Skip to main content

Republik Maya: Bab 18

Permen

Sabtu pagi selalu menjadi hari yang paling sibuk di rumah Raka. 

Ibunya sudah berdiri di depan pintu sejak pukul delapan dengan tas belanja kain yang mulai memudar warnanya.

"Rak."

"Iya Bu?"

"Temenin Ibu belanja sebentar."

"Sebentar itu berapa jam?"

Ibunya tersenyum.

"Kalau sama ibu ya... dua jam."

Raka menghela napas dramatis.

"Waduh...dompetku aman kan bu hehe?"

"Kamu cuma nemenin. Bukan bayarin."

"Alhamdulillah. Bercanda aja bu, nanti Raka ikut bantuin hihi"

Mereka pun berangkat menggunakan motor tua milik Raka menuju sebuah pusat perbelanjaan yang setiap akhir pekan selalu ramai.

...

Troli perlahan didorong menyusuri lorong demi lorong. Raka mendapat tugas sederhana. Mengambil bawang. Cabai. Minyak. Beras. Sesekali ia bercanda dengan ibunya.

"Bu."

"Hm?"

"Kalau Indomie masuk kebutuhan pokok gak?"

Ibunya menoleh.

"Kalau buat kamu..."

"...masuk."

Raka tertawa puas.

"Nah itu. Berarti ambil dua dus."

Belum sempat ia melangkah, sebuah suara terdengar dari belakang.

"Raka?"

Raka menoleh.

"Oh...Saras?"

Perempuan itu mengenakan kemeja putih sederhana dan celana jeans biru muda. Rambutnya diikat seadanya, sementara sebuah keranjang belanja berada di tangannya. Tidak ada riasan mencolok. Tidak ada pakaian mewah. Sederhana. Namun tetap membuat Raka sedikit terkejut.

"Lagi belanja juga?"

"Iya."

"Kebetulan banget."

Tidak lama dari itu, Ibunya Raka menghampiri.

"Temennya Raka?"

Raka mengangguk.

"Iya Bu. Ini Saras."

Saras langsung membungkukkan badan sedikit.

"Selamat pagi, Bu."

"Pagi juga, Nak."

"Saya Saras."

Ibunya tersenyum hangat.

"Wah...Cantik sekali."

Saras langsung salah tingkah.

"Ah..ibu bisa aja. Ibu juga cantik kok"

Raka hanya tersenyum melihat keduanya mulai mengobrol.

...

Setelah sekian lama, tiba-tiba tanpa sadar mereka berjalan bersama menuju bagian sayuran. Raka melirik isi keranjang Saras.

"Bayam."

"Wortel."

"Tomat."

"Telur."

"Tempe."

"Lengkap banget Sar."

Saras ikut melihat isi keranjangnya.

"Iya. Buat masakin ibu.."

"...ibu suka banget masakan sayuran kayak begini"

"Sama kayak ibu aku berarti dong, tapi aku gabisa masak sih"

"Berarti selama ini, kalau masaknya gagal..."

"...tinggal bikin mie gitu kamu hihi."

Raka tertawa.

"Nah. Itu yang dinamakan solusi."

Ibunya ikut tersenyum.

"Kamu sering masak sendiri ya?"

"Iya Bu. Kalau lagi sempat."

"Ternyata gak sama kayak Raka. Masak telor aja gosong, bisanya cuman masak mie sama air"

Raka langsung protes.

"Bu...itu jangan dibocorin."

Saras terkekeh pelan.

Saat mereka berhenti di depan rak buah, ibunya Raka memandang Saras sedikit lebih lama. Beberapa detik. Seolah sedang mengingat sesuatu.

"Maaf ya Nak..."

Saras menoleh.

"Iya Bu?"

"Ibu kok ngerasa..."

"...kayaknya pernah lihat kamu ya."

Senyum Saras sempat menghilang. Hanya sesaat. Lalu kembali seperti semula.

"Mungkin pernah ketemu di sini juga Bu."

"Oh iya ya...mungkin."

Namun ibunya masih terlihat berpikir.

"Tapi...rasanya bukan."

Raka langsung tertawa.

"Ah Bu. Orang mirip kali."

Ibunya mengangguk pelan.

"Iya juga ya."

Percakapan itu pun berlalu begitu saja. Tidak ada yang benar-benar memikirkannya lagi.

...

Sebelum menuju kasir, Saras berhenti di rak makanan ringan. Tangannya mengambil satu bungkus permen rasa stroberi. Raka memperhatikan sekilas.

"Kamu suka permen?"

"Hm? Iya..dari dulu."

