Skip to main content

Republik Maya: Bab 30

Republik Maya

Suara mesin motor Raka perlahan menghilang ditelan malam.

Kevin masih berdiri di depan warungnya. Tatapannya kosong mengikuti jalan yang baru saja dilalui sahabatnya.

Angin malam berembus pelan, menggoyangkan spanduk kecil bertuliskan "Indomie Rebus & Goreng" yang tergantung di depan warung.

Ia mengembuskan napas panjang.

"...Dasar keras kepala."

gumamnya pelan.

Tangannya meraih kursi plastik yang tadi sempat diduduki Raka. Ia menariknya kembali ke dalam warung, lalu duduk sendirian.

Warung itu kembali sunyi. Biasanya, setelah jam satu malam, Kevin akan langsung menutup semua lampu dan pulang. Namun malam itu berbeda. Ia justru menatap layar ponselnya cukup lama. Jempolnya menggantung di atas ikon Discord. Seakan sedang mempertimbangkan sesuatu.

Selama bertahun-tahun, ia selalu berusaha agar Republik Maya berjalan alami. Tidak pernah memaksa. Tidak pernah mengatur. Tidak pernah ikut campur terlalu jauh.

Karena ia percaya, hubungan yang tumbuh secara perlahan akan jauh lebih kuat daripada hubungan yang dipaksa.

Namun malam ini, semuanya berubah.

Kevin membuka Discord. Masuk ke server Republik Maya. Pandangannya berhenti pada sebuah tombol yang hampir tidak pernah ia gunakan.

@everyone

Ia menarik napas panjang.

Lalu mulai mengetik.

"@everyone"

"Besok malam."

"Jam delapan."

"Masuk Voice Channel semua."

"Penting."

Jarinya berhenti beberapa detik di atas tombol Enter. Setelah memastikan tidak ada yang perlu diubah, ia menekan tombol itu.

Pesan terkirim.

Beberapa detik kemudian, notifikasi mulai bermunculan.

Rio,

"Lah?"

"Ada apa, Bang?"

Mia,

"Serius amat pakai @everyone."

"Aku jadi takut."

Adit,

"WADUH."

"Server mau dibubarin ya?"

Miko,

"Oke."

"Aku usahain hadir."

Kevin hanya membaca semuanya. Tidak membalas satu pun. Ia menutup Discord. Lalu mematikan layar ponselnya.

"Besok..."

"...udah gak ada lagi yang boleh ditutup-tutupin."

...

Keesokan harinya, warung Indomie kembali ramai seperti biasa. Mahasiswa datang silih berganti. Beberapa pelanggan tetap mampir hanya untuk minum kopi. Kevin melayani semuanya seperti biasa. Tak ada satu pun yang tahu, bahwa pikirannya sejak pagi terus dipenuhi satu pertanyaan.

"Apa aku udah ngambil keputusan yang benar?"

Sesekali ia melirik jam dinding. Waktu terasa berjalan jauh lebih lambat. Hingga akhirnya jarum jam menunjukkan pukul delapan malam.

Kevin langsung menutup warung lebih cepat dari biasanya. Lampu bagian depan dimatikan. Pintu digeser setengah. Di atas meja kasir, laptop tua miliknya sudah menyala.

Logo Discord memenuhi layar. Ia memasang headset. Masuk ke Voice Channel Republik Maya. Suasana masih sepi. Hanya terdengar suara kipas angin kecil di warung. Tidak lama kemudian...

Rio has joined the voice channel.

"Bang?"

"Kok sepi?"

Kevin tersenyum tipis.

"Yang lain bentar lagi."

Belum sempat Rio bertanya lagi...

suara notifikasi kembali terdengar.

Miko has joined the voice channel.

"Malam semuanya."

Disusul beberapa detik kemudian.

Adit has joined the voice channel.

"WOI!"

"Ada apa nih?"

"Perasaan baru kemarin kita kumpul."

Rio langsung menyahut.

"Lu mah seneng aja kalau disuruh nongkrong."

"Hehehe..."

"Ya siapa tahu Kevin traktir."

Kevin terkekeh pelan.

"Kebanyakan ngarep."

Tawa kecil mulai terdengar. Suasana perlahan mencair. Tak lama kemudian, layar laptop Kevin menampilkan satu notifikasi lagi.

Mia has joined the voice channel.

Namun kali ini, kamera Mia juga menyala.

Terlihat ia sedang duduk di kamarnya, masih mengenakan hoodie abu-abu sambil memegang gelas cokelat hangat.

"Maaf ya."

"Aku gak bisa keluar."

"Ada kerjaan."

Kevin mengangguk.

"Gak apa-apa."

"Yang penting hadir."

Mia mengangguk pelan.

"Raka mana?"

Rio ikut melihat daftar anggota.

"Iya ya..."

"Raka belum masuk?"

Kevin melirik daftar anggota. Nama Raka memang belum menyala. Ia menggeleng pelan.

"Memang gak gue undang."

Seketika, voice channel menjadi sunyi. Adit yang biasanya paling banyak bicara pun mendadak diam. Rio mengernyitkan dahi.

"Maksudnya?"

Kevin melepas headsetnya sebentar. Mengusap wajah. Kemudian memakainya kembali. Suara napasnya terdengar cukup jelas melalui mikrofon.

"Teman-teman..."

"Gue minta maaf."

Semua saling berpandangan. Mia bahkan menurunkan gelasnya. Kevin melanjutkan.

"Selama ini..."

"...gue nyimpen satu rahasia."

"...sendirian."

Rio perlahan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Miko membuka buku catatan kecil yang selalu ia siapkan ketika berdiskusi. Adit tidak lagi bercanda. Entah kenapa nada bicara Kevin malam itu terdengar sangat berbeda.

Jauh lebih berat.

Jauh lebih pelan.

Seolah setiap kalimat yang akan keluar dari mulutnya telah ia simpan bertahun-tahun lamanya. Kevin memejamkan mata sejenak. Lalu berkata pelan.

"Gue udah gak bisa diem lagi."

Hening. Suara kipas laptop terdengar samar. Beberapa detik berlalu tanpa ada yang menyela. Kevin membuka matanya.

"Tiga belas tahun yang lalu..."

"...ada tiga anak kecil."

"Yang hampir setiap sore main di bawah pohon mangga."

Rio mengernyit. Mia mulai fokus. Adit menghentikan kebiasaannya memutar-mutar pulpen. Kevin melanjutkan.

"Namanya..."

"...Basara."

"...Sanjay."

"...dan Yana."

Nama terakhir membuat suasana berubah. Kevin mulai menceritakan semuanya. Tentang Basara yang kehilangan ayahnya. Tentang Yana yang harus pergi tanpa sempat berpamitan. Tentang dirinya yang menjadi satu-satunya saksi bagaimana dua sahabatnya perlahan tumbuh dengan luka masing-masing.

