Avatar
Di Republik Maya, semua orang memiliki avatar. Foto profil yang menarik. Nama pengguna yang unik. Suara yang terdengar ceria. Candaan yang selalu mengundang tawa. Namun semakin lama Raka mengenal mereka, semakin ia menyadari satu hal.
Avatar hanya memperlihatkan siapa yang ingin kita tunjukkan kepada dunia. Bukan siapa diri kita sebenarnya.
Tidak ada yang tahu bagaimana Adit menjalani harinya setelah keluar dari voice.
Tidak ada yang tahu apakah Miko benar-benar seberani ketika berdebat di ruang obrolan.
Tidak ada yang tahu apakah tawa Mia di setiap siaran benar-benar berasal dari kebahagiaan.
Bahkan Rio, orang paling misterius di Republik Maya, mungkin sedang menjalani hidup yang jauh lebih rumit daripada yang semua orang bayangkan.
Dan Raka sendiri pun sama. Di balik foto profilnya. Di balik suaranya yang terdengar tenang. Tidak ada yang tahu bahwa setiap pagi ia masih membuka portal lowongan kerja. Masih menunggu satu email yang tak kunjung datang. Masih sesekali memikirkan seseorang bernama Selena.
Mungkin, itulah yang membuat Republik Maya terasa begitu hangat. Karena tanpa disadari, tempat itu perlahan berubah. Bukan lagi sekadar tempat orang-orang berkumpul untuk menghabiskan waktu. Melainkan tempat di mana setiap orang akhirnya merasakan diri mereka selalu baik-baik saja.
Raka, Setiap malam, setelah membantu ibunya membereskan rumah, ia akan masuk ke kamar, menyalakan kipas angin yang suaranya mulai berisik dimakan usia, lalu membuka laptop yang selama ini lebih sering digunakan untuk mencari pekerjaan.
Malam itu pun sama.
Ia menekan tombol power. Layar perlahan menyala. Beberapa notifikasi email kembali bermunculan.
"Terima kasih telah melamar..."
Raka hanya membaca sekilas, lalu menutupnya. Malam ini ia tidak ingin memikirkan pekerjaan. Tangannya menggerakkan cursor menuju sebuah ikon berwarna biru keunguan.
Republik Maya.
Sudah menjadi kebiasaan barunya. Republik Maya selalu menjadi tujuan terakhir sebelum Raka tidur.
...
Di sudut kota yang lain...
Seseorang juga sedang melakukan hal yang sama. Sebuah tablet diletakkan di atas meja kayu kecil, di samping secangkir teh yang masih mengeluarkan uap tipis. Jari-jarinya menyapu layar. Membuka beberapa pekerjaan yang belum selesai. Membalas dua atau tiga pesan. Lalu berhenti sejenak.
Ia memandang jam yang hampir menunjukkan pukul sembilan malam.
Senyum tipis muncul di wajahnya. Tablet itu kemudian membuka aplikasi yang sama.
Republik Maya.
Beberapa nama sudah terlihat menyala. Perempuan itu megarahkan cursornya ke arah profile, terlihat nama Nara, ia ingin mengganti foto avatarnya dengan kucing.
...
Kembali ke kamar Raka. Suara notifikasi terdengar pelan. Kevin sudah lebih dulu berada di ruang obrolan. Di tab sebelah kanan di kanal muncul satu nama lain yang online. Nara.
"Rajin juga..."
gumam Raka pelan sebelum menekan tombol Join Voice.
...
Di tempat yang berbeda, Nara memakai earphone putihnya. Menghela napas pelan. Lalu menekan tombol yang sama. Join Voice Channel.
...
Dalam hitungan detik...
Dua orang yang belum pernah benar-benar saling mengenal itu kembali berada di ruangan yang sama secara bersamaan.
"Yow guys", Salam Raka
"Halo teman-teman", Salam Nara
"WOI RAKA DATANG!", Teriak Adit
"AWAS ADA MONYET!", Teriak Miko
"Nara jugaaa, halo Naraa", Sahut Mia
"Kalian janjian?", Ketus Rio
"Anjir, orang tiap malam juga jam segini online," balas Kevin sambil terkekeh
"Si Rio iri tuh!", Seru Adit sambil ketawa
"Gak."
"Lah terus?"
"Gue cuma observasi."
"Observasi apaan?"
"Hasilnya nanti."