"Masih suka sampai sekarang?"

"Iya. Aneh ya?"

Raka menggeleng.

"Enggak."

"Kalau aku..."

"...lebih suka kopi."

"Kelihatan kok."

"Hah?"

"Wajahmu kayak kurang tidur."

Raka tertawa keras.

"Oke. Aku kalah. Hahaha"

Saras ikut tertawa. Namun setelah itu, ia memandang bungkus permen itu beberapa detik lebih lama. Seolah sedang mengingat sesuatu.

...

Setelah selesai membayar belanjaan, mereka berhenti di depan pintu keluar.

"Kalau gitu aku duluan ya Raka, Ibu.."

"Iya. Hati-hati Sar."

"Kamu juga Rak."

Ibunya Raka tersenyum.

"Senang ketemu kamu ya, Saras."

"Saya juga, Bu. Terima kasih banyak juga Ibu"

Mereka berpisah. Saras berjalan menuju parkiran. Raka membantu ibunya membawa belanjaan ke motor. Tanpa mereka sadari, Saras sempat menoleh sekali lagi ke arah keduanya. Lalu tersenyum kecil.

"Raka."

"Eh..iya kenapa bu?"

"Liat apa kamu"

Jawab Raka sambil cengegesan,

"Eh enggak, bukan apa-apa kok Buk"

"Kamu senang ya ketemu Saras"

"Haha enggak kok, ayok pulang Buk"

Jawab Raka lirih, sebelum akhirnya mereka Raka menyalakan motor untuk melakukan perjalanan pulang.

...

Malam harinya. Republik Maya kembali ramai.

"WOIIII!"

"Raka dateng!"

"Mana ini orang yang pagi-pagi jalan sama mbak cantik?"

Raka langsung mengernyit.

"Hah? Maksud lu apa?"

Kevin tertawa dari balik mikrofonnya.

"Udah ketahuan. Gue liat story WA ibu lu."

"Anjir...Ibu gue update story?"

"Iya. Ada Saras."

Voice langsung ramai.

"Oooooo..."

Mia langsung menggoda.

"Wah... wah...kenalan baru nih."

Raka menggeleng sambil tertawa.

"Kebetulan ketemu aja."

Rio yang sedari tadi diam akhirnya bersuara singkat.

"Kasihan."

"Hah?"

"Belum apa-apa udah diinterogasi."

Semua langsung tertawa. Suasana Republik Maya malam itu terasa jauh lebih ringan dibanding beberapa minggu sebelumnya. Tidak ada lagi kesunyian seperti ketika Mia menghilang. Tidak ada lagi kekhawatiran tentang Adit. Semua kembali seperti dulu. Atau setidaknya terlihat seperti dulu.

...

Setelah hampir satu jam hanya mengobrol tanpa arah, Rio akhirnya membuka suara.

"Guys."

"Hm?"

"Bosen."

Adit langsung menyahut.

"Lah. Lu tiap hari emang bosen."

Rio mengabaikannya.

"Main apa lah gitu."

"Apa? Tebak gambar?"

Kevin langsung tertawa.

"Skribbl?"

"Iya."

Tak lama kemudian, sebuah tautan permainan dikirim ke kanal chat. Bagi Raka, permainan itu bukan sesuatu yang asing.

Skribbl.io adalah permainan sederhana yang bisa dimainkan melalui peramban internet. Aturannya pun mudah dipahami. Setiap pemain akan mendapat giliran menjadi pelukis. Ia harus menggambar dari sebuah kata, sementara pemain lain berlomba menebak gambar tersebut secepat mungkin.

Semakin cepat jawaban benar diketik, semakin banyak poin yang didapat. Tidak membutuhkan spesifikasi komputer tinggi. Tidak membutuhkan kemampuan bermain game. Yang dibutuhkan hanyalah imajinasi. 

Atau dalam kasus Kevin...kemampuan menggambar yang sangat buruk.

...

Giliran pertama jatuh kepada Kevin. Semua menunggu. 

Sebuah garis muncul. Kemudian garis lain. Lalu lingkaran. Lalu kotak. Lalu sesuatu yang bentuknya benar-benar tidak bisa dijelaskan.

Miko langsung mengetik.

"Ular?"

"Salah."

Rio.

"Cacing?"

"Masih salah."

Mia.

"Tali tambang?"

"Salah lagi."

Adit mulai frustrasi.

"WOI! Itu gambar apaan sih?"

Kevin tertawa keras.

"Gampang ini!"

"Gampang pala bapak kau!"

Beberapa detik sebelum waktu habis, jawaban akhirnya muncul.

Indomie.