Ia bercerita bagaimana bertahun-tahun kemudian Yana menghubunginya kembali. Bagaimana perempuan itu menangis di balik telepon sambil meminta maaf. Bagaimana ia berkali-kali berkata,

"Jay..."

"Aku cuma pengin minta maaf ke Bas."

"Aku gak pernah ninggalin kalian karena mau."

Kevin juga menceritakan bagaimana ide membuat Republik Maya muncul. Bukan sekadar server Discord. Tetapi sebuah jembatan. Tempat yang ia harapkan bisa mempertemukan kembali dua sahabatnya, tanpa memaksa mereka membuka luka lama.

Tak ada satu pun yang memotong cerita Kevin. Semua hanya mendengarkan. Sampai akhirnya Kevin mengakhiri ceritanya dengan satu kalimat.

"...dan perempuan yang selama ini kalian kenal sebagai Nara..."

"...adalah Yana."

Sunyi. Benar-benar sunyi.

Bahkan Adit yang biasanya paling berisik pun tidak mengeluarkan suara. Rio menundukkan kepala. Tangannya perlahan mengepal di atas meja. Beberapa detik kemudian ia mengangkat wajahnya.

Dengan nada pelan, namun penuh ketidakpercayaan.

"...Berarti..."

"...Nara itu selama ini..."

Kevin menatap layar monitornya. Lalu mengangguk pelan.

"Iya."

Mia spontan menutup mulutnya. Matanya mulai berkaca-kaca. Miko menatap kosong buku catatannya yang sejak tadi terbuka. Sementara Adit hanya bisa bersandar di kursinya.

"Astaga..."

gumamnya lirih.

Tak seorang pun menyangka... bahwa selama ini mereka bukan hanya sedang bermain di sebuah server Discord.

Mereka tanpa sadar sedang menjadi bagian dari perjalanan panjang tiga sahabat yang berusaha menemukan jalan pulang.

...

Voice Channel masih dipenuhi keheningan. Tidak ada yang langsung berbicara. Cerita Kevin seolah membuat seluruh ruangan membeku. Masing-masing mencoba mencerna kenyataan yang baru saja mereka dengar.

Bahwa selama ini mereka bukan sekadar bermain game bersama. Bukan sekadar begadang di Discord. Bukan sekadar bercanda setiap malam.

Mereka sedang menjadi bagian dari sebuah cerita yang bahkan telah dimulai jauh sebelum Republik Maya dibuat.

Adit menjadi orang pertama yang memecahkan keheningan.

"...Gila."

Hanya satu kata. Namun terdengar begitu pelan. Biasanya Adit selalu berbicara dengan suara lantang. Kali ini berbeda. Rio mengusap wajahnya perlahan.

"Tiga belas tahun..."

gumamnya.

"Berarti selama ini..."

"...Raka sama Nara..."

Kevin mengangguk pelan.

"Mereka sama-sama nyari."

"Cuma..."

"...gak pernah sadar."

Mia yang sejak tadi hanya diam akhirnya bertanya.

"Kevin..."

"Yana sekarang tahu kalau Raka udah tahu identitas Nara?"

Kevin menggeleng.

"Belum."

"Terakhir mereka ketemu..."

"...justru di hari yang salah."

Mia langsung memahami maksudnya. Ia pernah mendengar sedikit cerita tentang kejadian di kafe. Tentang kesalahpahaman itu. Perempuan itu menghela napas panjang.

"Kasihan banget..."

Miko yang sedari tadi mencatat sesuatu akhirnya berbicara.

"Berarti..."

"...sekarang masalahnya bukan lagi identitas."

Kevin mengangguk.

"Iya."

"Mereka cuma kehilangan waktu."

Kalimat itu membuat semua kembali diam. Beberapa detik berlalu. Sampai akhirnya Rio menepuk meja cukup keras.

"Yaudah."

Semua menoleh. Rio bersandar sambil melipat kedua tangannya.

"Kita cari."

Kevin menatapnya. Rio melanjutkan.

"Kevin udah nyoba."

"Gagal."

"Sekarang..."

"...giliran kita."

Belum sempat Kevin menjawab, Adit langsung mengangkat tangan tinggi-tinggi.

"Gas!"

"Gue ikut."

Rio tertawa kecil.

"Lu mah kalau diajak nyari Indomie juga ikut."

"Hehehe."

"Yang penting nyari."

Suasana mulai sedikit mencair. Miko ikut menutup buku catatannya.

"Tapi..."

"...kita mau mulai dari mana?"

Semua kembali saling berpandangan. Pertanyaan itu memang yang paling sulit. Karena mereka sadar... yang mereka cari bukan orang asing. Melainkan seseorang yang memang sengaja ingin menghilang. 

Kevin berdiri dari kursinya. Ia mengambil spidol hitam yang biasa dipakai menulis menu warung. Kemudian menarik papan tulis kecil dari sudut ruangan. Papan itu biasanya dipakai menulis promo Indomie.

Malam itu isinya berbeda. Dengan huruf besar-besar Kevin menulis satu nama.

Yana.

Semua memperhatikan. Di bawah nama itu, Kevin mulai membuat daftar.

Alamat lama, Kantor, Apartemen, Discord, WhatsApp

Kevin meletakkan spidolnya.

"Lima jalur."

"Semuanya buntu."

Rio bangkit dari kursinya. Mendekat ke papan.

"Lengkap juga ya buntunya."

Adit ikut berdiri.

"Nambah satu lagi."

Kevin mengernyit.

"Apa?"

"Hati."

Semua menoleh ke arah Adit. Adit mengangkat bahu.

"Hatinya juga lagi nutup."

Beberapa detik, tak ada yang berbicara. Lalu Mia tersenyum tipis.

"Kalau dipikir-pikir..."

"...bener juga."

Kevin kembali menatap papan itu.

"Makanya..."

"...kita gak bisa nyari dia kayak nyari orang hilang biasa."

Rio mengangguk.

"Dia gak kabur."

"Dia cuma lagi sembunyi."

"Dan orang yang lagi sembunyi..."

"...biasanya gak pengin ditemukan."

Miko menyela.

"Berarti..."

"...kita jangan mikir kayak polisi."

Rio menoleh.

"Lalu?"

Miko menatap papan tulis itu beberapa saat.

"Kita mikir kayak temannya."

Kalimat sederhana itu langsung membuat semua terdiam. Kevin tersenyum.

"Nah."

"Itu yang gue tunggu."

Miko melanjutkan.

"Kalau gue jadi Yana..."

"...gue pasti ninggalin jejak."

"Bukan sengaja."

"Tapi..."

"...setiap orang selalu ninggalin kebiasaan."

Rio mengangguk pelan. Mia ikut menyambung.

