahan kembali normal.

Meski demikian, ketakutan belum benar-benar hilang.

Orang tua melarang anak-anak keluar rumah setelah magrib.

Anak-anak tidak lagi diizinkan bermain jauh dari rumah.

Setiap orang asing yang memasuki desa mulai dicurigai.

Beberapa bulan kemudian...

Sebuah kabar kembali menggemparkan desa kami.

Seorang petani yang sedang membersihkan kebun jagung menemukan sesuatu yang membuatnya langsung berlari mencari pertolongan.

Di antara semak liar...

Tergeletak sebuah tengkorak manusia.

Polisi segera datang dan melakukan penyelidikan.

Dari hasil pemeriksaan, tengkorak tersebut diperkirakan milik seorang anak perempuan berusia sekitar enam hingga tujuh tahun.

Namun karena kondisi jasad yang sudah tidak utuh, identitasnya tidak pernah dapat dipastikan secara resmi.

Meski begitu...

Hampir seluruh warga desa percaya bahwa tengkorak itu adalah milik Anggun.

Sampai hari ini tidak ada yang benar-benar mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Sebagian orang yakin Anggun menjadi korban tindak kejahatan.

Sebagian lagi tetap percaya bahwa ia dibawa oleh Wewe Gombel, dan kisah tentang suara tawa dari atas pohon pada malam pencarian menjadi alasan mengapa keyakinan itu terus hidup hingga sekarang.

Kini, lebih dari dua puluhan tahun telah berlalu.

Pohon besar yang dahulu menjadi pusat berbagai cerita itu sudah tidak ada. Halaman masjid telah dipaving, dan wajah desa pun banyak berubah.

Namun setiap kali aku kembali ke tempat itu, aku selalu teringat pada malam-malam penuh obor, bunyi tabuhan wajan yang menggema, dan satu nama yang pernah membuat seluruh desa kehilangan harapan.

Anggun...

Semoga apa pun yang sebenarnya terjadi pada dirinya menjadi pengingat bagi kita semua bahwa menjaga anak-anak adalah tanggung jawab bersama. Dan semoga keluarganya diberikan ketabahan, serta Anggun mendapatkan kedamaian di sisi-Nya.


4. Arwah Kakek? Aku Rasa Bukan

Dibandingkan cerita-cerita sebelumnya, pengalaman ini berlangsung sangat singkat.

Namun teror yang ditinggalkannya begitu besar hingga bertahun-tahun kemudian, keluargaku masih mengingat malam itu dengan sangat jelas.

Semuanya berawal dari sebuah malam yang sebenarnya terasa sangat biasa.

Seperti kebiasaan kami setiap malam, seluruh anggota keluarga selalu berkumpul di ruang televisi. bapak duduk sambil bercanda, ibu sesekali menegur kami yang terlalu ramai, sementara aku dan saudara-saudaraku sibuk tertawa melihat acara yang bahkan kini sudah tidak ada lagi.

Ruang televisi rumah kami selalu menjadi tempat paling hangat.

Tempat kami menghabiskan waktu bersama.

Tempat yang selalu terasa aman.

Namun tidak dengan malam itu...

Semuanya berubah hanya dalam hitungan detik.

"Jeglek!"

Seluruh lampu mendadak padam.

Televisi mati.

Kipas angin berhenti berputar.

Rumah yang semula penuh suara mendadak tenggelam dalam kegelapan.

Bahkan lampu rumah-rumah tetangga pun ikut padam.

Ternyata pada malam itu sedang terjadi pemadaman listrik.

Saat itu telepon genggam belum memiliki senter seperti sekarang. Begitu listrik mati, rumah benar-benar gelap gulita. Tidak ada alat bantu untuk melihat.

Aku bahkan tidak bisa melihat tanganku sendiri.

Ibu segera mengumpulkan kami semua ke dalam satu kamar agar tidak berpencar.

Sementara bapak berkata pelan,

"Tak goleki lilin sek...", (Aku cari lilin dulu.).

Rumah kami berbentuk memanjang ke belakang, hampir seperti gerbong kereta.

Dari depan hingga belakang terdapat beberapa ruangan yang harus dilewati satu per satu.

Ruang tamu.

Ruang keluarga.

Ruang televisi.

Dapur bersih.

Lalu...

Bagian paling belakang rumah.

