Gue Butuh Kalian Semua
Beberapa pelanggan datang silih berganti. Asap dari panci mengepul bersama aroma bawang goreng yang memenuhi udara. Kevin sibuk mengangkat mi dari panci, sementara Raka melayani pelanggan di kasir.
"Gue udah nyampe."
Raka mengangkat tangan.
"Lah..."
Raka sampai tertawa sambil memegang perut. Kevin pura-pura tersinggung.
"Kasus penganiayaan..."
"Terus apa?"
"Yang bikin gue kesel..."
"...bukan karena Ethan masuk penjara."
Kevin bertanya.
"Terus kita musti gimana?"
Rio menjawab singkat.
"Kita butuh Miko."
Raka mengernyit.
"Miko?"
"Iya."
"Emang dia ngerti hukum?"
Rio mengangguk.
"Dia mungkin bukan mahasiswa hukum."
"Tapi kalau soal politik, undang-undang, sampai celah-celah hukum..."
"...dia paling ngerti."
Kevin baru teringat.
"Pantes tiap debat dia selalu bawa pasal."
Rio mengangguk.
"Dan..."
"Kalau kita mau buka lagi kasus Ethan..."
"...kita gak boleh asal ngomong."
"Kita harus punya dasar."
Raka mengangguk pelan. Namun wajahnya berubah.
"Tapi..."
"Miko udah lama gak muncul."
Rio menghela napas.
"Itu masalahnya."
...
Hari itu juga mereka mulai mencari kabar Miko. Adit dihubungi. Nara ikut bertanya ke beberapa anggota server. Ternyata...
salah satu anggota menjawab.
"Eh, Miko satu kota sama kalian, kan?"
Raka langsung membalas.
"Serius?"
"Iya...Bahkan satu kampus sama gue."
Beberapa anggota lain ikut menimpali.
"Kosnya deket Fakultas Teknik."
"Anaknya jarang keluar."
"Udah lama gak kelihatan."
Rio langsung berdiri.
"Ayo."
Raka mengangguk. Kevin langsung mengambil kunci motor. Warung ditutup lebih cepat hari itu.
...
Setelah pencarian panjang. Mereka akhirnya menemukan kos Miko. Nomor 17.
Pintunya tertutup. Raka mengetuk. Tidak ada jawaban. Kevin mengetuk lebih keras. Masih sunyi. Rio mencoba sekali lagi. Pelan.
"Mik."
Beberapa detik kemudian, terdengar suara langkah kaki. Pintu terbuka perlahan. Miko berdiri. Rambut acak-acakan. Kaus lusuh. Mata sembab. Raka bahkan hampir tidak mengenalinya.
"Mik...Apa kabar?"
Miko hanya tersenyum tipis.
"Lama ya...kalian buat nemuin gue"
...
Setiap hari setiap pukul sembilan pagi. Alarm berbunyi. Miko mematikannya. Hari itu jadwal bimbingannya. Ia membuka chat dosennya. Lalu, menutup laptop lagi. Begitu terus. Sudah tiga minggu Miko seperti itu
Sampai akhirnya...mereka masuk. Kamar itu berantakan. Mi instan. Gelas kopi. Kertas revisi. Laptop, yang di layarnya hanya ada tulisan, BAB V, tapi kosong tidak ada isinya.
Kevin memandang Miko.
"Lu sakit?"
Miko menggeleng.
"Gue takut..."
"...gue takut dibilang gagal sama ortu gue, karena skripsi gue tinggal dua bab."
"Tapi..."
"...gue gak pernah berani ketemu dosen pembimbing."
Raka terdiam. Kevin tertawa pahit. Miko sambil tertawa kecil namun pedih melanjutkan omongannya.
"Lucu ya..."
"Di Republik Maya..."
"...gue bisa debat politik sampai subuh."
"Bisa ngomong soal demokrasi."
"Soal hukum."
"Soal konstitusi."
"Tapi..."
"...begitu ketemu dosen..."
"...suara gue hilang."
Sunyi.
....
Raka menatap Miko. Lalu tersenyum kecil.
"Gue juga takut Mik"
Miko mengangkat kepala.
"Setiap interview..."
"...gue selalu takut ditolak."
"Kalau takut itu dosa...mik"
"gue mungkin udah dipenjara dari dulu."
Kevin ikut menyahut.
