Skip to main content

Republik Maya: Bab 27

Raka Basara

Lelaki yang kehilangan rumah.

"Orang-orang sering berkata bahwa waktu mampu menyembuhkan luka. Padahal ada luka yang tidak pernah sembuh. Ia hanya belajar hidup berdampingan dengan pemiliknya."

Malam itu, hujan kembali turun. Tidak deras.

Hanya rintik-rintik kecil yang mengetuk kaca jendela kamar Raka, menciptakan irama yang pelan dan menenangkan. Namun entah mengapa, malam itu suara hujan justru terdengar lebih sunyi daripada biasanya.

Layar laptop di hadapannya masih menyala. Republik Maya masih ramai.

Rio sedang memperdebatkan sesuatu dengan Adit tentang game yang baru mereka mainkan. Mia sesekali tertawa. Miko mencoba meluruskan perdebatan yang sebenarnya tidak penting.

Semua terdengar sama seperti malam-malam sebelumnya.

Namun tetap ada sesuatu yang terasa hilang. Mata Raka perlahan bergeser ke daftar anggota. Satu nama. Nara.

Masih berwarna abu-abu.

Offline.

Sudah hampir seminggu.

Entah mengapa, setiap malam Raka selalu melakukan hal yang sama. Membuka Republik Maya, melihat daftar anggota, lalu tanpa sadar mencari nama itu. Padahal ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya sedang ia tunggu.

Ia mengembuskan napas pelan.

"Kenapa sih..."

gumamnya lirih.

"Kok jadi kepikiran terus..."

Raka menutup laptop. Lalu membuka WhatsApp. Nama Saras masih berada di urutan paling atas. Chat terakhir masih sama.

Raka menatap pesan itu cukup lama. Jarinya sempat bergerak menuju kolom balasan. Namun ia kembali mengurungkannya.

"Kalau memang lagi butuh waktu..."

"Ya udah."

"Nanti juga balik sendiri."

Ia mencoba meyakinkan dirinya. Namun semakin ia mencoba, semakin terasa aneh.

Saras menghilang.

Nara juga menghilang.

Bersamaan. Tepat setelah hari mereka berjanji bertemu. Kepalanya mulai dipenuhi pertanyaan.

"Kenapa ya..."

"Aku kepikiran Saras..."

"Tapi juga kepikiran Nara..."

"Padahal mereka orang yang berbeda."

Ia menggeleng pelan.

"Lagian..."

"...masa sih mereka orang yang sama."

Raka mematikan layar ponselnya. Ia berdiri. Membuka jendela kamar. Udara malam yang dingin langsung masuk memenuhi ruangan. Di kejauhan terdengar suara katak bersahutan. Persis seperti suara malam-malam di kampungnya dulu.

Tanpa sadar, ingatannya perlahan mundur.

Jauh.

Sangat jauh.

Kembali pada sebuah masa, ketika semua masih terasa sederhana.

...

Tiga Belas Tahun yang Lalu. 

Namanya belum Raka. Semua orang memanggilnya, Basara.

"Bas!"

"Lariii!"

Suara tawa anak-anak memenuhi tepian sungai kecil di belakang desa. Tiga orang anak berlarian tanpa alas kaki. Seorang anak laki-laki berambut sedikit acak memimpin di depan. Di belakangnya seorang anak perempuan mengejar sambil tertawa. Sementara satu anak laki-laki lain sibuk membawa kantong plastik berisi permen.

"Basara curang!"

teriak Yana sambil tertawa.

"Kamu duluan terus!"

Basara menjulurkan lidah.

"Namanya juga lomba!"

"Yang lambat ya kalah!"

Sanjay yang sedari tadi tertinggal langsung protes.

"Lah aku disuruh bawa permen!"

"Ya makanya olahraga!"

"Gemuk soalnya!"

"WOI!"

Ketiganya kembali tertawa. Suara mereka menggema di sepanjang sungai. Hari-hari seperti itu hampir selalu sama.

Sepulang sekolah. Membuang tas begitu saja di rumah. Lalu berkumpul. Entah bermain layangan. Memancing ikan kecil. Mencari capung. Atau sekadar duduk di ayunan tua sambil memakan permen stroberi bersama.

Bagi mereka, dunia hanya seluas kampung kecil itu.

Dan rasanya, tidak akan pernah berubah.

...

"Bas!"

Suara berat seorang pria terdengar dari kejauhan. Basara spontan menoleh. Seorang pria bertubuh tinggi sedang melambaikan tangan dari depan rumah.