Tempat yang sejak kecil selalu membuatku enggan berjalan sendirian.

Di sana terdapat "pawon" atau dapur tradisional, sebuah mushola kecil, kamar mandi, dan tepat di depannya berdiri sebuah sumur tua yang masih berisi air meski sudah jarang digunakan.

Menurut cerita bapak, semakin jauh dia berjalan ke belakang...

Suasana rumah terasa semakin singup dan aneh.

Udara menjadi lebih dingin.

Keheningan terasa begitu berat.

Lalu tidak jauh dari sumur muncul suara...

Byur...

Suara air terdengar sangat jelas.

Seolah ada seseorang yang baru saja menyiramkan seember air ke dalam sumur.

Bapak berhenti melangkah.

Beliau yakin ada seseorang di belakang rumah.

Namun ketika diperhatikan...

Gelap.

Tidak terlihat siapa pun.

Bapak kembali berjalan.

Karena dia harus segera mendapatkan lilin dan korek.

Belum beberapa langkah...

Kreeeet...

Terdengar suara ember sumur.

Suara yang sangat khas.

Seperti ada seseorang sedang menarik timba menggunakan katrol tua.

Pelan...

Berderit...

Naik sedikit demi sedikit.

Padahal...

Tidak mungkin ada orang mengambil air pada jam seperti itu.

Bapak mulai merasa tidak nyaman.

Namun beliau tetap melangkah menuju pawon untuk mengambil lilin dan korek api.

Sesampainya di sana, beliau melihat sesuatu.

Di dalam mushola kecil yang hanya diterangi cahaya bulan dari genting kaca...

Terlihat seorang laki-laki tua sedang berdiri menghadap kiblat.

Sedang salat.

Bapak langsung mengenalinya.

"Kui Abah...", kata bapak dalam hati.

Begitulah pikir beliau saat itu.

Tanpa sedikit pun rasa curiga, bapak berjalan mendekati sosok tersebut.

Dia bahkan sempat berpikir ingin bertanya,

"Lho, Abah kok nang kene?", (Abah kok ada di sini?)

Jarak mereka tinggal beberapa langkah.

Semakin dekat.

Semakin jelas.

Sosok itu masih berdiri diam.

Tidak bergerak sedikit pun.

Bapak mengangkat tangan...

Berniat menepuk pundaknya.

Namun tepat sebelum tangan itu menyentuh bahu sosok tersebut...

Seseorang lebih dulu menyentuh bahu bapak dari belakang.

"Mas..."

Bapak terdiam sejenak, langsung membalikkan badan dengan kaget.

Jantungnya seakan berhenti berdetak.

Ternyata...

Itu ibu.

Dengan wajah bingung ibu bertanya,

"Mas...lapo ndek kene?", (mas...ngapain disini?)

Masih dengan napas yang belum beraturan, bapak menunjuk ke arah mushola.

"Lho... iki loh Abah..."

"Mau tak takoni kok nang mushola."

(Lho, itu Abah. Mau kutanya kenapa ada di mushola.)

Ibu terdiam beberapa detik.

Lalu perlahan berkata dengan suara lirih...

Kalimat yang sampai hari ini masih diingat oleh bapak.

"Mas..."

"...Abah wis gak onok."

(Mas, abah sudah meninggal!.)

Darah di wajah bapak seketika hilang.

Tubuhnya terasa lemas.

Dengan perlahan beliau kembali menoleh ke arah mushola dan tersadarkan bahwa kakek sudah tidak ada, namun disaat bapak menoleh, keadaan mushola tampak...

Kosong...

Tidak ada siapa-siapa.

Tidak ada orang salat.

Tidak ada bayangan.

Tidak ada apa pun.

Mushola itu kini hanya berisi sajadah yang terbentang dalam gelap.

Bapak langsung meraih lilin dan korek api lalu berlari ke depan tanpa menoleh sedikit pun ke belakang.

Malam itu, kami semua dikumpulkan di ruang tengah.

Lilin dinyalakan.

Bapak terus membaca doa.

Tidak ada lagi yang bercanda.

Tidak ada lagi suara televisi.

Kami hanya duduk melingkar, berharap listrik segera menyala...

Dan berharap pagi datang lebih cepat.

Sampai hari ini, aku tidak pernah tahu siapa sosok yang dilihat oleh bapak malam itu.

