Pernahkah kamu merasakan momen ketika jantungmu berdebar tanpa alasan jelas? Ketika sekedar melihat sapa seseorang sudah cukup membuat hari terasa lebih menyenangkan ?
Itulah butterfly era—fase indah penuh debar, penuh rasa canggung tapi menyenangkan. Seolah ada kupu-kupu beterbangan di dalam perutmu-"butterflies in your stomach" ketika setiap kali bayangnya muncul di pikiran.
Nyatanya, ada fase lain yang jauh lebih indah dari butterfly era. Fase di mana cinta tak lagi bergantung pada kejutan kecil atau rasa gugup yang singkat. Fase ketika kita mulai merasa aman, tenang, dan diterima apa adanya. Di titik ini, cinta berubah wujud. Bukan lagi sekadar debar, melainkan rasa nyaman yang menenangkan. Bukan lagi soal kata-kata manis, melainkan tindakan sederhana yang tulus. Bukan lagi soal siapa yang membuatmu tertawa sesaat, melainkan siapa yang selalu ada—bahkan ketika hari terasa berat.
Butterfly era memang manis, tapi keindahan sejati hadir setelahnya. Saat cinta tumbuh menjadi kehangatan dan kebersamaan. Karena pada akhirnya, kupu-kupu akan pergi, dia sekali lagi akan melalui masa metamorfosisnya. Tetapi ada satu yang akan bertahan, rasa yang telah dilalui dalam memilih, menjaga, dan merawat.
Dan di situlah kita menemukan sesuatu yang lebih indah daripada sekadar butterfly era, karena setelah kupu-kupu beterbangan, atau bahkan mati untuk hidup lagi, ia akan selalu tahu dimana tempat bermainnya, yaitu taman yang penuh bunga, yaitu cinta yang menetap, tidak lagi berisik, tapi selalu hidup dan bertumbuh. Seperti Garden Era.
Comments
Post a Comment