Skip to main content

Republik Maya: Bab 31

Narayana Sarasvati

Sudah berminggu-minggu. Sejak Yana memutuskan menghilang dari dua dunia yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya.

Dunia nyata.

Dan dunia maya.

Apartemen berukuran sedang di lantai delapan belas itu terasa jauh lebih sunyi dibanding biasanya. Tidak ada suara ketikan keyboard. Tidak ada bunyi notifikasi Discord. Tidak ada musik instrumental yang biasanya menemani ketika ia menulis. Hanya suara pendingin ruangan yang berdengung pelan.

Dan sesekali, suara kendaraan dari jalan raya yang terdengar samar dari balik jendela.

Saras duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan kaus putih longgar dan celana training abu-abu. Rambut panjangnya dibiarkan terurai tanpa sempat dirapikan. Wajahnya tampak pucat. Mata sembabnya masih menyisakan bekas tangis beberapa malam terakhir.

Di atas meja, tergeletak sebuah laptop yang sudah seminggu tidak pernah dibuka. Di sampingnya terdapat sebuah novel yang bahkan belum sempat ia lanjutkan.

Ponselnya diletakkan dalam posisi terbalik. Bukan karena baterainya habis. Melainkan karena ia tidak ingin lagi melihat notifikasi yang terus berdatangan.

Saras menyandarkan kepalanya ke sofa. Tatapannya kosong menembus langit-langit apartemen. Entah sudah berapa kali ia bertanya kepada dirinya sendiri.

"Apa aku terlalu berlebihan?"

"Apa aku salah paham?"

"Atau... memang dari awal aku yang terlalu berharap?"

Tak ada jawaban. Yang ada hanyalah bayangan sore itu. Sore yang terus berputar di kepalanya tanpa henti.

...

Kafe kecil itu masih jelas diingatnya. Hari itu seharusnya menjadi hari yang paling ia tunggu selama bertahun-tahun. Hari ketika akhirnya ia akan berhenti menjadi Nara. Berhenti bersembunyi di balik nama Saras. Dan kembali memperkenalkan dirinya sebagai Yana. Ia bahkan sudah berlatih berkali-kali di depan cermin.

"Bas..."

"Aku Nara."

"Aku juga Saras."

"Dan..."

"Aku Yana."

Sesederhana itu. Atau setidaknya begitulah yang ia bayangkan. Namun kenyataan tidak pernah benar-benar berjalan sesuai bayangan.

Ketika ia tiba di depan kafe, ia melihat seseorang telah lebih dulu duduk di hadapan Raka.

Seorang perempuan. Perempuan yang wajahnya pernah beberapa kali muncul dalam cerita-cerita Raka. Selena.

Mereka duduk berhadapan. Berbicara cukup lama. Sesekali, Selena tersenyum. Raka juga tersenyum. Meski dari kejauhan Saras tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan. hatinya sudah lebih dulu memilih mempercayai apa yang dilihat matanya.

Tangannya yang semula menggenggam sebuah kotak kecil berisi permen stroberi perlahan melemas. Kotak itu nyaris terjatuh. Ia berdiri cukup lama di balik tiang dekat parkiran.

Berharap mungkin semua itu hanya salah paham. Namun semakin lama ia melihat, semakin berat langkah kakinya untuk mendekat.

Akhirnya ia memilih berbalik. Masuk kembali ke dalam mobil. Lalu pergi. Tanpa pernah memberi kesempatan kepada Raka untuk menjelaskan apa pun.

"Harusnya aku gak datang..."

bisiknya pelan.

Air mata kembali mengalir. Bukan karena marah. Bukan karena benci. Melainkan karena kecewa kepada dirinya sendiri. Ia merasa telah terlambat. Terlambat untuk kembali. Terlambat untuk memenuhi janji masa kecilnya. Terlambat untuk hadir ketika Basara benar-benar membutuhkannya.

Dan kini, ketika akhirnya keberanian itu berhasil ia kumpulkan, semuanya terasa kembali runtuh. Saras mengusap air matanya cepat-cepat.

