Skip to main content

Republik Maya: Bab 3

Anggota Baru

Siang itu matahari terasa menyengat.

Warung Indomie di depan rumah Kevin masih sepi seperti biasa. Dua kursi plastik kosong menghadap ke jalan, sementara panci berisi air terus mendidih tanpa tahu kapan akan dipakai.

Raka duduk di balik meja kasir. Di depannya terbuka sebuah laptop. Bukan untuk bermain game. Bukan juga untuk menonton film. Melainkan kembali mengirim lamaran pekerjaan.

"Application Submitted."

Kalimat itu muncul lagi. Entah lamaran ke berapa ratus yang sudah ia kirim sejak lulus kuliah. Seketika Raka menghela napas pelan. Kevin yang sedang memotong sayuran melirik sekilas.

"Gimana?"

Raka hanya mengangkat bahu.

"Ya... gitu."

"Ditolak lagi?"

"Belum."

"Lah kok muka lu udah kayak ditolak?"

Raka tertawa kecil.

"Udah biasanya gak sih gue emang ditolak."

Kevin ikut tertawa.

"Halah. Suatu hari HR bakal nyesel pernah nolak lu"

"Gue gaperlu HR nyesel sih, justru yang ada gue yang nyesel kenapa putusin selena, anjir masih kepikiran sampai sekarang lagi, andai aja gue sukses"

"Yaelah ternyata gamon, move on cuy, wanita diluar sana masih banyak, kenapa lu masih mikirin selena aja sih, kayak gue nih, chill bruuh, no woman no cry"

"Lu mana paham sih vin, lu aja gue lihat gapernah pacaran, hampir sih dulu banget sama si fira, tapi lu cupu banget gaberani ngomong"

"Asem lu Rak, lu pikir gue gak mikir apa dulu waktu ngedektin cewek se-sempurna fira gitu, minder anjir gue. But thanks loh Rak, gue jadi tambah termotivasi gara-gara omongan lu barusan"

Warung kembali sunyi. Hanya terdengar suara kendaraan yang sesekali melintas.

Tak lama kemudian, Kevin membuka ponselnya.

"Semalam seru banget cuy."

"Apa?"

"Server."

Raka menutup laptopnya.

"Kenapa bisa gitu?"

"Iya. Miko sama Adit debat tiga jam cuma gara-gara orang boti."

"Tiga jam!, seriusan anjir?"

"Dibilangin, ujung-ujungnya gak ada yang menang. Orang mereka sama-sama gak setuju sama boti, jadi aslinya mah gaada yang di debatin, lu sendiri jangan jadi boti Rak"

Raka tertawa.

"Najis, kagak anjir, gue masih normal vin. Terus ada lagi gak yang lucu di server?"

"Mia karaoke."

"Adit nyumbang lagu?"

"Iya."

"Fals?"

"Banget. Kalau gue bilang mending dia orasi mimpin demo usir boti aja, daripada nyanyi jir"

Keduanya kembali tertawa.

Raka baru sadar. Sudah beberapa hari terakhir, setiap kali ia dan Kevin mengobrol, topiknya hampir selalu berakhir di Republik Maya.

Lucu juga.

Tempat yang dulu terasa asing itu kini perlahan menjadi bagian dari kesehariannya. Malam untuk berkumpul di server. Siang untuk mengenang obrolan semalam. Seolah-olah mereka semua memang benar-benar tinggal di kehidupan yang nyata dan sama.

Gak lama mereka ngobrol, pelanggan pertama mereka hari ini datang.

"Selamat siang kak", Salam Kevin

"Oiya mas, disini saya boleh sambil numpang nge-charge gak mas?"

"Oh boleh kak, silahkan, btw mau pesan apa?"

"Hmmm, saya pesen es teh satu aja, sama mi gorengnya satu ya mas"

"Oke kak, silahkan ditunggu", Sahut Raka dari dapur

"Lu aja nih Rak yang jadi kasir, itukan jatah gue"

"Sorry vin, udah kebiasaan kalau liat cewek cakep hehe"

"Maaf ya kak, temen saya emang suka malu-maluin"

"Hehehe, aman mas, kalian lucu kok tapi"

Setelah itu mereka sibuk menyiapkan pesanan untuk pelanggan, di sela kesibukan itu, kevin kembali melontarkan celetukan.

