Skip to main content

When ya?

Hi Blog,

Gue cuma mau nulis gabut aja sih. Entah kenapa tiba-tiba gue kepikiran beberapa hal yang nggak bisa gue ungkapin ke siapa pun, selain gue tulis di halaman ini.

Akhir-akhir ini gue kayak sering banget nemuin makna dari hal-hal yang sebenarnya penting nggak penting. Dan entah kenapa, hal-hal kecil itu malah terus kepikiran.

Ngomongin soal makna, sebenarnya apa sih makna itu?

Apakah hidup lo, atau hidup gue, memang butuh sesuatu yang namanya makna?

Oke, coba kita sederhanakan.

Kita hidup sampai sejauh ini. Udah sebesar ini. Udah melewati begitu banyak hal. Dan gue rasa, hampir mustahil kalau seseorang benar-benar nggak punya harapan, cita-cita, atau sekadar keinginan untuk sesuatu.

Buat gue, kalau ada yang bilang mereka nggak punya salah satunya, itu bullshit.

Karena setiap sesuatu yang bernyawa, pada dasarnya pasti punya dorongan untuk terus hidup.

Lihat aja tanaman padi.

Mereka tumbuh tinggi ke atas. Bukan cuma sekadar tumbuh, tapi pada akhirnya akan menghasilkan sesuatu yang bisa menghidupi entitas lain di sekitarnya.

Atau ikan salmon.

Mereka berenang jauh dari tempat mereka berasal menuju tempat tujuan terakhirnya. Melewati arus, melawan derasnya air, bahkan mempertaruhkan hidup mereka sendiri. Seolah ada satu tujuan yang harus mereka capai, memastikan keturunan mereka bisa lahir, tumbuh besar, dan melanjutkan kehidupan setelah mereka pergi.

Mungkin padi dan salmon nggak pernah benar-benar tahu apa itu makna. Tapi mereka tetap hidup seolah-olah punya satu.

Kita bukan cuma hidup. Kita sadar bahwa kita sedang hidup.

Kita bisa mempertanyakan kenapa kita ada, buat apa kita hidup, dan sebenarnya kita mau membawa hidup ini ke mana. Kita bisa bangun di pagi hari, menjalani rutinitas yang sama, lalu tiba-tiba berhenti dan bertanya, “Gue sebenarnya ngapain, sih?”

Makanya manusia butuh makna.

Bukan karena hidup tanpa makna akan langsung berhenti. Tapi karena tanpa makna, hidup terasa seperti sekadar rangkaian kejadian yang terjadi begitu saja. Dan begitu terus sampai akhirnya kita sadar umur kita sudah bertambah, tapi kita sendiri nggak tahu sebenarnya sedang berjalan ke mana.

Makna, buat gue, bukan sesuatu yang harus selalu besar. Nggak harus menyelamatkan dunia. Nggak harus jadi orang terkenal. Nggak harus punya rumah mewah, mobil bagus, atau nama yang dikenang banyak orang.

Kadang makna cuma sesederhana punya alasan untuk bangun besok pagi. Punya seseorang yang ingin kita bahagiakan. Punya sesuatu yang ingin kita selesaikan. Punya tempat yang ingin kita datangi. Atau bahkan cuma punya satu hal kecil yang bikin kita berpikir, “Yaudah, gue jalanin dulu hari ini.”

Tapi ada satu hal yang menurut gue sering dilupakan ketika manusia mencari makna. Makna nggak cukup cuma dipercaya. Makna juga harus bisa dijalankan.

Dan di sinilah rasionalitas dan realitas punya peran.

Lo boleh punya mimpi setinggi langit. Lo boleh punya alasan hidup yang menurut lo begitu berarti. Tapi kalau semuanya cuma berhenti di kepala, ya makna itu nggak akan pernah menjadi apa-apa.

Misalnya lo ingin menjadi seorang penulis.

