Skip to main content

Republik Maya: Bab 8

Potongan Puzzle

Pagi itu warung Indomie milik Raka dan Kevin tampak lebih ramai dari biasanya. Bukan karena pelanggan berdatangan. Justru sebaliknya. Sejak satu jam lalu belum ada satu mangkuk mi pun yang keluar dari dapur.

Di atas meja plastik berwarna biru, berdiri empat gelas kopi sachet yang sudah mulai dingin. Sebungkus kerupuk masih utuh. Laptop Raka terbuka. Di sampingnya terdapat buku catatan yang dipenuhi coretan nama, tanggal, dan beberapa tanda panah yang saling terhubung.

Kevin keluar dari dapur sambil membawa dua piring Indomie rebus lengkap dengan telur.

"Dulu gue buka warung buat cari duit."

Ia meletakkan piring pertama di depan Raka.

"Sekarang malah jadi markas investigasi."

Raka tertawa kecil.

"Ya syukurin aja. Minimal warung kita naik kelas."

Kevin mengangguk serius.

"Iya."

"Naik kelas jadi kantor polisi."

Belum sempat Raka membalas, suara motor berhenti tepat di depan warung. Rio datang. Ia melepas helm hitamnya, lalu masuk tanpa banyak bicara.

"Yow guys"

"Oi Mr. Nonchalant" sapa Kevin.

Rio mengernyit.

"Gue gak ngerti."

"Bagus."

Rio hanya menghela napas lalu duduk. Beberapa detik kemudian, suara motor lain menyusul. Seorang laki-laki berkacamata turun sambil memeluk tas ransel yang tampak penuh.

"Miko!"

Kevin melambaikan tangan. Miko tersenyum canggung.

"Maaf telat."

"Gue muter-muter nyari warungnya."

Kevin langsung tertawa.

"Lu debat politik sampai tiga jam."

"Nyari warung sepuluh menit aja nyasar?"

"Gimana nanti nyari pasangan?"

"Lebih gampang nyari pasangan daripada warung lu.", Sahut Miko

"Hah?"

"Ya... pasangan kan gak perlu Google Maps."

Warung langsung dipenuhi tawa. Tidak lama Miko mengeluarkan laptop dari tasnya. Laptop itu dipenuhi stiker. Linux, Open Source, Debian, Arch, Free Software.

Kevin melirik.

"Anjir. Lu hacker?"

"Bukan."

"Terus?"

"Cuma mahasiswa."

"Mahasiswa jurusan?"

"Informatika."

Kevin langsung menunjuk Raka.

"Pantes nyambung sama dia. Dua-duanya sama-sama pengangguran."

"Woi."

Raka melempar sedotan ke arah Kevin.

...

Beberapa menit kemudian suasana berubah sedikit lebih serius. Rio mengeluarkan sebuah map cokelat. Isinya penuh potongan berita. Beberapa hasil fotokopi. Dan sebuah flashdisk.

"Ini semua tentang Ethan."

Semua langsung diam. Rio membuka satu lembar koran lama.

Judulnya masih jelas.

"Mahasiswa Aniaya Anak Jenderal, Terancam Lima Tahun Penjara"

Rio meletakkannya di meja.

"Satu berita ini..."

"...ngubah hidup satu keluarga."

Tak ada yang menyela. Hanya suara kipas angin tua yang berputar pelan di langit-langit warung. Raka menatap foto Ethan di koran itu. Wajahnya tampak biasa. Tidak seperti wajah seorang penjahat. Entah mengapa, Raka justru melihat seseorang yang terlihat kelelahan.

"Apa yang sebenarnya terjadi waktu itu?"

Rio menghela napas panjang.

"Itu yang mau kita cari."

...

Laptop Miko kini berada tepat di tengah meja. Semua orang mengelilinginya. Jari-jari Miko mulai menari di atas keyboard.

Klik.

Klik.

Klik.

