Akhirnya Kamu Sadar
Pagi itu kantor terasa lebih sunyi dari biasanya. Bukan karena jumlah pegawai yang berkurang. Bukan pula karena pekerjaan sedang sedikit. Melainkan karena satu meja di sudut ruangan masih kosong. Meja yang selama beberapa bulan terakhir selalu dipenuhi tumpukan naskah, sticky note berwarna-warni, dan segelas kopi yang perlahan mendingin.
Kini semuanya tertata rapi. Terlalu rapi. Seolah pemiliknya pergi tanpa sempat meninggalkan jejak. Raka baru saja duduk ketika salah satu editor senior menghampiri.
"Rak."
"Iya, Mas?"
"Gimana adaptasinya?"
"Masih belajar."
Editor itu mengangguk kecil.
"Lumayan ya."
"Biasanya kalau ada yang bingung tinggal nanya ke Mbak Saras."
Raka hanya tersenyum tipis.
"Iya..."
Kalimat itu sederhana. Namun entah kenapa membuat dadanya kembali terasa sesak. Editor senior itu kemudian pergi. Ruangan kembali sunyi. Raka tanpa sadar melirik meja Saras. Masih kosong. Sudah hampir dua minggu.
...
Menjelang siang. Raka mendapat tugas menyunting sebuah novel. Ketika membuka folder proyek di komputer kantor. ia menemukan satu folder lain. Draft - Saras.
Raka sempat ragu. Namun karena folder itu memang berada di arsip divisi dan bukan folder pribadi, ia membukanya. Di dalamnya terdapat puluhan revisi. Coretan. Komentar. Catatan.
Semuanya ditulis dengan sangat rapi. Raka tersenyum kecil.
"Pantesan cepat banget kerjanya..."
Ia membuka salah satu dokumen. Di pojok kanan atas ada komentar kecil.
"Kalimat ini terlalu panjang. Pembaca butuh bernapas."
Raka terkekeh pelan.
"Persis..."
Ia langsung teringat bagaimana Saras pernah menegurnya beberapa minggu lalu.
"Rak."
"Kalimatmu bagus."
"Cuma..."
"...kasihan pembacanya."
Saat itu mereka berdua tertawa. Kini kenangan itu terasa berbeda. Ia membuka dokumen lain. Ada catatan lagi.
"Kalau satu kalimat bisa dibuat sederhana, kenapa harus dibuat rumit?"
Raka kembali tersenyum. Kalimat itu ia pernah dengar. Bukan di kantor. Melainkan...di Republik Maya.
...
Malam hari. Raka tidak langsung tidur. Ia membuka laptop. Discord otomatis menyala. Republik Maya masih ramai.
Namun ia tidak masuk voice. Ia hanya membuka riwayat percakapan. Scroll. Semakin ke atas. Semakin lama.
Percakapan enam bulan lalu.
Delapan bulan lalu.
Setahun lalu.
Sampai percakapan paling awal ketika Nara pertama kali masuk server. Ia membaca semuanya. Satu demi satu. Candaan receh. Obrolan tengah malam. Perdebatan soal film. Tebak gambar. Kasus Mia dan Adit. Camping. Permen. Air terjun. Semua kembali muncul di hadapannya. Lalu Raka berhenti pada satu kalimat.
"Kalau satu kalimat bisa dibuat sederhana, kenapa harus dibuat rumit?"
Raka membeku. Matanya berpindah. Ke monitor kedua. Masih terbuka dokumen revisi Saras yang tadi ia salin ke catatan pribadinya. Kalimatnya sama. Persis. Bahkan tanda bacanya pun sama.
Raka mulai mengerutkan dahi.
"...Kebetulan?"
Ia mencoba tertawa. Namun kali ini tawanya tidak keluar.
...
Raka mengambil buku catatan. Menuliskan dua nama. Saras dan Nara. Lalu mulai membuat daftar kecil.
Saras, suka hujan, tenang saat berbicara, kalimat pendek, tidak pernah memotong pembicaraan orang.