"Udah..."

"Udah cukup."

Ia mencoba tersenyum. Namun senyum itu tidak pernah benar-benar terbentuk.

Pandangannya kemudian beralih ke sebuah kotak kayu kecil yang berada di rak televisi. Kotak itu sudah cukup tua. Catnya mulai memudar di beberapa sudut.

Dengan perlahan, ia mengambil kotak itu. Membukanya. Di dalamnya hanya ada beberapa benda sederhana.

Sebuah gelang benang.

Foto masa kecil yang mulai menguning.

Dan, sebuah bungkus permen stroberi yang sudah lama kosong.

Saras tersenyum kecil.

"Masih kamu simpan ya..."

gumamnya kepada dirinya sendiri. Ingatannya kembali melayang. Ke sebuah sore belasan tahun lalu. Di bawah pohon mangga. Ketika tiga anak kecil saling berebut permen terakhir.

Basara.

Sanjay.

Dan dirinya.

Ia masih ingat bagaimana Basara waktu itu menyerahkan permen terakhir kepadanya sambil berkata,

"Cewek dulu."

Padahal, Basara sendiri sangat menyukai rasa stroberi. Kenangan sederhana. Namun justru kenangan itulah yang bertahan paling lama. Saras menggenggam bungkus permen itu erat.

"Bas..."

"Aku capek..."

bisiknya lirih.

"Aku pengin berhenti lari..."

Tiba-tiba, ponsel yang sejak tadi ia telungkupkan bergetar.

Satu kali.

Dua kali.

Tiga kali.

Saras hanya melirik sekilas. Nomor tidak dikenal. Ia menghela napas. Mungkin dari kantor. Atau kurir. Ia membiarkannya. Namun beberapa detik kemudian, ponsel itu kembali berdering. Nomor yang sama. Saras akhirnya meraih ponsel tersebut. Ragu-ragu. Lalu menekan tombol jawab.

"Halo..."

Suara di seberang terdengar ramah.

"Selamat malam, Bu Saras."

Saras langsung duduk tegak.

"Iya?"

"Saya petugas keamanan lobi."

Saras mengernyit.

"Kenapa ya, Pak?"

Petugas itu terdengar sedikit ragu.

"Maaf mengganggu malam-malam."

"Tapi..."

"Di bawah ada beberapa orang yang mengaku teman Ibu."

Saras langsung terdiam. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Teman? Siapa?

Refleks, nama pertama yang muncul di kepalanya adalah. Raka. Tangannya mulai gemetar. Ia memejamkan mata. Belum siap. Belum sekarang. Belum, Namun suara petugas keamanan kembali terdengar.

"Mereka bilang..."

"...namanya Kevin."

Saras membeku.

"...Kevin?"

"Iya, Bu."

"Lalu ada..."

"...Rio."

"...Miko."

"...dan Adit."

Tak ada lagi suara. Hanya keheningan panjang dari seberang telepon. Air mata Saras perlahan mulai memenuhi kedua matanya. Bibirnya bergetar pelan. Ia mencoba menjawab. Namun suaranya tertahan di tenggorokan. Petugas keamanan kembali bertanya dengan hati-hati.

"Bu..."

"Apakah..."

"...mereka benar teman Ibu?"

Saras menutup mulutnya. Air matanya akhirnya jatuh tanpa bisa ia tahan lagi.

"Mereka..."

"...benar-benar datang?"

Suara itu hampir tak terdengar. Bahkan lebih menyerupai bisikan. Petugas keamanan tersenyum kecil meski tak terlihat.

"Iya, Bu."

"Mereka datang."

"Dan..."

"...sepertinya mereka tidak akan pulang sebelum bertemu Ibu."

Tangis Saras pecah. Bukan tangis karena sedih. Melainkan tangis seseorang yang baru menyadari, bahwa selama ini, ia ternyata tidak pernah benar-benar sendirian. Ia mengusap air matanya berkali-kali. Menarik napas dalam. Lalu berkata dengan suara yang masih bergetar.

"...Pak."