"Jejak digital."

Adit mengangkat jari telunjuk.

"Foto."

Kevin tersenyum semakin lebar.

"Obrolan."

Rio menepuk meja.

"Relasi."

Miko menutup buku catatannya.

"Berarti..."

"...mulai sekarang."

"...kita gak nyari orang."

"...kita nyari jejak."

Kalimat itu langsung mengubah suasana. Tiba-tiba semua memiliki arah yang sama. Kevin kembali mengambil spidol. Lalu menggambar garis besar di bawah tulisan Yana.

Ia membaginya menjadi lima cabang.

Yana. Relasi, Media Sosial, Discord, Foto, Kenangan.

Rio melihat papan itu sambil tersenyum.

"Anjir."

"Serasa lagi bikin tim investigasi."

Adit terkekeh.

"Republik Maya Detective Agency."

Mia tertawa kecil.

"Mending bikin seragam sekalian."

Kevin ikut tersenyum. Namun senyumnya kali ini berbeda. Lebih hangat. Lebih lega. Untuk pertama kalinya sejak membuat Republik Maya, ia tidak lagi merasa memikul semuanya sendirian. Ia melihat satu per satu wajah teman-temannya.

Rio. Yang selalu tenang.

Mia. Yang peka terhadap perasaan orang lain.

Miko. Yang hampir tidak pernah melewatkan detail kecil.

Adit. Yang mungkin terlihat paling berisik, tetapi selalu hadir ketika seseorang membutuhkan teman.

Kevin menarik napas panjang. Lalu berkata pelan.

"Teman-teman..."

"Makasih."

Rio langsung mengernyit.

"Lah."

"Belum ketemu kok udah makasih."

Kevin tersenyum kecil.

"Bukan."

"Gue cuma baru sadar."

"Apa?"

Kevin memandang logo Republik Maya yang terpampang di layar Discord.

"Tiga belas tahun lalu..."

"...gue kehilangan dua sahabat."

"Dan malam ini..."

"...gue sadar."

"...ternyata gue dapat lima sahabat baru."

Tak ada yang langsung menjawab. Namun senyum mulai muncul di wajah mereka masing-masing. Tak perlu kata-kata panjang. Mereka semua tahu. Mulai malam ini, misi itu bukan lagi milik Kevin. Bukan milik Raka. Bukan pula milik Yana.

Melainkan, milik seluruh Republik Maya.

Kevin menatap papan investigasi sekali lagi. Lalu berkata mantap.

"Besok pagi."

"Kita mulai."

"Operasi..."

Ia berhenti sejenak. Kemudian tersenyum.

"...mencari rumah."

Tak ada yang tertawa. Karena untuk pertama kalinya, mereka semua mengerti, rumah yang dimaksud Kevin bukanlah sebuah alamat.

Melainkan, seseorang yang sedang menunggu untuk dipulangkan.

...

Keesokan harinya, grup Discord Republik Maya mendadak jauh lebih ramai dari biasanya. Bukan karena ada yang sedang bermain gim. Bukan pula karena Adit mengirim meme receh seperti biasanya.

Melainkan karena sejak pagi, semua orang benar-benar menjalankan tugasnya masing-masing. Tidak ada yang menyuruh. Tidak ada yang memimpin. Namun semua bergerak dengan sendirinya. Seolah mereka telah memahami satu hal.

Hari ini, mereka sedang mencari rumah bagi seorang teman.

...

Rio menjadi orang pertama yang memberikan kabar. Sebuah pesan muncul di kanal khusus yang semalam mereka buat.

"Gue lagi coba hubungi kenalan HR."

Kevin langsung membalas.

"Hati-hati."

"Jangan sampai bikin orang lain ikut repot."

Beberapa menit kemudian. Rio mengirim pesan lagi.

"Udah dapat sedikit."

Semua langsung masuk ke voice.

"Bagaimana?" tanya Kevin.

Rio menghela napas pelan.

"Gue dapat konfirmasi kalau Saras memang cuti."

"Berapa lama?"

"Satu bulan."

Adit bersiul pelan.

"Lama juga..."

Rio mengangguk.

"Tapi..."

"...HR gak boleh kasih alamat."

"Gue udah coba muter-muter pertanyaannya."

"Tetep gak bisa."

Miko langsung menyahut.

"Wajar."

"Itu data pribadi."

Rio tersenyum tipis.

"Iya."

"Kalau mereka kasih juga..."

"...malah bahaya."

Kevin mengangguk pelan.

"Tidak apa-apa."

"Setidaknya sekarang kita tahu..."

"...dia memang sengaja menjauh."

Rio mengembuskan napas.

"Satu jalur..."

"...buntu."

...

Tidak lama kemudian, giliran Mia yang berbicara.

"Aku juga dapat sedikit."

Semua langsung memperhatikan. Mia memutar layar monitornya ke arah kamera. Terlihat beberapa akun media sosial terbuka. Instagram. Threads. Pinterest. Bahkan Flickr.

"Aku gak stalking ya..."

"Aku cuma lihat akun publik."

Adit terkekeh.

"Sama aja."

"Ih diem."

Semua tertawa kecil. Mia kembali fokus.

"Saras emang jarang upload."

"Hampir gak pernah."

"Tapi..."

"...aku nemu satu foto."

Ia memperbesar layar. Foto itu memperlihatkan langit senja. Pesawat kecil terlihat melintas di kejauhan. Tidak ada wajah. Tidak ada lokasi. Hanya langit. Di bawahnya, tertulis satu caption pendek. Home.

Voice channel kembali sunyi. Rio mengernyit.

"Rumah?"

Mia mengangguk.

"Iya."

"Cuma itu."

Adit menggaruk kepala.

"Rumah yang mana?"

Mia menggeleng.

"Gak tahu."

"Tapi menurutku..."

"...ini bukan upload asal."

Kevin memperhatikan foto itu cukup lama. Namun tetap tidak menemukan apa pun.

"Catat dulu."

"Siapa tahu nanti nyambung."

...

Kini giliran Miko. Ia tidak langsung berbicara. Tangannya masih sibuk membuka arsip Discord. Chat demi chat. Voice demi voice. Link demi link. Semua ia baca. Hingga akhirnya ia berhenti.

"Tunggu."

Semua langsung menoleh.

"Ada apa?"

Miko memperbesar salah satu percakapan lama.

"Nara pernah bilang..."

Ia membaca perlahan.

'Aku suka lihat pesawat dari jauh.'

Rio spontan menjawab.

"Bandara?"

Miko menggeleng.

"Belum tentu."

"Bisa apartemen."

"Bisa rooftop."

"Bisa bukit."

"Bisa mana saja."

Adit mulai mengernyit.

"Petunjuknya dikit amat."

Miko tetap tenang.

