Skip to main content

Kembali ke Rumah Pertama

Cerita tentang kita yang sudah memiliki cinta. Cinta yang telah menemani kita berjalan sejauh ini, menuliskan cerita bersama, merajut mimpi, dan membisikkan doa di antara langkah-langkah kecil menuju masa depan.

Namun takdir memiliki caranya sendiri menguji hati. Tanpa pernah kita undang, ada sosok baru yang hadir. Ia membawa warna, menghadirkan rasa yang sempat kita lupa, dan membuat hati kita merasakan seakan kita jatuh cinta untuk pertama kali.

Kita tak menampik, kita jatuh hati. Tetapi di saat yang sama, kita sadar betapa rapuhnya diri kita. Menyadari jika nanti harus mencintai dua orang sekaligus, itu bukanlah suatu kebanggaan, melainkan sebuah kebimbangan. Perasaan memang tak bisa dipilih, tapi kesetiaan selalu menuntut keputusan.

Dalam diam, kita bertanya pada hati kita: “Cinta macam apa yang ingin kutinggalkan? Cinta yang sekadar singgah, atau cinta yang telah setia menunggu di pintu rumah hatiku sejak awal?”

Pada akhirnya kita temukan jawabannya. Perasaan yang datang belakangan hanyalah kilatan indah yang memabukkan sejenak. Sedangkan cinta pertama kita adalah rumah, tempat segala resah kita reda, tempat kita belajar arti sabar, tempat kita belajar bahwa cinta bukan hanya tentang rasa, tapi juga tentang janji.

Dan pada akhirnya, kita memilih dia. Dia yang pertama. Dia yang mungkin tak sempurna, tapi selalu ada. Dia yang membuat kita yakin bahwa cinta sejati bukanlah tentang menemukan banyak hati untuk dicintai, melainkan menjaga satu hati. Yaitu rumah pertama.




Comments

Popular posts from this blog

Republik Maya: Prologue

Prologue Di sebuah tempat bernama Republik Maya, orang-orang hidup berdampingan tanpa pernah benar-benar saling mengenal. Mereka berbicara setiap hari, tertawa di ruang obrolan yang sama, saling mengirim meme, musik, game dan cerita tentang hidup. Namun, di balik semua itu, ada satu aturan yang tak pernah tertulis, "Jangan bawa perasaan di grup" Raka tahu aturan itu. Semua orang tahu. Lalu datanglah Nara. Awalnya biasa saja. Ia hanya anggota baru yang sering muncul di kanal musik setiap malam. Suaranya tenang, dan caranya mendengarkan membuat siapa pun merasa dihargai. Mereka semua mulai sering berbincang. Tentang film, musik, konspirasi, sampai mimpi-mimpi yang bahkan belum berani mereka ceritakan kepada dunia nyata. Tanpa sadar, Raka mulai menunggu notifikasi yang hanya berasal dari satu nama. Kalimat itu berkali-kali muncul di kepalanya. Ia ingin mengatakannya. Sangat ingin. Namun setiap kali jari-jarinya menyentuh keyboard, kata-kata itu menghilang begitu saja. "Hi.....

Memoar Horor Masa Kecil: They Came When I Was Little

Ada memori yang memudar tertelan oleh waktu. Namun, ada pula memori yang tetap hidup, seolah menunggu malam tiba untuk kembali menghantui ingatan. Masa kecilku bukan hanya dipenuhi tawa dan permainan, tetapi juga pengalaman tak terlupakan yang hingga hari ini belum pernah berhasil aku jelaskan dengan logika. Seluruh cerita dalam tulisan ini adalah potongan-potongan pengalaman yang masih aku ingat dengan jelas. Aku tidak meminta siapa pun untuk mempercayainya. Aku hanya ingin menceritakan apa yang pernah aku lihat, dengar, dan rasakan. Karena terkadang, hal yang paling menyeramkan bukanlah hantu—melainkan kenyataan bahwa sebagian memori tidak pernah benar-benar pergi dan terus menghantui kita. Semoga kalian bisa menikmati cerita horor masa kecilku ini, mari kita masuk ke palung memori dan ingatan terdalamku—sebelum itu aku sarankan, lebih baik kalian matikan lampu kamar, pasang selimut, dan kuucapkan selamat membaca. 1. Teror Lampor: Keranda Terbang Sidoarjo, 2006. Saya masih kecil sa...

Republik Maya: Bab 2

Selamat Datang Malam selalu menjadi waktu yang paling panjang bagi Raka. Dulu, pukul sembilan malam adalah waktu ketika ia menunggu pesan dari Selena. Kini, yang ia tunggu hanyalah balasan lamaran pekerjaan yang entah kapan datangnya. Ponselnya bergetar, Layar latopnya selalu membuka tampilan email. Seperti seseorang yang tanpa tau kejelasan, Raka terus menerus digantung oleh HRD dan perusahaan, dalam suasana bosan dan suntuk, tiba-tiba kevin menegur Raka lewat pesan singkat. "Rak, lagi ngapain, jangan kayak orang bingung terus lu" "Nggak ngapa-ngapain vin, lu sendiri ngapain" "Masuk sini lah sebentar Rak" "Kemana vin, ke rumah lu?" "Bukan bego!" "Lah terus kemana pinter!" "Nih, masuk group server Rak" "Apaan lagi tuh vin" "Tempat orang-orang gabut kumpul, join lah, seru kok" "Gue gak kenal siapa-siapa tapi vin" "Ya makannya sini kenalan Rak" "Males" "Kocak anjir...