Apakah benar hanya ilusi yang muncul karena gelap dan rasa lelah?

Ataukah memang ada sesuatu yang memilih wajah orang yang paling kami kenal...

Agar kami mendekatinya tanpa rasa curiga?

Yang jelas, sejak malam itu...

Tidak ada seorang pun di keluargaku yang berani berjalan sendirian menuju pawon ketika listrik padam. Dan setiap kali aku melewati mushola kecil di rumah lama kami, aku selalu teringat satu pertanyaan yang tak pernah terjawab:

Kalau itu bukan Kakek... lalu siapa yang sedang salat di sana?


5. Rumah Lama: Nostalgia Yang Telah Ditinggalkan

Tidak semua cerita horor selalu diawali dengan rasa takut.

Sebagian justru dimulai dari sebuah tempat yang kita anggap sebagai rumah.

Rumah tempat aku dilahirkan masih berdiri hingga hari ini.

Sudah lama kosong.

Cat dindingnya mulai memudar. Halamannya dipenuhi rumput liar. Tidak ada lagi suara anak-anak bermain di terasnya.

Namun ada satu hal yang tidak pernah berubah.

Dua pohon mangga tua yang berdiri tepat di depan rumah itu.

Pohon kembar tersebut sudah ada jauh sebelum aku lahir. Bahkan orang-orang tua di kampungku mengatakan pohon itu sudah berdiri sejak mereka masih kecil.

Di keluargaku, pohon itu bukan sekadar pohon.

Konon, ada seseorang yang tinggal di sana.

Sosok perempuan yang sejak dulu dipercaya menjadi penunggunya.

Sebagian menyebutnya...

Kuntilanak.

Anehnya, keluargaku tidak pernah menganggap sosok itu sebagai makhluk yang benar-benar jahat.

Ia memang sering memperlihatkan keberadaannya.

Kadang mengganggu.

Kadang membuat takut.

Namun hampir semua gangguan itu justru lebih sering dialami orang-orang yang datang dari luar keluarga kami.

Sedangkan kami...

Seolah hanya hidup berdampingan dengannya.

Meski begitu, bukan berarti rumah itu pernah benar-benar terasa tenang.

Ibuku pernah bercerita bahwa ketika aku masih bayi, usiaku bahkan belum genap satu tahun, aku tiba-tiba menghilang dari tempat tidur.

Seluruh rumah panik.

Ibu menangis.

Semua orang mencari ke setiap sudut rumah.

Tidak mungkin seorang bayi bisa merangkak sejauh itu.

Apalagi keluar rumah.

Namun setelah beberapa saat...

Aku ditemukan.

Bukan di halaman.

Bukan di kamar lain.

Melainkan...

Berada di bawah kasur.

Tidak ada yang tahu bagaimana aku bisa berada di sana.

Peristiwa serupa juga pernah dialami kakakku.

Suatu sore ia dimarahi bapak karena sebuah kenakalan kecil.

Tak lama kemudian...

Ia menghilang.

Seluruh keluarga mencarinya ke mana-mana.

Tetangga ikut membantu.

Nama kakakku dipanggil berulang kali.

Namun tidak ada jawaban.

Beberapa menit kemudian...

Terdengar suara tangis pelan.

Semua orang spontan menoleh.

Kakakku ternyata berada di pojok ruang tengah.

Masih menangis.

Masih terduduk di tempat.

Padahal...

Beberapa menit sebelumnya seluruh ruangan itu sudah diperiksa berkali-kali.

Tidak ada seorang pun yang bisa menjelaskan bagaimana mungkin ia baru terlihat setelah semua orang berhenti mencarinya.

Gangguan lain juga sering terjadi.

Menjelang magrib...

Seluruh pintu rumah pernah menutup sendiri hampir bersamaan.

Tidak ada angin.

Tidak ada orang yang menyentuhnya.

Namun suara "bruk... bruk... bruk..." terdengar dari seluruh penjuru rumah.

Seolah ada seseorang yang sedang berkeliling menutup setiap pintu satu per satu.

Kami hanya saling berpandangan.

Karena tidak ada seorang pun yang berani keluar untuk memastikan.

Namun pengalaman paling aneh justru terjadi ketika aku masih bayi.

Menurut ibuku, hampir setiap malam aku menangis tanpa henti.

Tangisan itu berbeda dari tangis bayi pada umumnya.