"Justru karena sedikit..."

"...berarti penting."

Kevin mengangguk pelan.

"Tulis."

Miko menambahkan satu poin baru di papan investigasi. Suka melihat pesawat.

Namun semuanya masih terasa menggantung. Belum ada satu pun petunjuk yang benar-benar mengarah ke suatu tempat.

...

Hampir satu jam berlalu. Semua mulai kehabisan ide. Voice channel kembali sunyi. Sampai tiba-tiba terdengar suara Adit.

"...Eh."

"Nih."

"Tunggu."

Semua menoleh. Adit sedang membuka galeri ponselnya.

"Aku lagi lihat foto camping."

Rio langsung bercanda.

"Lah."

"Lu malah nostalgia."

"Bukan."

"Coba lihat."

Adit memperbesar salah satu foto. Foto ketika mereka hendak berangkat menuju air terjun. Saras sedang duduk di kursi pengemudi. Raka berdiri di samping mobil. Kevin berada di belakang.

"Apa?"

tanya Mia.

Adit kembali melakukan zoom.

"Sebentar..."

"Sebentar..."

Zoom lagi. Zoom lagi.

Sampai gambarnya mulai pecah.

"Lihat dashboard mobil."

Kevin mendekat ke layar.

"Hmm?"

Rio ikut memperhatikan. Di pojok kanan dashboard, tertempel sebuah stiker kecil. Sangat kecil. Kalau tidak diperbesar, mustahil terlihat.

Miko menyipitkan mata.

"Itu..."

"...logo apartemen?"

Rio langsung berdiri dari kursinya.

"Bangsat."

Semua kaget mendengar Rio tiba-tiba berseru. Rio menunjuk layar.

"Gue pernah lihat logo itu."

"Di mana?"

Rio berpikir beberapa detik.

"Lupa."

"Tapi..."

"...gue yakin banget."

"Itu apartemen."

Adit langsung menyeringai lebar.

"Nah lo."

"Ketemu juga."

Miko masih menatap foto itu.

"Zoom sedikit lagi."

Adit kembali memperbesar gambar. Kali ini di bawah logo terlihat samar sebuah nomor. Tidak sepenuhnya jelas. Namun cukup untuk dibaca. B2-17.

Rio menarik napas.

"Itu..."

"...nomor parkir."

Kevin yang sejak tadi diam perlahan tersenyum. Untuk pertama kalinya, mereka mendapatkan sesuatu yang benar-benar nyata.

Bukan dugaan. Bukan firasat. Melainkan petunjuk. Kevin langsung mengambil spidol.

Di papan investigasi, ia mencoret tulisan besar bertuliskan foto (silang). Lalu menggantinya menjadi foto (centang) Di bawahnya ia menulis perlahan.

Logo Apartemen

Nomor Parkir B2-17

Semua saling berpandangan. Rasa lelah yang sejak tadi menyelimuti mereka, perlahan berubah menjadi semangat. Rio mengepalkan tangan.

"Oke."

"Kalau ini memang apartemen..."

"...berarti sekarang kita tinggal cari apartemennya."

Kevin mengangguk mantap.

"Dan kalau kita berhasil menemukan apartemennya..."

"...kemungkinan besar..."

"...kita juga akan menemukan Yana."

Tak ada lagi yang bercanda. Tak ada lagi yang mengeluh. Karena mereka sadar, untuk pertama kalinya sejak operasi ini dimulai, mereka benar-benar memiliki arah.

...

Warung Indomie Kevin malam itu kembali dipenuhi suara diskusi. Di atas meja yang biasanya dipenuhi mangkuk bekas pelanggan, kini hanya ada sebuah laptop tua, papan tulis kecil, beberapa gelas kopi, dan empat ponsel yang terus menyala.

Semua orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Rio berdiri di depan papan tulis. Tangannya menyilang di dada. Tatapannya tidak pernah lepas dari foto dashboard mobil Saras yang terpampang di layar laptop.

Logo apartemen itu memang kecil. Namun semakin lama ia melihatnya...semakin terasa tidak asing. Rio memejamkan mata sejenak. Mencoba mengingat.

"Di mana ya..."

gumamnya pelan.

Kevin menoleh.

"Masih inget?"

Rio mengangguk kecil.

"Inget."

"Cuma..."

"...belum ketemu."

Beberapa detik kemudian, mata Rio tiba-tiba membelalak.

"Anjir."

Semua langsung menoleh.

"Apa?"

Rio langsung menunjuk logo itu.

"Gue pernah nganter temen pindahan."

"Daerah Jakarta Selatan."

"Logo parkirnya mirip begini."

Kevin buru-buru membuka Google Maps.

"Nama apartemennya?"

Rio menggaruk kepala.

"Lupa."

"Yang gue inget..."

"...gedungnya deket jalur pesawat."

Semua spontan saling berpandangan. Miko langsung menyela.

"Tunggu."

Ia membuka kembali catatan Discord.

"Nara pernah bilang..."

"...dia suka lihat pesawat."

Rio langsung menunjuk Miko.

"Nah!"

"Mungkin itu."

Kevin mulai memperbesar peta Jakarta.

"Daerah jalur pesawat..."

"Berarti..."

Mia ikut membuka laptopnya.

"Bentar."

"Aku cari."

Beberapa detik kemudian, layar Mia dipenuhi daftar apartemen.

Satu.

Dua.

Lima.

Sepuluh.

Banyak sekali.

Adit langsung menghela napas panjang.

"Waduh."

"Segini banyak?"

Mia tertawa kecil.

"Jakarta, Dit."

"Bukan kampung kita."

Semua tersenyum tipis. Miko masih belum menyerah. Ia justru memperbesar foto langit yang tadi ditemukan Mia. Foto sederhana itu kini memenuhi layarnya.

"Rio."

"Iya?"

"Waktu nganter teman lu..."

"Posisi mataharinya ke mana?"

Rio mengernyit.

"Hah?"

Miko menunjuk foto.

"Lihat."

"Ini senja."

"Kalau dia motret dari balkon..."

"...berarti arah hadap apartemennya bisa diperkirakan."

Adit langsung tertawa.

"Buset."

"Lu jadi Sherlock."

Miko hanya tersenyum tipis.

"Bukan."

"Fisika SMP."

Semua ikut tertawa. Namun beberapa saat kemudian, Rio mulai mengangguk.

"Iya juga."

Miko melanjutkan.

"Kalau matahari tenggelam di sisi ini..."

"...berarti balkon menghadap barat."

Kevin yang sejak tadi membuka Google Maps mulai memperkecil pencarian.

"Kalau begitu..."

"...apartemen yang menghadap jalur pesawat..."

"...dan punya tower menghadap barat."

Daftar apartemen yang semula puluhan, perlahan menyusut.

Sepuluh.

Lima.

