Biar Tuhan Yang Memberi Tahumu
Jam sudah menunjukkan hampir pukul dua dini hari. Warung Indomie milik Kevin hampir tutup. Kursi-kursi plastik sudah dinaikkan ke atas meja. Panci kuah mulai diangkat dari kompor. Hanya lampu neon kecil yang masih menyala redup.
Kevin sedang menyapu lantai ketika suara motor berhenti di depan warung. Ia mendongak. Raka turun dengan langkah tergesa. Kevin langsung menghentikan sapunya.
Ia sudah tahu. Malam yang selama ini ia hindari...akhirnya datang juga. Raka berjalan mendekat. Tidak seperti biasanya. Tidak bercanda. Tidak langsung memesan Indomie. Ia hanya berdiri beberapa detik. Lalu berkata lirih.
"Jay..."
"...gue rasa..."
"...gue akhirnya tahu siapa Nara."
Kevin tidak langsung menjawab. Ia meletakkan sapu. Mengambil dua botol teh dingin dari kulkas. Meletakkannya di atas meja.
"Duduk dulu."
Raka menurut. Namun wajahnya tetap tegang. Kevin membuka botol minumnya. Lalu bertanya pelan.
"Sejak kapan sadar?"
"Baru tadi."
"Gimana bisa?"
Raka mengembuskan napas panjang.
"Lagi lembur."
"Terus nemu draft revisi Saras."
"Gue baca..."
"Terus gue keinget..."
"...kalimat yang sama pernah diucapin Nara."
Kevin hanya mengangguk. Raka melanjutkan.
"Gue buka Discord."
"Baca semua chat dari awal."
"Baca ulang semuanya."
"Semua candaan."
"Semua obrolan."
"Semua petunjuk."
Semakin lama suara Raka semakin pelan.
"Gue bego ya..."
Kevin masih diam.
"Dia udah ada di depan gue terus..."
"...gue malah nyari ke mana-mana."
Warung kembali sunyi. Hanya suara kipas angin tua yang terus berputar.
...
Raka menatap Kevin.
"Jay..."
"Kenapa?"
"Kenapa dia gak pernah bilang?"
Kevin menarik napas panjang. Pertanyaan itu, sudah ia duga akan keluar.
"Karena..."
"...dia gak berani."
"Gak berani?"
Kevin mengangguk pelan.
"Dia takut."
"Takut apa?"
Kevin menatap langit-langit warung. Seolah sedang memilih kata yang tepat.
"Takut lo kecewa."
"Takut lo marah."
"Takut kehilangan lo lagi."
Kalimat terakhir membuat Raka mengernyit.
"Lagi?"
Kevin tersenyum tipis.
"Iya."
"Lagi."
...
Kevin berdiri. Masuk ke dalam warung. Beberapa saat kemudian ia keluar membawa sebuah kotak kardus tua. Kotak itu mulai kusam. Di dalamnya terdapat beberapa buku catatan. Flashdisk. Kertas. Dan sebuah laptop tua. Kevin meletakkan semuanya di meja. Raka menatap bingung.
"Apa ini?"
"Republik Maya."
Raka semakin tidak mengerti. Kevin membuka laptop tua itu. Masih ada folder-folder lama. Server Discord. Daftar anggota. Catatan. Perencanaan. Tanggal.
Raka membeku. Kevin mulai berbicara.
"Bas..."
"Gue minta maaf."
"Soal apa?"
"Soal semuanya."
Kevin tersenyum pahit.
"Republik Maya..."
"...gak pernah dibuat secara kebetulan."
Raka perlahan mengangkat wajah. Kevin melanjutkan.
"Server ini..."
"...gue buat buat kalian."
Raka terdiam.
"Maksud lo?"
"Buat lo."
"Dan..."
"...buat Nara."
Jantung Raka terasa berhenti sesaat. Kevin membuka sebuah file. Di sana terlihat tanggal pembuatan server. Jauh sebelum Raka masuk.
"Awalnya server ini cuma iseng."
"Tapi setelah itu..."
"...gue punya alasan."
Kevin memandang jauh.
"Beberapa tahun lalu..."
"...gue dihubungi seseorang."
Raka tidak berkedip.
"Seseorang itu..."
"...minta maaf."
"Dia bilang..."
"...dia nyari gue."
"...nyari lo."
"...udah bertahun-tahun."
Kevin tersenyum getir.