"Rak..."

"Kenapa?"

"Kayaknya ada member baru deh kemarin malem."

"Oh ya? Siapa namanya"

"Gatau sih, orang gue habis itu cabut"

"Cowok?"

Kevin mengangkat bahu.

"Gak tau."

"Lagian emang kenapa?"

"Gak kenapa-napa sih"

"Yeuww elu, kirain kenapa"

"Pesanan atas nama Saras! Sudah selesai, silahkan diambil di kasir"

Perempuan itu bangkit dari kursinya. Laptop yang sejak tadi sedang mengisi daya ia tutup perlahan, lalu berjalan menuju meja kasir.

"Makasih ya, Mas."

"Iya, sama-sama, Kak," jawab Kevin sambil tersenyum.

Raka yang masih sibuk menuangkan kuah hanya sempat melirik sekilas.

"Eh, Mas."

"Iya, Kak?", Sahut Kevin.

"Wi-Fi di sini kenceng ya?"

Kevin tertawa kecil.

"Kalau lagi gak dipake download game lima puluh giga sama dia," Katanya sambil menunjuk Raka.

"Woy."

Perempuan itu ikut tersenyum.

"Pantesan tadi lancar.", Kata Kevin

"Iya, lumayan buat numpang kerja.", Sahut Saras

"Oh... kamu lagi kerja?"

"Iya."

Jawabannya singkat.

Raka kembali sibuk merapikan piring-piring di dapur kecil mereka. Namun pikirannya segera teralihkan ketika Kevin berteriak dari depan.

"Rak, es tehnya satu lagi!"

"Iya, bawel."

Perempuan itu tertawa kecil mendengar mereka saling menyahut. Setelah membayar, ia memasukkan laptopnya kembali ke dalam tas. Sebelum pergi, ia sempat menoleh ke arah warung kecil itu.

"Semoga rame ya, Mas."

Kevin mengangkat jempol.

"Aamiin. Makasih, Kak."

Bel berbunyi pelan saat pintu kaca didorong. Lalu ia pergi.

Kevin dan Raka pun kembali melanjutkan pekerjaannya, tanpa pernah benar-benar memperhatikan keadaan diluar. Di atas meja yang tadi ditempatinya, masih tertinggal selembar tisu bekas dan gelas es teh yang belum sempat dibereskan. Kevin mengambilnya sambil bergumam pelan.

"Anak sekarang kalau kerja di mana aja ya."

"Iya."

"Enak juga ya."

"Apanya?"

"Bisa kerja cuma modal laptop."

Raka terkekeh.

"Kalau gue modal laptop doang mah, yang ada cuma buka portal lowongan kerja."

Mereka kembali tertawa. 

Malam itu, seperti biasa, warung Indomie tutup sekitar pukul sembilan. Kevin sibuk membereskan meja, sementara Raka mengangkat panci yang sejak siang menemani mereka berjualan.

"Capek juga ya."

"Alhamdulillah, hari ini ada pelanggan."

"Empat."

"Empat itu udah lumayan."

"Kemarin cuma satu."

Raka tersenyum kecil.

"Besok semoga lima."

"Aamiin."

Tak lama kemudian mereka menutup rolling door warung. Raka pulang ke rumahnya yang hanya berjarak beberapa gang dari rumah Kevin. Setelah mandi dan makan malam bersama ibu serta adiknya, seperti beberapa malam terakhir, tangannya kembali refleks membuka laptop dan Republik Maya.

Bukan karena ada yang mencarinya. Bukan juga karena ada janji dengan seseorang. Entah sejak kapan, membuka Republik Maya sudah menjadi bagian dari rutinitasnya.

Notifikasi berbunyi. "Kevin sedang berada di Voice Channel - Ruang Tengah"

Raka menekan tombol Join.

"Anjir akhirnya datang juga."

"Itu Raka."

"WOI NUKLIR!"