Ayahnya.

"Pak!"

Basara langsung berlari. Meninggalkan Yana dan Sanjay yang masih duduk di bawah pohon mangga. Sesampainya di depan rumah, Ayah langsung mengacak rambut Basara.

"Kamu itu..."

"Main terus."

"Nanti kalau besar jadi pemain bola ya?"

Basara terkekeh.

"Gak ah."

"Terus?"

"Mau jadi ilmuwan."

Ayahnya mengangkat alis.

"Wih..."

"Hebat."

"Kenapa ilmuwan?"

Basara berpikir beberapa detik.

"Soalnya..."

"...ilmuwan bisa bikin sesuatu yang berguna buat banyak orang."

Ayah tersenyum bangga.

"Kalau gitu..."

"...jangan cuma pinter."

"Harus jadi orang baik juga."

Basara mengangguk mantap.

"Iya Pak."

Ayah menepuk pundaknya.

"Laki-laki itu bukan dinilai dari seberapa kuat dia."

"Atau seberapa pintarnya dia."

"Tapi..."

"...seberapa tulus dia menjaga orang-orang yang dia sayangi."

Kalimat itu...masih terlalu sulit dipahami oleh Basara kecil. Ia hanya mengangguk sambil tersenyum.

Tidak tahu, bahwa bertahun-tahun kemudian, kalimat itulah yang akan terus terngiang di kepalanya.

...

Malam itu, setelah makan bersama, listrik di kampung sempat padam. Rumah mereka hanya diterangi lampu minyak kecil. Ibu sedang merapikan piring. Sementara Ayah duduk di teras bersama Basara.

Langit malam terlihat sangat cerah. Bintang bertaburan memenuhi langit. Ayah menunjuk ke atas.

"Lihat."

"Banyak ya."

Basara mengangguk.

"Iya."

"Pak..."

"Hm?"

"Kalau nanti aku gede..."

"...Bapak jangan tua ya."

Ayah tertawa kecil.

"Lho kok gitu?"

"Soalnya..."

"...aku pengin mancing terus sama Bapak."

Ayah menatap anaknya cukup lama. Lalu tersenyum.

"Kalau suatu hari nanti..."

"...Bapak gak bisa nemenin lagi."

"Kamu janji ya."

"Tetap jagain Ibu."

Basara langsung menggeleng keras.

"Enggak!"

"Bapak harus ada!"

Ayah tertawa lagi.

"Iya."

"Iya."

"Tenang."

Malam itu, Basara memeluk Ayahnya tanpa alasan. Tanpa tahu bahwa itu akan menjadi salah satu pelukan terakhir dalam hidupnya.

...

Tiga hari kemudian, semuanya berubah. Subuh yang biasanya tenang mendadak dipenuhi suara panik.

"Pak!"

"Pak!"

"Ibu!"

Basara yang masih mengantuk keluar dari kamar. Ia melihat Ayah terduduk di lantai ruang tengah. Wajahnya pucat. Tangannya memegangi dada. Ibu menangis sambil memanggil-manggil tetangga.

Beberapa orang berlarian masuk ke rumah.

Suara sandal.

Suara pintu.

Suara orang-orang yang saling memanggil.

Basara hanya berdiri di sudut ruangan. Bingung. Takut. Tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Tak lama kemudian, suara sirene ambulans terdengar mendekat.

Dua petugas medis berlari masuk.

Ayah dibaringkan di atas tandu.

Sebelum pintu ambulans ditutup, Ayah sempat menoleh.

Tatapan mereka bertemu. Ayah berusaha tersenyum. Lalu mengangkat tangan pelan. Seolah ingin mengatakan...

"Jaga Ibu."

Pintu ambulans tertutup.

Brak.

Sirene kembali meraung. Semakin lama...semakin jauh. Basara berlari mengejar.

"Bapak!"

"Pak!"

"Tunggu!"

Namun ambulans itu terus melaju meninggalkan desa. Basara berhenti di tengah jalan. Napasnya terengah-engah. Matanya terus menatap jalan yang mulai sepi.

Ia masih percaya, bahwa sore nanti Ayah akan pulang. Membawakan jajan. Mengajaknya memancing. Mengacak rambutnya lagi.

Ia belum tahu, bahwa ada kepergian, yang tidak pernah benar-benar kembali.

...

Semua orang pergi.

