Skip to main content

Republik Maya: Bab 7

Gue Butuh Kalian Semua

Pagi itu warung Indomie milik Raka dan Kevin jauh lebih ramai dari biasanya. 
Beberapa pelanggan datang silih berganti. Asap dari panci mengepul bersama aroma bawang goreng yang memenuhi udara. Kevin sibuk mengangkat mi dari panci, sementara Raka melayani pelanggan di kasir. 

Di sela kesibukan itu, sebuah pesan masuk ke ponsel Raka.

"Gue udah nyampe."

Raka spontan menoleh ke luar. 

Di seberang jalan berdiri seorang laki-laki mengenakan hoodie hitam, celana jeans lusuh, dan ransel kecil di punggungnya. Rambutnya sedikit berantakan. Wajahnya datar seperti biasa.

Raka mengangkat tangan.

"Rio!"

Pria itu hanya menganggukkan kepala pelan sebelum menyeberang. Kevin yang sedang merebus mi ikut melirik.

"Itu Rio?"

"Iya."

Kevin menatap beberapa detik.

"Lah..."

"Apa?"

"Gue kira mukanya burem."

Raka tertawa.

"Maksud lu?"

"Ya... selama ini kan suaranya doang yang muncul."

Rio yang baru saja sampai langsung menyahut datar.

"Gue HD kok."

Kevin langsung ngakak.

"ANJIR."

"TERNYATA LU BISA BERCANDA."

Rio mengangkat bahu.

"Lu pikir gue apa, robot?"

Kevin masih belum percaya.

"Serius deh, gue kira lu orangnya tinggi dua meter, brewokan, suaranya berat, terus kerjaannya tiap malem nontonin film-film horor"

Rio mengambil kursi plastik lalu duduk santai.

"Gue juga kira lu lebih ganteng."

Raka sampai tertawa sambil memegang perut. Kevin pura-pura tersinggung.

"Rak...gue pengen pulang aja. Temen lu jahat."

Rio tetap memasang wajah datar.

"Tapi lucu kan vin gue"

"Sakit hati gue io, tai lu", Sahut Kevin

Untuk pertama kalinya, Raka melihat Rio tertawa. Meskipun yang mereka lihat cuman senyum kecil di sudut bibirnya. Namun cukup membuat suasana menjadi hangat.

...

Setelah pelanggan mulai sepi, Kevin menyeduh tiga gelas kopi. Raka membuka pembicaraan.

"Jadi...Ada apa?"

Rio menatap jalan raya beberapa saat. Lalu mengeluarkan ponselnya. Ia membuka sebuah folder berisi beberapa berita lama. Headline dan Artikel, serta Potongan koran digital.

Semuanya tentang satu nama. Ethan Wijaya.

"Kakaknya Mia."

Raka membaca perlahan.

"Kasus penganiayaan..."

Rio menggeleng.

"Bukan."

"Terus apa?"

"Fitnah."

Rio mulai bercerita. Tentang bagaimana Ethan memukul seseorang yang menghina keluarganya dengan tuduhan sebagai "Pengabdi Iblis". Yang ternyata mahasiswa itu adalah anak seorang jenderal dari kolega bapaknya Ethan dan Mia. Lalu bagaimana media hanya memberitakan satu sisi, tentang bagaimana Ethan akhirnya dipenjara karena fitnah kejam yang dilakukan di depan hukum. Dan tentang bagaimana sejak saat itu ayah Mia kehilangan kepercayaan kepada putra sulungnya.

Kevin mengepalkan tangan.

"Kurang ajar..."

Rio mengangguk pelan.

"Yang bikin gue kesel..."

"...bukan karena Ethan masuk penjara."

"Tapi..."

"...semua orang percaya dia mukul tanpa alasan."

Raka menatap berita itu lama.

"Kalau kebenarannya bisa dibuka..."

Rio memotong.

"Bukan cuma nama Ethan yang pulih."

