Skip to main content

Republik Maya: Bab 5

Hari Yang Panjang

"Ada hari-hari ketika dunia seolah sedang bersekongkol untuk membuatmu menyerah."

Pagi itu, Raka bangun lebih cepat dari biasanya. Jam di dinding bahkan belum menunjukkan pukul enam ketika ia sudah duduk di ruang tamu dengan setumpuk map berisi berkas lamaran. Ibunya keluar dari dapur membawa segelas teh hangat.

"Hari ini interview lagi, Rak?"

Raka mengangguk.

"Tiga."

Ibunya tersenyum.

"Semoga salah satunya jodoh."

Raka ikut tersenyum kecil.

"Aamiin."

Ia tidak pernah memberi tahu ibunya berapa banyak penolakan yang sudah ia terima. Baginya, melihat ibunya masih percaya bahwa hari ini akan menjadi hari baik sudah lebih dari cukup.

Interview Pertama

Sebuah perusahaan keuangan. Ruangan putih. Meja kaca. HRD tersenyum ramah.

"Lulusan Teknik Nuklir?"

"Iya, Bu."

"Lalu melamar menjadi staf akuntansi?"

"Iya."

"Boleh saya tahu alasannya?"

"Saya ingin bekerja."

Jawaban itu jujur. Terlalu jujur. Beberapa pertanyaan berjalan lancar. Namun ketika sesi berakhir, HRD hanya tersenyum sopan.

"Terima kasih sudah datang."

Kalimat yang sudah terlalu sering didengar Raka. Saat keluar gedung, ia sudah tahu. Ia tidak akan dipanggil lagi.

Interview Kedua

Sebuah startup teknologi. Posisi programmer. Raka cukup percaya diri. Tes teknis berjalan mulus. Bahkan interviewer sempat memuji logika berpikirnya. Namun, lagi-lagi pertanyaan yang sama muncul.

"Mas..."

"...kenapa lulusan Teknik Nuklir melamar ke sini?"

Raka tersenyum tipis.

"Karena saya masih ingin bekerja di Indonesia."

Interviewer terdiam beberapa detik. Lalu hanya mengangguk pelan. Beberapa jam kemudian, email penolakan datang. Raka bahkan membacanya sambil duduk di atas motornya. Ia hanya menghela napas.

"Hari ini belum."

Kesempatan Terakhir

Sore hari. Perusahaan itu berbeda. Gedungnya tidak terlalu tinggi. Di dinding lobi terpajang sampul-sampul novel dari berbagai genre. Romansa, Fantasi, Horor, Biografi. Untuk pertama kalinya hari itu...Raka tersenyum. Ia memang suka membaca. Mungkin, tempat ini terasa lebih akrab dibanding dua perusahaan sebelumnya.

Seorang resepsionis mempersilahkannya masuk. Tak lama kemudian ia dipanggil ke ruang interview.

"Silakan duduk, Mas Raka."

Interview berjalan jauh lebih santai.

"Kenapa tertarik menjadi editor?"

Raka berpikir sejenak.

"Lulusan saya memang Teknik Nuklir."

"Tapi sejak dulu saya selalu percaya..."

"...bahwa ilmu pengetahuan mengubah dunia."

"Dan buku..."

"...mengubah manusia."

HRD tersenyum. Jawaban itu terdengar tulus. Percakapan berlangsung hampir empat puluh menit. Sebelum pulang, HRD berkata,

"Sejujurnya kami menyukai cara berpikir Anda."

Raka mulai berharap.

"Tapi..."

"...kami perlu mempertimbangkan latar belakang pendidikan Anda."

Raka mengangguk. Ia sudah terbiasa mendengar kalimat itu.

"Baik, Pak."

"Nanti kami kabari ya mas Raka."

Setelah Raka keluar, seorang perempuan berjalan melewati lorong sambil membawa beberapa naskah. Matanya sempat menangkap map yang masih terbuka di meja HR dengan nama.

Raka Basara.

Perempuan itu berhenti. Membaca nama itu beberapa detik. Lalu mengetuk pintu.

"Permisi, Pak."

"Oh, Saras. Ada yang bisa saya bantu?"

Pintu perlahan tertutup. Tak ada yang tahu percakapan apa yang terjadi di dalam.

...

Sore menjelang malam. Langit mendadak gelap. Hujan turun tanpa aba-aba. Motor Raka mulai tersendat-sendat.

"Jangan sekarang motor jelek"

Mesin mati, wajar saja, itu adalah motor tua kenangan terakhir dari bapaknya Raka sebelum ditinggal pergi, Ia menepikan motornya ke sebuah halte.