Tiga.

Suasana kembali hening.

Semua menatap layar Kevin. Di sisi lain, Adit belum berhenti mencari. Ia justru membuka sebuah forum komunitas penghuni apartemen. Rio menatap heran.

"Ngapain lu?"

Adit tersenyum usil.

"Forum penghuni biasanya suka upload foto parkiran."

"Lah?"

"Serius."

"Nih lihat."

Benar saja. Di salah satu unggahan lama, terlihat foto area parkir bawah tanah. Rio langsung mendekat.

"Tunggu."

Zoom. Zoom lagi. Di sudut foto, terlihat stiker parkir yang sama persis. Logo. Warna. Bentuk. Semuanya identik.

Kevin spontan berdiri.

"Nemu!"

Mia membandingkan dengan foto dashboard Saras.

"Hampir sama."

"Bukan hampir."

Rio menggeleng mantap.

"Sama."

Miko masih memperhatikan nomor parkir.

"B2-17..."

"...berarti slot kendaraan penghuni."

Kevin langsung menuliskan nama apartemen itu di papan investigasi. Huruf-huruf besar memenuhi bagian tengah papan. Semua memandang tulisan itu beberapa saat. Tidak ada yang berbicara. Karena mereka tahu, mereka akhirnya memiliki tujuan.

Namun Miko masih belum puas. Ia menatap Kevin.

"Probabilitas?"

Rio tertawa kecil.

"Dasar."

Miko tetap serius.

"Kita jangan gegabah."

Rio menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Oke."

"Menurut gue..."

"...delapan puluh persen."

Kevin menoleh ke arah Miko.

"Kalau menurutmu?"

Miko berpikir cukup lama. Lalu mengangguk.

"Kurang lebih."

"Delapan puluh."

"Dua puluh sisanya?"

tanya Mia.

"Bisa saja kebetulan."

"Bisa saja mobil pinjaman."

"Bisa saja foto lama."

Adit langsung mengangkat tangan.

"Gue setuju."

"Kalau salah?"

Rio tersenyum.

"Ya pulang."

"Kalau benar?"

Kevin menatap satu per satu wajah mereka.

"Kalau benar..."

"...kita pulang bawa satu orang."

Warung kembali sunyi. Kalimat itu menggantung cukup lama. Tak ada yang tersenyum. Tak ada yang bercanda. Karena untuk pertama kalinya, mereka benar-benar merasa bahwa perjalanan ini bukan lagi sekadar mencari teman yang menghilang.

Mereka sedang berusaha membawa seseorang kembali ke rumahnya. Kevin mengambil spidol. Di bawah nama apartemen itu ia menuliskan satu kata besar. Tujuan.

Kemudian ia menutup spidol itu perlahan.

"Cukup."

Rio mengangguk.

"Cukup."

Mia mematikan layar laptopnya.

"Besok?"

Kevin menggeleng.

"Bukan."

Ia melihat jam dinding. Jarum jam sudah melewati pukul sembilan malam.

"Kalau dia memang ada di sana..."

"...gue gak mau nunggu besok."

Rio langsung mengambil kunci mobil yang tergeletak di atas meja. Sambil tersenyum tipis, ia berkata,

"Berarti..."

"...kita berangkat sekarang."

Tak ada satu pun yang menolak. Mereka berdiri hampir bersamaan. Masing-masing membawa harapan yang sama.

Semoga malam itu, benar-benar menjadi akhir dari perjalanan panjang seorang anak kecil bernama Yana.

...

Warung Indomie kembali sunyi. Lampu dapur dipadamkan. Kompor dimatikan. Kevin memastikan pintu warung sudah terkunci rapat sebelum memasukkan kunci ke dalam saku celananya.

Ia menoleh ke arah papan investigasi yang masih berdiri di dekat meja kasir. Tulisan Tujuan masih terpampang jelas.

Di bawahnya, seluruh tanda silang yang tadi memenuhi papan perlahan mulai berubah menjadi tanda centang. Masih belum semuanya.

Namun kini mereka memiliki tujuan. Kevin tersenyum kecil.

"Ayo."

Rio sudah lebih dulu berdiri di samping mobil hatchback hitam miliknya. Mobil itu memang bukan mobil baru. Catnya mulai kusam di beberapa bagian. Namun selama bertahun-tahun mobil itulah yang selalu menjadi kendaraan mereka ketika ingin pergi jauh bersama.

Rio membuka pintu pengemudi.

"Kali ini gue yang nyetir."

Adit langsung mengangkat tangan.

"Syukurlah."

"Gue trauma naik mobil Kevin."

Kevin spontan menoleh.

"Trauma apaan?"

"Remnya bunyi."

"Itu bukan rem."

"Terus?"

"Itu lu aja yang lebay."

Semua tertawa. Suasana yang sejak tadi tegang perlahan mencair. Miko duduk di kursi belakang sambil memangku laptopnya. Masih sesekali membuka foto dashboard mobil Saras. Memastikan tidak ada detail yang terlewat.

Kevin duduk di samping Rio. Sementara Adit langsung merebahkan tubuhnya di bangku belakang.

"Kalau sejam lagi belum nyampe..."

"...gue pesen ayam dulu ya."

Rio melirik lewat kaca spion.

"Lu kalau lagi misi begini masih kepikiran makan?"

Adit mengangguk mantap.

"Orang sedih tetap lapar."

"Tetap aja."

"Lapar adalah lapar."

Miko menggeleng pelan.

"Logika yang sulit dibantah."

Tawa kembali pecah. Di layar ponsel yang diletakkan di dashboard, wajah Mia muncul melalui panggilan video.

"Eh!"

"Kalian jangan lupa aktifin GPS."

"Soalnya aku ikut ngawasin dari sini."

Rio memberi hormat bercanda.

"Siap, komandan."

Mia tertawa kecil.

"Kalau nyasar jangan salahin aku."

Mobil perlahan meninggalkan halaman warung. Lampu-lampu kota mulai bergantian melewati jendela. Suasana di dalam mobil kembali tenang. Sesekali hanya terdengar suara navigasi dari ponsel Mia.

"Belok kanan tiga ratus meter."

Rio mengikuti arah itu sambil tetap fokus mengemudi. Beberapa menit berlalu tanpa ada yang berbicara.

Hingga akhirnya, Adit memecah keheningan.

"Eh."

"Iya?"

"Kasihan ya Raka."

Rio mengangguk pelan.

"Iya."

"Bodoh sih."

Kevin tersenyum tipis.

"Raka memang sering telat sadar."

Adit terkekeh.

"Banget."

"Padahal ceweknya udah muter-muter depan dia."

"Masih aja gak ngeh."

Rio ikut tersenyum.

"Makanya."

"Kalau soal kerjaan..."

"...gue percaya sama Raka."

