Skip to main content

Mindful Love

Terkadang memang kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang diberikan anugerah bernama perasaan, akan selalu merasakan cinta. Bahkan cinta itu tidak hanya tertuju pada sesama manusia, tetapi juga bisa kepada benda, tempat, atau bahkan kenangan. Namun, sering kali kita tidak menyadari bahwa saat mencintai sesuatu, pikiran kita seakan hanya tertuju pada satu titik. Kita terlalu banyak berputar-putar hanya kepada satu hal yang sama, hingga kita perlahan kehilangan kesadaran diri.

Di situlah pentingnya konsep mindful love—sebuah cinta yang hadir dengan kesadaran. Cinta yang tidak membutakan, melainkan membuka mata dan hati kita. Bukan cinta yang membuat kita melayang-layang tidak jelas tanpa arah, melainkan mendewasakan. Mindful love juga berarti bahwa mencintai bukan berarti kehilangan diri sendiri, melainkan menemukan keseimbangan: antara memberi dan menjaga, antara melepas dan menggenggam.

Ketika cinta disertai kesadaran, kita tidak lagi menuntut untuk memiliki, tetapi belajar menghargai keberadaan. Kita tidak lagi menuntut kesempurnaan, tetapi menerima kekurangan dengan lapang dada. Dengan kesadaran itu, cinta tidak lagi menjadi luka, melainkan jalan menuju kedewasaan.

Mindful love bukanlah tentang apa yang berhasil kita miliki seutuhnya, tetapi tentang bagaimana kita tetap melangkah kedepan meski harus melepaskan. Pun juga bukan sekadar rasa, tapi juga sikap; bukan sekadar perasaan senang yang memabukkan, tapi juga pilihan untuk hadir dengan penuh kesadaran. 

Comments

Popular posts from this blog

Republik Maya: Prologue

Prologue Di sebuah tempat bernama Republik Maya, orang-orang hidup berdampingan tanpa pernah benar-benar saling mengenal. Mereka berbicara setiap hari, tertawa di ruang obrolan yang sama, saling mengirim meme, musik, game dan cerita tentang hidup. Namun, di balik semua itu, ada satu aturan yang tak pernah tertulis, "Jangan bawa perasaan di grup" Raka tahu aturan itu. Semua orang tahu. Lalu datanglah Nara. Awalnya biasa saja. Ia hanya anggota baru yang sering muncul di kanal musik setiap malam. Suaranya tenang, dan caranya mendengarkan membuat siapa pun merasa dihargai. Mereka semua mulai sering berbincang. Tentang film, musik, konspirasi, sampai mimpi-mimpi yang bahkan belum berani mereka ceritakan kepada dunia nyata. Tanpa sadar, Raka mulai menunggu notifikasi yang hanya berasal dari satu nama. Kalimat itu berkali-kali muncul di kepalanya. Ia ingin mengatakannya. Sangat ingin. Namun setiap kali jari-jarinya menyentuh keyboard, kata-kata itu menghilang begitu saja. "Hi.....

After Kawi's story

Kali ini aku ingin menceritakan tentang pengalaman mengerikan yang kualami setelah perjalanan kami ke Gunung Kawi beberapa tahun lalu. Demi menjaga privasi dan kerahasiaan beberapa orang yang terlibat, aku akan menggunakan nama, tempat dan latar waktu samaran dalam cerita ini. Bukan karena ingin terlihat misterius, tapi karena ada hal-hal yang tidak bisa aku ceritakan secara terbuka. Aku hanya berharap, lewat cerita ini, kalian bisa mengambil pelajaran dan lebih berhati-hati kalau suatu hari nanti memutuskan untuk datang ke tempat yang sama. 2020, Desember - Libur Natal Pada waktu itu aku masih menjadi karyawan baru di sebuah kantor di Malang, Jawa Timur. Setiap akhir tahun, tepatnya di bulan Desember — bulan yang juga bertepatan dengan perayaan Natal bagi umat Kristiani — kantor biasanya memberikan libur selama lima hari sampai awal tahun 2021. Di kantor saat itu aku sudah punya beberapa teman di lingkungan kerja, salah satunya adalah Mas Deden. Dia merupakan karyawan senior yang su...

Spion Kanan

Hari demi hari berjalan, entah itu kemarin, hari ini, atau besok, kamu selalu sama. Dan tahukah kamu? Itu adalah bagian favoritku. Aku suka setiap kita berboncengan, mengendarai motor bersama, dan merayakan setiap kilometer yang terlewat di jalanan.  Aku bahkan tahu persis apa yang akan kamu lakukan selanjutnya. Memiringkan spion kanan ke arahku, lalu berbisik, 'Cantiknya'. Kamu membiarkan angin membawa kata-kata itu bersamamu, disertai senyum dan tatapan mata yang meneduhkan. Spion kananmu menangkap segalanya: saat-saat aku menangis, tertawa, cemberut, marah, sampai mengomel. Tapi kamu hanya tersenyum manis melihat pantulanku di sana. Saat-saat itu, aku selalu berpikir kita akan terus seperti ini selamanya. Setiap obrolan dan canda tawa yang kita bagi di atas motor, rasanya seperti perjalanan pulang dengan cerita yang tak pernah usai.  Aku tidak pernah berpikir bahwa suatu hari, spion kanan itu tak lagi menangkap wajahku. Karena aku sungguh percaya, kita akan terus melewati s...