"Tapi nama baik keluarga dan yang terpenting Mia juga bisa bebas."

Sunyi.

Kevin bertanya.

"Terus kita musti gimana?"

Rio menjawab singkat.

"Kita butuh Miko."

Raka mengernyit.

"Miko?"

"Iya."

"Emang dia ngerti hukum?"

Rio mengangguk.

"Dia mungkin bukan mahasiswa hukum."

"Tapi kalau soal politik, undang-undang, sampai celah-celah hukum..."

"...dia paling ngerti."

Kevin baru teringat.

"Pantes tiap debat dia selalu bawa pasal."

Rio mengangguk.

"Dan..."

"Kalau kita mau buka lagi kasus Ethan..."

"...kita gak boleh asal ngomong."

"Kita harus punya dasar."

Raka mengangguk pelan. Namun wajahnya berubah.

"Tapi..."

"Miko udah lama gak muncul."

Rio menghela napas.

"Itu masalahnya."

...

Hari itu juga mereka mulai mencari kabar Miko. Adit dihubungi. Nara ikut bertanya ke beberapa anggota server. Ternyata...

salah satu anggota menjawab.

"Eh, Miko satu kota sama kalian, kan?"

Raka langsung membalas.

"Serius?"

"Iya...Bahkan satu kampus sama gue."

Beberapa anggota lain ikut menimpali.

"Kosnya deket Fakultas Teknik."

"Anaknya jarang keluar."

"Udah lama gak kelihatan."

Rio langsung berdiri.

"Ayo."

Raka mengangguk. Kevin langsung mengambil kunci motor. Warung ditutup lebih cepat hari itu.

...

Setelah pencarian panjang. Mereka akhirnya menemukan kos Miko. Nomor 17.

Pintunya tertutup. Raka mengetuk. Tidak ada jawaban. Kevin mengetuk lebih keras. Masih sunyi. Rio mencoba sekali lagi. Pelan.

"Mik."

Beberapa detik kemudian, terdengar suara langkah kaki. Pintu terbuka perlahan. Miko berdiri. Rambut acak-acakan. Kaus lusuh. Mata sembab. Raka bahkan hampir tidak mengenalinya.

"Mik...Apa kabar?"

Miko hanya tersenyum tipis.

"Lama ya...kalian buat nemuin gue"

...

Setiap hari setiap pukul sembilan pagi. Alarm berbunyi. Miko mematikannya. Hari itu jadwal bimbingannya. Ia membuka chat dosennya. Lalu, menutup laptop lagi. Begitu terus. Sudah tiga minggu Miko seperti itu

Sampai akhirnya...mereka masuk. Kamar itu berantakan. Mi instan. Gelas kopi. Kertas revisi. Laptop, yang di layarnya hanya ada tulisan, BAB V, tapi kosong tidak ada isinya.

Kevin memandang Miko.

"Lu sakit?"

Miko menggeleng.

"Gue takut..."

"...gue takut dibilang gagal sama ortu gue, karena skripsi gue tinggal dua bab."

"Tapi..."

"...gue gak pernah berani ketemu dosen pembimbing."

Raka terdiam. Kevin tertawa pahit. Miko sambil tertawa kecil namun pedih melanjutkan omongannya.

"Lucu ya..."

"Di Republik Maya..."

"...gue bisa debat politik sampai subuh."

"Bisa ngomong soal demokrasi."

"Soal hukum."

"Soal konstitusi."

"Tapi..."

"...begitu ketemu dosen..."

"...suara gue hilang."

Sunyi.

....

Raka menatap Miko. Lalu tersenyum kecil.

"Gue juga takut Mik"

Miko mengangkat kepala.

"Setiap interview..."

"...gue selalu takut ditolak."

"Kalau takut itu dosa...mik"

"gue mungkin udah dipenjara dari dulu."

Kevin ikut menyahut.

"Gue juga mik, tiap buka warung takut."

"...takut gak ada pelanggan sama takut Raka yang jaga, pasti sepi."