Hari itu benar-benar panjang. Di seberang jalan terdapat sebuah minimarket. Raka memandang kosong ke arahnya. Di depan minimarket, seorang perempuan duduk sendirian. Kepalanya tertunduk. Tangannya menutupi wajah. Seolah sedang menangis. 

Tak lama kemudian...

sebuah mobil hitam mewah berhenti. Perempuan itu berdiri. Mengusap air matanya. Lalu masuk ke dalam mobil. Dan Mobil itu pergi.

Raka hanya memandanginya hingga menghilang.

"Aneh..."

gumamnya pelan. Namun ia tidak terlalu memikirkannya.

Tak lama kemudian, sebuah motor berhenti di depannya.

Kevin melepas helmnya.

"Anjir. Lu beneran mogok."

"Lu pikir gue bohong?"

Kevin tertawa.

"Geser. Gue lihat dulu."

Beberapa menit kemudian...

motor itu kembali menyala.

"Tuh. Masih ganteng tuh motor. Yang jelek mah nasib pemiliknya."

"Kalau cuman buat dihina, mending gue tadi panggil orang bengkel aja. Tai lu vin"

Kevin tertawa keras.

Mereka tidak langsung pulang. Seperti biasa. Motor berbelok menuju warung Indomie. Kevin menyalakan kompor. Tanpa bertanya apa pun. Ia mengambil dua bungkus Indomie goreng. Raka duduk diam. Kevin hanya melirik sekilas.

"Gagal lagi?"

Raka mengangguk pelan.

"Dua."

"Yang satu?"

"Masih dipertimbangin."

Kevin tidak berkata apa-apa. Beberapa menit kemudian, sepiring Indomie hangat diletakkan di depan Raka.

"Makan."

"Cuma itu?"

"Iya."

"Gak ada motivasi?"

Kevin menggeleng.

"Perut kosong gak bisa denger motivasi."

Raka tertawa kecil. Kadang, persahabatan memang sesederhana itu.

...

Malam tiba. Untuk pertama kalinya, Raka tidak ingin membuka Republik Maya. Laptop tetap tertutup. Ia merebahkan tubuhnya di kasur. Matanya mulai terpejam. Tiba-tiba...

TING!

TING!

TING!

Ponselnya bergetar tanpa henti. Pesan Adit yang terus-menerus dia kirim ke ponsel Raka.

"WOI."

"LOGIN."

"MIA BALIK."

"MABAR HOROR."

Kevin ikut mengirim pesan.

"Cepetan. Jarang-jarang lengkap nih anggotanya."

Raka menghela napas.

"Yaudah deh..."

Laptop kembali menyala. Republik Maya terbuka. Begitu masuk Voice Channel, teriakan Adit langsung menyambut.

"WOI YANG DITOLAK HR DATANG!"

"Lu tau darimana Dit!", Sahut Raka

Semua langsung tertawa.

Entah kenapa, lelah yang sedari tadi memenuhi kepalanya perlahan menghilang. Lalu terdengar suara yang kini mulai terasa akrab.

"Halo Raka..."

Suara Nara.

"Eh Nar, Iya?"

"Capek ya hari ini?"

Raka terdiam.

"Hah? Enggak kok Nar"

"Soalnya..."

"...hari ini kamu ketawa lebih sedikit dari biasanya Raka."

Raka tersenyum.

"Aku interview tiga kali."

"Wah...Gimana hasilnya Raka?"

"Dua ditolak."

"Satunya..."

"...masih digantung."

Beberapa detik hening.

Lalu Nara berkata pelan.

"Aku yakin..."

"...orang yang tetap mau mencoba setelah berkali-kali gagal..."

"...suatu hari akan menemukan tempat yang memang sedang menunggunya."

Entah mengapa, kalimat sederhana itu terasa lebih menenangkan daripada seratus motivasi yang pernah Raka baca.

...

Malam itu mereka bermain game horor. Adit tetap menjadi orang pertama yang mati. Kevin tetap menjadi orang yang paling panik. Raka tertawa. Nara sesekali menjerit kecil. Mia tertawa seperti biasanya.

Sampai...

monster terakhir muncul.

Semua berlari. Mia tertangkap. Karakternya mati. Biasanya, ia hanya akan tertawa.

Namun malam itu...

BRAK!

Suara sesuatu dibanting terdengar dari mikrofon.

"ANJING!"

Semua langsung diam.

"Game goblok!"

"Kenapa sih gue gagal terus!"

Suara Mia bergetar.

Tidak ada yang berani menjawab.

Beberapa detik kemudian...

Mia menarik napas panjang.

"...maaf."

"...aku gak bisa lanjut."

Mia left the Voice Channel.

