Skip to main content

Republik Maya: Bab 6

Semua Orang Menonton

"Lucunya menjadi seseorang yang selalu tampil di depan banyak orang adalah... semua orang melihatmu, tetapi hampir tidak ada yang benar-benar mengenalmu."

Alarm berbunyi tepat pukul enam pagi.

Mia membuka mata perlahan. Cahaya matahari menembus tirai putih kamarnya. Di atas meja rias berjajar plakat penghargaan sebagai streamer terbaik, hadiah dari berbagai turnamen, dan beberapa paket sponsor yang bahkan belum sempat ia buka.

Ring light masih berdiri di sudut kamar. Keyboard RGB masih menyala redup. Boneka-boneka pemberian penggemar memenuhi rak di dekat tempat tidur. Sekilas, kamar itu tampak seperti kamar impian banyak orang. Namun Mia hanya menatap langit-langit tanpa ekspresi. Beberapa detik kemudian terdengar ketukan di pintu.

"Non."

Suara seorang asisten rumah tangga.

"Bapak sudah menunggu di bawah."

"Iya, Mbok..."

Jawab Mia lirih.

Ia berdiri, merapikan rambutnya, lalu menuruni tangga rumah yang begitu besar hingga suaranya menggema setiap kali ia melangkah.

Di ruang makan, ayahnya sudah duduk rapi dengan jas hitam dan setumpuk dokumen di atas meja. Tanpa mengangkat kepala, pria itu berkata,

"Jam sembilan meeting direksi."

Mia mengangguk.

"Aku tahu ayah."

"Laporan proyek sudah kamu baca?"

"Sudah."

"Bagus nak."

Tak ada ucapan selamat pagi. Tak ada pertanyaan apakah ia tidur nyenyak. Yang ada hanya pekerjaan. Seperti biasa.

...

Sebelum berangkat ke kantor, Mia masuk ke ruang streaming miliknya. Ruangan itu jauh lebih hidup daripada ruang makan tadi. Lampu LED menyala. Ring light menyala. Kamera aktif. Dalam hitungan detik, ribuan penonton mulai berdatangan.

"KAK MIAAAAA!"

"SELAMAT PAGI!"

"CANTIK BANGET HARI INI!"

Mia tersenyum lebar.

"Halo semuanya!"

"Apa kabar kalian?"

Suara yang tadi terdengar begitu pelan kini berubah ceria. Ia bercanda. Ia tertawa. Ia menghibur penontonnya.

Satu jam berlalu tanpa terasa. Sebelum menutup siaran, ia melambaikan tangan.

"Oke teman-teman, aku harus kerja dulu."

"Jangan lupa makan ya."

"Dadah!"

Streaming berakhir. Lampu kamera masih menyala beberapa detik. Mia tidak bergerak. Senyumnya perlahan menghilang. Ia mematikan kamera. Ruangan kembali sunyi.

"Capek..."

gumamnya pelan. Tidak ada yang mendengar.

...

Gedung perusahaan keluarga Mia menjulang tinggi di tengah kota. Setiap orang yang berpapasan selalu membungkuk hormat.

"Selamat pagi, Bu Mia."

"Pagi, Bu."

Sapaan itu terdengar asing. Mia tidak pernah merasa dirinya pantas dipanggil seperti itu. Di ruang rapat, ayahnya sudah menunggu bersama jajaran direksi.

Presentasi berjalan lancar. Mia menjelaskan laporan dengan baik. Beberapa direktur bahkan mengangguk puas. Setelah rapat selesai, semua orang keluar.

Tinggal Mia dan ayahnya. Ayahnya menutup map laporan.

"Mulai bulan depan kamu ikut rapat direksi setiap minggu."

Mia terdiam.

"Ayah..."

"Aku rasa..."

Belum selesai bicara. Ayahnya memotong.

"Perusahaan ini suatu hari akan kamu pimpin. Jadi bersikap dewasalah Mia."

Mia menghela napas.

"Kenapa harus aku?"

Ruangan mendadak sunyi. Ayahnya menjawab tanpa ragu.

"Karena kakakmu sudah gagal."

Kalimat itu terasa seperti palu yang menghantam meja. Mia mengepalkan tangan.

"Tapi Kak Ethan—"

"Sudah cukup Mia. Papa tidak mau dengar penjelasan kamu lagi"

"Dan jangan pernah bahas dia lagi."

Ayahnya berdiri.

"Lupakan masa lalunya."

"Lihatlah masa depanmu sendiri dan perusahaan. Dan yang terpenting Masa depan keluarga kita ada disini"

Pria itu pergi meninggalkan ruangan. Mia tetap berdiri di tempatnya. Beberapa detik kemudian terdengar suara dari belakang.

"Masih dimarahin?"

Mia menoleh. Seorang pria tinggi dengan kemeja sederhana berdiri sambil membawa dua gelas kopi.

"Kak Ethan..."

Kakaknya tersenyum.

"Ini."

"Kopi favoritmu."

Mia menerimanya. Mereka berjalan menuju balkon kantor. Dari sana seluruh kota terlihat jelas.