"Kalau soal perasaan..."

"...ampun deh."

Mia yang mendengar dari ponselnya ikut tertawa.

"Parah."

"Dia tuh terlalu mikir."

"Jadinya gak peka."

Kevin menatap jalan di depan. Lalu berkata pelan.

"Raka bukan gak peka."

"Dia cuma..."

"...takut salah."

Semua kembali diam. Kevin melanjutkan.

"Sejak kecil..."

"...dia kehilangan banyak orang."

"Makanya sekarang..."

"...setiap kali ada seseorang datang..."

"...dia selalu hati-hati."

Rio menggenggam setir sedikit lebih erat.

"Iya juga."

Mia ikut mengangguk dari layar.

"Pantes..."

"Dia selalu lebih milih mendengar daripada ngomong."

Adit menghela napas panjang.

"Kasihan juga ya."

Kevin tersenyum tipis.

"Iya."

"Makanya..."

"...Yana gak pernah bisa benci sama dia."

Kalimat itu membuat suasana kembali hening. Semua memandang keluar jendela. Lampu-lampu jalan melintas seperti garis-garis cahaya yang terus bergerak mundur. Tak lama kemudian, Rio kembali bersuara.

"Kalau nanti ketemu..."

"...gimana?"

Kevin menoleh.

"Gimana maksudnya?"

"Kalau Yana nolak ketemu kita?"

Kevin berpikir beberapa saat. Lalu menjawab pelan.

"Kita gak maksa."

"Tugas kita hari ini..."

"...bukan membawa dia pulang."

"Lalu?"

"Mengingatkan."

"Kalau..."

"...dia masih punya rumah."

Tak ada lagi yang berbicara setelah itu. Semua larut dalam pikirannya masing-masing. Mobil terus melaju membelah jalanan malam. Di dashboard, peta digital menunjukkan tujuan mereka semakin dekat. Mia tiba-tiba berseru dari layar ponsel.

"Rio!"

"Apa?"

"Dua kilometer lagi."

Rio mengangguk.

"Siap."

Ia memperlambat laju mobil. Tak lama kemudian dari kejauhan mulai terlihat deretan gedung apartemen yang menjulang tinggi, diterangi cahaya lampu kota. Rio menatap salah satu bangunan di depannya. Lalu berkata lirih,

"Kalau tebakan kita benar..."

"...dia ada di sana."

Kevin mengikuti arah pandang Rio. Matanya tidak berkedip. Perjalanan yang dimulai dari sebuah warung kecil, akhirnya membawa mereka ke tempat yang mungkin menjadi jawaban dari seluruh pencarian mereka.

Mobil perlahan memasuki area pelataran apartemen. Semua spontan terdiam. Tak ada lagi candaan. Tak ada lagi tawa. Yang tersisa hanyalah satu perasaan yang sama.

...

Mobil Rio perlahan memasuki area pelataran apartemen. Jam hampir menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Suasana sudah jauh lebih lengang dibandingkan siang hari. Lampu-lampu taman menyala redup. Beberapa penghuni tampak berjalan santai menuju lobi sambil membawa kantong belanja.

Selebihnya hanya suara mesin pendingin gedung yang terdengar samar. Rio memarkir mobil tidak jauh dari pintu masuk utama. Mesin dimatikan.

Namun tak seorang pun langsung turun. Semuanya memandang bangunan tinggi yang menjulang di hadapan mereka.

Puluhan lantai.

Ratusan jendela.

Ratusan kehidupan.

Dan di antara semua itu, mungkin ada satu orang yang selama beberapa minggu terakhir mereka cari. Kevin menghela napas pelan.

"Siap?"

Rio mengangguk.

"Siap."

Miko menutup laptopnya.

"Semoga."

Adit mengusap kedua telapak tangannya.

"Deg-degan juga ya."

Mia yang masih tersambung melalui panggilan video tersenyum kecil.

"Aku ikut deg-degan dari sini."

Kevin membuka pintu mobil terlebih dahulu.

"Ayo."

Lobi apartemen tampak bersih dan tenang. Lantai marmer memantulkan cahaya lampu yang terang. Beberapa sofa tersusun rapi di sudut ruangan.

Di sisi kanan terdapat meja resepsionis yang dijaga oleh seorang petugas keamanan berusia sekitar lima puluh tahun.

Beliau sedang membaca koran malam sambil sesekali memperhatikan monitor CCTV. Ketika melihat empat orang berjalan mendekat, ia langsung berdiri dengan ramah.

"Selamat malam."

"Malam, Pak," jawab Kevin sopan.

"Ada yang bisa saya bantu?"

Kevin saling berpandangan dengan Rio. Rio memberi isyarat kecil agar Kevin yang berbicara. Kevin tersenyum.

"Begini, Pak."

"Kami mau bertemu salah satu penghuni di sini."

Petugas keamanan mengangguk.

"Silakan."

"Nomor unitnya?"

Keempatnya langsung saling menatap. Hening. Kevin tersenyum kaku.

"Itu..."

"...justru kami belum tahu."

Alis petugas itu sedikit terangkat.

"Kalau begitu..."

"Nama penghuninya siapa?"

Kevin menjawab pelan.

"Saras."

"Lengkapnya..."

"Narayana Sarasvati."

Petugas keamanan mulai membuka komputer kecil di mejanya. Beberapa saat kemudian, ia kembali menatap mereka.

"Maaf."

"Sesuai prosedur..."

"...kami tidak bisa memberikan informasi mengenai penghuni."

Kevin mengangguk cepat.

"Iya Pak."

"Kami paham."

"Kami bukan mau minta data."

"Kami cuma..."

"...ingin memastikan beliau baik-baik saja."

Petugas itu tetap tersenyum sopan.

"Maaf."

"Saya benar-benar tidak bisa membantu."

Rio akhirnya maju selangkah.

"Pak."

"Kami temannya."

Petugas itu tetap mengangguk.

"Saya mengerti."

"Tapi aturan tetap aturan."

Rio mencoba lagi.

"Pak."

"Ini penting."

"Teman kami menghilang."

Petugas itu kembali menjawab dengan nada yang sama.

"Saya percaya."

"Tapi saya juga punya tanggung jawab."

Rio menghela napas panjang. Ia mundur. Tidak ingin memaksa.

Kini Miko mencoba berbicara. Ia mengeluarkan ponselnya. Menunjukkan foto Saras ketika mereka berada di air terjun.

"Pak."

"Ini orangnya."

"Kami benar-benar mengenalnya."

Petugas keamanan memperhatikan foto itu beberapa detik. Lalu mengangguk kecil.

"Kalaupun benar..."

"...saya tetap tidak bisa memberikan nomor unit."

Miko memahami. Ia menyimpan kembali ponselnya.

"Baik, Pak."