"Ada anak-anak yang tumbuh karena usianya bertambah. Ada pula anak-anak yang tumbuh karena dipaksa oleh kehilangan."

Ambulans itu, tidak pernah kembali membawa ayahnya pulang.

Yang kembali, hanyalah sebuah mobil jenazah berwarna putih.

Langit siang itu mendung.

Udara terasa begitu pengap. 

Basara berdiri di depan pintu rumah sambil menggenggam ujung baju ibunya. Banyak orang berdatangan.

Tetangga.

Kerabat.

Orang-orang yang bahkan belum pernah ia lihat sebelumnya. Semuanya mengenakan pakaian gelap. Semuanya berbicara dengan suara pelan. Basara tidak mengerti. Kenapa semua orang menangis. Kenapa semua orang memeluk ibunya. Kenapa rumah yang biasanya dipenuhi suara tawa, hari itu hanya dipenuhi isak tangis.

Ketika kain putih itu dibuka, ia melihat ayahnya.

Sedang tidur.

Begitu pikirnya.

Wajahnya terlihat sangat tenang. Seperti sedang beristirahat setelah bekerja terlalu keras. Basara perlahan mendekat.

"Pak..."

Tidak ada jawaban. Ia menggoyangkan pelan lengan ayahnya.

"Pak..."

"Bangun..."

"Katanya mau ngajarin aku mancing lagi..."

Masih tidak ada jawaban. Seorang paman menarik tubuh Basara perlahan.

"Nak..."

"Biarkan Bapak istirahat."

Basara menggeleng.

"Enggak."

"Bapak janji."

"Bapak bilang besok mau ngajarin aku mancing ikan di sungai."

Suara kecil itu, membuat hampir semua orang yang berada di ruangan menundukkan kepala. Tangis kembali pecah.

Namun Basara, belum mengerti. Baginya, ayah hanya sedang tidur.

...

Pemakaman berlangsung sore hari. Hujan turun perlahan. Tanah merah berubah menjadi lumpur. Basara berdiri memegang payung kecil.

Di sampingnya, ibunya hampir tidak sanggup berdiri. Ketika peti kayu mulai diturunkan, baru untuk pertama kalinya Basara merasa takut.

"Pak..."

Suara kecil itu kembali keluar.

"Pak..."

"Jangan masuk situ."

Tidak ada jawaban. Segenggam tanah pertama dijatuhkan.

Buk.

Basara sedikit tersentak. Segenggam kedua.

Buk.

Lalu ketiga.

Keempat.

Semakin lama...suara tanah itu semakin keras di telinganya. Sampai akhirnya peti itu benar-benar tertutup. Basara menatap gundukan tanah yang masih basah. Ia menarik tangan ibunya.

"Bu..."

"Iya, Nak..."

"Kalau Bapak udah bangun..."

"...gimana keluarnya?"

Ibu langsung memeluk Basara sekuat tenaga. Tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah. Basara hanya kebingungan. Ia tidak tahu kenapa semua orang menangis. Ia hanya ingin ayahnya pulang.

...

Hari-hari setelah itu, rumah mereka berubah. Tidak ada lagi suara motor ayah yang berhenti di depan rumah setiap sore. Tidak ada lagi sandal yang dilempar sembarangan di teras. Tidak ada lagi suara ayah memanggil,

"Bas..."

"Mainnya udahan."

Rumah yang dulu terasa hangat, mendadak menjadi sangat sunyi. Basara mulai terbiasa melihat ibunya duduk sendirian di ruang tamu. Kadang sambil memegang foto ayah. Kadang sambil menatap kosong ke arah televisi yang bahkan tidak dinyalakan.

Malam hari, Basara sering terbangun. Bukan karena mimpi buruk. Melainkan karena mendengar suara tangisan pelan dari kamar ibunya.

Ia membuka pintu sedikit.

Melihat ibunya memeluk baju milik ayah. Menangis tanpa suara. Basara tidak masuk. Ia hanya berdiri di balik pintu. Ikut menangis. Tanpa tahu harus berbuat apa.

Sejak malam itu, Basara berhenti menangis di depan ibunya.

Ia takut.

Kalau ia ikut menangis, ibunya akan semakin sedih. Maka setiap kali ingin menangis, ia memilih keluar rumah. Duduk sendirian di bawah pohon mangga. Menatap langit. Berharap ayahnya sedang melihatnya dari sana.

Namun takdir rupanya belum selesai menguji seorang anak kecil bernama Basara.