Puluhan tab browser terbuka begitu cepat. Portal berita. Arsip media. Forum lama. Situs pengadilan. Media sosial. Bahkan mesin pencari yang belum pernah didengar Kevin.

Kevin hanya melongo.

"Anjir. Lu kerja apaan sih?"

"Gue belum kerja."

"Bukan. Maksud gue...kok bisa cepet banget."

Miko menggaruk kepala.

"Udah biasa. Dulu nyari referensi skripsi."

Kevin mengangguk.

"Oh. Lah terus skripsinya mana?"

Miko langsung terdiam. Raka spontan menepuk bahu Kevin.

"Vin..."

Kevin baru sadar.

"Oh iya...Maaf."

Miko malah tertawa.

"Gak apa-apa. Gue udah kebal."

Suasana kembali mencair.

...

Sekitar lima belas menit berlalu. Tidak ada yang berbicara. Hanya terdengar suara keyboard. Miko tiba-tiba berhenti mengetik.

"Tunggu."

Semua menoleh.

"Ada yang aneh."

Rio langsung mendekat.

"Apa?"

Miko memperbesar satu dokumen.

"Lihat ini."

Semua memperhatikan layar. Tanggal penangkapan Ethan. Tanggal konferensi pers. Tanggal pemeriksaan saksi. Tanggal putusan sementara. Lalu Miko mengambil pulpen. Ia mulai membuat garis di buku catatan.

"Lihat urutannya."

Semua mencoba memahami. Kevin yang paling dulu mengangkat tangan.

"Gue nyerah. Jelasin."

Miko menarik napas.

"Berita yang bilang Ethan bersalah..."

"...terbit tanggal dua belas."

Rio mengangguk.

"Iya. Terus?"

"Nah. Pemeriksaan saksi utama...baru dilakukan tanggal empat belas."

Warung langsung sunyi. Raka mengernyit.

"Bentar. Berarti..."

Miko mengangguk pelan.

"Opini publik dibentuk..."

"...dua hari sebelum saksi utama diperiksa."

Kevin yang biasanya paling santai langsung duduk tegak.

"Lho. Emang bisa?"

Rio menjawab pelan.

"Bisa. Kalau yang main orang besar."

Tak ada yang membalas. Miko kembali mengetik. Beberapa menit kemudian ia menemukan sesuatu lagi.

"Ini lebih aneh."

Rio mendekat.

"Apa lagi?"

"Jumlah saksi io"

"Kenapa?"

"Di berita ada lima. Di persidangan ada tiga. Di BAP..."

"...empat."

Raka mengerutkan dahi.

"Kok beda semua?"

"Makanya.", Miko membuka dokumen lain.

"Terus ini..."

"Jam kejadian."

Ia menunjuk tiga layar sekaligus.

"Di media. Pukul 18.40"

"Di laporan polisi 19.10"

"Di CCTV 18.27"

Kevin spontan berdiri.

"Bangsat. Ini mah udah bukan beda dikit."

Rio menatap layar tanpa berkedip. Selama bertahun-tahun ia selalu percaya bahwa kakak sahabatnya dijebak. Namun baru hari itu, ia melihat sendiri betapa berantakannya semua data yang pernah dijadikan dasar untuk menghukum Ethan.

Raka memecah keheningan.

"Mik...Kalau semua ini udah kelihatan aneh..."

"...kenapa gak ada yang sadar dari dulu?"

Miko menutup laptopnya perlahan.

"Banyak yang sadar."

"Tapi..."

"...gak banyak yang peduli."

Kalimat itu menggantung beberapa detik. Tak lama kemudian, Kevin berdiri menuju dapur.

"Udah. Gue bikin kopi lagi. Soalnya..."

"...kayaknya hari ini bakal panjang."

