Potongan Puzzle
Pagi itu warung Indomie milik Raka dan Kevin tampak lebih ramai dari biasanya. Bukan karena pelanggan berdatangan. Justru sebaliknya. Sejak satu jam lalu belum ada satu mangkuk mi pun yang keluar dari dapur.
Di atas meja plastik berwarna biru, berdiri empat gelas kopi sachet yang sudah mulai dingin. Sebungkus kerupuk masih utuh. Laptop Raka terbuka. Di sampingnya terdapat buku catatan yang dipenuhi coretan nama, tanggal, dan beberapa tanda panah yang saling terhubung.
Kevin keluar dari dapur sambil membawa dua piring Indomie rebus lengkap dengan telur.
"Dulu gue buka warung buat cari duit."
Ia meletakkan piring pertama di depan Raka.
"Sekarang malah jadi markas investigasi."
Raka tertawa kecil.
"Ya syukurin aja. Minimal warung kita naik kelas."
Kevin mengangguk serius.
"Iya."
"Naik kelas jadi kantor polisi."
Belum sempat Raka membalas, suara motor berhenti tepat di depan warung. Rio datang. Ia melepas helm hitamnya, lalu masuk tanpa banyak bicara.
"Yow guys"
"Oi Mr. Nonchalant" sapa Kevin.
Rio mengernyit.
"Gue gak ngerti."
"Bagus."
Rio hanya menghela napas lalu duduk. Beberapa detik kemudian, suara motor lain menyusul. Seorang laki-laki berkacamata turun sambil memeluk tas ransel yang tampak penuh.
"Miko!"
Kevin melambaikan tangan. Miko tersenyum canggung.
"Maaf telat."
"Gue muter-muter nyari warungnya."
Kevin langsung tertawa.
"Lu debat politik sampai tiga jam."
"Nyari warung sepuluh menit aja nyasar?"
"Gimana nanti nyari pasangan?"
"Lebih gampang nyari pasangan daripada warung lu.", Sahut Miko
"Hah?"
"Ya... pasangan kan gak perlu Google Maps."
Warung langsung dipenuhi tawa. Tidak lama Miko mengeluarkan laptop dari tasnya. Laptop itu dipenuhi stiker. Linux, Open Source, Debian, Arch, Free Software.
Kevin melirik.
"Anjir. Lu hacker?"
"Bukan."
"Terus?"
"Cuma mahasiswa."
"Mahasiswa jurusan?"
"Informatika."
Kevin langsung menunjuk Raka.
"Pantes nyambung sama dia. Dua-duanya sama-sama pengangguran."
"Woi."
Raka melempar sedotan ke arah Kevin.
...
Beberapa menit kemudian suasana berubah sedikit lebih serius. Rio mengeluarkan sebuah map cokelat. Isinya penuh potongan berita. Beberapa hasil fotokopi. Dan sebuah flashdisk.
"Ini semua tentang Ethan."
Semua langsung diam. Rio membuka satu lembar koran lama.
Judulnya masih jelas.
"Mahasiswa Aniaya Anak Jenderal, Terancam Lima Tahun Penjara"
Rio meletakkannya di meja.
"Satu berita ini..."
"...ngubah hidup satu keluarga."
Tak ada yang menyela. Hanya suara kipas angin tua yang berputar pelan di langit-langit warung. Raka menatap foto Ethan di koran itu. Wajahnya tampak biasa. Tidak seperti wajah seorang penjahat. Entah mengapa, Raka justru melihat seseorang yang terlihat kelelahan.
"Apa yang sebenarnya terjadi waktu itu?"
Rio menghela napas panjang.
"Itu yang mau kita cari."
Laptop Miko kini berada tepat di tengah meja. Semua orang mengelilinginya. Jari-jari Miko mulai menari di atas keyboard.
Klik.
Klik.
Klik.
Puluhan tab browser terbuka begitu cepat. Portal berita. Arsip media. Forum lama. Situs pengadilan. Media sosial. Bahkan mesin pencari yang belum pernah didengar Kevin.
