Skip to main content

Tertahan Sementara

Perasaan aneh macam apa yang kurasakan, rasanya seperti kalah, padahal tidak ada perlombaan yang pernah benar-benar ku mulai. Tidak ada garis start, tidak ada peluit, tidak ada garis finish, tapi rasanya seperti tertinggal jauh di belakang.

Melihat mereka jauh didepan, mereka yang mencoba mengejar garis finish nya, sementara diriku hanya tertahan jauh di belakangnya. Bagaimana mungkin aku bisa menyusulnya, sementara aku selalu menoleh ke belakang, ke arah yang seharusnya aku sudah beranjak dari sana.

Lucu ya?, perasaan memang tidak pernah mengenal logika, secara sadar aku sudah tau, untuk tak perlu repot-repot ikut dalam perlombaan ini, aku seharusnya cukup duduk nyaman di kursi penonton, dan setidaknya aku hanya perlu melihat mereka melewati garis finish. Tapi tetap saja hati selalu menyisakan ruang kecil untuk menuntunku ikut dalam perlombaan.

Ya akhirnya aku mengikuti perlombaan itu, aku mencoba berjalan ke arah garis start, menunggu peluit ditiupkan, dan tugasku hanyalah berlari secepat mungkin, lalu memenangkan perlombaan dan naik ke atas podium, bergembira dengan kemenangan ku, dan ku tunjukkan piagam ke mereka, lalu pulang dengan perasaan bangga. 

Namun itu semua hanyalah khayalanku, aku hanya bermain-main dengan pikiranku, sejujurnya aku tak pernah memulai perlombaan itu, dengan segala perasaan aneh, aku hanya duduk melihat perlombaan itu, melihat mereka benar-benar menyelesaikan garis finishnya. Yah setidaknya dengan semua hal yang tertahan ini aku tidak perlu bersakit-sakit hanya untuk perlombaan yang tidak mungkin pernah ku menangkan, haha bodohnya aku, bahkan sudah merasa kalah padahal tidak pernah masuk dalam perlombaan itu. Mungkin suatu hari aku akan memulai perlombaan ku sendiri. Dan pasti aku akan memenangkan-nya.



Comments

  1. And i don't want the world to see me, cause i don't think that they'd understand ~

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Republik Maya: Prologue

Prologue Di sebuah tempat bernama Republik Maya, orang-orang hidup berdampingan tanpa pernah benar-benar saling mengenal. Mereka berbicara setiap hari, tertawa di ruang obrolan yang sama, saling mengirim meme, musik, game dan cerita tentang hidup. Namun, di balik semua itu, ada satu aturan yang tak pernah tertulis, "Jangan bawa perasaan di grup" Raka tahu aturan itu. Semua orang tahu. Lalu datanglah Nara. Awalnya biasa saja. Ia hanya anggota baru yang sering muncul di kanal musik setiap malam. Suaranya tenang, dan caranya mendengarkan membuat siapa pun merasa dihargai. Mereka semua mulai sering berbincang. Tentang film, musik, konspirasi, sampai mimpi-mimpi yang bahkan belum berani mereka ceritakan kepada dunia nyata. Tanpa sadar, Raka mulai menunggu notifikasi yang hanya berasal dari satu nama. Kalimat itu berkali-kali muncul di kepalanya. Ia ingin mengatakannya. Sangat ingin. Namun setiap kali jari-jarinya menyentuh keyboard, kata-kata itu menghilang begitu saja. "Hi.....

Memoar Horor Masa Kecil: They Came When I Was Little

Ada memori yang memudar tertelan oleh waktu. Namun, ada pula memori yang tetap hidup, seolah menunggu malam tiba untuk kembali menghantui ingatan. Masa kecilku bukan hanya dipenuhi tawa dan permainan, tetapi juga pengalaman tak terlupakan yang hingga hari ini belum pernah berhasil aku jelaskan dengan logika. Seluruh cerita dalam tulisan ini adalah potongan-potongan pengalaman yang masih aku ingat dengan jelas. Aku tidak meminta siapa pun untuk mempercayainya. Aku hanya ingin menceritakan apa yang pernah aku lihat, dengar, dan rasakan. Karena terkadang, hal yang paling menyeramkan bukanlah hantu—melainkan kenyataan bahwa sebagian memori tidak pernah benar-benar pergi dan terus menghantui kita. Semoga kalian bisa menikmati cerita horor masa kecilku ini, mari kita masuk ke palung memori dan ingatan terdalamku—sebelum itu aku sarankan, lebih baik kalian matikan lampu kamar, pasang selimut, dan kuucapkan selamat membaca. 1. Teror Lampor: Keranda Terbang Sidoarjo, 2006. Saya masih kecil sa...

Republik Maya: Bab 2

Selamat Datang Malam selalu menjadi waktu yang paling panjang bagi Raka. Dulu, pukul sembilan malam adalah waktu ketika ia menunggu pesan dari Selena. Kini, yang ia tunggu hanyalah balasan lamaran pekerjaan yang entah kapan datangnya. Ponselnya bergetar, Layar latopnya selalu membuka tampilan email. Seperti seseorang yang tanpa tau kejelasan, Raka terus menerus digantung oleh HRD dan perusahaan, dalam suasana bosan dan suntuk, tiba-tiba kevin menegur Raka lewat pesan singkat. "Rak, lagi ngapain, jangan kayak orang bingung terus lu" "Nggak ngapa-ngapain vin, lu sendiri ngapain" "Masuk sini lah sebentar Rak" "Kemana vin, ke rumah lu?" "Bukan bego!" "Lah terus kemana pinter!" "Nih, masuk group server Rak" "Apaan lagi tuh vin" "Tempat orang-orang gabut kumpul, join lah, seru kok" "Gue gak kenal siapa-siapa tapi vin" "Ya makannya sini kenalan Rak" "Males" "Kocak anjir...