Suasana kembali hening. Harapan yang sejak tadi mulai tumbuh, perlahan kembali meredup. Adit menatap lantai. Rio mengusap tengkuknya. Kevin hanya mengembuskan napas pelan.

Mereka tahu, petugas itu tidak salah. Justru ia sedang melakukan pekerjaannya dengan benar.

Beberapa penghuni apartemen mulai berlalu-lalang melewati mereka. Ada yang baru pulang bekerja. Ada pasangan muda yang menggandeng anak kecil. Ada pula seorang kakek yang baru selesai berjalan malam. Empat sahabat itu hanya berdiri di sudut lobi. Tak tahu harus berbuat apa lagi.

...

Beberapa menit berlalu. Tidak ada satu pun yang berbicara.

Sampai akhirnya, Adit melangkah pelan mendekati meja resepsionis. Kevin sempat ingin menahannya. Namun melihat raut wajah Adit, ia mengurungkan niatnya. Adit berdiri tepat di depan petugas keamanan. Tidak ada nada tinggi. Tidak ada desakan. Ia hanya tersenyum kecil.

"Pak..."

Petugas itu kembali menatapnya.

"Iya?"

Adit menarik napas dalam. Lalu berkata pelan.

"Beberapa bulan lalu..."

"...saya juga pernah menghilang."

Petugas itu sedikit mengernyit. Adit tersenyum tipis.

"Dunia rasanya capek, Pak."

"Saya gak mau ketemu siapa-siapa."

"Saya matiin HP."

"Saya ninggalin semuanya."

Kevin menundukkan kepala. Rio ikut terdiam. Mereka tahu, cerita itu bukan dibuat-buat. Itu benar-benar pernah terjadi. Adit melanjutkan.

"Kalau waktu itu..."

"...teman-teman saya nyerah nyari saya..."

"...mungkin hari ini saya gak akan berdiri di sini."

Suasana lobi mendadak terasa jauh lebih sunyi. Petugas keamanan itu perlahan meletakkan koran yang sejak tadi masih berada di tangannya. Adit menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Kami datang bukan mau ganggu dia."

"Bukan mau maksa dia pulang."

"Kami cuma..."

"...mau dia tahu..."

"...kalau masih ada orang yang nungguin dia."

Kalimat terakhir itu menggantung cukup lama di udara. Petugas keamanan memandang satu per satu wajah mereka. Kevin. Rio. Miko. Lalu kembali kepada Adit. Tak ada sedikit pun raut kebohongan di wajah mereka.

Yang ada, hanya rasa khawatir. Rasa sayang. Dan keinginan sederhana untuk memastikan seorang teman baik-baik saja.

Petugas itu akhirnya menghela napas panjang. Beberapa detik ia terdiam. Lalu berkata pelan.

"Maaf..."

"...nomor unit tetap tidak bisa saya kasih."

Harapan mereka kembali turun. Namun sebelum sempat ada yang berbicara... petugas itu melanjutkan kalimatnya.

"...tapi."

Keempatnya spontan mengangkat kepala. Petugas itu tersenyum kecil.

"Kalau kalian memang temannya..."

"...biar saya yang telepon."

Jantung Kevin seakan berhenti berdetak sesaat. Rio mengepalkan tangan. Miko menatap lurus ke arah meja resepsionis. Sementara Adit hanya mengembuskan napas lega. Petugas keamanan meraih telepon di mejanya. Jari-jarinya mulai menekan beberapa angka. Suara nada sambung terdengar memenuhi keheningan lobi.

Tut...

Tut...

Tut...

Empat sahabat itu hanya bisa berdiri mematung. Tak ada yang berani mengucapkan sepatah kata pun. Mereka hanya menunggu, dengan harapan yang kini kembali menyala.

...

Suara nada sambung memenuhi lobi apartemen.

Tak seorang pun bergerak. Kevin berdiri paling depan. Tangannya saling menggenggam begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Di sebelahnya, Rio terus menatap telepon di meja resepsionis tanpa berkedip. Miko menyesuaikan posisi kacamatanya berkali-kali, padahal tidak bergeser sedikit pun. Sementara Adit, untuk pertama kalinya sejak mereka berangkat, benar-benar kehilangan bahan candaan.

Beberapa detik terasa seperti beberapa menit.

Lalu...

klik.

Sambungan tersambung. Petugas keamanan langsung merapikan posisi duduknya.

"Selamat malam, Bu."

"Iya, maaf mengganggu."

Keempat sahabat itu spontan menegakkan badan. Mereka tak dapat mendengar suara dari seberang telepon. Hanya ucapan petugas keamanan.

"Di bawah ada beberapa orang yang mengaku teman Ibu."

"Iya..."

"Mereka bilang sudah lama mencari Ibu."

Kevin menelan ludah. Jantungnya berdetak semakin cepat. Petugas itu kembali mendengarkan.

"Iya, Bu."

"Saya mengerti."

Rio mulai mengepalkan tangan. Miko bahkan tanpa sadar menahan napas. Adit hanya menunduk. Takut berharap terlalu tinggi. Petugas keamanan kembali berbicara.

"Mereka tidak meminta nomor unit."

"Mereka hanya ingin memastikan keadaan Ibu."

Hening. Sangat hening. Tak ada suara selain pendingin ruangan dan napas mereka sendiri. Beberapa detik berlalu. Petugas keamanan hanya mengangguk pelan.

"Iya..."

"Baik, Bu."

"Iya."

"Baik."

Lalu, telepon ditutup.

Klik.

Tak seorang pun langsung bertanya. Mereka terlalu takut mendengar jawabannya. Petugas keamanan perlahan meletakkan gagang telepon. Kemudian memandang empat orang di hadapannya.

Raut wajahnya sulit ditebak. Rio akhirnya memberanikan diri.

"...Gimana, Pak?"

Petugas itu tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum tipis. Senyum yang membuat mereka semakin gugup. Adit sampai menggigit bibir bawahnya. Kevin menatap lurus ke arah petugas itu.

"Pak..."

Suara Kevin terdengar hampir seperti bisikan. Petugas keamanan mengangguk kecil.

"Beliau..."

"...sempat diam cukup lama."

Kevin menelan ludah.

"Lalu?"

"Awalnya saya kira..."

"...beliau akan menolak."

Empat pasang mata langsung saling berpandangan. Jantung mereka serasa jatuh. Namun petugas itu melanjutkan.

"Tapi setelah saya bilang..."

"...teman-temannya rela datang malam-malam hanya untuk memastikan beliau baik-baik saja..."

Beliau berhenti sejenak.

"...suara Ibu Saras berubah."

Kevin mengangkat wajah.

"Berubah gimana, Pak?"

Petugas itu tersenyum kecil.

"Seperti..."

"...orang yang sedang berusaha menahan tangis."