Lo bisa bilang bahwa menulis adalah tujuan hidup lo. Lo bisa merasa bahwa tulisan lo akan mengubah dunia. Tapi kalau lo nggak pernah belajar menulis, nggak pernah menyelesaikan satu tulisan pun, dan setiap kali gagal lo memilih berhenti, lalu apa gunanya makna itu?

Makna tanpa tindakan cuma jadi angan-angan. Sebaliknya, kalau lo terlalu realistis sampai nggak berani punya makna, hidup juga bisa terasa kosong.

Karena itu mungkin manusia memang butuh keduanya.

"Makna untuk menentukan ke mana kita pergi. Rasionalitas untuk menentukan bagaimana cara kita sampai ke sana."

Lo boleh bermimpi punya rumah sendiri, tapi lo juga harus sadar berapa harga rumah itu dan berapa kemampuan lo untuk membelinya.

Lo boleh ingin membahagiakan orang tua, tapi lo juga harus menerima kenyataan bahwa lo nggak mungkin memenuhi semua keinginan mereka.

Lo boleh ingin dicintai seseorang, tapi lo juga harus sadar bahwa perasaan orang lain bukan sesuatu yang bisa lo kendalikan.

Dan menurut gue, justru di situlah makna menjadi sesuatu yang benar-benar hidup. Bukan ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan.

Tapi ketika kita tahu apa yang kita inginkan, memahami kenyataan yang ada di depan kita, lalu tetap memilih untuk berjalan—dengan segala keterbatasan yang kita punya.

Karena mungkin hidup memang bukan tentang mendapatkan semua yang kita mau. Mungkin hidup cuma tentang menemukan satu alasan yang cukup kuat untuk membuat kita berkata,

“Oke. Kalau begini kenyataannya, gue masih mau jalan.”

Maka, makna itu dinamis, bisa berubah seiring waktu, mengikuti situasi dan kondisi yang kita hadapi. Apa yang dulu kita anggap penting, mungkin beberapa tahun kemudian sudah nggak lagi berarti apa-apa. Begitu juga sebaliknya.

Tapi mungkin ada satu hal yang seharusnya nggak ikut berubah. Cara lo melihat dunia, cara lo bertahan ketika hidup nggak seindah cerita fiksi, dan cara lo memahami diri lo sendiri.

Karena pada akhirnya, dunia nggak akan selalu berjalan sesuai dengan apa yang kita mau. Ada hal-hal yang bisa kita kendalikan, ada yang cuma bisa kita terima, dan ada juga yang bahkan nggak pernah kita mengerti.

Dan mungkin, makna hidup bukan tentang menemukan satu jawaban yang berlaku selamanya. Tapi tentang terus mencari, terus berubah, dan tetap mengenal diri sendiri di tengah perubahan itu.

Seperti perasaan gue yang penuh akan makna ini. Ada banyak hal yang sebenarnya pengin banget gue ceritain ke lo. Banyak hal yang pengin gue bagi, tentang apa yang gue rasain, apa yang gue pikirin, dan tentang hal-hal yang pernah terjadi.

Tapi gue sadar, mungkin otak gue sendiri yang perlahan-lahan memaksa gue untuk melupakan semuanya. Seolah-olah semua itu nggak pernah terjadi. Seolah-olah nggak pernah ada perasaan, nggak pernah ada harapan, dan nggak pernah ada cerita yang layak untuk dibagi.

Dan pada akhirnya, makna itu ikut berubah.

Yang awalnya adalah harapan, perlahan berubah menjadi pembelajaran.

Mungkin memang begitu cara hidup bekerja. Nggak semua hal yang kita harapkan ditakdirkan untuk membersamai kita. Beberapa hal cuma datang untuk memberikan pengalaman, meninggalkan bekas, lalu pergi.

Dan mungkin, tugas gue sekarang bukan lagi mempertahankan apa yang pernah gue harapkan.

