Skip to main content

Republik Maya: Bab 26

Menghilang

Malam itu, lampu-lampu jalan mulai redup. Warung Indomie milik Kevin juga sudah hampir tutup.

Beberapa kursi plastik telah ditumpuk. Gelas-gelas bekas pelanggan terakhir sedang dicuci. Aroma kuah Indomie yang biasanya terasa hangat malam itu justru terasa begitu sepi.

Kevin sedang menurunkan rolling door setengah badan ketika sebuah mobil putih berhenti tepat di depan warung.

Ia sempat mengernyit. Sudah hampir pukul sepuluh malam. Biasanya tidak ada pelanggan yang datang di jam seperti itu.

Pintu mobil perlahan terbuka. Seorang perempuan turun dengan langkah pelan. Rambutnya sedikit berantakan. Matanya merah.

Kevin langsung mengenalinya.

"...Yan?"

Saras tidak menjawab. Ia hanya berjalan masuk ke dalam warung. Tanpa berkata apa-apa, ia duduk di kursi pojok. Kursi yang dulu pertama kali ia duduki ketika bertemu kembali dengan Kevin.

Malam itu...

tidak ada senyum.

Tidak ada sapaan.

Tidak ada candaan.

Kevin tidak bertanya apa pun. Ia hanya mematikan kompor. Mengambil sebuah gelas. Lalu menyeduhkan teh hangat. Ia meletakkannya perlahan di depan Saras.

"Asli."

"Masih kebiasaan dulu."

"Kalau lagi sedih pasti gak mau ngomong."

Saras menatap uap teh yang perlahan naik ke udara.

Beberapa detik.

Lalu...

setetes air mata jatuh tepat ke permukaan meja kayu.

Disusul tetesan kedua.

Ketiga.

Semakin lama semakin deras. Tangannya menutup wajah. Suara tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah.

Kevin tetap diam. Ia tahu. Kalau seseorang sudah menangis seperti itu, nasihat apa pun tidak akan masuk. Yang dibutuhkan hanya seseorang yang bersedia tetap tinggal.

Hampir lima menit...

warung itu hanya diisi suara isak tangis Saras.

Sesekali terdengar suara kendaraan melintas di luar. Sesekali terdengar bunyi kipas angin tua yang berputar pelan. Setelah napas Saras mulai sedikit teratur, Kevin akhirnya berbicara.

"Dia gak datang?"

Saras menggeleng pelan. Suara yang keluar begitu lirih.

"...Datang."

Kevin mengernyit.

"Lho?"

"Terus?"

Saras menunduk. Tangannya menggenggam gelas teh yang mulai menghangatkan jemarinya.

"Aku yang terlambat."

Kevin masih menunggu. Saras menarik napas panjang.

"Pas aku sampai..."

Kalimat itu keluar begitu pelan. Namun cukup membuat Kevin terdiam. Air mata kembali mengalir.

"Aku bahkan udah bawa sesuatu..."

Perlahan Saras membuka tas kecilnya. Tangannya meraba saku bagian depan.

Kosong.

Ia baru sadar. Permen stroberi yang sedari sore ia genggam...terjatuh di kafe. Ia menutup matanya. Senyum pahit muncul di wajahnya.

"Bahkan..."

"...permennya juga gak jadi aku kasih."

Kevin menghela napas panjang. Ia belum mengetahui cerita sebenarnya. Yang ia tahu hanya apa yang baru saja didengar.

Sebagai sahabat, hatinya otomatis berpihak kepada Yana.

Ia mengepalkan tangan.

"Kalau emang dia masih punya urusan yang belum selesai sama masa lalunya..."

"...harusnya dia gak ngajak kamu ketemu."

Saras langsung menggeleng cepat.

"Jangan nyalahin dia."

"Mungkin..."

"...aku aja yang terlalu berharap."

"Tapi Yan..."

Kevin mencoba menyela. Saras kembali menggeleng.

"Jay..."

"Aku tahu ini aneh, padahal aku hanya mau datang sebagai sahabat lamanya, tapi entah kenapa perasaan ini tiba-tiba muncul disaat seperti ini."

Kalimat itu membuat Kevin terdiam.