Beberapa minggu kemudian sepulang sekolah, ia berlari seperti biasa menuju ayunan tua di dekat sungai.

"Nih!"

teriaknya sambil mengangkat tiga permen stroberi.

"Yana!"

"Jay!"

Tidak ada jawaban. Ayunan itu kosong. Ia berpikir mereka terlambat. Maka ia duduk menunggu.

Sepuluh menit.

Tiga puluh menit.

Satu jam.

Matahari mulai tenggelam. Tetap tidak ada siapa-siapa.

Esoknya...ia datang lagi. Masih membawa tiga permen.

Masih kosong.

Hari berikutnya.

Masih kosong.

Hari berikutnya lagi.

Tetap sama.

Akhirnya Basara mendatangi rumah Yana. Namun halaman rumah itu juga sunyi. Pintu tertutup rapat. Beberapa kardus terlihat menumpuk di teras. Tetangga yang sedang menyapu halaman menoleh.

"Nyari Yana ya, Bas?"

Basara mengangguk cepat.

"Iya, Tante."

"Yana mana?"

Perempuan itu tersenyum simpati.

"Yana udah pindah, Nak."

"Pindah?"

"Iya."

"Ikut ayahnya."

"Katanya pindah kerja."

Basara terdiam.

"Kapan?"

"Beberapa hari lalu."

"Lho..."

"Kok gak pamit?"

Perempuan itu menggeleng pelan.

"Berangkatnya mendadak."

Basara masih berdiri mematung. Di tangannya, tiga permen stroberi mulai meleleh karena panas. Ia menatap rumah yang kini kosong.

Lalu berbisik pelan.

"...Bohong."

"Yana janji."

"Katanya gak bakal ninggalin aku sama Jay."

Tidak ada yang menjawab. Yang terdengar hanya suara angin yang menggerakkan daun-daun mangga.

...

Sejak hari itu, Basara tetap datang ke ayunan setiap sore. Sendirian. Ia tetap membawa tiga permen.

Satu untuk dirinya.

Satu untuk Sanjay.

Satu lagi...

untuk Yana.

Meski ia tahu, tidak akan ada lagi tangan kecil yang mengambil permen itu sambil tersenyum. Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan.

Basara akhirnya berhenti membawa tiga permen. Ia hanya membawa satu. Namun kebiasaan duduk di ayunan itu, tidak pernah benar-benar hilang.

Di sanalah, untuk pertama kalinya, seorang anak kecil membuat kesimpulan yang akan ia bawa hingga dewasa.

"Semua orang..."

"...pada akhirnya pergi."

Dan tanpa ia sadari, di hari ketika ia berhenti menunggu Yana. Basara kecil juga perlahan berhenti percaya bahwa seseorang akan tetap tinggal.

...

Belajar berdiri lagi.

"Luka tidak selalu membuat seseorang membenci dunia. Kadang luka hanya membuat seseorang takut untuk kembali mempercayai siapa pun."

Musim terus berganti. Pohon mangga di depan rumah mulai beberapa kali berbuah. Daunnya menguning. Lalu kembali hijau.

Sungai kecil di belakang kampung tetap mengalir seperti biasa. Ayunan tua itu masih berdiri. Namun anak kecil bernama Basara perlahan menghilang.

Yang tersisa hanyalah seorang anak laki-laki yang mulai banyak diam. Sejak ayahnya meninggal dan Yana pergi tanpa pamit. Basara berubah.

Ia masih tersenyum.

Masih bercanda.

Masih bermain bersama Sanjay.

Namun hanya Sanjay yang tahu, senyum itu tidak lagi sama. Tidak ada lagi Basara yang pulang sambil berteriak memanggil ayahnya. Tidak ada lagi anak kecil yang setiap sore berlari menuju sungai.

Basara lebih sering menghabiskan waktunya di rumah. Membantu ibunya menyapu. Menyiram tanaman. Atau sekadar duduk di teras sambil membaca buku. Ibunya beberapa kali memperhatikan perubahan itu.

Suatu malam, ketika hujan turun cukup deras, ibunya menemukan Basara masih terjaga di ruang tamu. Padahal jam sudah hampir menunjukkan pukul sebelas malam.

"Nak..."

"Iya Bu?"

"Kok belum tidur?"

Basara menutup buku yang sedang dibacanya.

"Nunggu Ibu."

Ibunya tersenyum kecil.

"Nungguin Ibu ngapain?"