Aku bisa menangis berjam-jam tanpa sebab yang jelas.

Sudah digendong.

Sudah diberi susu.

Sudah diperiksa.

Namun aku tetap menangis sambil menatap ke arah depan rumah.

Hingga suatu hari...

Kung, kakek dari pihak ibu, tiba-tiba menelepon.

Tanpa ada yang bercerita lebih dulu, beliau hanya berkata singkat,

"Sesok aku mangkat nang Sidoarjo.", (Besok aku berangkat ke Sidoarjo).

Sesampainya di rumah, Kung langsung mengatakan bahwa firasatnya tidak enak.

Menurut Kung...

Ada makhluk yang sedang menggangguku.

Karena keluargaku memang masih memegang tradisi Kejawen, Kung kemudian melakukan semacam ritual dan meditasi di dalam rumah.

Beliau tidak pernah menjelaskan secara rinci apa yang dilakukan.

Yang beliau katakan saat dia bermeditasi ke ibuku adalah.

"Wis tak kandani... ojo ganggu putuku.", (Sudah kubilang, jangan ganggu cucuku).

Dan setelah itu anehnya...

Sejak hari itu aku tidak pernah menangis seperti malam-malam sebelumnya.

Tidak ada lagi tangisan setiap tengah malam.

Tidak ada lagi malam-malam panjang yang membuat seluruh keluarga terjaga.

Kung juga menginap beberapa hari di rumah kami.

Selama beliau berada di sana...

Rumah terasa jauh lebih tenang.

Seolah sesuatu memilih untuk menjauh, dan keadaan rumah berangsur-angsur menjadi tenang.

Namun pada tahun 2008...

Aku, ibu, dan adikku akhirnya pindah dari rumah tersebut.

Sejak saat itu rumah itu perlahan ditinggalkan.

Tidak ada lagi yang tinggal di sana.

Bahkan keluarga kami sendiri hampir tidak pernah mengurusnya.

Rumput mulai meninggi.

Cat mulai mengelupas.

Dan dua pohon mangga tua itu...

Masih berdiri di tempat yang sama.

Semakin lama rumah itu semakin dikenal warga sebagai rumah kosong yang angker.

Apalagi setelah rentetan peristiwa tragis terjadi.

Konon, pernah ada pelaku perampokan yang menjadikan rumah kosong itu sebagai tempat menyembunyikan jasad korbannya sebelum akhirnya ditemukan polisi.

Sejak saat itu, cerita-cerita aneh mulai bermunculan.

Ada yang mengaku melihat seorang perempuan berbaju merah duduk di atas pohon mangga sambil tertawa.

Ada yang mengatakan rumah itu sering mengeluarkan bau anyir seperti darah.

Bahkan beberapa orang bersumpah pernah melihat seekor ular besar melilit salah satu tiang rumah pada malam hari.

Saudaraku sendiri pernah mengalami sesuatu.

Saat berjalan melewati halaman rumah pada malam hari, ia tanpa sengaja menoleh ke arah pohon mangga.

Di sanalah ia melihat seorang perempuan berambut panjang sedang duduk di atas dahan.

Perempuan itu tidak berteriak.

Tidak mendekat.

Ia hanya tersenyum...

Lalu tertawa pelan sambil memandanginya.

Saudaraku langsung berlari sekencang mungkin.

Karena terlalu panik, ia terjatuh hingga tubuhnya penuh luka lecet.

Sejak malam itu...

Ia tidak pernah lagi berani melewati rumah tersebut sendirian.

Kini, rumah itu masih berdiri.

Kosong.

Sepi.

Dan perlahan mulai ditelan waktu.

Aku tidak tahu apakah semua cerita itu benar.

Atau hanya lahir dari ketakutan orang-orang terhadap sebuah rumah tua yang tak lagi berpenghuni.

Namun setiap kali aku kembali ke desaku dan melihat rumahku begitu juga dengan pohon mangga yang masih berdiri di depan rumah...

Aku selalu teringat satu kalimat yang sering diucapkan ibuku.

"Omah kui sejatine urip, enek sing jogo, makane omah kui kosong sampek saiki, mung keturunan sah asli sochech suwardi hasan sing oleh manggoni omah kui, selain kui bakal apes".

(Rumah itu ada yang menjaga, makanya rumah itu selalu kosong, hanya keturunan sah dari sochech suwardi hasan yang boleh menempati rumah itu, selain mereka, hanya akan mendatangkan bencana).

