Skip to main content

Butterfly Era

Pernahkah kamu merasakan momen ketika jantungmu berdebar tanpa alasan jelas? Ketika sekedar melihat sapa seseorang sudah cukup membuat hari terasa lebih menyenangkan ?
Itulah butterfly era—fase indah penuh debar, penuh rasa canggung tapi menyenangkan. Seolah ada kupu-kupu beterbangan di dalam perutmu-"butterflies in your stomach" ketika setiap kali bayangnya muncul di pikiran.

Nyatanya, ada fase lain yang jauh lebih indah dari butterfly era. Fase di mana cinta tak lagi bergantung pada kejutan kecil atau rasa gugup yang singkat. Fase ketika kita mulai merasa aman, tenang, dan diterima apa adanya. Di titik ini, cinta berubah wujud. Bukan lagi sekadar debar, melainkan rasa nyaman yang menenangkan. Bukan lagi soal kata-kata manis, melainkan tindakan sederhana yang tulus. Bukan lagi soal siapa yang membuatmu tertawa sesaat, melainkan siapa yang selalu ada—bahkan ketika hari terasa berat.

Butterfly era memang manis, tapi keindahan sejati hadir setelahnya. Saat cinta tumbuh menjadi kehangatan dan kebersamaan. Karena pada akhirnya, kupu-kupu akan pergi, dia sekali lagi akan melalui masa metamorfosisnya. Tetapi ada satu yang akan bertahan, rasa yang telah dilalui dalam memilih, menjaga, dan merawat.

Dan di situlah kita menemukan sesuatu yang lebih indah daripada sekadar butterfly era, karena setelah kupu-kupu beterbangan, atau bahkan mati untuk hidup lagi, ia akan selalu tahu dimana tempat bermainnya, yaitu taman yang penuh bunga, yaitu cinta yang menetap, tidak lagi berisik, tapi selalu hidup dan bertumbuh. Seperti Garden Era.

Comments

Popular posts from this blog

Republik Maya: Prologue

Prologue Di sebuah tempat bernama Republik Maya, orang-orang hidup berdampingan tanpa pernah benar-benar saling mengenal. Mereka berbicara setiap hari, tertawa di ruang obrolan yang sama, saling mengirim meme, musik, game dan cerita tentang hidup. Namun, di balik semua itu, ada satu aturan yang tak pernah tertulis, "Jangan bawa perasaan di grup" Raka tahu aturan itu. Semua orang tahu. Lalu datanglah Nara. Awalnya biasa saja. Ia hanya anggota baru yang sering muncul di kanal musik setiap malam. Suaranya tenang, dan caranya mendengarkan membuat siapa pun merasa dihargai. Mereka semua mulai sering berbincang. Tentang film, musik, konspirasi, sampai mimpi-mimpi yang bahkan belum berani mereka ceritakan kepada dunia nyata. Tanpa sadar, Raka mulai menunggu notifikasi yang hanya berasal dari satu nama. Kalimat itu berkali-kali muncul di kepalanya. Ia ingin mengatakannya. Sangat ingin. Namun setiap kali jari-jarinya menyentuh keyboard, kata-kata itu menghilang begitu saja. "Hi.....

After Kawi's story

Kali ini aku ingin menceritakan tentang pengalaman mengerikan yang kualami setelah perjalanan kami ke Gunung Kawi beberapa tahun lalu. Demi menjaga privasi dan kerahasiaan beberapa orang yang terlibat, aku akan menggunakan nama, tempat dan latar waktu samaran dalam cerita ini. Bukan karena ingin terlihat misterius, tapi karena ada hal-hal yang tidak bisa aku ceritakan secara terbuka. Aku hanya berharap, lewat cerita ini, kalian bisa mengambil pelajaran dan lebih berhati-hati kalau suatu hari nanti memutuskan untuk datang ke tempat yang sama. 2020, Desember - Libur Natal Pada waktu itu aku masih menjadi karyawan baru di sebuah kantor di Malang, Jawa Timur. Setiap akhir tahun, tepatnya di bulan Desember — bulan yang juga bertepatan dengan perayaan Natal bagi umat Kristiani — kantor biasanya memberikan libur selama lima hari sampai awal tahun 2021. Di kantor saat itu aku sudah punya beberapa teman di lingkungan kerja, salah satunya adalah Mas Deden. Dia merupakan karyawan senior yang su...

Spion Kanan

Hari demi hari berjalan, entah itu kemarin, hari ini, atau besok, kamu selalu sama. Dan tahukah kamu? Itu adalah bagian favoritku. Aku suka setiap kita berboncengan, mengendarai motor bersama, dan merayakan setiap kilometer yang terlewat di jalanan.  Aku bahkan tahu persis apa yang akan kamu lakukan selanjutnya. Memiringkan spion kanan ke arahku, lalu berbisik, 'Cantiknya'. Kamu membiarkan angin membawa kata-kata itu bersamamu, disertai senyum dan tatapan mata yang meneduhkan. Spion kananmu menangkap segalanya: saat-saat aku menangis, tertawa, cemberut, marah, sampai mengomel. Tapi kamu hanya tersenyum manis melihat pantulanku di sana. Saat-saat itu, aku selalu berpikir kita akan terus seperti ini selamanya. Setiap obrolan dan canda tawa yang kita bagi di atas motor, rasanya seperti perjalanan pulang dengan cerita yang tak pernah usai.  Aku tidak pernah berpikir bahwa suatu hari, spion kanan itu tak lagi menangkap wajahku. Karena aku sungguh percaya, kita akan terus melewati s...