"Ayah masih belum bisa maafin Kakak ya sepertinya", Gumam Mia

Ethan tertawa kecil.

"Kalau semudah itu..."

"...aku gak bakal jadi pengangguran paling mahal di kota ini."

Mia ikut tertawa kecil. Namun tawanya cepat menghilang.

"Kak..."

"...aku gak sanggup."

Ethan menatap adiknya.

"Aku tahu."

"Harusnya..."

"...beban sebesar ini tidak diberikan oleh anak selucu dan seimut kamu ini, maafakan kakak Mia."

Mia menggeleng.

"Bukan salah Kakak."

Ethan tersenyum pahit.

"Yah kesalahan kecil kakak waktu dulu merubah segalanya, terutama kamu Mia, kakak merasa bersalah karena sekarang beban yang dulu ada di pundak kakak harus pindah ke pundak adik kakak ini"

Mia berlari memeluk kakaknya, sambil menangis, lalu Ethan melanjutkan obrolannya.

"Dulu aku cuma gak terima keluarga kita dihina. Oleh seseorang"

"Dibilang pengabdi iblis."

"Dibilang semua kekayaan keluarga kita adalah hasil tumbal."

"Kakak cuma emosi."

"Lalu Satu pukulan."

"Dalam Satu menit."

"Tapi hukumannya..."

"...bertahun-tahun."

Ethan menatap langit.

"Satu keputusan kecil..."

"...kadang bisa mengubah seluruh hidup."

Mia menggenggam gelas kopinya erat. Ia ingin membela kakaknya. Tetapi ia juga tahu, Ayah mereka tidak akan pernah berubah, karena dalam pikiran Ayah mereka, satu keputusan kecil yang dapat merugikan dan memalukan keluarga di hadapan kolega, itu berarti gagal menurut Ayah Mia.

Setelah itu, suasana berlangsung sendu, tiba-tiba Mia melontarkan satu kalimat.

"Kak, asal kakak tau, kakak masih menjadi orang nomor satuku tau"

"Iyakah, bukan Rio nih?", Sahut Ethan sambil tertawa

"Ih kakak...."

...

Malam tiba. Seperti biasa, satu per satu nama mulai menyala. Kevin, Adit, Rio, Nara, Raka, dan akhirnya...Mia.

"HALOOO!"

teriak Adit.

"Waduh."

"Artis akhirnya datang."

Mia tertawa kecil.

"Apaan sih hihi"

Kevin ikut menyela.

"Eh bentar."

"Gue baru sadar."

"Setiap ada Mia, Rio kenapa selalu muncul ya, tapi pas giliran Mia ilang kenapa lu ilang juga, kayaknya lu sama Mia udah kenal lama ya?"

Rio menjawab datar.

"Iya."

"Lah? Seriusan io"

Adit langsung heboh.

"Serius?"

Rio mengangguk.

"Teman SMA."

Semua langsung terdiam. Raka ikut heran.

"Kenapa baru bilang sekarang?"

Rio menjawab singkat.

"Gak ada yang nanya."

Kevin tertawa.

"Anjir. Ya masuk akal sih."

Disaat banyak orang heran, tiba-tiba Adit melempar celetukan karena masih penasaran.

"Eh Mi."

"Iya?"

"Semalam kenapa sih?"

Mia diam.

"Hah?"

"Maksudnya pas marah-marah. Gak kenapa-napa kok."

Adit tersenyum.

"Oalah."

"Kirain—"

Belum selesai.

Mia memotong.

"Guys, sorry nih, gue mesti cabut dulu ya, maaf banget nih, nanti kita kumpul lagi ya, bye."

Suasana langsung membeku. Tak ada satu pun yang berbicara. Beberapa detik kemudian, terdengar suara klik.

Mia left the Voice Channel.

Tak ada yang langsung berbicara setelah Mia pergi. Bahkan Adit yang biasanya paling ramai hanya menunduk.

"Kayaknya..."

"...gue salah ya."

Kevin menggeleng.

"Bukan salah lu."

Raka ikut menghela napas.

"Dia emang lagi ada masalah?"

Rio yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara.

"Kalau Mia bersikap kayak tadi..."

"...berarti kondisinya lagi gak baik."

Semua menoleh kepadanya.

Raka bertanya pelan.

"Rio. Sebenernya..."

"...apa yang terjadi sama Mia?"

Rio memandang daftar anggota. Nama Mia kini sudah berubah menjadi abu-abu. Offline. Ia menarik napas panjang.

"Itu..."

"...bukan cerita yang berhak gue ceritain."

Sunyi. Rio berdiri dari kursinya. Sebelum keluar dari voice channel, ia berkata pelan.

"Kalau kalian benar-benar peduli sama dia..."

"...jangan paksa dia cerita."

Semua mendengarkan. Rio melanjutkan.

"Temenin aja. Kadang..."

"...kehadiran seseorang jauh lebih berarti daripada seribu pertanyaan."

Setelah ngomong itu...

Rio left the Voice Channel.