"Takut Ibu nangis lagi."

Kalimat sederhana itu membuat dada perempuan itu terasa sesak. Ia duduk di samping anaknya.

"Nak..."

"Ibu minta maaf ya."

"Lho?"

"Harusnya Ibu yang jagain kamu."

"Ini malah kamu yang jagain Ibu."

Basara menggeleng pelan.

"Gak apa-apa."

"Aku kan laki-laki."

Kalimat itu, adalah kalimat yang dulu pernah diucapkan ayahnya. Ibunya spontan memeluk Basara. Tangisnya kembali pecah.

Namun kali ini. Basara tidak ikut menangis. Ia hanya memeluk ibunya erat. Persis seperti yang pernah dilakukan ayahnya.

Malam itu...untuk pertama kalinya, Basara merasa dirinya harus menjadi dewasa. Padahal usianya bahkan belum genap dua belas tahun.

...

Waktu berjalan. Basara dan Sanjay harus berpindah rumah, karena tempat tinggal lamanya akan dibangun kawasan pertokoan modern, mereka pindah tidak jauh darisana. semakin lama...mereka tumbuh menjadi laki-laki remaja dan dewasa, mulai dari...

SD.

SMP.

Lalu SMA.

Nama Basara perlahan semakin jarang terdengar. Semua orang mulai memanggilnya...Raka.

Nama yang lebih mudah diingat oleh teman-temannya. Hanya Kevin, yang sesekali masih memanggilnya "Bas" ketika mereka sedang berdua.

Raka tumbuh menjadi siswa yang cukup pintar. Nilainya bagus. Ia mudah bergaul. Bahkan sering menjadi tempat curhat teman-temannya.

Aneh memang.

Orang yang paling pandai mendengarkan, justru paling jarang bercerita. Tidak ada seorang pun di sekolah yang tahu, bahwa setiap kali pulang, Raka masih sesekali duduk sendirian di bawah pohon mangga tua tempat lama dimana tiga anak kecil berkumpul.

Menatap ayunan yang kini mulai lapuk dimakan usia. Kadang ia bertanya dalam hati.

"Kalau Yana gak pindah..."

"Apa kita masih sering main di sini ya?"

Namun pertanyaan itu selalu ia kubur sendiri. Karena semakin besar, ia mulai menyadari. Tidak semua pertanyaan memiliki jawaban.

...

Memasuki bangku kuliah. Raka mencoba membuka lembaran baru. Lingkungan baru. Teman baru. Kehidupan baru.

Di sanalah, ia bertemu dengan seorang perempuan bernama Selena.

Pertemuan mereka sebenarnya sangat sederhana. Saat itu Raka sedang duduk sendirian di perpustakaan kampus. Tumpukan buku memenuhi meja. Ia begitu fokus membaca hingga tidak menyadari seseorang berdiri di depannya.

"Maaf..."

Suara perempuan itu membuat Raka mendongak.

"Boleh pinjam kursinya?"

Raka langsung berdiri.

"Oh, iya."

"Soalnya yang lain penuh."

Perempuan itu tersenyum hangat.

"Makasih."

Hari itu, mereka hanya bertukar nama. Tidak lebih.

Namun siapa sangka, dari obrolan sederhana tentang tugas kuliah, mereka mulai sering belajar bersama. Selena berbeda. Ia cerewet. Mudah tertawa. Tidak pernah membiarkan suasana menjadi canggung. Jika Raka terlalu serius, Selena akan berkata,

"Rak..."

"Otakmu juga butuh libur."

Kalau Raka lupa makan karena mengerjakan tugas, Selena akan datang membawa roti.

"Ilmuwan masa depan kok gampang sakit."

Padahal waktu itu. Raka bahkan belum pernah berpikir menjadi ilmuwan seperti impiannya di masa kecil. Selena hanya asal bercanda.

Tanpa sadar, kehadiran Selena perlahan mengisi ruang-ruang kosong dalam hidup Raka. 

Bukan menggantikan siapa pun. 

Bukan menggantikan ayahnya.

Bukan menggantikan Yana.

Melainkan mengajarkan bahwa masih ada orang yang memilih untuk tetap tinggal. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun. Raka mulai berani berharap lagi.

Mulai percaya, bahwa mungkin, tidak semua orang akan pergi.

...