Voice langsung meledak.

"HAHAHAHAHAHA!"

"Itu Indomie?!"

"Itu kabel putus, Vin!"

"Anjir, mie lu bentuknya kayak tambang!"

Bahkan Rio yang biasanya datar pun terdengar tertawa cukup keras. Kevin hanya membela diri.

"Ya pokoknya itu mie."

Permainan terus berlanjut. Mia ternyata cukup pandai menggambar. Miko terlalu detail sampai waktu hampir habis. Adit sengaja menggambar asal-asalan hanya demi membuat semua orang salah menebak. Suasana benar-benar hidup. Tawa silih berganti memenuhi kanal suara.

...

Beberapa ronde kemudian, nama Nara muncul di layar.

"Oke. Giliran Nara."

Semua langsung memperhatikan layar. Berbeda dengan Kevin, goresan pertama Nara terlihat sangat rapi. Ia menggambar sebuah lingkaran mirip dengan planet. Lalu sebuah tangkai dibawahnya. Kemudian sebuah emot senyum dan buah stroberi. Tidak ada yang mengerti.

Miko mulai menebak.

"Mic?"

"Salah."

Mia.

"Penyanyi?"

"Masih salah."

Rio memperhatikan tanpa berkata apa-apa. Kemudian Nara menuliskan sebuah huruf besar.

P

Adit langsung mengetik.

"Pena?"

"Salah."

Huruf kedua muncul.

E

Kevin refleks berteriak.

"PELURU!"

Semua langsung tertawa.

"Mana ada gue tanya vin, orang mau nembak, senyum, sambil bawa stroberi!", Seru Adit

Nara sendiri sampai ikut tertawa. Namun ia belum selesai. Perlahan ia menggambar sebuah matahari kecil di pojok kanan atas. Kemudian menambahkan kelopak bunga di samping emot senyum. Masih tidak ada yang berhasil. Hitungan mundur tinggal lima detik.

Empat...

Tiga...

Dua...

Satu...

Waktu habis.

Jawaban muncul.

Permen.

Voice langsung sunyi selama beberapa detik. Lalu...

"Kok bisa?"

"Darimananya?"

Adit langsung protes.

"Itu mah gak mungkin ketebak!"

Miko mengangguk.

"Curang."

Rio hanya tersenyum kecil.

"Kenapa gambar itu?"

Nara menjawab santai.

"Gapapa..."

"...aku cuma suka permen itu. Bungkusnya ada gambar orang dan stroberi."

Raka yang sejak tadi memperhatikan gambar tersebut ikut bertanya.

"Kamu suka permen itu juga?"

"Iya."

"Kenapa?"

"Gatau, udah dari kecil."

"Masih suka sampai sekarang?"

"Iya, aneh ya Rak?"

"Enggak kok, normal aja"

Jawaban itu terasa begitu biasa. Begitu sederhana. Tidak ada satu pun yang menganggapnya aneh.

Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, Raka baru saja menyadari sesuatu yang tidak ada seorang pun yang menyadarinya.

...

Permainan berakhir hampir pukul setengah satu malam. Satu per satu anggota mulai keluar dari kanal suara.

Mia pamit lebih dulu.

Kevin juga ikut keluar karena harus bangun pagi.

Adit masih sempat melontarkan beberapa candaan sebelum akhirnya menghilang.

Rio seperti biasa hanya mengucapkan satu kalimat pendek.

"Night."

Tak lama kemudian, daftar anggota yang semula penuh kembali menyisakan dua orang. Keheningan kembali memenuhi kanal. Namun kini, hening itu tidak lagi terasa canggung. Justru terasa akrab. Raka membuka suara lebih dulu.

"Nar."

"Iya?"

"Tadi...kenapa gambar permen?"

Beberapa detik. Nara tidak menjawab. Seolah sedang memilih kata-kata yang tepat. Lalu terdengar tawanya yang pelan.

"Soalnya..."

"...menurutku permen itu punya makna yang indah."

Raka ikut tersenyum.

"Kok bisa?"

"Hmm..."

"Karena permen itu lucu."

"Lucu gimana?"

"Meskipun lama disimpan..."

"...rasanya tetap manis."

Raka tertawa kecil.

"Itu kan memang fungsi permen."

"Iya sih."

"Tapi..."

"...gak semua hal bisa begitu."

"Maksudnya?"

"Ada banyak kenangan yang kalau terlalu lama disimpan..."

"...rasanya malah berubah jadi pahit."

"Sedangkan permen..."

"...tetap manis."

Raka terdiam beberapa saat.

"Loh..."

"...aku baru kepikiran sampai situ."