"Iya, Bu?"

"Tolong..."

"...suruh mereka naik."

Telepon ditutup. Apartemen kembali sunyi. Namun kali ini, kesunyian itu terasa berbeda. Saras berdiri perlahan. Ia menatap bayangannya sendiri di cermin ruang tamu. Wajahnya masih sembab. Rambutnya masih berantakan.

Tak ada riasan.

Tak ada senyum.

Tak ada topeng.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia tidak sedang menjadi Editor Saras. Tidak sedang menjadi Nara. Ia hanya Narayana Sarasvati.

Perlahan ia melangkah menuju pintu apartemen. Di luar sana, lift sedang bergerak naik. Membawa empat orang, yang selama ini diam-diam telah menjadi rumah kedua dalam hidupnya.

...

Di balik pintu itu. Saras berdiri mematung. Tangannya menggenggam gagang pintu begitu erat hingga jemarinya memutih. Ia dapat mendengar suara lift yang berhenti di lantainya.

Ding.

Pintu lift terbuka. Disusul langkah kaki.

Satu.

Dua.

Tiga.

Empat.

Semakin dekat.

Semakin jelas.

Jantung Saras berdegup semakin cepat. Rasanya seperti kembali menjadi anak perempuan berusia delapan tahun yang sedang menunggu seseorang datang menjemputnya pulang.

Namun kali ini, yang datang bukan ayahnya. Bukan ibunya. Melainkan orang-orang yang ia temui di dunia maya. Orang-orang yang perlahan telah menjadi keluarga. Suara langkah itu akhirnya berhenti tepat di depan pintunya.

Sunyi.

Beberapa detik kemudian, terdengar suara ketukan yang begitu pelan.

Tok...

Tok...

Tok...

Saras memejamkan mata. Ia mengenali ketukan itu. Pelan. Sopan. Tidak terburu-buru. Sangat khas Kevin. Lalu terdengar suara yang sudah sangat ia kenal.

"Yan..."

Tidak keras. Tidak memaksa. Hanya sebuah panggilan sederhana. Namun panggilan itu berhasil meruntuhkan pertahanan yang selama berminggu-minggu terakhir ia bangun.

Air matanya kembali jatuh. Ia mengusapnya cepat-cepat. Menarik napas panjang. Kemudian perlahan memutar gagang pintu.

Klik.

Pintu terbuka sedikit demi sedikit.

...

Di balik pintu, Kevin berdiri paling depan. Masih mengenakan jaket hitam yang biasa ia pakai menjaga warung. Rambutnya sedikit berantakan karena perjalanan. Namun senyumnya masih sama seperti dulu. Hangat.

Di belakang Kevin berdiri Rio dengan kedua tangan dimasukkan ke saku jaket. Miko yang membawa tas selempang kecil. Dan Adit yang sedari tadi tampak gelisah menunggu pintu itu terbuka.

Sesaat, tak seorang pun berbicara. Mereka hanya saling menatap. Sudah terlalu banyak cerita yang mereka lalui bersama. Namun anehnya, ini adalah pertama kalinya Rio, Miko, dan Adit melihat Nara apa adanya. Bukan melalui layar monitor. Bukan melalui foto profil Discord. Melainkan seorang perempuan yang berdiri beberapa langkah di depan mereka.

Tanpa topeng.

Tanpa suara ceria.

Tanpa tawa yang biasa memenuhi voice channel.

Hanya Narayana Sarasvati. Dengan mata yang sembab. Wajah yang lelah. Dan senyum tipis yang dipaksakan. Kevin tersenyum lebih dulu.

"Hai..."

Ia berhenti sejenak.

"...Yana."

Satu kata itu.

Yana.

Bukan Saras.

Bukan Nara.

Nama yang sudah bertahun-tahun tidak terdengar dari mulut sahabatnya. Tubuh Saras bergetar pelan. Bibirnya mencoba tersenyum. Namun sebelum sempat mengucapkan sepatah kata pun, air matanya kembali jatuh. Kevin tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya tersenyum. Seolah ingin berkata...