"Dih, Sok misterius. Dasar Mr. Nonchalant nye nye nye", Ketus Mia
Beberapa detik setelah mereka berdebat, bebarengan dengan itu muncul suara keras dari mic
"Enggak kok, kita gak janjian!!!", Jawab Raka dan Nara barengan
Sontak semua orang berteriak dan tertawa bahagia, disusul suara Adit yang menggelegar.
"Cieeee, guys siap-siap nanti kondangan kita hahaha", Tawa Adit yang semakin kencang
Semua tertawa. Seperti biasa. Rio memang tidak pernah menjelaskan apa pun. Ia lebih senang melempar satu kalimat aneh, lalu membiarkan semua orang menafsirkannya sendiri. Begitu juga dengan Adit yang suka sekali melemparkan candaan. Dan Miko yang hobinya suka sekali mematahkan candaan Adit.
"Eh bentar...", ujar Adit tiba-tiba.
"Kok avatar Nara berubah?"
Semua spontan melihat daftar anggota di list anggota kanal.
Foto profil Nara yang sebelumnya hanya lingkaran polos kini berganti menjadi seekor kucing putih dengan mata kuning yang menatap lurus ke arah kamera.
"Loh iya."
"Lucu banget kucingnya," kata Mia.
"Namanya siapa?" tanya Kevin.
"Itu bukan kucingku kok," jawab Nara pelan.
"Cuma nemu fotonya lucu hihi"
"Halah, paling habis ambil dari Pinterest," celetuk Miko.
"Eh enggak ya...aku izin dulu sebelum pakai kok hihi"
"Wah, warga negara teladan, jangan kayak si ono noh..."
"MIK MASA IYA UDAH BAHAS POLITIK LAGI, PLISS!"
"Hehe maaf udah kebiasaan", jawab Miko sambil cengengesan
Tawa kembali memenuhi ruang obrolan.
Raka hanya memperhatikan foto profil baru itu. Seekor kucing. Sederhana. Entah kenapa terasa cocok dengan sosok Nara yang lebih banyak mendengar daripada berbicara.
"Rak."
Suara Kevin memecah lamunannya.
"Lu kapan ganti avatar?"
"Kenapa emangnya?"
"Itu foto profil lu dari zaman kapan anjir"
"Bagus kok."
"Bagus dari mana?"
"Itu foto gue waktu di gunung, estetik, emang sih udah lawas"
"Makanya diganti, minimal senyum kek."
Raka tertawa kecil.
"Males"
"Nanti gue fotoin dah"
"Jangan, gue gak percaya lu vin"
"Iyasih, Nanti gue edit jadi boti soalnya"
"Kan, bangke emang lu vin"
Gelak tawa kembali pecah.
Obrolan malam itu terus mengalir tanpa arah. Kadang membahas berita yang sedang viral. Lima menit kemudian berpindah ke anime. Sepuluh menit berikutnya entah bagaimana sudah membicarakan harga cabai yang naik. Tidak ada yang tahu siapa yang pertama kali mengubah topik. Begitulah Republik Maya bekerja. Satu percakapan selesai, percakapan lain lahir begitu saja. Tanpa perlu dipaksa. Tanpa perlu direncanakan. Di sela-sela obrolan, Nara lebih banyak mendengarkan.
Sesekali ia tertawa.
Sesekali melempar pertanyaan.
Obrolan kembali dipenuhi tawa. Adit masih sibuk menggoda Miko. Kevin sesekali menyelipkan candaan recehnya. Mia tertawa hingga beberapa kali terdengar menjauh dari mikrofon. Rio, tetap menjadi Rio. Kadang muncul. Kadang menghilang. Kadang berbicara satu kalimat yang membuat semua orang berpikir lebih lama daripada yang seharusnya. Di tengah riuhnya suara mereka, Adit tiba-tiba berdeham.
"Eh...Gue kepikiran sesuatu."
"Nah...", Miko langsung menyela.
"...lu gak kepikiran nyanyi kan Dit, kalau iya gue mau keluar dulu"
"Woy."
Semua tertawa. Adit ikut tertawa, lalu melanjutkan.
"Serius. Kita ini udah kenal berapa lama sih?"
"6 bulan?" jawab Kevin.
"Hampir 7 bulan", sahut Mia.
