Cerita tentang kita yang sudah memiliki cinta. Cinta yang telah menemani kita berjalan sejauh ini, menuliskan cerita bersama, merajut mimpi, dan membisikkan doa di antara langkah-langkah kecil menuju masa depan.
Namun takdir memiliki caranya sendiri menguji hati. Tanpa pernah kita undang, ada sosok baru yang hadir. Ia membawa warna, menghadirkan rasa yang sempat kita lupa, dan membuat hati kita merasakan seakan kita jatuh cinta untuk pertama kali.
Kita tak menampik, kita jatuh hati. Tetapi di saat yang sama, kita sadar betapa rapuhnya diri kita. Menyadari jika nanti harus mencintai dua orang sekaligus, itu bukanlah suatu kebanggaan, melainkan sebuah kebimbangan. Perasaan memang tak bisa dipilih, tapi kesetiaan selalu menuntut keputusan.
Dalam diam, kita bertanya pada hati kita: “Cinta macam apa yang ingin kutinggalkan? Cinta yang sekadar singgah, atau cinta yang telah setia menunggu di pintu rumah hatiku sejak awal?”
Pada akhirnya kita temukan jawabannya. Perasaan yang datang belakangan hanyalah kilatan indah yang memabukkan sejenak. Sedangkan cinta pertama kita adalah rumah, tempat segala resah kita reda, tempat kita belajar arti sabar, tempat kita belajar bahwa cinta bukan hanya tentang rasa, tapi juga tentang janji.
Dan pada akhirnya, kita memilih dia. Dia yang pertama. Dia yang mungkin tak sempurna, tapi selalu ada. Dia yang membuat kita yakin bahwa cinta sejati bukanlah tentang menemukan banyak hati untuk dicintai, melainkan menjaga satu hati. Yaitu rumah pertama.

Comments
Post a Comment