"Tidak apa-apa."

"Kamu tidak perlu pura-pura kuat lagi."

Yang mengejutkan, orang pertama yang melangkah maju bukan Kevin. Melainkan Adit.

"Permisi ya..."

ucapnya pelan. Saras hanya mengangguk kecil. Belum sempat ia bertanya apa pun... Adit langsung memeluknya. Pelukan itu sangat singkat. Tidak berlebihan. Namun cukup untuk membuat Saras membeku. Adit melepaskan pelukannya perlahan. Lalu berkata sambil tersenyum.

"Capek ya..."

Hanya tiga kata. Namun Saras langsung menutup mulutnya. Tangisnya pecah. Ia mengangguk berkali-kali.

"Iya..."

"...capek."

Adit ikut tersenyum.

"Aku ngerti."

Suaranya terdengar sangat tenang.

"Beneran ngerti."

Kevin dan Rio saling berpandangan. Mereka tahu, Adit tidak sedang mencoba menghibur. Ia benar-benar memahami perasaan itu. Beberapa bulan yang lalu, dialah orang yang menghilang. Dialah yang mematikan ponselnya. Dialah yang menolak bertemu siapa pun. Dan dialah yang akhirnya ditemukan oleh Republik Maya.

Kini, giliran ia menjadi orang yang datang menjemput temannya pulang.

Rio kemudian melangkah mendekat. Ia menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.

"Kita..."

"...boleh masuk?"

Pertanyaan itu terdengar canggung. Saras tertawa kecil di sela tangisnya. Tawa pertama setelah berhari-hari.

"Iya..."

"Masuk."

Mereka pun memasuki apartemen. Ruangan itu sederhana. Tidak terlalu luas. Namun terasa hangat. Di sudut ruang tamu terdapat rak buku yang dipenuhi novel dari berbagai genre. Di dekat jendela berdiri sebuah meja kerja. Laptop masih tertutup. Beberapa naskah berserakan di atasnya. Rio memperhatikan sekeliling.

"Jadi..."

"Di sini markas penulis terkenal itu ya."

Saras tersenyum kecil.

"Berantakan ya?"

"Enggak."

Rio menggeleng.

"Justru kelihatan hidup."

Miko sejak tadi memperhatikan rak buku. Matanya berhenti pada beberapa buku yang sampulnya terasa familiar.

"Ini..."

"Buku yang kamu tulis?"

Saras mengangguk pelan.

"Iya."

Miko tersenyum kagum.

"Selama ini..."

"...aku gak pernah nyangka."

"Penulis favorit adikku ternyata teman Discord."

Semua tertawa kecil. Suasana perlahan mulai mencair.

Tak lama kemudian, ponsel Kevin berbunyi. Panggilan video dari Mia. Kevin langsung mengangkatnya. Wajah Mia memenuhi layar. Begitu melihat Saras, Mia langsung tersenyum lebar.

"Hai..."

Saras ikut tersenyum.

"Hai..."

Mia menghela napas panjang.

"Ya ampun."

"Akhirnya ketemu juga."

"Aku udah khawatir banget."

Saras menunduk.

"Maaf ya..."

Mia langsung menggeleng.

"Eh."

"Gak usah minta maaf dulu."

"Yang penting sekarang..."

"...kamu baik-baik aja."

Kalimat itu membuat mata Saras kembali berkaca-kaca. Ia baru sadar. Selama ini ia terlalu sibuk memikirkan rasa sakitnya sendiri. Sampai lupa bahwa kepergiannya juga melukai orang-orang lain.

...

Beberapa menit kemudian. Kevin melihat jam dinding. Hampir pukul sebelas malam. Ia menatap Saras dengan lembut.

"Yan..."

"Boleh kita ngobrol?"

Saras mengangguk pelan.

"Iya."

Kevin tersenyum.

"Bukan sebagai Nara."

"Bukan juga sebagai penulis."

Ia berhenti sejenak.

"Lalu?"

Kevin memandang sahabat kecilnya itu.

"Sebagai Yana."