"Iya. Hampir tiap malam kita ngobrol. Main game. Nyanyi. Debat. Ketawa. Kadang sampai ketiduran di VC. Lucu gak sih...padahal kita gak tahu apa-apa tentang kehidupan masing-masing."
Ruangan mendadak sedikit lebih tenang. Pertanyaan sederhana itu menggantung di udara. Tak ada yang langsung menjawab.
Adit berdeham pelan.
"Eh... jangan pada diem gitu lah. Gue jadi ngeri sendiri jir."
Kevin tertawa kecil.
"Lu yang mulai, Dit."
"Iya. Kan lu yang nanya."
Adit menghela napas.
"Oke deh."
"Kalau gitu gue duluan."
Semua menunggu.
"Gue..."
Adit terdiam cukup lama.
"...ya sama kayak di sini lah. Berisik. Tiap hari."
Tanpa pikir panjang Miko langsung menyahut.
"Bohong."
"Lah? Mana ada.", Kesal Adit
"Lu mah pasti pendiem."
"Woi, seriusan gue mah mik. Kenapa lu bilang gitu?"
"Soalnya orang paling berisik biasanya aslinya paling pendiem", Jawab Miko
Suasana kembali dipenuhi tawa. Namun...Adit tidak ikut tertawa sekeras biasanya.
"Halah. Sotoy"
Ia mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Coba sekarang Miko. Gimana kehidupan lu?"
Miko langsung menjawab cepat.
"Normal. Udah."
"Normal apanya?"
"Ya normal. Belajar, main game, tidur."
Rio tiba-tiba menyela.
"Lu bohong."
Semua langsung hening. Adit tertawa canggung.
"Hah? Bohong apaan?"
Rio menjawab singkat.
"Orang yang hidupnya baik-baik aja...gak akan jawab secepat itu."
Sunyi. Untuk pertama kalinya...tidak ada yang menertawakan ucapan Rio.
Miko berusaha tertawa.
"Anjir. Sok jadi psikolog."
Rio hanya menjawab pendek.
"Bukan. Gue Lagi nebak."
Kevin buru-buru mencairkan suasana.
"Udah-udah. Gue aja."
"Gue mah hidupnya sederhana. Pagi bantu orang tua. Siang jualan. Malam ngobrol sama kalian. Udah. Sesimpel itu."
"Kalau Raka?" tanya Mia.
Semua kini menoleh ke arah Raka.
Raka tersenyum kecil.
"Hampir sama. Cuma bedanya...gue masih nganggur."
Tidak ada yang tertawa.
Mereka tahu. Kalimat itu memang dimaksudkan sebagai candaan. Tetapi, tidak ada yang terdengar lucu. Nara yang sejak tadi hanya mendengarkan akhirnya berbicara. Suara Nara memecah keheningan.
"...aneh ya."
"Aneh kenapa?" tanya Raka.
"Kita bisa ngobrol sampai larut malam."
"Tapi..."
"...belum tentu tahu kabar satu sama lain ketika matahari terbit."
Tak ada yang menjawab.
Kalimat itu sederhana. Namun seperti mengetuk sesuatu di dalam hati masing-masing. Mia yang biasanya paling ceria mendadak diam. Miko berhenti bercanda. Bahkan Adit yang sejak tadi tak berhenti bicara, kini tak lagi menemukan lelucon. Beberapa detik kemudian, suara nara kembali terdengar.
"Aku rasa..."
"...gak ada orang yang hidupnya sesederhana jawaban tadi."
Semua kembali diam.
Nara melanjutkan dengan suara yang tetap tenang.
"Kalau kalian perhatiin..."
"...dari tadi gak ada satu pun yang benar-benar jawab pertanyaannya."
"Hah?"
Adit mengernyit.
Nara tersenyum kecil.
"Adit bilang dia berisik. Itu sifat. Bukan kehidupan."
"Miko bilang normal. Itu juga bukan jawaban."
"Kevin cerita rutinitas. Bukan perasaannya."
"Raka...bercanda, padahal mungkin capek."
Tidak ada yang menyela. Untuk pertama kalinya, server yang biasanya penuh tawa, menjadi benar-benar sunyi. Bukan karena kehabisan bahan obrolan. Melainkan karena setiap orang sedang sibuk memikirkan dirinya sendiri. Nara lalu tertawa pelan, seolah menyadari suasana mulai terlalu serius.