Ruangan mendadak sunyi. Adit yang biasanya paling berisik pun tak berkata apa-apa. Kevin memecah keheningan.

"Dia kenapa ya?"

Raka menggeleng.

"Gak biasanya..."

Saat semua masih saling berpandangan dalam diam, tiba-tiba ikon Rio menyala. Ia masuk ke Voice Channel. Tak ada salam. Tak ada basa-basi. Rio hanya berkata pelan.

"Monster tadi..."

"...bukan yang bikin dia marah."

Semua terdiam.

"Lho?"

Rio menarik napas.

"Dia..."

"...udah marah sebelum login."

Sunyi. Beberapa detik kemudian, Rio keluar lagi.

Rio left the Voice Channel.

Tak ada yang mengejar Mia. Tak ada yang bertanya. Namun malam itu, untuk pertama kalinya sejak Republik Maya berdiri, mereka menyadari satu hal.

Mungkin...orang-orang yang paling sering membuat kita tertawa, adalah orang-orang yang paling keras berusaha menyembunyikan tangisnya. 

Comments

Popular posts from this blog

Republik Maya: Prologue

Prologue Di sebuah tempat bernama Republik Maya, orang-orang hidup berdampingan tanpa pernah benar-benar saling mengenal. Mereka berbicara setiap hari, tertawa di ruang obrolan yang sama, saling mengirim meme, musik, game dan cerita tentang hidup. Namun, di balik semua itu, ada satu aturan yang tak pernah tertulis, "Jangan bawa perasaan di grup" Raka tahu aturan itu. Semua orang tahu. Lalu datanglah Nara. Awalnya biasa saja. Ia hanya anggota baru yang sering muncul di kanal musik setiap malam. Suaranya tenang, dan caranya mendengarkan membuat siapa pun merasa dihargai. Mereka semua mulai sering berbincang. Tentang film, musik, konspirasi, sampai mimpi-mimpi yang bahkan belum berani mereka ceritakan kepada dunia nyata. Tanpa sadar, Raka mulai menunggu notifikasi yang hanya berasal dari satu nama. Kalimat itu berkali-kali muncul di kepalanya. Ia ingin mengatakannya. Sangat ingin. Namun setiap kali jari-jarinya menyentuh keyboard, kata-kata itu menghilang begitu saja. "Hi.....

After Kawi's story

Kali ini aku ingin menceritakan tentang pengalaman mengerikan yang kualami setelah perjalanan kami ke Gunung Kawi beberapa tahun lalu. Demi menjaga privasi dan kerahasiaan beberapa orang yang terlibat, aku akan menggunakan nama, tempat dan latar waktu samaran dalam cerita ini. Bukan karena ingin terlihat misterius, tapi karena ada hal-hal yang tidak bisa aku ceritakan secara terbuka. Aku hanya berharap, lewat cerita ini, kalian bisa mengambil pelajaran dan lebih berhati-hati kalau suatu hari nanti memutuskan untuk datang ke tempat yang sama. 2020, Desember - Libur Natal Pada waktu itu aku masih menjadi karyawan baru di sebuah kantor di Malang, Jawa Timur. Setiap akhir tahun, tepatnya di bulan Desember — bulan yang juga bertepatan dengan perayaan Natal bagi umat Kristiani — kantor biasanya memberikan libur selama lima hari sampai awal tahun 2021. Di kantor saat itu aku sudah punya beberapa teman di lingkungan kerja, salah satunya adalah Mas Deden. Dia merupakan karyawan senior yang su...

Spion Kanan

Hari demi hari berjalan, entah itu kemarin, hari ini, atau besok, kamu selalu sama. Dan tahukah kamu? Itu adalah bagian favoritku. Aku suka setiap kita berboncengan, mengendarai motor bersama, dan merayakan setiap kilometer yang terlewat di jalanan.  Aku bahkan tahu persis apa yang akan kamu lakukan selanjutnya. Memiringkan spion kanan ke arahku, lalu berbisik, 'Cantiknya'. Kamu membiarkan angin membawa kata-kata itu bersamamu, disertai senyum dan tatapan mata yang meneduhkan. Spion kananmu menangkap segalanya: saat-saat aku menangis, tertawa, cemberut, marah, sampai mengomel. Tapi kamu hanya tersenyum manis melihat pantulanku di sana. Saat-saat itu, aku selalu berpikir kita akan terus seperti ini selamanya. Setiap obrolan dan canda tawa yang kita bagi di atas motor, rasanya seperti perjalanan pulang dengan cerita yang tak pernah usai.  Aku tidak pernah berpikir bahwa suatu hari, spion kanan itu tak lagi menangkap wajahku. Karena aku sungguh percaya, kita akan terus melewati s...