Nara kembali tertawa kecil.

"Makanya..."

"...kalau ada kenangan yang masih manis..."

"...jangan buru-buru dibuang."

"Siapa tahu..."

"...suatu hari nanti kita pengin merasakannya lagi."

Raka mengangguk pelan.

"Iya juga."

"Kalau aku sih..."

"...permen biasanya gak sempat disimpan."

"Habis dibuka langsung dimakan."

"Hahaha."

"Dasar."

"Tapi ya..."

"Untung masih ada orang yang mengingat rasanya."

"Maksudnya Nar?"

"Gak kok. Gapapa."

Sementara itu di balik layar tablet yang mulai meredup, Nara hanya bisa mengembuskan napas. Untuk sesaat, ia benar-benar mengira semuanya akan terungkap jelas. Namun ternyata Raka masih belum menyadari apa pun. Dan mungkin memang belum waktunya.

Comments

Popular posts from this blog

Republik Maya: Prologue

Prologue Di sebuah tempat bernama Republik Maya, orang-orang hidup berdampingan tanpa pernah benar-benar saling mengenal. Mereka berbicara setiap hari, tertawa di ruang obrolan yang sama, saling mengirim meme, musik, game dan cerita tentang hidup. Namun, di balik semua itu, ada satu aturan yang tak pernah tertulis, "Jangan bawa perasaan di grup" Raka tahu aturan itu. Semua orang tahu. Lalu datanglah Nara. Awalnya biasa saja. Ia hanya anggota baru yang sering muncul di kanal musik setiap malam. Suaranya tenang, dan caranya mendengarkan membuat siapa pun merasa dihargai. Mereka semua mulai sering berbincang. Tentang film, musik, konspirasi, sampai mimpi-mimpi yang bahkan belum berani mereka ceritakan kepada dunia nyata. Tanpa sadar, Raka mulai menunggu notifikasi yang hanya berasal dari satu nama. Kalimat itu berkali-kali muncul di kepalanya. Ia ingin mengatakannya. Sangat ingin. Namun setiap kali jari-jarinya menyentuh keyboard, kata-kata itu menghilang begitu saja. "Hi.....

Memoar Horor Masa Kecil: They Came When I Was Little

Ada memori yang memudar tertelan oleh waktu. Namun, ada pula memori yang tetap hidup, seolah menunggu malam tiba untuk kembali menghantui ingatan. Masa kecilku bukan hanya dipenuhi tawa dan permainan, tetapi juga pengalaman tak terlupakan yang hingga hari ini belum pernah berhasil aku jelaskan dengan logika. Seluruh cerita dalam tulisan ini adalah potongan-potongan pengalaman yang masih aku ingat dengan jelas. Aku tidak meminta siapa pun untuk mempercayainya. Aku hanya ingin menceritakan apa yang pernah aku lihat, dengar, dan rasakan. Karena terkadang, hal yang paling menyeramkan bukanlah hantu—melainkan kenyataan bahwa sebagian memori tidak pernah benar-benar pergi dan terus menghantui kita. Semoga kalian bisa menikmati cerita horor masa kecilku ini, mari kita masuk ke palung memori dan ingatan terdalamku—sebelum itu aku sarankan, lebih baik kalian matikan lampu kamar, pasang selimut, dan kuucapkan selamat membaca. 1. Teror Lampor: Keranda Terbang Sidoarjo, 2006. Saya masih kecil sa...

Republik Maya: Bab 2

Selamat Datang Malam selalu menjadi waktu yang paling panjang bagi Raka. Dulu, pukul sembilan malam adalah waktu ketika ia menunggu pesan dari Selena. Kini, yang ia tunggu hanyalah balasan lamaran pekerjaan yang entah kapan datangnya. Ponselnya bergetar, Layar latopnya selalu membuka tampilan email. Seperti seseorang yang tanpa tau kejelasan, Raka terus menerus digantung oleh HRD dan perusahaan, dalam suasana bosan dan suntuk, tiba-tiba kevin menegur Raka lewat pesan singkat. "Rak, lagi ngapain, jangan kayak orang bingung terus lu" "Nggak ngapa-ngapain vin, lu sendiri ngapain" "Masuk sini lah sebentar Rak" "Kemana vin, ke rumah lu?" "Bukan bego!" "Lah terus kemana pinter!" "Nih, masuk group server Rak" "Apaan lagi tuh vin" "Tempat orang-orang gabut kumpul, join lah, seru kok" "Gue gak kenal siapa-siapa tapi vin" "Ya makannya sini kenalan Rak" "Males" "Kocak anjir...