Semua tertawa kecil. Rio akhirnya membuka suara. Kalimatnya singkat. Namun menghantam.

"Berani...mik"

"...itu bukan berarti gak takut"

"Berani..."

"...itu tetap melangkah meskipun takut mik"

Sunyi. Miko memandang ketiga sahabatnya bergantian. Matanya mulai berkaca-kaca. Kevin menepuk bahunya.

"Lu tau kenapa kita nyari lu?"

Miko menggeleng. Raka menjawab.

"Soalnya..."

"...ada orang yang lagi butuh lu."

Rio mengangguk.

"Kakaknya Mia."

"Kita mau bersihin nama baiknya."

"Tapi kita gak bisa tanpa lu."

Miko terdiam. Untuk pertama kalinya sejak berminggu-minggu, ia merasa dirinya dibutuhkan. Bukan karena nilai. Bukan karena IPK. Tetapi karena dia seorang Miko. Ia terharu, Ia menarik napas panjang. Lalu berkata pelan,

"...Oke."

"Tapi..."

"Besok..."

"...gue mau ketemu dosen dulu."

Rio tersenyum tipis.

"Itu baru Miko yang gue kenal. Besok kita bertiga nemenin lu"

...

Keesokan paginya...

Miko berdiri di depan ruang dosen pembimbing. Ditemani oleh ketiga temannya. Tangannya gemetar. Keringat dingin membasahi telapak tangannya. Ia hampir pulang. Namun...ia teringat satu kalimat Rio.

"Berani... itu tetap melangkah meskipun takut."

Tok.

Tok.

"Masuk."

Dosen pembimbingnya mendongak.

"Miko? Kamu akhirnya datang juga."

Miko menyerahkan revisinya. Diskusi berlangsung hampir satu jam. Untuk pertama kalinya, ia berani mempertahankan argumen yang memang telah ia teliti. Bukan dengan emosi. Melainkan dengan data. Dosen itu terdiam beberapa saat. Lalu menutup berkas revisi.

"Saya suka mahasiswa yang berani mempertahankan penelitiannya."

Miko terkejut.

"Pak... jadi selama ini..."

Dosen itu tersenyum.

"Saya bukan mencari mahasiswa yang selalu bilang 'iya'."

"Saya mencari peneliti yang tahu kenapa ia menulis."

Miko menundukkan kepala. Ia sadar kalau selama ini, musuh terbesarnya bukan dosen pembimbing. Melainkan ketakutannya sendiri. Hari itu akhirnya dia sadar dan mengakui bahwa ketakutan adalah jurang pembatas antara realita dan fiksi. Hari itu juga skripsinya hampir selesai, dan ketakutan dia selama ini hanyalah fiksi belaka. Dan keberaniannya adalah realitanya.

...

Malam harinya, Republik Maya kembali ramai. Sudah lama satu nama tidak terlihat menyala. Lalu...

Miko joined the Voice Channel.

Adit langsung berteriak.

"WOIII!"

"ORANG HILANG BALIK!"

Semua tertawa. Miko ikut tertawa. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Adit tersenyum lega.

"Jadi..."

"Gimana?"

Miko menghela napas. Lalu menjawab dengan suara yang jauh lebih mantap daripada biasanya.

"Skripsi gue di-ACC. WoHOOOOO"

Suasana voice langsung dipenuhi sorakan. Kevin bahkan memukul meja saking senangnya. Rio hanya tersenyum kecil. Ia menunggu hingga semua sorakan mereda. Lalu berkata pelan.

"Welcome back Mik."

Miko mengangguk. Kemudian ia melanjutkan,

"Sekarang..." 

"...ceritain semuanya tentang Kak Ethan."

"Kita mulai misi ini"

Voice channel mendadak hening. Raka menatap Rio. Rio membalas tatapannya dengan anggukan kecil. Mereka akhirnya menemukan orang yang mereka cari.