"Aku capek terus pura-pura jadi orang lain."

"Aku capek tiap malam jadi Nara."

"Siang jadi Saras."

"Padahal yang pengin aku lakukan hari ini..."

"...cuma ngenalin diri."

"Aku cuma pengin bilang..."

"'Bas... aku Yana.'"

Suara Saras pecah di kalimat terakhir. Tangisnya kembali memenuhi warung kecil itu. Kevin hanya bisa menundukkan kepala. Untuk pertama kalinya sejak Republik Maya dibuat, ia merasa gagal.

Ia yang mempertemukan mereka. Namun ia juga yang menyaksikan semuanya kembali menjauh.

Beberapa menit berlalu. Sampai akhirnya Saras mengusap air matanya sendiri.

"Jay..."

"Hm?"

"Aku mau istirahat."

Kevin menatap sahabat masa kecilnya cukup lama. Ingin mengatakan bahwa mungkin semua ini hanya salah paham.

Namun ia tidak punya bukti. Yang ia punya hanyalah cerita dari Yana.

Dan malam itu, cerita itu terdengar terlalu menyakitkan untuk dibantah.

Akhirnya ia hanya berkata pelan.

"Kalau itu bikin kamu bisa napas lagi..."

"...lakuin."

Saras tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali tidak bahagia.

"Maaf ya, Jay."

"Karena aku..."

Kevin menggeleng pelan.

"Bukan."

"Kalau memang..."

"...jalan pulangnya gak akan berhenti di sini."

Saras berdiri. Mengambil tasnya. Sebelum melangkah keluar, ia berhenti sejenak.

"Jay..."

"Kalau suatu hari nanti..."

"...Bas nanya soal aku."

Kevin mengangkat kepala. Saras tersenyum pahit.

"Jangan bilang apa-apa."

"Itu jauh lebih gampang..."

"...daripada dia tahu kalau aku pergi lagi."

Kevin tidak sempat menjawab. Saras sudah berjalan menuju mobilnya. Lampu belakang mobil itu perlahan menghilang di balik tikungan.

Kevin masih berdiri di depan warung. Menatap jalan yang kembali lengang. Lalu ia menoleh ke kursi yang baru saja ditinggalkan Saras.

Di atas meja, teh hangat itu masih tersisa utuh. Sudah mulai dingin. Sama seperti harapan yang sejak bertahun-tahun ia coba jaga.

Ia mengembuskan napas panjang.

Lalu berbisik pelan kepada dirinya sendiri.

"Rak..."

"Kalau aja lo tahu bagaimana perasaan yana yang sebenarnya..."

Warung kembali sunyi. Dan Kevin mulai menyadari, bahwa untuk pertama kalinya sejak Republik Maya berdiri, ia tidak tahu harus memperbaiki semuanya dari mana.

...

Pagi itu, Raka datang ke kantor sedikit lebih awal dari biasanya.

Jam dinding baru menunjukkan pukul delapan kurang seperempat. Lorong kantor masih lengang. Hanya terdengar suara printer dari ruang administrasi dan bunyi mesin kopi otomatis yang sesekali berdengung.

Di tangannya ada dua gelas kopi.

Satu Americano.

Satu lagi...Strawberry Latte.

Begitu memasuki ruang editorial, langkah Raka otomatis mengarah ke meja Saras. Namun, langkahnya perlahan terhenti.

Kursi itu kosong.

Laptop tidak menyala.

Tanaman sukulen kecil di sudut meja masih berdiri rapi.

Beberapa manuskrip yang kemarin mereka kerjakan juga masih tersusun seperti biasa.

Hanya saja...

tidak ada Saras.

Raka melihat jam tangannya.

"Masih pagi sih..."

gumamnya pelan.

Ia meletakkan gelas Strawberry Latte di meja Saras.

"Mungkin masih di jalan."

Lalu ia duduk di mejanya sendiri. Mulai membuka naskah yang harus diedit hari itu. Namun setiap beberapa menit sekali, matanya tanpa sadar melirik ke arah meja kosong tersebut.

Pukul delapan lewat tiga puluh.

Belum datang.

Pukul sembilan.

Masih kosong.