"Selamat malam, pengangguran!!", Teriak Kevin

"Anjing...", Gumam Raka sambil tertawa.

"Selamat malam juga kevin monyet."

Suasana langsung ramai.

Miko masih seperti biasa.

"Rak, menurut lu kalau..."

"WOI JANGAN POLITIK DULU!"

Suara Adit langsung memotong.

"Kasihan orang baru."

"Orang baru?"

Raka bertanya.

Kevin menjawab singkat.

"Iya."

"Yang gue bilang tadi siang."

"Oh..."

Baru saat itu Raka memperhatikan daftar anggota di sebelah kanan layar. Ada satu nama yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Nara.

Belum sempat ia bertanya. Sebuah suara perempuan terdengar pelan.

"Halo semuanya..."

Suaranya lembut. Tidak dibuat-buat. Tidak juga terdengar malu. Lebih seperti seseorang yang memang terbiasa berbicara dengan tenang.

"Welcome!"

"Selamat datang!"

"Semoga betah."

Adit langsung mengambil alih suasana.

"Peraturan pertama di sini...kalau Miko mulai bahas politik, langsung mute."

"Woi!", Sahut Miko

Tawa memenuhi ruang obrolan.

Nara ikut tertawa kecil.

"Baik... aku catat."

"Peraturan kedua...kalau Adit nyanyi...langsung keluar aja."

"WOOOI.", Kesal Adit.

Gelak tawa kembali pecah.

Raka hanya tersenyum sambil mendengarkan. Entah kenapa...ia merasa suara perempuan itu sedikit berbeda seperti yang di dengar Raka saat ini. Bukan karena pernah mengenalnya. Bukan juga karena pernah berbicara dengannya. Hanya saja...ada sesuatu yang Raka tidak bisa menjelaskannya.

Namun ia mengabaikannya. Mungkin hanya perasaannya saja. Percakapan terus mengalir. Mereka membahas lagu favorit. Film yang sedang tayang. Game yang sedang ramai dimainkan. Seperti biasa, Miko berhasil membawa topik ke teori konspirasi. Dan seperti biasa pula, Adit menjadi orang pertama yang memotongnya.

Di tengah ramainya obrolan itu, Raka lebih banyak diam. Sesekali ia tertawa. Sesekali menimpali. Sesekali hanya menjadi pendengar. Sampai akhirnya ia menyadari satu hal.

Di antara semua orang yang saling berebut bicara...anggota baru itu justru lebih banyak mendengarkan. Ia tidak sering memotong pembicaraan. Tidak berusaha menjadi pusat perhatian. Namun setiap kali seseorang selesai bercerita...selalu ada satu suara yang menjawab dengan tulus.

"Oh ya?"

"Terus gimana?"

"Pasti capek ya."

Kalimat-kalimat itu yang selalu terucap dari Nara. Kalimat-kalimat sederhana. Namun cukup membuat siapa pun merasa sedang benar-benar didengarkan. Raka tidak tahu mengapa. Tapi malam itu...ia merasa Republik Maya baru saja kedatangan seseorang yang akan membuat tempat itu menjadi sedikit berbeda, mungkin bisa dibilang hangat, dan lebih hangat lagi mungkin. Saat Raka sedang memikirkan itu, di tengah ramainya obrolan, tiba-tiba suara Nara kembali terdengar.

"Senang banget deh bisa denger cerita kalian."

Suasana mendadak sedikit tenang.

"Oh iya...Aku dari tadi belum denger cerita Raka. Hai Raka, Apa kabar? Kamu... mau cerita nggak?"

Untuk beberapa detik...

Raka membeku.

Tangannya masih menggenggam mouse. Tatapannya terpaku pada layar monitor. Sudah lama sekali...tidak ada orang yang bertanya bagaimana kabarnya. Di kepalanya, ribuan kalimat berdesakan. Namun seperti biasa...tak satu pun berhasil keluar. Sampai akhirnya...

"Mau."

Suara itu keluar begitu saja. Keras dan Lantang. Nyaris seperti sebuah perintah komando TNI. Bahkan Raka sendiri sempat terkejut mendengarnya. Lalu semua orang di voice chat tertawa.