Hubungan mereka tumbuh perlahan. Tidak penuh drama. Tidak juga dipenuhi kata-kata manis. Mereka hanya saling menemani. Belajar. Mengerjakan tugas. Berjalan kaki mengelilingi kampus. Sesekali bertengkar karena hal-hal kecil. Lalu tertawa lagi keesokan harinya.

Bagi Raka, Selena adalah seseorang yang datang pada saat ia hampir lupa bagaimana rasanya tersenyum tanpa beban.

Namun jauh di dalam hatinya, ada satu ruang yang tidak pernah disentuh siapa pun. 

Ruang kecil yang berisi ayunan tua.

Sungai kecil.

Permen stroberi.

Dan seorang anak perempuan yang pernah berjanji,

"Aku gak bakal ninggalin kalian."

Raka tidak lagi menangis ketika mengingatnya. Ia juga tidak lagi berharap Yana kembali. Kenangan itu perlahan berubah menjadi cerita masa kecil. Indah. Tetapi terasa mustahil untuk terulang.

Ia bahkan mulai percaya, bahwa Yana mungkin sudah melupakannya.

Dan itu tidak apa-apa. Karena hidup memang terus berjalan. Namun hidup kembali mengajarkan satu hal. 

Hubungan Raka dan Selena...tidak bertahan selamanya.

Perbedaan jalan hidup membuat mereka perlahan menjauh. Tidak ada orang ketiga. Tidak ada pertengkaran besar. Hanya dua orang yang akhirnya menyadari, bahwa mereka tidak lagi berjalan ke arah yang sama.

Perpisahan itu tetap menyakitkan. Namun kali ini berbeda. Raka tidak hancur seperti dulu.

Ia sedih.

Sangat sedih.

Tetapi ia tetap bisa berdiri.

Karena Selena telah mengajarinya satu hal yang sangat penting.

Bahwa kehilangan, tidak selalu berarti akhir dari segalanya.

...

Bertahun-tahun kemudian, setelah lulus kuliah. Setelah berkali-kali gagal mendapatkan pekerjaan. Setelah hidup terasa berjalan di tempat. Kevin datang dengan satu ajakan sederhana.

"Bas..."

"Mau masuk server Discord gak?"

Raka tertawa kecil waktu itu.

"Server apaan?"

"Tempat orang-orang gabut."

"Siapa aja emang?"

"Banyak."

"Masuk aja."

Raka sama sekali tidak tahu. Bahwa keputusan sederhana mengklik tombol Join Server malam itu, akan mempertemukannya kembali dengan seseorang, yang selama ini ia kira telah hilang dari hidupnya untuk selamanya.

...

Takut kehilangan lagi.

"Beberapa luka tidak pernah benar-benar hilang. Mereka hanya tertidur, sampai suatu hari seseorang datang... lalu tanpa sengaja membangunkannya kembali."

Rintik hujan perlahan memudar. Suara jangkrik mulai menggantikan suara air yang sejak tadi mengetuk genting rumah. Raka membuka matanya perlahan. Ia masih berdiri di depan jendela kamar.

Napasnya terasa berat. Entah sejak kapan ia kembali larut dalam kenangan. Kenangan yang selama bertahun-tahun ia simpan rapat.

Tentang ayahnya.

Tentang ibunya.

Tentang ayunan tua.

Tentang sungai kecil.

Tentang seorang anak perempuan yang pergi tanpa sempat berpamitan.

Raka mengembuskan napas panjang.

"Udah lama banget ya..."

gumamnya lirih. Ia tersenyum kecil. Namun senyum itu terasa begitu rapuh. Seolah ia sedang mencoba meyakinkan dirinya sendiri, bahwa semua itu benar-benar sudah berlalu.

Ia menutup jendela. Lalu kembali duduk di depan meja belajarnya. Laptop masih menyala. Republik Maya masih terbuka.

Suara Rio dan Adit rupanya sudah tidak terdengar lagi. Voice Channel telah kosong. Satu per satu anggota telah keluar. Yang tersisa hanya ikon server Republik Maya. Dan daftar anggota yang sedang offline.

Pandangan Raka perlahan turun. Mencari satu nama yang akhir-akhir ini selalu ia cari tanpa sadar. Nara.

Masih berwarna abu-abu.

Offline.

Sudah lebih dari seminggu. Raka mengarahkan kursor ke nama itu. Sebuah jendela kecil muncul. Last Seen: 8 days ago.

Delapan hari. Tidak terasa, sudah selama itu. Padahal baru beberapa minggu sebelumnya. Nara hampir selalu menjadi orang pertama yang menyapanya setiap malam.

