Terkadang memang kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang diberikan anugerah bernama perasaan, akan selalu merasakan cinta. Bahkan cinta itu tidak hanya tertuju pada sesama manusia, tetapi juga bisa kepada benda, tempat, atau bahkan kenangan. Namun, sering kali kita tidak menyadari bahwa saat mencintai sesuatu, pikiran kita seakan hanya tertuju pada satu titik. Kita terlalu banyak berputar-putar hanya kepada satu hal yang sama, hingga kita perlahan kehilangan kesadaran diri.
Di situlah pentingnya konsep mindful love—sebuah cinta yang hadir dengan kesadaran. Cinta yang tidak membutakan, melainkan membuka mata dan hati kita. Bukan cinta yang membuat kita melayang-layang tidak jelas tanpa arah, melainkan mendewasakan. Mindful love juga berarti bahwa mencintai bukan berarti kehilangan diri sendiri, melainkan menemukan keseimbangan: antara memberi dan menjaga, antara melepas dan menggenggam.
Ketika cinta disertai kesadaran, kita tidak lagi menuntut untuk memiliki, tetapi belajar menghargai keberadaan. Kita tidak lagi menuntut kesempurnaan, tetapi menerima kekurangan dengan lapang dada. Dengan kesadaran itu, cinta tidak lagi menjadi luka, melainkan jalan menuju kedewasaan.
Mindful love bukanlah tentang apa yang berhasil kita miliki seutuhnya, tetapi tentang bagaimana kita tetap melangkah kedepan meski harus melepaskan. Pun juga bukan sekadar rasa, tapi juga sikap; bukan sekadar perasaan senang yang memabukkan, tapi juga pilihan untuk hadir dengan penuh kesadaran.

Comments
Post a Comment