Semua tersenyum tipis. Di luar warung, matahari mulai naik semakin tinggi. Tak ada satu pun dari mereka yang menyadari bahwa langkah kecil yang dimulai dari sebuah warung Indomie sederhana itu...akan menjadi awal dari runtuhnya kebohongan yang telah bertahan selama bertahun-tahun.

Comments

Popular posts from this blog

Republik Maya: Prologue

Prologue Di sebuah tempat bernama Republik Maya, orang-orang hidup berdampingan tanpa pernah benar-benar saling mengenal. Mereka berbicara setiap hari, tertawa di ruang obrolan yang sama, saling mengirim meme, musik, game dan cerita tentang hidup. Namun, di balik semua itu, ada satu aturan yang tak pernah tertulis, "Jangan bawa perasaan di grup" Raka tahu aturan itu. Semua orang tahu. Lalu datanglah Nara. Awalnya biasa saja. Ia hanya anggota baru yang sering muncul di kanal musik setiap malam. Suaranya tenang, dan caranya mendengarkan membuat siapa pun merasa dihargai. Mereka semua mulai sering berbincang. Tentang film, musik, konspirasi, sampai mimpi-mimpi yang bahkan belum berani mereka ceritakan kepada dunia nyata. Tanpa sadar, Raka mulai menunggu notifikasi yang hanya berasal dari satu nama. Kalimat itu berkali-kali muncul di kepalanya. Ia ingin mengatakannya. Sangat ingin. Namun setiap kali jari-jarinya menyentuh keyboard, kata-kata itu menghilang begitu saja. "Hi.....

Memoar Horor Masa Kecil: They Came When I Was Little

Ada memori yang memudar tertelan oleh waktu. Namun, ada pula memori yang tetap hidup, seolah menunggu malam tiba untuk kembali menghantui ingatan. Masa kecilku bukan hanya dipenuhi tawa dan permainan, tetapi juga pengalaman tak terlupakan yang hingga hari ini belum pernah berhasil aku jelaskan dengan logika. Seluruh cerita dalam tulisan ini adalah potongan-potongan pengalaman yang masih aku ingat dengan jelas. Aku tidak meminta siapa pun untuk mempercayainya. Aku hanya ingin menceritakan apa yang pernah aku lihat, dengar, dan rasakan. Karena terkadang, hal yang paling menyeramkan bukanlah hantu—melainkan kenyataan bahwa sebagian memori tidak pernah benar-benar pergi dan terus menghantui kita. Semoga kalian bisa menikmati cerita horor masa kecilku ini, mari kita masuk ke palung memori dan ingatan terdalamku—sebelum itu aku sarankan, lebih baik kalian matikan lampu kamar, pasang selimut, dan kuucapkan selamat membaca. 1. Teror Lampor: Keranda Terbang Sidoarjo, 2006. Saya masih kecil sa...

Republik Maya: Bab 2

Selamat Datang Malam selalu menjadi waktu yang paling panjang bagi Raka. Dulu, pukul sembilan malam adalah waktu ketika ia menunggu pesan dari Selena. Kini, yang ia tunggu hanyalah balasan lamaran pekerjaan yang entah kapan datangnya. Ponselnya bergetar, Layar latopnya selalu membuka tampilan email. Seperti seseorang yang tanpa tau kejelasan, Raka terus menerus digantung oleh HRD dan perusahaan, dalam suasana bosan dan suntuk, tiba-tiba kevin menegur Raka lewat pesan singkat. "Rak, lagi ngapain, jangan kayak orang bingung terus lu" "Nggak ngapa-ngapain vin, lu sendiri ngapain" "Masuk sini lah sebentar Rak" "Kemana vin, ke rumah lu?" "Bukan bego!" "Lah terus kemana pinter!" "Nih, masuk group server Rak" "Apaan lagi tuh vin" "Tempat orang-orang gabut kumpul, join lah, seru kok" "Gue gak kenal siapa-siapa tapi vin" "Ya makannya sini kenalan Rak" "Males" "Kocak anjir...