"Selamat malam."

Kalimat sederhana itu kini justru terasa sangat mahal. Raka tersenyum tipis.

"Lama juga ya..."

Ia tidak mengirim pesan. Tidak juga menekan tombol panggilan. Entah kenapa ia merasa tidak enak. Takut mengganggu. Takut jika Nara benar-benar sedang membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri.

Ia akhirnya menutup lapop. Lalu tanpa sadar, membuka WhatsApp. Nama paling atas masih sama. Saras.

Percakapan terakhir mereka masih berhenti pada hari itu. Hari ketika mereka seharusnya bertemu. Hari yang kini terus berputar di kepala Raka. Ia membuka ruang obrolan itu. Layar ponsel memantulkan cahaya lembut di wajahnya. Pesan terakhir masih tersimpan rapi.

Raka membaca ulang. Lalu membaca lagi. Dan lagi. Tidak ada satu kata pun yang berubah. Namun setiap kali ia membacanya, perasaannya selalu berbeda. Ia mulai bertanya-tanya.

"Apa benar karena urusan keluarga?"

"Apa Saras baik-baik saja?"

"Apa dia sakit?"

"Atau..."

Raka menggeleng pelan.

"Terlalu jauh mikirnya."

Ia mencoba tertawa. Namun tawanya hanya bertahan sesaat.

Nama itu terus bergantian memenuhi layar ponselnya.

Nara.

Saras.

Dua orang.

Dua dunia.

Satu di balik layar komputer. Satu lagi di dunia nyata.

Aneh.

Padahal mereka sama sekali berbeda. Namun mengapa kehilangan keduanya terasa sama. Pertanyaan itu kembali muncul. Lebih kuat dari sebelumnya. Raka menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tatapannya kosong menembus langit-langit kamar. Ia mencoba mengingat. Sejak kapan ia mulai menunggu suara Nara setiap malam. Sejak kapan ia mulai terbiasa melihat Saras datang membawa segelas Strawberry Latte sambil tersenyum dan berkata,

"Rak."

"Kalimatmu kepanjangan."

Sejak kapan semua itu menjadi kebiasaan. Dan sejak kapan ketidakhadiran mereka mulai mengganggunya. Ia tidak menemukan jawabannya. Yang ia tahu setiap kali membuka Republik Maya matanya otomatis mencari nama Nara. Dan setiap kali datang ke kantor, pandangan pertamanya selalu menuju meja Saras.

Tanpa ia sadari. Tanpa pernah ia rencanakan. Semuanya terjadi begitu saja. Raka menutup kedua matanya. Lalu teringat ucapan ayahnya bertahun-tahun yang lalu.

"Kalau suatu hari nanti Bapak gak bisa nemenin lagi..."

"...kamu janji ya."

"Tetap jaga Ibu dan orang-orang yang kamu sayangi."

Perlahan. Raka tersenyum. Namun kali ini senyum itu dibarengi sepasang mata yang mulai berkaca-kaca. Ia akhirnya memahami sesuatu.

Selama ini, bukan karena ia tidak bisa menyayangi orang lain. Bukan pula karena ia masih terjebak di masa lalu. Yang sebenarnya terjadi adalah ia terlalu takut mengulang rasa kehilangan yang sama.

Kehilangan ayahnya.

Kehilangan Yana.

Kehilangan Selena.

Tiga kehilangan itu mengajarinya satu keyakinan yang diam-diam ia peluk hingga dewasa. Bahwa setiap orang yang datang, suatu saat akan pergi.

Karena itu, lebih mudah menjaga jarak. Lebih mudah berpura-pura tidak peduli. Lebih mudah tidak berharap. Sebab jika tidak berharap, mungkin tidak akan terlalu sakit ketika kehilangan.

Namun malam itu, untuk pertama kalinya, tembok yang selama bertahun-tahun ia bangun mulai retak. Ia membuka kembali daftar anggota Republik Maya.

Nama Nara masih abu-abu.

Kemudian ia membuka WhatsApp.

Nama Saras masih berada di urutan paling atas.

Ia menatap dua nama itu bergantian. Lama. Sangat lama. Sampai akhirnya ia berbisik pelan kepada dirinya sendiri.

"...Jangan pergi juga."

Kalimat itu keluar begitu saja. Bahkan sebelum ia sempat menyadarinya. Raka menundukkan kepala. Mengusap wajahnya pelan. Lalu tersenyum getir.