Ruangan kembali sunyi. Di luar jendela, lampu-lampu kota Jakarta masih menyala. Namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, apartemen itu tidak lagi terasa sepi. Karena malam itu, rumah akhirnya datang menjemput penghuninya.

...

Kevin duduk di sofa, sementara Rio, Adit, dan Miko memilih duduk di atas karpet ruang tamu. Mia masih tersambung melalui panggilan video dan sesekali menyandarkan dagunya di atas meja, memperhatikan mereka semua dari layar ponsel.

Saras baru saja meletakkan lima cangkir teh hangat di atas meja.

"Aku cuma punya teh..."

ucapnya pelan.

Rio tersenyum.

"Kalau ada Indomie, Kevin bisa buka cabang di sini."

Semua tertawa kecil. Bahkan Saras ikut tersenyum. Sudah lama sekali ia tidak mendengar tawa seperti itu. Tawa yang sederhana. Tawa yang tidak memaksanya menjadi siapa-siapa.

Beberapa menit berlalu. Tak ada yang terburu-buru membuka pembicaraan. Kevin sengaja memberi ruang. Ia tahu, Yana membutuhkan waktu. Hingga akhirnya, Saras sendiri yang memecah keheningan.

"Aku..."

"Aku minta maaf."

Semua spontan mengangkat kepala.

"Aku udah bikin kalian khawatir."

"Aku juga..."

"...ninggalin server tanpa bilang apa-apa."

"Di kantor juga..."

"...aku kabur."

Suaranya mulai bergetar.

"Aku egois."

Kevin menggeleng pelan.

"Bukan."

Saras menatap Kevin.

"Kamu cuma capek."

Satu kalimat itu, membuat pertahanan Saras runtuh lagi.

"Aku capek, Jay..."

Suaranya berubah menjadi isak.

"Capek banget..."

"Aku udah nyiapin semuanya..."

"Berbulan-bulan."

"Bahkan bertahun-tahun."

"Aku pikir..."

"...aku bakal berani."

"Tapi pas lihat Bas..."

"...duduk sama Selena..."

"...aku langsung takut."

Ia menutup wajahnya.

"Aku takut ternyata..."

"...selama ini cuma aku yang belum bisa move on."

Ruangan kembali sunyi. Tak seorang pun memotong. Tak seorang pun menyela. Yana melanjutkan dengan suara lirih.

"Aku pulang ke apartemen hari itu..."

"...terus nangis."

"Nangis sampai pagi."

"Aku mikir..."

"'Ya udah.'"

"'Mungkin emang udah selesai.'"

"'Mungkin aku emang telat.'"

Air matanya kembali jatuh.

"Aku bahkan sempat pengin keluar dari Republik Maya."

"Aku pengin berhenti jadi Nara."

"Aku pengin berhenti jadi Saras."

"Aku pengin berhenti berharap."

Kevin menarik napas panjang.

"Yan."

Yana mengangkat wajahnya.

"Kenapa waktu itu gak tanya dulu ke Bas?"

Yana tersenyum pahit.

"Aku takut."

"Takut apa?"

"Takut jawabannya sesuai sama yang aku lihat."

Kevin mengangguk pelan. Ia memahami. Kadang yang paling menakutkan bukanlah kenyataan. Melainkan dugaan yang dibiarkan tumbuh sendirian.

Kevin lalu meletakkan cangkir tehnya.

"Kalau gitu..."

"Sekarang gantian aku cerita."

Semua langsung memperhatikan.

"Setelah kamu pergi dari kafe..."

"Bas masih nunggu."

Yana membeku. Kevin melanjutkan.

"Satu jam."

"Dua jam."

"Sampai kafenya tutup."

Yana menggigit bibirnya.

"Dia tetap duduk."

"Dia kira..."

"...kamu beneran ada urusan keluarga."

Yana memejamkan mata.

"Tapi..."

"...besoknya kamu hilang."

"Dari kantor."

"Dari Discord."

"Dari WhatsApp."

Kevin tersenyum getir.

"Kamu tahu gak..."

