Manusia Dibalik Berita
Sore mulai turun.
Warung Indomie kembali sepi. Beberapa pelanggan datang silih berganti, memesan mi rebus, es teh, lalu pergi tanpa tahu bahwa di salah satu meja plastik itu sedang disusun potongan-potongan kebenaran yang telah hilang selama bertahun-tahun.
Laptop Miko masih terbuka. Puluhan tab memenuhi layar. Rio sibuk mencatat nama-nama saksi. Kevin sibuk melayani pelanggan sambil sesekali ikut mendengarkan. Sementara Raka...sedang memandangi layar Republik Maya. Nama Nara menyala hijau. Online.
Raka tersenyum kecil. Ia langsung mengirim pesan.
"Nar... lagi sibuk?"
Tidak sampai satu menit. Balasan datang.
"Sedikit. Kenapa Raka?"
"Kalau sempat ke VC bentar ya."
Beberapa detik kemudian. Suara notifikasi Discord terdengar.
Nara joined the voice channel.
"Halo..."
Suara lembut itu langsung memenuhi ruangan. Kevin yang sedang mengangkat panci langsung berteriak.
"Waduh, calon Raka datang."
"Apaan sih, Kevin...hihi" jawab Nara sambil tertawa kecil.
Rio langsung menjelaskan semuanya. Tentang Ethan. Tentang berita. Tentang bukti-bukti yang mulai mereka temukan. Termasuk tentang kejanggalan yang tidak masuk akal.
Nara mendengarkan. Tidak memotong. Tidak menyela. Sampai Rio selesai. Barulah ia berbicara.
"Kalian dari tadi..."
"...nyari fakta ya?"
"Iya."
"Kalau aku boleh..."
"...aku mau nyari manusianya."
Semua terdiam. Kevin mengernyit.
"Maksudnya?"
Nara tersenyum kecil.
"Berita bisa berubah."
"Dokumen bisa diubah."
"Video bisa dipotong."
"Tapi..."
"...orang yang melihat langsung biasanya menyimpan cerita kebenarannya."
Sunyi.
Miko tiba-tiba memukul meja pelan.
"Iya...betul...kok gue gak kepikiran ya."
Nara melanjutkan.
"Coba cari..."
"...orang-orang yang komentar waktu berita itu pertama kali naik."
"Jangan yang viral."
"Jangan yang terkenal."
"Cari komentar biasa."
"Orang-orang kecil."
"Kadang..."
"...mereka adalah saksi yang tidak pernah diminta bicara."
Tak ada yang menjawab. Semua langsung bergerak. Miko mulai membuka kolom komentar lama. Rio membuka forum. Raka mencari unggahan Facebook yang sudah bertahun-tahun terkubur. Kevin...sibuk membaca komentar satu per satu sambil sesekali mengumpat.
"Buset. Netizen dari dulu emang ganas ya."
Hampir satu jam berlalu. Tidak ada hasil. Sampai akhirnya, Raka berhenti menggulir layar.
"Tunggu."
Semua menoleh.
"Ada komentar aneh."
Rio mendekat. Komentar itu sudah berusia hampir enam tahun. Tidak banyak yang memberi perhatian. Hanya satu akun dengan nama sederhana.
@safe_oji_13
Komentarnya singkat.
"Saya lihat sendiri kejadiannya. Yang mulai bukan cowok itu."
Tidak ada yang membalas komentar tersebut. Tidak ada yang bertanya. Komentar itu tenggelam begitu saja. Rio menatap layar cukup lama.
"Masih aktif?"
Miko membuka profilnya.
"Masih."
Raka spontan berkata,
"Kita hubungi."
...
Dua hari kemudian. Setelah beberapa kali bertukar pesan. Oji akhirnya bersedia bertemu. Bukan di kantor. Bukan di rumah. Melainkan di sebuah warung kopi kecil di pinggir kota.
Pria itu tampak sederhana. Seragam minimarket masih melekat di tubuhnya. Usianya mungkin tidak jauh dari Rio. Ia tampak gugup. Rio membuka pembicaraan.
"Bro...tengs udah mau datang."
Oji mengangguk pelan.