Tapi memahami kenapa semua itu pernah berarti. Dan entah kapan semuanya akan berjalan sejajar dengan apa yang kita inginkan, tidak ada yang pernah benar-benar tahu.



Comments

Popular posts from this blog

Republik Maya: Prologue

Prologue Di sebuah tempat bernama Republik Maya, orang-orang hidup berdampingan tanpa pernah benar-benar saling mengenal. Mereka berbicara setiap hari, tertawa di ruang obrolan yang sama, saling mengirim meme, musik, game dan cerita tentang hidup. Namun, di balik semua itu, ada satu aturan yang tak pernah tertulis, "Jangan bawa perasaan di grup" Raka tahu aturan itu. Semua orang tahu. Lalu datanglah Nara. Awalnya biasa saja. Ia hanya anggota baru yang sering muncul di kanal musik setiap malam. Suaranya tenang, dan caranya mendengarkan membuat siapa pun merasa dihargai. Mereka semua mulai sering berbincang. Tentang film, musik, konspirasi, sampai mimpi-mimpi yang bahkan belum berani mereka ceritakan kepada dunia nyata. Tanpa sadar, Raka mulai menunggu notifikasi yang hanya berasal dari satu nama. Kalimat itu berkali-kali muncul di kepalanya. Ia ingin mengatakannya. Sangat ingin. Namun setiap kali jari-jarinya menyentuh keyboard, kata-kata itu menghilang begitu saja. "Hi.....

Memoar Horor Masa Kecil: They Came When I Was Little

Ada memori yang memudar tertelan oleh waktu. Namun, ada pula memori yang tetap hidup, seolah menunggu malam tiba untuk kembali menghantui ingatan. Masa kecilku bukan hanya dipenuhi tawa dan permainan, tetapi juga pengalaman tak terlupakan yang hingga hari ini belum pernah berhasil aku jelaskan dengan logika. Seluruh cerita dalam tulisan ini adalah potongan-potongan pengalaman yang masih aku ingat dengan jelas. Aku tidak meminta siapa pun untuk mempercayainya. Aku hanya ingin menceritakan apa yang pernah aku lihat, dengar, dan rasakan. Karena terkadang, hal yang paling menyeramkan bukanlah hantu—melainkan kenyataan bahwa sebagian memori tidak pernah benar-benar pergi dan terus menghantui kita. Semoga kalian bisa menikmati cerita horor masa kecilku ini, mari kita masuk ke palung memori dan ingatan terdalamku—sebelum itu aku sarankan, lebih baik kalian matikan lampu kamar, pasang selimut, dan kuucapkan selamat membaca. 1. Teror Lampor: Keranda Terbang Sidoarjo, 2006. Saya masih kecil sa...

Republik Maya: Bab 2

Selamat Datang Malam selalu menjadi waktu yang paling panjang bagi Raka. Dulu, pukul sembilan malam adalah waktu ketika ia menunggu pesan dari Selena. Kini, yang ia tunggu hanyalah balasan lamaran pekerjaan yang entah kapan datangnya. Ponselnya bergetar, Layar latopnya selalu membuka tampilan email. Seperti seseorang yang tanpa tau kejelasan, Raka terus menerus digantung oleh HRD dan perusahaan, dalam suasana bosan dan suntuk, tiba-tiba kevin menegur Raka lewat pesan singkat. "Rak, lagi ngapain, jangan kayak orang bingung terus lu" "Nggak ngapa-ngapain vin, lu sendiri ngapain" "Masuk sini lah sebentar Rak" "Kemana vin, ke rumah lu?" "Bukan bego!" "Lah terus kemana pinter!" "Nih, masuk group server Rak" "Apaan lagi tuh vin" "Tempat orang-orang gabut kumpul, join lah, seru kok" "Gue gak kenal siapa-siapa tapi vin" "Ya makannya sini kenalan Rak" "Males" "Kocak anjir...