Tak ada satu pun yang berbicara. Rio mengembuskan napas pelan. Mia yang sejak tadi hanya mendengarkan melalui panggilan video ikut menutup mulutnya. Petugas keamanan kembali berkata.

"Beliau sempat bertanya."

"'Siapa saja yang datang?'"

Kevin menunduk.

"Terus, Pak?"

"Saya sebut satu-satu."

"Kevin."

"Rio."

"Miko."

"Adit."

Petugas itu berhenti sejenak.

"Lalu..."

"...di seberang sana kembali diam."

Diam yang panjang. Diam yang seolah menyimpan ribuan perasaan. Petugas keamanan menatap mereka satu per satu.

"Setelah itu..."

"...Ibu Saras cuma bilang satu kalimat."

Keempatnya refleks maju selangkah.

"Apa, Pak?"

Petugas itu menarik napas pelan. Kemudian mengucapkannya persis seperti yang ia dengar.

"Mereka... benar-benar datang?"

Suasana mendadak terasa begitu sesak. Adit menundukkan kepala. Rio memalingkan wajah. Miko melepas kacamatanya perlahan. Sementara Kevin, hanya bisa tersenyum getir.

"Dasar bodoh..."

gumamnya lirih.

"Masih aja gak percaya kalau dia punya rumah."

Petugas keamanan kembali tersenyum.

"Saya jawab..."

"'Iya, Bu.'"

"'Mereka datang.'"

"'Dan sepertinya mereka tidak akan pulang sebelum bertemu Ibu.'"

Keheningan kembali menyelimuti lobi.

Namun kali ini bukan keheningan karena cemas. Melainkan keheningan yang dipenuhi harapan. Petugas keamanan kemudian berdiri dari kursinya. Merapikan seragamnya. Lalu memandang mereka.

"Beliau menitipkan satu pesan."

Semua langsung menatapnya. Petugas itu tersenyum hangat.

"Katanya..."

Beliau berhenti sejenak.

"...suruh naik."

Tak ada sorak sorai. Tak ada teriakan kemenangan. Yang terdengar hanyalah embusan napas lega. Rio menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Syukur..."

gumamnya pelan.

Adit langsung memeluk Kevin dari samping.

"Bang..."

"Berhasil..."

Kevin tertawa kecil sambil menepuk bahu Adit.

"Iya."

"Berhasil."

Miko hanya tersenyum tipis. Namun matanya mulai berkaca-kaca. Di layar ponsel, Mia ikut tersenyum lebar.

"Akhirnya..."

Kevin menatap pintu lift yang berada di ujung lobi. Sudah puluhan bab, sudah bertahun-tahun dalam cerita, perjalanan ini dimulai dari sebuah penyesalan. Dan malam ini, mereka tinggal selangkah lagi, menuju seseorang yang selama ini selalu berusaha menyembunyikan air matanya di balik nama Nara.

Kevin menarik napas panjang. Lalu berkata pelan,

"Teman-teman..."

"Ayo."

"Udah terlalu lama..."

"...Yana pulang sendirian."

Tok...

Tok...

Tok...

Langkah kaki terdengar dari balik pintu.

Perlahan gagang pintu mulai bergerak.

Comments

Popular posts from this blog

Republik Maya: Prologue

Prologue Di sebuah tempat bernama Republik Maya, orang-orang hidup berdampingan tanpa pernah benar-benar saling mengenal. Mereka berbicara setiap hari, tertawa di ruang obrolan yang sama, saling mengirim meme, musik, game dan cerita tentang hidup. Namun, di balik semua itu, ada satu aturan yang tak pernah tertulis, "Jangan bawa perasaan di grup" Raka tahu aturan itu. Semua orang tahu. Lalu datanglah Nara. Awalnya biasa saja. Ia hanya anggota baru yang sering muncul di kanal musik setiap malam. Suaranya tenang, dan caranya mendengarkan membuat siapa pun merasa dihargai. Mereka semua mulai sering berbincang. Tentang film, musik, konspirasi, sampai mimpi-mimpi yang bahkan belum berani mereka ceritakan kepada dunia nyata. Tanpa sadar, Raka mulai menunggu notifikasi yang hanya berasal dari satu nama. Kalimat itu berkali-kali muncul di kepalanya. Ia ingin mengatakannya. Sangat ingin. Namun setiap kali jari-jarinya menyentuh keyboard, kata-kata itu menghilang begitu saja. "Hi.....

After Kawi's story

Kali ini aku ingin menceritakan tentang pengalaman mengerikan yang kualami setelah perjalanan kami ke Gunung Kawi beberapa tahun lalu. Demi menjaga privasi dan kerahasiaan beberapa orang yang terlibat, aku akan menggunakan nama, tempat dan latar waktu samaran dalam cerita ini. Bukan karena ingin terlihat misterius, tapi karena ada hal-hal yang tidak bisa aku ceritakan secara terbuka. Aku hanya berharap, lewat cerita ini, kalian bisa mengambil pelajaran dan lebih berhati-hati kalau suatu hari nanti memutuskan untuk datang ke tempat yang sama. 2020, Desember - Libur Natal Pada waktu itu aku masih menjadi karyawan baru di sebuah kantor di Malang, Jawa Timur. Setiap akhir tahun, tepatnya di bulan Desember — bulan yang juga bertepatan dengan perayaan Natal bagi umat Kristiani — kantor biasanya memberikan libur selama lima hari sampai awal tahun 2021. Di kantor saat itu aku sudah punya beberapa teman di lingkungan kerja, salah satunya adalah Mas Deden. Dia merupakan karyawan senior yang su...

Spion Kanan

Hari demi hari berjalan, entah itu kemarin, hari ini, atau besok, kamu selalu sama. Dan tahukah kamu? Itu adalah bagian favoritku. Aku suka setiap kita berboncengan, mengendarai motor bersama, dan merayakan setiap kilometer yang terlewat di jalanan.  Aku bahkan tahu persis apa yang akan kamu lakukan selanjutnya. Memiringkan spion kanan ke arahku, lalu berbisik, 'Cantiknya'. Kamu membiarkan angin membawa kata-kata itu bersamamu, disertai senyum dan tatapan mata yang meneduhkan. Spion kananmu menangkap segalanya: saat-saat aku menangis, tertawa, cemberut, marah, sampai mengomel. Tapi kamu hanya tersenyum manis melihat pantulanku di sana. Saat-saat itu, aku selalu berpikir kita akan terus seperti ini selamanya. Setiap obrolan dan canda tawa yang kita bagi di atas motor, rasanya seperti perjalanan pulang dengan cerita yang tak pernah usai.  Aku tidak pernah berpikir bahwa suatu hari, spion kanan itu tak lagi menangkap wajahku. Karena aku sungguh percaya, kita akan terus melewati s...