"...dia nyariin kamu."

Yana perlahan mengangkat kepala.

"Setiap hari."

"Dia nanya HR."

"Dia chat kamu."

"Dia buka Discord tiap malam."

"Dia nunggu nama Nara nyala."

"Dia bahkan datang ke warung hampir tiap malam..."

"...cuma buat nanya..."

"'Vin...'"

"'Saras kenapa ya?'"

"'Nara juga kenapa?'"

Suara Kevin mulai melembut.

"Awalnya..."

"...dia kira cuma kebetulan."

"Tapi lama-lama..."

"...dia mulai sadar."

Yana menatap Kevin tanpa berkedip.

"Sadar apa?"

Kevin tersenyum kecil.

"Kalau Saras..."

"...dan Nara..."

"...adalah orang yang sama."

Air mata Yana kembali mengalir.

"Dia..."

"...udah tahu?"

Kevin mengangguk.

"Iya."

"Dia sendiri yang menyimpulkannya."

"Dari semua kebiasaan."

"Dari semua percakapan."

"Dari semua petunjuk."

Rio ikut menambahkan.

"Dia bahkan datang ke warung."

"Semangat banget."

"Bilang..."

"'Jay...'"

"'Aku rasa aku tahu sesuatu.'"

Yana menutup mulutnya.

"Dia bilang..."

"'Nara itu Saras ya?'"

Ruangan kembali sunyi.

Kevin tersenyum.

"Aku bangga sama dia."

"Karena akhirnya..."

"...Bas mulai benar-benar memperhatikan seseorang."

Yana mengusap air matanya.

"Lalu..."

"...dia udah tahu kalau aku..."

Kevin perlahan menggeleng.

"Belum."

"Yang dia tahu..."

"...Nara adalah Saras."

"Bukan..."

"...Yana."

Yana kembali terdiam. Hatinya bercampur aduk. Antara lega. Dan takut. Kevin memandangnya dengan lembut.

"Yan."

"Ada satu hal yang belum pernah aku kasih tahu ke kamu."

"Apa?"

"Bas gak pernah berhenti nyari Yana."

Yana mengernyit.

"Tapi..."

"...dia gak tahu harus nyari ke mana."

Kevin menarik napas pelan.

"Selama ini dia cuma menganggap..."

"...Yana udah bahagia di tempat lain."

"Itu sebabnya dia gak pernah berusaha mengusik hidupmu."

"Bukan karena lupa."

"Bukan karena gak peduli."

"Tapi karena..."

"...dia menghormati janji masa kecilnya."

Yana meneteskan air mata lagi.

"Janji..."

Kevin mengangguk.

"'Kalau nanti kita kepisah...'"

"'Kita harus sama-sama bahagia.'"

Yana tersenyum di sela tangisnya. Ia masih mengingat janji itu. Bahkan kata demi katanya.

Kevin kemudian berdiri. Ia berjalan menuju balkon apartemen. Memandang lampu-lampu kota yang berkilauan di kejauhan.

"Yan."

"Udah cukup."

Yana ikut berdiri. Kevin membalikkan badan. Seluruh anggota Republik Maya memandang mereka bergantian.

"Selama bertahun-tahun..."

"...kamu terus nyari jalan pulang."

"Dan selama bertahun-tahun juga..."

"...Bas terus nunggu seseorang yang dia pikir gak bakal balik."

Kevin tersenyum hangat.

"Tapi sekarang..."

"...kalian sama-sama udah berhenti lari."

Ia melangkah mendekati Yana. Lalu menepuk pelan bahunya.

"Besok..."

"...giliran Bas yang datang."

Yana menatap Kevin. Matanya masih merah. Namun untuk pertama kalinya, tidak ada lagi keraguan di sana. Ia menarik napas panjang. Lalu mengangguk.

"Iya."

"Besok..."

"...aku gak akan lari lagi."