Dan tanpa disadari...malam itu bukan hanya menjadi awal kembalinya Miko. Melainkan juga, awal dari perjuangan mereka melawan sebuah kebenaran yang selama bertahun-tahun dikubur oleh kekuasaan. Republik Maya Unite.

Comments

Popular posts from this blog

Republik Maya: Prologue

Prologue Di sebuah tempat bernama Republik Maya, orang-orang hidup berdampingan tanpa pernah benar-benar saling mengenal. Mereka berbicara setiap hari, tertawa di ruang obrolan yang sama, saling mengirim meme, musik, game dan cerita tentang hidup. Namun, di balik semua itu, ada satu aturan yang tak pernah tertulis, "Jangan bawa perasaan di grup" Raka tahu aturan itu. Semua orang tahu. Lalu datanglah Nara. Awalnya biasa saja. Ia hanya anggota baru yang sering muncul di kanal musik setiap malam. Suaranya tenang, dan caranya mendengarkan membuat siapa pun merasa dihargai. Mereka semua mulai sering berbincang. Tentang film, musik, konspirasi, sampai mimpi-mimpi yang bahkan belum berani mereka ceritakan kepada dunia nyata. Tanpa sadar, Raka mulai menunggu notifikasi yang hanya berasal dari satu nama. Kalimat itu berkali-kali muncul di kepalanya. Ia ingin mengatakannya. Sangat ingin. Namun setiap kali jari-jarinya menyentuh keyboard, kata-kata itu menghilang begitu saja. "Hi.....

After Kawi's story

Kali ini aku ingin menceritakan tentang pengalaman mengerikan yang kualami setelah perjalanan kami ke Gunung Kawi beberapa tahun lalu. Demi menjaga privasi dan kerahasiaan beberapa orang yang terlibat, aku akan menggunakan nama, tempat dan latar waktu samaran dalam cerita ini. Bukan karena ingin terlihat misterius, tapi karena ada hal-hal yang tidak bisa aku ceritakan secara terbuka. Aku hanya berharap, lewat cerita ini, kalian bisa mengambil pelajaran dan lebih berhati-hati kalau suatu hari nanti memutuskan untuk datang ke tempat yang sama. 2020, Desember - Libur Natal Pada waktu itu aku masih menjadi karyawan baru di sebuah kantor di Malang, Jawa Timur. Setiap akhir tahun, tepatnya di bulan Desember — bulan yang juga bertepatan dengan perayaan Natal bagi umat Kristiani — kantor biasanya memberikan libur selama lima hari sampai awal tahun 2021. Di kantor saat itu aku sudah punya beberapa teman di lingkungan kerja, salah satunya adalah Mas Deden. Dia merupakan karyawan senior yang su...

Spion Kanan

Hari demi hari berjalan, entah itu kemarin, hari ini, atau besok, kamu selalu sama. Dan tahukah kamu? Itu adalah bagian favoritku. Aku suka setiap kita berboncengan, mengendarai motor bersama, dan merayakan setiap kilometer yang terlewat di jalanan.  Aku bahkan tahu persis apa yang akan kamu lakukan selanjutnya. Memiringkan spion kanan ke arahku, lalu berbisik, 'Cantiknya'. Kamu membiarkan angin membawa kata-kata itu bersamamu, disertai senyum dan tatapan mata yang meneduhkan. Spion kananmu menangkap segalanya: saat-saat aku menangis, tertawa, cemberut, marah, sampai mengomel. Tapi kamu hanya tersenyum manis melihat pantulanku di sana. Saat-saat itu, aku selalu berpikir kita akan terus seperti ini selamanya. Setiap obrolan dan canda tawa yang kita bagi di atas motor, rasanya seperti perjalanan pulang dengan cerita yang tak pernah usai.  Aku tidak pernah berpikir bahwa suatu hari, spion kanan itu tak lagi menangkap wajahku. Karena aku sungguh percaya, kita akan terus melewati s...