"Gue juga mik, tiap buka warung takut."
"...takut gak ada pelanggan sama takut Raka yang jaga, pasti sepi."
Semua tertawa kecil. Rio akhirnya membuka suara. Kalimatnya singkat. Namun menghantam.
"Berani...mik"
"...itu bukan berarti gak takut"
"Berani..."
"...itu tetap melangkah meskipun takut mik"
Sunyi. Miko memandang ketiga sahabatnya bergantian. Matanya mulai berkaca-kaca. Kevin menepuk bahunya.
"Lu tau kenapa kita nyari lu?"
Miko menggeleng. Raka menjawab.
"Soalnya..."
"...ada orang yang lagi butuh lu."
Rio mengangguk.
"Kakaknya Mia."
"Kita mau bersihin nama baiknya."
"Tapi kita gak bisa tanpa lu."
Miko terdiam. Untuk pertama kalinya sejak berminggu-minggu, ia merasa dirinya dibutuhkan. Bukan karena nilai. Bukan karena IPK. Tetapi karena dia seorang Miko. Ia terharu, Ia menarik napas panjang. Lalu berkata pelan,
"...Oke."
"Tapi..."
"Besok..."
"...gue mau ketemu dosen dulu."
Rio tersenyum tipis.
"Itu baru Miko yang gue kenal. Besok kita bertiga nemenin lu"
...
Keesokan paginya...
Miko berdiri di depan ruang dosen pembimbing. Ditemani oleh ketiga temannya. Tangannya gemetar. Keringat dingin membasahi telapak tangannya. Ia hampir pulang. Namun...ia teringat satu kalimat Rio.
"Berani... itu tetap melangkah meskipun takut."
Tok.
Tok.
"Masuk."
Dosen pembimbingnya mendongak.
"Miko? Kamu akhirnya datang juga."
Miko menyerahkan revisinya. Diskusi berlangsung hampir satu jam. Untuk pertama kalinya, ia berani mempertahankan argumen yang memang telah ia teliti. Bukan dengan emosi. Melainkan dengan data. Dosen itu terdiam beberapa saat. Lalu menutup berkas revisi.
"Saya suka mahasiswa yang berani mempertahankan penelitiannya."
Miko terkejut.
"Pak... jadi selama ini..."
Dosen itu tersenyum.
"Saya bukan mencari mahasiswa yang selalu bilang 'iya'."
"Saya mencari peneliti yang tahu kenapa ia menulis."
Miko menundukkan kepala. Ia sadar kalau selama ini, musuh terbesarnya bukan dosen pembimbing. Melainkan ketakutannya sendiri. Hari itu akhirnya dia sadar dan mengakui bahwa ketakutan adalah jurang pembatas antara realita dan fiksi. Hari itu juga skripsinya hampir selesai, dan ketakutan dia selama ini hanyalah fiksi belaka. Dan keberaniannya adalah realitanya.
...
Malam harinya, Republik Maya kembali ramai. Sudah lama satu nama tidak terlihat menyala. Lalu...
Miko joined the Voice Channel.
Adit langsung berteriak.
"WOIII!"
"ORANG HILANG BALIK!"
Semua tertawa. Miko ikut tertawa. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Adit tersenyum lega.
"Jadi..."
"Gimana?"
Miko menghela napas. Lalu menjawab dengan suara yang jauh lebih mantap daripada biasanya.
"Skripsi gue di-ACC. WoHOOOOO"
Suasana voice langsung dipenuhi sorakan. Kevin bahkan memukul meja saking senangnya. Rio hanya tersenyum kecil. Ia menunggu hingga semua sorakan mereda. Lalu berkata pelan.
"Welcome back Mik."
Miko mengangguk. Kemudian ia melanjutkan,
"Sekarang..."
"...ceritain semuanya tentang Kak Ethan."
"Kita mulai misi ini"
Voice channel mendadak hening. Raka menatap Rio. Rio membalas tatapannya dengan anggukan kecil. Mereka akhirnya menemukan orang yang mereka cari.
Dan tanpa disadari...malam itu bukan hanya menjadi awal kembalinya Miko. Melainkan juga, awal dari perjuangan mereka melawan sebuah kebenaran yang selama bertahun-tahun dikubur oleh kekuasaan. Republik Maya Unite.
Comments
Post a Comment