"Eh, maaf. Aku jadi bikin suasana aneh ya hihi"
Raka langsung menyela.
"Enggak kok. Justru...aku baru sadar...
...kupikir lagi iya ya, kita ngobrol hampir tiap malam. Tapi ternyata kita semua tidak ada yang benar benar mengenal satu sama lain"
Rio yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara.
"Avatar."
Semua spontan menoleh ke arah ikon profil Rio yang menyala.
"Avatar?" ulang Kevin.
Rio mengangguk pelan, meski tentu saja tak ada yang bisa melihatnya.
"Makanya..."
"...obrolan kita malam ini cocoknya dikasih judul Avatar."
"Maksudnya?" tanya Mia penasaran.
Rio terdiam beberapa detik.
Lalu menjawab dengan nada yang tetap datar.
"Maksud gue..."
"...kalian semua lagi bersembunyi."
"Hah?" sahut Adit.
"Di balik avatar masing-masing."
Sunyi.
Rio melanjutkan.
"Ya..."
"Kita ngobrol tiap malam."
"Tapi..."
"Yang hadir di sini..."
"...cuma versi yang pengen kita tunjukin."
Ruangan kembali hening. Tak ada yang memotong ucapan Rio kali ini. Untuk pertama kalinya, ucapan Rio terdengar bukan seperti celetukan aneh. Melainkan seperti kenyataan.
Rio mengembuskan napas pelan.
"Lagian..."
"...kalau kita semua baik-baik aja."
"...kenapa setiap malam kita selalu balik ke tempat yang sama?"
Tak ada yang menjawab. Bahkan Adit yang biasanya paling cepat melontarkan candaan pun memilih diam. Terlihat semua orang sedang memikirkan maksut dari kalimat Rio.
.......
Beberapa saat kemudian, Terdengar suara notifikasi.
Mia left the Voice Channel.
"Aneh..."
gumam Kevin pelan.
"Biasanya dia pamit."
Tak lama setelah itu, terdengar suara pesan singkat dari Mia di kolom chat.
"Maaf ya teman-teman, aku ada urusan sebentar. Lanjut dulu aja :)"
Emoji senyum itu muncul di layar. Namun entah mengapa, setelah mendengar ucapan Rio barusan, emoji itu justru terasa seperti sesuatu yang sedang berusaha menyembunyikan banyak hal.
"Eh?"
"Kemana Mia?"
"Gak tahu."
"Mungkin sinyal."
"Atau dipanggil."
Obrolan kembali berlanjut. Seolah tidak terjadi apa-apa. Namun lima menit kemudian, Miko left the voice channel.
"Gue ada urusan bentar."
Pesan itu terdengar terburu-buru. Sebelum sempat ada yang menjawab, ia sudah lebih dulu keluar.
Adit tertawa kecil.
"Yah...Pada cabut satu-satu."
Tak lama. Rio juga menghilang. Tanpa pamit. Tinggal tersisa empat nama yang masih menyala.
Raka memandangi layar laptopnya. Entah mengapa, kalimat Rio terdengar sangat dekat. Ia teringat email lamaran kerja yang baru saja ia tutup beberapa menit lalu. Ia juga teringat Selena. Ia teringat pada ibunya yang selalu berkata,
"Besok pasti ada kabar baik, Rak."
Lalu ia memandang layar Republik Maya di depannya. Mungkin...Rio benar. Dan mungkin juga setiap orang memang datang ke Republik Maya bukan karena mereka memiliki banyak waktu. Melainkan...karena mereka membutuhkan tempat untuk dapat menjadi diri sendiri seutuhnya. Lalu tanpa sadar, ia tersenyum kecil.
Kini satu per satu menghilang, sama seperti lampu-lampu yang mulai dipadamkan menjelang tengah malam.
Lalu Kevin tiba-tiba berkata pelan.
"Lucu ya..."
"Apa?"
"Kita semua disini selalu mengucapkan 'selamat malam'."
"Tapi...gak satupun dari kita pernah benar-benar tahu malam seperti apa yang sedang dihadapi orang lain."
Tidak ada yang membalas. Karena untuk pertama kalinya, Raka merasa Republik Maya bukan sekadar tempat untuk tertawa. Melainkan tempat di mana banyak orang menyembunyikan kesedihan mereka di balik sebuah avatar.