Adit langsung menyela.

"Buset! Baru kali ini gue denger Raka semangat gitu."

Kevin ikut tertawa.

"Biasanya kalau ditanya malah jawab, 'terserah'", Kata Kevin

Raka hanya tersenyum malu. Entah mengapa...malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama...ia benar-benar ingin bercerita.

Comments

Popular posts from this blog

Republik Maya: Prologue

Prologue Di sebuah tempat bernama Republik Maya, orang-orang hidup berdampingan tanpa pernah benar-benar saling mengenal. Mereka berbicara setiap hari, tertawa di ruang obrolan yang sama, saling mengirim meme, musik, game dan cerita tentang hidup. Namun, di balik semua itu, ada satu aturan yang tak pernah tertulis, "Jangan bawa perasaan di grup" Raka tahu aturan itu. Semua orang tahu. Lalu datanglah Nara. Awalnya biasa saja. Ia hanya anggota baru yang sering muncul di kanal musik setiap malam. Suaranya tenang, dan caranya mendengarkan membuat siapa pun merasa dihargai. Mereka semua mulai sering berbincang. Tentang film, musik, konspirasi, sampai mimpi-mimpi yang bahkan belum berani mereka ceritakan kepada dunia nyata. Tanpa sadar, Raka mulai menunggu notifikasi yang hanya berasal dari satu nama. Kalimat itu berkali-kali muncul di kepalanya. Ia ingin mengatakannya. Sangat ingin. Namun setiap kali jari-jarinya menyentuh keyboard, kata-kata itu menghilang begitu saja. "Hi.....

After Kawi's story

Kali ini aku ingin menceritakan tentang pengalaman mengerikan yang kualami setelah perjalanan kami ke Gunung Kawi beberapa tahun lalu. Demi menjaga privasi dan kerahasiaan beberapa orang yang terlibat, aku akan menggunakan nama, tempat dan latar waktu samaran dalam cerita ini. Bukan karena ingin terlihat misterius, tapi karena ada hal-hal yang tidak bisa aku ceritakan secara terbuka. Aku hanya berharap, lewat cerita ini, kalian bisa mengambil pelajaran dan lebih berhati-hati kalau suatu hari nanti memutuskan untuk datang ke tempat yang sama. 2020, Desember - Libur Natal Pada waktu itu aku masih menjadi karyawan baru di sebuah kantor di Malang, Jawa Timur. Setiap akhir tahun, tepatnya di bulan Desember — bulan yang juga bertepatan dengan perayaan Natal bagi umat Kristiani — kantor biasanya memberikan libur selama lima hari sampai awal tahun 2021. Di kantor saat itu aku sudah punya beberapa teman di lingkungan kerja, salah satunya adalah Mas Deden. Dia merupakan karyawan senior yang su...

Spion Kanan

Hari demi hari berjalan, entah itu kemarin, hari ini, atau besok, kamu selalu sama. Dan tahukah kamu? Itu adalah bagian favoritku. Aku suka setiap kita berboncengan, mengendarai motor bersama, dan merayakan setiap kilometer yang terlewat di jalanan.  Aku bahkan tahu persis apa yang akan kamu lakukan selanjutnya. Memiringkan spion kanan ke arahku, lalu berbisik, 'Cantiknya'. Kamu membiarkan angin membawa kata-kata itu bersamamu, disertai senyum dan tatapan mata yang meneduhkan. Spion kananmu menangkap segalanya: saat-saat aku menangis, tertawa, cemberut, marah, sampai mengomel. Tapi kamu hanya tersenyum manis melihat pantulanku di sana. Saat-saat itu, aku selalu berpikir kita akan terus seperti ini selamanya. Setiap obrolan dan canda tawa yang kita bagi di atas motor, rasanya seperti perjalanan pulang dengan cerita yang tak pernah usai.  Aku tidak pernah berpikir bahwa suatu hari, spion kanan itu tak lagi menangkap wajahku. Karena aku sungguh percaya, kita akan terus melewati s...