"Gue juga sebenarnya..."
"...udah lama pengen cerita."
"Tapi gue takut."
Rio mengangguk.
"Gue ngerti."
Oji menunduk.
"Waktu itu..."
"...yang mulai duluan memang anak jendral itu."
Raka dan Kevin saling berpandangan. Oji melanjutkan.
"Dia ngatain adiknya Ethan."
"Kasar."
"Rasis."
"Terus..."
"...Ethan cuma nyuruh dia minta maaf."
"Yang mukul duluan siapa?", Tanya Raka
"Ethan?"
Budi menggeleng.
"Bukan. Tapi anak jendral itu. Terus Ethan ngebalas. Itu aja."
Rio mengepalkan tangan.
"Kenapa lu gak jadi saksi?"
Oji tersenyum pahit.
"Gue dipanggil polisi."
"Lalu..."
"...disuruh pulang."
"Hah?", Seru Rio
"Gue dibilang..."
"...gak usah ikut campur."
Suasana menjadi sangat sunyi. Lalu Oji mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah flashdisk kecil.
"Gue gak tau ini masih berguna apa enggak."
Rio menerimanya.
"Apa ini?"
"Jadi dulu..."
"...temen gue sempat rekam sedikit."
"Tapi videonya gak pernah dipakai."
Miko langsung memasukkan flashdisk itu ke laptop. Video berdurasi hanya dua puluh tujuh detik. Gambarnya buram. Suaranya pecah. Namun cukup memperlihatkan satu hal. Anak pejabat itu, memukul Ethan lebih dulu.
Tidak ada yang berbicara. Rio memejamkan mata. Tangannya bergetar. Selama bertahun-tahun...ia mendengar cerita itu dari Ethan. Namun hari ini...ia melihatnya sendiri.
...
Malam harinya. Rio mengajak Raka ke sebuah bengkel kecil.
"Ngapain kita ke sini?"
Rio tidak menjawab. Ia hanya menunjuk seorang pria yang sedang memperbaiki sepeda motor tua. Tubuhnya kurus. Kaos lusuh. Tangannya penuh oli. Pria itu mengangkat wajah. Tatapannya datar. Namun begitu melihat Rio, ia tersenyum tipis.
"Datang juga io"
Rio membalas senyum itu.
"Than..."
Raka terdiam.
"Jadi...ini Ethan?"
Tidak ada aura pahlawan. Tidak ada aura korban. Hanya seorang laki-laki yang tampak jauh lebih tua daripada usianya. Rio memperkenalkan mereka.
"Rak. Ini Ethan."
"Ethan. Ini Raka."
Ethan mengulurkan tangan.
"Senang bisa kenal lu"
Raka membalas jabatannya.
"Senang kenal lu juga."
Tak ada yang menyangka...orang yang selama ini menjadi pusat dari semua perjuangan mereka, ternyata begitu sederhana.
Rio langsung mengeluarkan flashdisk itu.
"Than. Kita udah nemu saksi."
Ethan hanya mengangguk.
"Bagus."
"Kita juga nemu video Than"
"Syukurlah."
Rio mulai kesal.
"Lo kok datar banget?"
Ethan tersenyum kecil.
"Biarin aja io. Udah terlalu lama. Gue capek."
Kalimat itu begitu pelan. Namun terasa jauh lebih berat daripada teriakan. Raka menatap Ethan. Untuk pertama kalinya, ia seperti mengerti satu hal. Ada luka yang tidak lagi membuat seseorang menangis. Karena ia sudah terlalu lama hidup bersama luka itu.
Rio mengepalkan tangannya. Ia menatap Ethan cukup lama. Lalu berkata pelan.
"Ternyata..."
"...yang paling susah bukan nyari bukti."
Ethan menoleh. Rio menarik napas panjang.
"Yang paling susah..."
"...adalah bikin orang yang udah kehilangan harapan..."
"...percaya lagi sama kebenaran."
Tidak ada yang menjawab. Matahari sore perlahan tenggelam di balik atap-atap kota. Dan untuk pertama kalinya, Raka menyadari bahwa perjuangan mereka baru saja dimulai.
Comments
Post a Comment