"Lucu ya..."

"Aku bahkan belum benar-benar mengenal kalian."

Ia mematikan layar ponselnya. Kamar kembali gelap. Hanya diterangi cahaya bulan yang menembus sela-sela jendela. 

Di tempat lain...seorang perempuan juga belum bisa memejamkan mata. Ia memegang ponselnya. Membuka ruang obrolan dengan Raka. Lalu menutupnya lagi. Mereka berada di langit yang sama. Menatap bulan yang sama. Memikirkan orang yang sama. Namun tak satu pun dari mereka berani melangkah lebih dulu.

Karena keduanya sama-sama percaya, bahwa diam adalah cara terbaik untuk melindungi hati.

Padahal...justru keheningan itulah yang perlahan menjauhkan mereka.

Comments

Popular posts from this blog

Republik Maya: Prologue

Prologue Di sebuah tempat bernama Republik Maya, orang-orang hidup berdampingan tanpa pernah benar-benar saling mengenal. Mereka berbicara setiap hari, tertawa di ruang obrolan yang sama, saling mengirim meme, musik, game dan cerita tentang hidup. Namun, di balik semua itu, ada satu aturan yang tak pernah tertulis, "Jangan bawa perasaan di grup" Raka tahu aturan itu. Semua orang tahu. Lalu datanglah Nara. Awalnya biasa saja. Ia hanya anggota baru yang sering muncul di kanal musik setiap malam. Suaranya tenang, dan caranya mendengarkan membuat siapa pun merasa dihargai. Mereka semua mulai sering berbincang. Tentang film, musik, konspirasi, sampai mimpi-mimpi yang bahkan belum berani mereka ceritakan kepada dunia nyata. Tanpa sadar, Raka mulai menunggu notifikasi yang hanya berasal dari satu nama. Kalimat itu berkali-kali muncul di kepalanya. Ia ingin mengatakannya. Sangat ingin. Namun setiap kali jari-jarinya menyentuh keyboard, kata-kata itu menghilang begitu saja. "Hi.....

After Kawi's story

Kali ini aku ingin menceritakan tentang pengalaman mengerikan yang kualami setelah perjalanan kami ke Gunung Kawi beberapa tahun lalu. Demi menjaga privasi dan kerahasiaan beberapa orang yang terlibat, aku akan menggunakan nama, tempat dan latar waktu samaran dalam cerita ini. Bukan karena ingin terlihat misterius, tapi karena ada hal-hal yang tidak bisa aku ceritakan secara terbuka. Aku hanya berharap, lewat cerita ini, kalian bisa mengambil pelajaran dan lebih berhati-hati kalau suatu hari nanti memutuskan untuk datang ke tempat yang sama. 2020, Desember - Libur Natal Pada waktu itu aku masih menjadi karyawan baru di sebuah kantor di Malang, Jawa Timur. Setiap akhir tahun, tepatnya di bulan Desember — bulan yang juga bertepatan dengan perayaan Natal bagi umat Kristiani — kantor biasanya memberikan libur selama lima hari sampai awal tahun 2021. Di kantor saat itu aku sudah punya beberapa teman di lingkungan kerja, salah satunya adalah Mas Deden. Dia merupakan karyawan senior yang su...

Spion Kanan

Hari demi hari berjalan, entah itu kemarin, hari ini, atau besok, kamu selalu sama. Dan tahukah kamu? Itu adalah bagian favoritku. Aku suka setiap kita berboncengan, mengendarai motor bersama, dan merayakan setiap kilometer yang terlewat di jalanan.  Aku bahkan tahu persis apa yang akan kamu lakukan selanjutnya. Memiringkan spion kanan ke arahku, lalu berbisik, 'Cantiknya'. Kamu membiarkan angin membawa kata-kata itu bersamamu, disertai senyum dan tatapan mata yang meneduhkan. Spion kananmu menangkap segalanya: saat-saat aku menangis, tertawa, cemberut, marah, sampai mengomel. Tapi kamu hanya tersenyum manis melihat pantulanku di sana. Saat-saat itu, aku selalu berpikir kita akan terus seperti ini selamanya. Setiap obrolan dan canda tawa yang kita bagi di atas motor, rasanya seperti perjalanan pulang dengan cerita yang tak pernah usai.  Aku tidak pernah berpikir bahwa suatu hari, spion kanan itu tak lagi menangkap wajahku. Karena aku sungguh percaya, kita akan terus melewati s...