Di luar balkon, hujan yang sejak sore mengguyur Jakarta akhirnya berhenti. Awan mulai menyingkir. Menyisakan langit malam yang perlahan memperlihatkan beberapa bintang. Seolah langit pun tahu, bahwa perjalanan panjang dua anak kecil yang pernah saling kehilangan, akhirnya tinggal menyisakan satu langkah terakhir. 

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Narayana Sarasvati tersenyum. Bukan sebagai Nara. Bukan sebagai Saras. Melainkan sebagai dirinya sendiri.

Comments

Popular posts from this blog

Republik Maya: Prologue

Prologue Di sebuah tempat bernama Republik Maya, orang-orang hidup berdampingan tanpa pernah benar-benar saling mengenal. Mereka berbicara setiap hari, tertawa di ruang obrolan yang sama, saling mengirim meme, musik, game dan cerita tentang hidup. Namun, di balik semua itu, ada satu aturan yang tak pernah tertulis, "Jangan bawa perasaan di grup" Raka tahu aturan itu. Semua orang tahu. Lalu datanglah Nara. Awalnya biasa saja. Ia hanya anggota baru yang sering muncul di kanal musik setiap malam. Suaranya tenang, dan caranya mendengarkan membuat siapa pun merasa dihargai. Mereka semua mulai sering berbincang. Tentang film, musik, konspirasi, sampai mimpi-mimpi yang bahkan belum berani mereka ceritakan kepada dunia nyata. Tanpa sadar, Raka mulai menunggu notifikasi yang hanya berasal dari satu nama. Kalimat itu berkali-kali muncul di kepalanya. Ia ingin mengatakannya. Sangat ingin. Namun setiap kali jari-jarinya menyentuh keyboard, kata-kata itu menghilang begitu saja. "Hi.....

After Kawi's story

Kali ini aku ingin menceritakan tentang pengalaman mengerikan yang kualami setelah perjalanan kami ke Gunung Kawi beberapa tahun lalu. Demi menjaga privasi dan kerahasiaan beberapa orang yang terlibat, aku akan menggunakan nama, tempat dan latar waktu samaran dalam cerita ini. Bukan karena ingin terlihat misterius, tapi karena ada hal-hal yang tidak bisa aku ceritakan secara terbuka. Aku hanya berharap, lewat cerita ini, kalian bisa mengambil pelajaran dan lebih berhati-hati kalau suatu hari nanti memutuskan untuk datang ke tempat yang sama. 2020, Desember - Libur Natal Pada waktu itu aku masih menjadi karyawan baru di sebuah kantor di Malang, Jawa Timur. Setiap akhir tahun, tepatnya di bulan Desember — bulan yang juga bertepatan dengan perayaan Natal bagi umat Kristiani — kantor biasanya memberikan libur selama lima hari sampai awal tahun 2021. Di kantor saat itu aku sudah punya beberapa teman di lingkungan kerja, salah satunya adalah Mas Deden. Dia merupakan karyawan senior yang su...

Spion Kanan

Hari demi hari berjalan, entah itu kemarin, hari ini, atau besok, kamu selalu sama. Dan tahukah kamu? Itu adalah bagian favoritku. Aku suka setiap kita berboncengan, mengendarai motor bersama, dan merayakan setiap kilometer yang terlewat di jalanan.  Aku bahkan tahu persis apa yang akan kamu lakukan selanjutnya. Memiringkan spion kanan ke arahku, lalu berbisik, 'Cantiknya'. Kamu membiarkan angin membawa kata-kata itu bersamamu, disertai senyum dan tatapan mata yang meneduhkan. Spion kananmu menangkap segalanya: saat-saat aku menangis, tertawa, cemberut, marah, sampai mengomel. Tapi kamu hanya tersenyum manis melihat pantulanku di sana. Saat-saat itu, aku selalu berpikir kita akan terus seperti ini selamanya. Setiap obrolan dan canda tawa yang kita bagi di atas motor, rasanya seperti perjalanan pulang dengan cerita yang tak pernah usai.  Aku tidak pernah berpikir bahwa suatu hari, spion kanan itu tak lagi menangkap wajahku. Karena aku sungguh percaya, kita akan terus melewati s...