Nara, suka hujan, tenang saat berbicara, kalimat pendek, selalu mendengarkan dulu.
Ia berhenti. Kemudian menambahkan lagi.
Saras, strawberry Latte, menyukai aroma buku, menulis dengan tinta biru.
Nara, pernah berkata aroma buku bekas itu menenangkan, pernah bilang warna favoritnya biru.
Raka mulai menggigit ujung pulpen.
"Ah..."
"...masa sih."
Ia kembali membuka galeri ponselnya. Foto pusat perbelanjaan. Foto makan siang kantor. Foto camping Adit. Foto warung Kevin. Ia memperbesar satu per satu. Tiba-tiba ia teringat satu momen. Hari ketika bermain Skribbl. Saat semua orang menebak gambar permen.
Nara berkata, "Aku suka permen itu."
Padahal di pusat perbelanjaan. Saras membeli permen yang sama. Saat itu Raka menganggapnya kebetulan. Kini kebetulan itu mulai terlalu banyak.
...
Jam sudah menunjukkan hampir pukul satu dini hari. Raka masih belum beranjak dari kursinya. Meja belajarnya kini dipenuhi catatan kecil. Nama. Tanggal. Momen. Dialog.
Semua saling dihubungkan. Semakin lama semakin jelas. Tidak ada lagi ruang untuk menyangkal. Ia menatap dua nama yang sejak tadi ditulis berdampingan.
Nara.
Saras.
Lalu dengan tangan yang sedikit gemetar... ia menarik satu garis lurus. Menghubungkan keduanya. Pulpen itu berhenti. Raka menatap hasilnya cukup lama. Dadanya berdegup jauh lebih cepat. Bibirnya bergerak pelan.
"...Jadi..."
"...selama ini..."
"...Saras..."
"...adalah Nara?"
Sunyi. Tidak ada siapa pun yang menjawab. Namun untuk pertama kalinya, semua potongan puzzle yang selama ini berserakan akhirnya menyatu. Ia teringat setiap malam. Setiap obrolan. Setiap tawa. Setiap tatapan Saras di kantor. Setiap candaan Nara di voice. Semuanya berasal dari orang yang sama. Raka memejamkan mata. Air matanya perlahan jatuh. Bukan karena sedih. Melainkan karena penyesalan. Selama ini, ia begitu sibuk mencari siapa Nara. Padahal orang yang ia cari selalu berada di sampingnya.
...
Tanpa berpikir panjang. Raka mengambil kunci motornya. Memakai jaket seadanya. Jam menunjukkan pukul satu lewat tiga puluh menit.
Ia tahu warung Kevin mungkin sudah tutup. Namun ada satu hal yang harus ia pastikan malam itu juga. Motor melaju membelah jalanan kota yang lengang. Angin malam menerpa wajahnya.
Di sepanjang perjalanan, hanya ada satu pertanyaan yang terus berputar di kepalanya.
"Kalau Saras adalah Nara..."
"Lalu..."
"Kenapa dia harus menyembunyikan semua ini dariku?"
Di kejauhan, lampu warung Indomie milik Kevin masih menyala redup.
Kevin yang sedang membereskan meja menoleh ketika mendengar suara motor berhenti di depan warung.
Ia mengangkat kepala.
Melihat Raka turun dengan wajah yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Kevin langsung tahu. Malam itu...akhirnya tiba juga.
Raka berjalan pelan mendekatinya. Tidak duduk. Tidak memesan apa pun. Ia hanya menatap Kevin beberapa detik. Lalu berkata dengan suara pelan yang dipenuhi campuran bingung, sesal, dan harapan.
"Jay..."
"...gue rasa..."
"...gue akhirnya tahu siapa Nara."
Kevin terdiam. Tangannya yang sedang mengelap meja berhenti di udara. Sorot matanya berubah. Bukan karena terkejut. Melainkan karena ia tahu babak yang selama bertahun-tahun ia tunggu... akhirnya benar-benar dimulai.
Comments
Post a Comment