Setelah malam itu, ada sesuatu yang berubah. Mereka masih saling melempar candaan. Masih saling mengejek. Masih menjadi diri yang sama. Hanya saja, untuk pertama kalinya, mereka mulai bertanya-tanya.
"Sebenarnya, bagaimana kehidupan teman-temanku ketika layar ini dimatikan?"
Malam demi malam, satu per satu nama di daftar anggota mulai jarang muncul.
"Cabut dulu bre, masih ada urusan"
"Good night semuanya. Gue tidur dulu ya"
"Kapan-kapan lagi ya"
Kata-kata tersebut selalu terlontarkan hari demi hari, dan satu demi satu suara menghilang, hingga akhirnya hanya tersisa Raka dan Kevin di dalam kanal.
"Rak."
"Hm?"
"Lu sadar gak?"
"Sadar apaan?"
Kevin terdiam sejenak.
"Kayaknya..."
"...server kita berubah."
Raka mengernyit.
"Berubah gimana?"
"Gatau. Rasanya aja. Dulu rame terus. Sekarang yang nongkrong tiap malam ya kita-kita lagi."
Raka memandangi daftar anggota. Nama yang masih menyala tinggal empat. Kevin, Adit, Nara, dan dirinya sendiri.
Mia sudah beberapa malam terakhir hanya muncul sebentar.
Miko mulai sering beralasan ada urusan.
Rio, tetap menjadi Rio. Datang tanpa pemberitahuan. Pergi tanpa pamit.
"Aneh ya..." gumam Raka.
"Padahal member makin banyak."
"Iya. Tapi yang bener-bener tinggal, malah makin sedikit."
Kevin tertawa kecil.
"Namanya juga hidup Rak, 'People come and go'. Yang penting jangan lu juga."
"Apaan njir. Emang gue mau ke mana?"
Kevin hanya terkekeh.
"Ya siapa tau. Besok keterima kerja. Lupa sama kita."
"Enggak lah vin, gue masih bakal inget kalian semua kok"
Raka melempar bantal kecil ke arah webcam yang tentu saja tidak akan mengenai siapa pun.
"Terutama gue ya? haha"
"Lagian nih vin kalau gue sukses, warung lu gue beli."
"Mimpi."
"Warung lu juga sepi."
"Lu yang jaga monyet"
"Anjir. Iya lagi haha"
Keduanya kembali tertawa.
Namun tawa itu tak bertahan lama. Setelah Kevin keluar dari kanal, Raka tetap duduk di depan laptopnya. Layar Republik Maya masih terbuka. Sunyi. Ia memperhatikan daftar anggota yang kini hanya menyisakan satu nama. Nara.
Beberapa detik kemudian, Nama itu pun ikut menghilang. Offline.
Raka hendak menutup laptopnya. Tiba-tiba terdengar suara notifikasi.
Ting.
Sebuah pesan pribadi masuk. Pengirimnya...Nara.
Jantung Raka seolah berhenti sesaat. Dengan sedikit ragu, ia membuka pesan itu.
"Raka... kamu apa kabar?"
Hanya lima kata. Tidak lebih. Namun entah mengapa, Raka membacanya berulang kali.
Jemarinya mulai mengetik di atas keyboard.
"Aku sedang memikirkan banyak hal, Nara."
Ia berhenti. Lalu menghapusnya. Mengetik lagi.
"Sedikit kurang baik. Ada apa?"
Dihapus lagi. Raka tersenyum kecil. Entah sejak kapan menjawab pertanyaan sederhana terasa sesulit itu. Beberapa detik kemudian, ia akhirnya mengirim satu kalimat.
"Aku baik-baik aja kok. Makasih ya."
Tak lama berselang, balasan dari Nara muncul.
"Syukurlah. Selamat istirahat ya, Raka."
Percakapan mereka berhenti di sana. Tidak ada obrolan panjang. Tidak ada kata-kata manis. Hanya perhatian kecil, yang entah mengapa terasa begitu berarti.
Raka mematikan laptopnya. Lampu kamar ikut padam. Namun sebelum benar-benar terlelap, satu pertanyaan terus berputar di kepalanya.
Berapa banyak orang yang setiap malam terdengar baik-baik saja... padahal diam-diam sedang berusaha bertahan hidup?
Dan mungkin...Republik Maya ada bukan untuk menghapus luka mereka. Melainkan agar tak seorang pun harus menanggung luka itu sendirian.
Comments
Post a Comment