Dan entah mengapa...

Aku memilih untuk mempercayainya.


Terkadang hal semacam itu memang ada dan benar keberadaanya, namun urusan percaya dan tidak percaya kukembalikan kepada kalian masing-masing. 

Itulah kisah horor saya sewaktu kecil tinggal di Sidoarjo, masih banyak lagi cerita saya di tempat baru, aku akan kembali bercerita lagi tentang pengalaman horor di part selanjutnya, tempat dimana kejawen mengakar di keluargaku, yaitu Tulungagung. Sampai jumpa, dan Terima Kasih.

Comments

Popular posts from this blog

Republik Maya: Prologue

Prologue Di sebuah tempat bernama Republik Maya, orang-orang hidup berdampingan tanpa pernah benar-benar saling mengenal. Mereka berbicara setiap hari, tertawa di ruang obrolan yang sama, saling mengirim meme, musik, game dan cerita tentang hidup. Namun, di balik semua itu, ada satu aturan yang tak pernah tertulis, "Jangan bawa perasaan di grup" Raka tahu aturan itu. Semua orang tahu. Lalu datanglah Nara. Awalnya biasa saja. Ia hanya anggota baru yang sering muncul di kanal musik setiap malam. Suaranya tenang, dan caranya mendengarkan membuat siapa pun merasa dihargai. Mereka semua mulai sering berbincang. Tentang film, musik, konspirasi, sampai mimpi-mimpi yang bahkan belum berani mereka ceritakan kepada dunia nyata. Tanpa sadar, Raka mulai menunggu notifikasi yang hanya berasal dari satu nama. Kalimat itu berkali-kali muncul di kepalanya. Ia ingin mengatakannya. Sangat ingin. Namun setiap kali jari-jarinya menyentuh keyboard, kata-kata itu menghilang begitu saja. "Hi.....

After Kawi's story

Kali ini aku ingin menceritakan tentang pengalaman mengerikan yang kualami setelah perjalanan kami ke Gunung Kawi beberapa tahun lalu. Demi menjaga privasi dan kerahasiaan beberapa orang yang terlibat, aku akan menggunakan nama, tempat dan latar waktu samaran dalam cerita ini. Bukan karena ingin terlihat misterius, tapi karena ada hal-hal yang tidak bisa aku ceritakan secara terbuka. Aku hanya berharap, lewat cerita ini, kalian bisa mengambil pelajaran dan lebih berhati-hati kalau suatu hari nanti memutuskan untuk datang ke tempat yang sama. 2020, Desember - Libur Natal Pada waktu itu aku masih menjadi karyawan baru di sebuah kantor di Malang, Jawa Timur. Setiap akhir tahun, tepatnya di bulan Desember — bulan yang juga bertepatan dengan perayaan Natal bagi umat Kristiani — kantor biasanya memberikan libur selama lima hari sampai awal tahun 2021. Di kantor saat itu aku sudah punya beberapa teman di lingkungan kerja, salah satunya adalah Mas Deden. Dia merupakan karyawan senior yang su...

Spion Kanan

Hari demi hari berjalan, entah itu kemarin, hari ini, atau besok, kamu selalu sama. Dan tahukah kamu? Itu adalah bagian favoritku. Aku suka setiap kita berboncengan, mengendarai motor bersama, dan merayakan setiap kilometer yang terlewat di jalanan.  Aku bahkan tahu persis apa yang akan kamu lakukan selanjutnya. Memiringkan spion kanan ke arahku, lalu berbisik, 'Cantiknya'. Kamu membiarkan angin membawa kata-kata itu bersamamu, disertai senyum dan tatapan mata yang meneduhkan. Spion kananmu menangkap segalanya: saat-saat aku menangis, tertawa, cemberut, marah, sampai mengomel. Tapi kamu hanya tersenyum manis melihat pantulanku di sana. Saat-saat itu, aku selalu berpikir kita akan terus seperti ini selamanya. Setiap obrolan dan canda tawa yang kita bagi di atas motor, rasanya seperti perjalanan pulang dengan cerita yang tak pernah usai.  Aku tidak pernah berpikir bahwa suatu hari, spion kanan itu tak lagi menangkap wajahku. Karena aku sungguh percaya, kita akan terus melewati s...