"Gue orang pertama yang berhasil dia temuin."
Raka menggenggam botol tehnya lebih erat. Kevin melanjutkan.
"Dia cerita semuanya."
"Lalu..."
"...gue punya ide."
"Gue bikin Republik Maya."
"Pelan-pelan gue masukin lo."
"Beberapa minggu kemudian..."
"...gue masukin dia."
Raka menatap Kevin dengan wajah yang mulai dipenuhi berbagai emosi.
"Kalian berdua..."
"...bahkan gak sadar."
"...kalau dari awal..."
"...gue lagi nyusun jalan buat kalian."
Warung kembali sunyi.
...
Raka menundukkan kepala. Tangannya mulai gemetar.
"Jadi..."
"Selama ini..."
"Semuanya..."
Kevin mengangguk.
"Iya."
"Bahkan waktu Saras datang ke warung pertama kali..."
"...gue juga kaget."
Raka mengangkat kepala.
"Kaget?"
Kevin tertawa kecil.
"Gue gak nyangka dia senekat itu."
"Padahal rencana kita belum sejauh itu."
"Tapi untungnya..."
"...kita langsung satu pemikiran."
"Sedikit demi sedikit."
Raka mulai mengingat semuanya. Pertemuan di warung. Di kantor. Di pusat perbelanjaan. Di air terjun. Semua terasa begitu alami. Padahal, di balik semua itu...
"Bodohnya gue..."
Kevin menggeleng.
"Bukan."
"Lo cuma belum siap."
...
Beberapa menit kemudian. Raka akhirnya menceritakan semuanya. Tentang hari di kafe. Tentang Selena. Tentang tunangannya. Tentang percakapan terakhir mereka. Tentang bagaimana ia tetap menunggu Saras hingga kafe tutup. Tentang pesan "urusan keluarga". Kevin mendengarkan tanpa menyela.
Sampai Raka selesai. Kevin memejamkan mata. Menghela napas panjang.
"...Pantes."
"Apa?"
"Pantes dia ngilang."
Raka langsung berdiri.
"Maksud lo?"
Kevin menatapnya.
"Dia lihat."
"Lihat apa?"
"Dia lihat lo sama Selena."
Raka membeku. Seolah seluruh kepingan peristiwa hari itu mendadak menemukan tempatnya. Ia mengingat jam. Ia mengingat posisi meja. Ia mengingat pintu kafe. Ia mengingat seorang perempuan yang sempat berjalan cepat melewati kaca luar. Saat itu ia tidak memperhatikannya. Kini semuanya terasa begitu jelas. Raka menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Ya Tuhan..."
"Itu..."
"Itu Saras..."
Kevin mengangguk pelan.
"Bukan."
Raka menatapnya. Kevin hampir mengatakan sesuatu. Kalimat itu sudah berada di ujung bibirnya.
"Yang lihat lo waktu itu bukan cuma Saras..."
"...tapi juga—"
Belum sempat kalimat itu selesai...Raka tiba-tiba berdiri. Ia mengambil jaketnya.
"Gue harus ketemu dia."
Kevin ikut berdiri.
"Bas!"
"Tunggu!"
"Gue masih belum selesai!"
Raka menggeleng.
"Nanti aja!"
"Gue harus minta maaf sekarang juga!"
Ia berlari menuju motor. Kevin mengejarnya sampai depan warung.
"Bas!"
"Ada satu hal lagi yang harus lo tahu!"
Namun suara mesin motor lebih dulu mengalahkan suara Kevin. Motor Raka melaju cepat meninggalkan warung. Kevin hanya bisa berdiri mematung. Angin malam meniup pelan kaus yang dikenakannya. Ia menghela napas panjang.
Lalu berkata lirih kepada dirinya sendiri.
"...Dasar keras kepala."
"...Lo masih belum tahu..."
"...kalau perempuan yang selama ini lo cari..."
"...bukan cuma Nara."
Kevin menatap langit malam. Bintang-bintang tampak samar di balik awan. Ia tahu mulai malam ini, ia tidak bisa lagi membiarkan semuanya berjalan sendiri.
Untuk pertama kalinya sejak Republik Maya dibuat, ia memutuskan ikut turun tangan. Karena jika kali ini ia terlambat, bisa jadi tiga anak kecil yang dulu pernah berjanji di bawah pohon mangga, tidak akan pernah benar-benar menemukan jalan pulang.
Comments
Post a Comment