Skip to main content

"Persembahan Dari Masa Lalu" by Romantic Echoes, Poet's Version


Waktu tak pernah berjalan mundur, namun hati sering kali tertinggal di belakang. 

Kita adalah dua manusia yang sedang merajut indahnya dunia, sebelum ego dan kelalaian menggunting benang-benang kesetiaan hingga kusut dan tak berbentuk. 

Kini, di dalam ruang sunyi yang riuh oleh gemuruh penyesalan, hanya ada puing kenangan dan sesal yang berdengung sepi. Mengakui rontoknya rasa akibat keangkuhan diri adalah sebuah kepahitan, menyaksikan keindahan masa lalu yang kini menjelma menjadi debu di sudut ingatan.

Di ambang pintu masa lalu yang terkunci, terselip sebuah doa kecil yang dipanjatkan dalam diam. 

Sebuah ratapan yang mengharap poros waktu sudi berputar balik, sekadar untuk mengetuk kembali hati yang telah telanjur tertutup. 

Ada sebaris pinta yang tulus untuk memeluk kembali hangat yang hilang, bukan untuk berpura-pura bahwa luka tidak pernah ada, melainkan untuk menyembuhkannya bersama. 

Permintaan maaf ini adalah sebuah penyerahan diri, sebuah pengakuan bahwa hidup tanpa kehadiran rasa yang dulu pernah ada terasa begitu hambar dan pincang.

Jika esok masih menyisakan sedikit ruang, izinkan jemari yang penuh salah ini merenda kembali bagian yang sempat koyak. 

Harapan ini tidak muluk, hanya sebuah keinginan mulia untuk menghidupkan kembali taman yang telah layu dan menyiramnya dengan ketulusan baru. 

Berjanji untuk tidak mengulang goresan luka yang sama, tulisan ini menjadi saksi bisu sebuah ikhtiar. 

Sebuah permohonan agar diberi satu kesempatan lagi untuk melukis akhir kisah yang berbeda dan mengembalikan keindahan yang seharusnya tidak pernah sirna.

Maaf...apakah masih ada kesempatan untuk kita kembali menjadi hangat lagi?

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Republik Maya: Prologue

Prologue Di sebuah tempat bernama Republik Maya, orang-orang hidup berdampingan tanpa pernah benar-benar saling mengenal. Mereka berbicara setiap hari, tertawa di ruang obrolan yang sama, saling mengirim meme, musik, game dan cerita tentang hidup. Namun, di balik semua itu, ada satu aturan yang tak pernah tertulis, "Jangan bawa perasaan di grup" Raka tahu aturan itu. Semua orang tahu. Lalu datanglah Nara. Awalnya biasa saja. Ia hanya anggota baru yang sering muncul di kanal musik setiap malam. Suaranya tenang, dan caranya mendengarkan membuat siapa pun merasa dihargai. Mereka semua mulai sering berbincang. Tentang film, musik, konspirasi, sampai mimpi-mimpi yang bahkan belum berani mereka ceritakan kepada dunia nyata. Tanpa sadar, Raka mulai menunggu notifikasi yang hanya berasal dari satu nama. Kalimat itu berkali-kali muncul di kepalanya. Ia ingin mengatakannya. Sangat ingin. Namun setiap kali jari-jarinya menyentuh keyboard, kata-kata itu menghilang begitu saja. "Hi.....

After Kawi's story

Kali ini aku ingin menceritakan tentang pengalaman mengerikan yang kualami setelah perjalanan kami ke Gunung Kawi beberapa tahun lalu. Demi menjaga privasi dan kerahasiaan beberapa orang yang terlibat, aku akan menggunakan nama, tempat dan latar waktu samaran dalam cerita ini. Bukan karena ingin terlihat misterius, tapi karena ada hal-hal yang tidak bisa aku ceritakan secara terbuka. Aku hanya berharap, lewat cerita ini, kalian bisa mengambil pelajaran dan lebih berhati-hati kalau suatu hari nanti memutuskan untuk datang ke tempat yang sama. 2020, Desember - Libur Natal Pada waktu itu aku masih menjadi karyawan baru di sebuah kantor di Malang, Jawa Timur. Setiap akhir tahun, tepatnya di bulan Desember — bulan yang juga bertepatan dengan perayaan Natal bagi umat Kristiani — kantor biasanya memberikan libur selama lima hari sampai awal tahun 2021. Di kantor saat itu aku sudah punya beberapa teman di lingkungan kerja, salah satunya adalah Mas Deden. Dia merupakan karyawan senior yang su...

Spion Kanan

Hari demi hari berjalan, entah itu kemarin, hari ini, atau besok, kamu selalu sama. Dan tahukah kamu? Itu adalah bagian favoritku. Aku suka setiap kita berboncengan, mengendarai motor bersama, dan merayakan setiap kilometer yang terlewat di jalanan.  Aku bahkan tahu persis apa yang akan kamu lakukan selanjutnya. Memiringkan spion kanan ke arahku, lalu berbisik, 'Cantiknya'. Kamu membiarkan angin membawa kata-kata itu bersamamu, disertai senyum dan tatapan mata yang meneduhkan. Spion kananmu menangkap segalanya: saat-saat aku menangis, tertawa, cemberut, marah, sampai mengomel. Tapi kamu hanya tersenyum manis melihat pantulanku di sana. Saat-saat itu, aku selalu berpikir kita akan terus seperti ini selamanya. Setiap obrolan dan canda tawa yang kita bagi di atas motor, rasanya seperti perjalanan pulang dengan cerita yang tak pernah usai.  Aku tidak pernah berpikir bahwa suatu hari, spion kanan itu tak lagi menangkap wajahku. Karena aku sungguh percaya, kita akan terus melewati s...