Kevin hanya melongo.
"Anjir. Lu kerja apaan sih?"
"Gue belum kerja."
"Bukan. Maksud gue...kok bisa cepet banget."
Miko menggaruk kepala.
"Udah biasa. Dulu nyari referensi skripsi."
Kevin mengangguk.
"Oh. Lah terus skripsinya mana?"
Miko langsung terdiam. Raka spontan menepuk bahu Kevin.
"Vin..."
Kevin baru sadar.
"Oh iya...Maaf."
Miko malah tertawa.
"Gak apa-apa. Gue udah kebal."
Suasana kembali mencair.
...
Sekitar lima belas menit berlalu. Tidak ada yang berbicara. Hanya terdengar suara keyboard. Miko tiba-tiba berhenti mengetik.
"Tunggu."
Semua menoleh.
"Ada yang aneh."
Rio langsung mendekat.
"Apa?"
Miko memperbesar satu dokumen.
"Lihat ini."
Semua memperhatikan layar. Tanggal penangkapan Ethan. Tanggal konferensi pers. Tanggal pemeriksaan saksi. Tanggal putusan sementara. Lalu Miko mengambil pulpen. Ia mulai membuat garis di buku catatan.
"Lihat urutannya."
Semua mencoba memahami. Kevin yang paling dulu mengangkat tangan.
"Gue nyerah. Jelasin."
Miko menarik napas.
"Berita yang bilang Ethan bersalah..."
"...terbit tanggal dua belas."
Rio mengangguk.
"Iya. Terus?"
"Nah. Pemeriksaan saksi utama...baru dilakukan tanggal empat belas."
Warung langsung sunyi. Raka mengernyit.
"Bentar. Berarti..."
Miko mengangguk pelan.
"Opini publik dibentuk..."
"...dua hari sebelum saksi utama diperiksa."
Kevin yang biasanya paling santai langsung duduk tegak.
"Lho. Emang bisa?"
Rio menjawab pelan.
"Bisa. Kalau yang main orang besar."
Tak ada yang membalas. Miko kembali mengetik. Beberapa menit kemudian ia menemukan sesuatu lagi.
"Ini lebih aneh."
Rio mendekat.
"Apa lagi?"
"Jumlah saksi io"
"Kenapa?"
"Di berita ada lima. Di persidangan ada tiga. Di BAP..."
"...empat."
Raka mengerutkan dahi.
"Kok beda semua?"
"Makanya.", Miko membuka dokumen lain.
"Terus ini..."
"Jam kejadian."
Ia menunjuk tiga layar sekaligus.
"Di media. Pukul 18.40"
"Di laporan polisi 19.10"
"Di CCTV 18.27"
Kevin spontan berdiri.
"Bangsat. Ini mah udah bukan beda dikit."
Rio menatap layar tanpa berkedip. Selama bertahun-tahun ia selalu percaya bahwa kakak sahabatnya dijebak. Namun baru hari itu, ia melihat sendiri betapa berantakannya semua data yang pernah dijadikan dasar untuk menghukum Ethan.
Raka memecah keheningan.
"Mik...Kalau semua ini udah kelihatan aneh..."
"...kenapa gak ada yang sadar dari dulu?"
Miko menutup laptopnya perlahan.
"Banyak yang sadar."
"Tapi..."
"...gak banyak yang peduli."
Kalimat itu menggantung beberapa detik. Tak lama kemudian, Kevin berdiri menuju dapur.
"Udah. Gue bikin kopi lagi. Soalnya..."
"...kayaknya hari ini bakal panjang."
Semua tersenyum tipis. Di luar warung, matahari mulai naik semakin tinggi. Tak ada satu pun dari mereka yang menyadari bahwa langkah kecil yang dimulai dari sebuah warung Indomie sederhana itu...akan menjadi awal dari runtuhnya kebohongan yang telah bertahan selama bertahun-tahun.
Comments
Post a Comment