Waktu tak pernah berjalan mundur, namun hati sering kali tertinggal di belakang.
Kita adalah dua manusia yang sedang merajut indahnya dunia, sebelum ego dan kelalaian menggunting benang-benang kesetiaan hingga kusut dan tak berbentuk.
Kini, di dalam ruang sunyi yang riuh oleh gemuruh penyesalan, hanya ada puing kenangan dan sesal yang berdengung sepi. Mengakui rontoknya rasa akibat keangkuhan diri adalah sebuah kepahitan, menyaksikan keindahan masa lalu yang kini menjelma menjadi debu di sudut ingatan.
Di ambang pintu masa lalu yang terkunci, terselip sebuah doa kecil yang dipanjatkan dalam diam.
Sebuah ratapan yang mengharap poros waktu sudi berputar balik, sekadar untuk mengetuk kembali hati yang telah telanjur tertutup.
Ada sebaris pinta yang tulus untuk memeluk kembali hangat yang hilang, bukan untuk berpura-pura bahwa luka tidak pernah ada, melainkan untuk menyembuhkannya bersama.
Permintaan maaf ini adalah sebuah penyerahan diri, sebuah pengakuan bahwa hidup tanpa kehadiran rasa yang dulu pernah ada terasa begitu hambar dan pincang.
Jika esok masih menyisakan sedikit ruang, izinkan jemari yang penuh salah ini merenda kembali bagian yang sempat koyak.
Harapan ini tidak muluk, hanya sebuah keinginan mulia untuk menghidupkan kembali taman yang telah layu dan menyiramnya dengan ketulusan baru.
Berjanji untuk tidak mengulang goresan luka yang sama, tulisan ini menjadi saksi bisu sebuah ikhtiar.
Sebuah permohonan agar diberi satu kesempatan lagi untuk melukis akhir kisah yang berbeda dan mengembalikan keindahan yang seharusnya tidak pernah sirna.
Maaf...apakah masih ada kesempatan untuk kita kembali menjadi hangat lagi?
Wanita yang bersama anda pasti sangat beruntung.
ReplyDelete