Voice channel kembali hening. Tak ada yang tahu harus berkata apa. Hanya Nara yang akhirnya berbicara dengan suara sangat pelan.

"Mungkin..."

"...selama ini kita terlalu sering mendengar tawa Mia."

"...sampai lupa kalau orang yang paling sering membuat orang lain tertawa..."

"...juga bisa menjadi orang yang paling lelah."

Tak ada yang menyanggah.

...

Di sisi lain kota, Mia berdiri sendirian di balkon kamarnya. Ponselnya terus berbunyi. Notifikasi dari Republik Maya berdatangan. Ia membaca semuanya. Tak ada satu pun yang ia balas.

Ia hanya menatap langit malam yang perlahan diselimuti awan. Lalu memejamkan mata. Untuk pertama kalinya, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh tanpa suara.

Di tengah kota yang begitu ramai, Mia merasa menjadi orang yang paling sendirian. Sampai...

Ting.

Satu notifikasi baru muncul. Bukan dari grup. Melainkan pesan pribadi. Dari Rio.

Mia mengusap matanya pelan, lalu membuka pesan itu.

"Buka pagar."

Mia mengernyit. Belum sempat membalas, pesan kedua masuk.

"Gue udah di depan rumah."

Lalu, pesan ketiga.

"Aman gue bawa martabak telor. Telornya dua, pakai telor bebek kesukaan lu"

Mia menatap layar ponselnya cukup lama. Tanpa sadar, ia tersenyum kecil di sela air matanya.

Comments

Popular posts from this blog

Republik Maya: Prologue

Prologue Di sebuah tempat bernama Republik Maya, orang-orang hidup berdampingan tanpa pernah benar-benar saling mengenal. Mereka berbicara setiap hari, tertawa di ruang obrolan yang sama, saling mengirim meme, musik, game dan cerita tentang hidup. Namun, di balik semua itu, ada satu aturan yang tak pernah tertulis, "Jangan bawa perasaan di grup" Raka tahu aturan itu. Semua orang tahu. Lalu datanglah Nara. Awalnya biasa saja. Ia hanya anggota baru yang sering muncul di kanal musik setiap malam. Suaranya tenang, dan caranya mendengarkan membuat siapa pun merasa dihargai. Mereka semua mulai sering berbincang. Tentang film, musik, konspirasi, sampai mimpi-mimpi yang bahkan belum berani mereka ceritakan kepada dunia nyata. Tanpa sadar, Raka mulai menunggu notifikasi yang hanya berasal dari satu nama. Kalimat itu berkali-kali muncul di kepalanya. Ia ingin mengatakannya. Sangat ingin. Namun setiap kali jari-jarinya menyentuh keyboard, kata-kata itu menghilang begitu saja. "Hi.....

After Kawi's story

Kali ini aku ingin menceritakan tentang pengalaman mengerikan yang kualami setelah perjalanan kami ke Gunung Kawi beberapa tahun lalu. Demi menjaga privasi dan kerahasiaan beberapa orang yang terlibat, aku akan menggunakan nama, tempat dan latar waktu samaran dalam cerita ini. Bukan karena ingin terlihat misterius, tapi karena ada hal-hal yang tidak bisa aku ceritakan secara terbuka. Aku hanya berharap, lewat cerita ini, kalian bisa mengambil pelajaran dan lebih berhati-hati kalau suatu hari nanti memutuskan untuk datang ke tempat yang sama. 2020, Desember - Libur Natal Pada waktu itu aku masih menjadi karyawan baru di sebuah kantor di Malang, Jawa Timur. Setiap akhir tahun, tepatnya di bulan Desember — bulan yang juga bertepatan dengan perayaan Natal bagi umat Kristiani — kantor biasanya memberikan libur selama lima hari sampai awal tahun 2021. Di kantor saat itu aku sudah punya beberapa teman di lingkungan kerja, salah satunya adalah Mas Deden. Dia merupakan karyawan senior yang su...

Spion Kanan

Hari demi hari berjalan, entah itu kemarin, hari ini, atau besok, kamu selalu sama. Dan tahukah kamu? Itu adalah bagian favoritku. Aku suka setiap kita berboncengan, mengendarai motor bersama, dan merayakan setiap kilometer yang terlewat di jalanan.  Aku bahkan tahu persis apa yang akan kamu lakukan selanjutnya. Memiringkan spion kanan ke arahku, lalu berbisik, 'Cantiknya'. Kamu membiarkan angin membawa kata-kata itu bersamamu, disertai senyum dan tatapan mata yang meneduhkan. Spion kananmu menangkap segalanya: saat-saat aku menangis, tertawa, cemberut, marah, sampai mengomel. Tapi kamu hanya tersenyum manis melihat pantulanku di sana. Saat-saat itu, aku selalu berpikir kita akan terus seperti ini selamanya. Setiap obrolan dan canda tawa yang kita bagi di atas motor, rasanya seperti perjalanan pulang dengan cerita yang tak pernah usai.  Aku tidak pernah berpikir bahwa suatu hari, spion kanan itu tak lagi menangkap wajahku. Karena aku sungguh percaya, kita akan terus melewati s...