Pukul sembilan lewat lima belas.

Tetap tidak ada.

Baru ketika jam mendekati pukul sepuluh, seorang staf HR masuk ke ruang editorial sambil membawa beberapa berkas.

"Mas Raka."

"Iya, Mbak?"

"Kalau ada revisi yang biasanya langsung ke Mbak Saras, sementara dialihkan dulu ya."

Raka mengangguk.

"Oh iya, Mbak Saras lagi meeting?"

Staf HR menggeleng.

"Bukan."

"Beliau mulai hari ini cuti."

"Cuti?"

"Iya."

Raka sedikit mengernyit.

"Berapa hari?"

Staf HR membuka tablet yang dibawanya.

"Satu bulan."

Raka spontan terdiam.

"...Sebulan?"

"Iya."

"Pengajuan cutinya semalam."

"Alasannya?"

HR menggeleng pelan.

"Gak bisa saya jelasin Mas Raka, itu privasi"

Setelah menyampaikan beberapa informasi lain, staf HR pun pamit keluar. Ruangan kembali sunyi. Raka masih menatap meja Saras. Di sana gelas Strawberry Latte yang tadi ia beli masih mengepulkan uap tipis. Belum ada yang menyentuhnya.

Ia mengambil gelas itu lagi. Mengembuskan napas pelan.

"Lumayan juga ya...cutinya"

Ia mencoba tersenyum. Namun entah kenapa senyumnya terasa dipaksakan. Sepanjang hari itu ruang editorial terasa berbeda.

Biasanya setiap kali Raka kebingungan menentukan pilihan kata, Saras akan datang membawa kursinya.

"Rak."

"Coba baca keras-keras."

"Nanti kamu tahu sendiri kalimat mana yang aneh."

Atau ketika Raka terlalu serius menatap layar komputer. Saras akan menyodorkan sebungkus biskuit.

"Editor juga butuh makan."

Hari itu tidak ada suara itu. Tidak ada kursi yang bergeser. Tidak ada aroma Strawberry Latte yang memenuhi ruangan. Yang ada hanya meja kosong. Dan satu gelas kopi yang perlahan mulai dingin.

Menjelang jam pulang. Raka akhirnya membuka WhatsApp. Nama Saras masih berada paling atas. Jarinya berhenti cukup lama di kolom pesan. Ia mengetik.

"Sar, semoga istirahatnya lancar ya."

Ia membaca ulang. Menghapusnya. Mengetik lagi.

"Sar, semuanya baik-baik aja?"

Masih terasa terlalu formal. Dihapus lagi. Ia menghela napas. Lalu akhirnya mengirim satu kalimat sederhana.

"Mbak, semoga baik-baik aja ya. Kalau ada yang bisa saya bantu, kabarin aja."

Pesan itu terkirim. Satu centang. Beberapa detik kemudian. Dua centang. Raka tersenyum kecil.

"Syukurlah..."

"Berarti HP-nya aktif."

Ia menunggu balasan.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Dua puluh menit.

Tidak ada gelembung "sedang mengetik". Tidak ada balasan. Hanya dua centang biru yang diam membisu. Tanpa Raka ketahui di saat pesan itu masuk, Saras sedang duduk sendirian di balkon apartemennya.

Ponselnya berada di atas meja. Layar masih menyala. Pesan dari Raka terbuka. Ia membacanya.

Satu kali.

Dua kali.

Tiga kali.

Air matanya kembali menetes. Jarinya sempat bergerak menuju kolom balasan. Namun perlahan ia mematikan layar ponselnya.

Dan membiarkan pesan itu, tetap tanpa jawaban.

...

Malam harinya, seperti biasa, setelah mandi dan membantu ibunya membereskan dapur, Raka masuk ke kamarnya. Dan membuka Republik Maya.

Rio biasanya sudah mulai mengobrol sejak setengah jam yang lalu.

Kevin juga biasanya sesekali menyela dari warungnya.

Adit dengan tampang songongnya juga biasanya datang sambil berteriak tidak jelas.

Miko juga sering baru muncul ketika semua orang sudah berkumpul.

Dan...

Nara.

Hampir biasanya selalu menjadi orang pertama yang menyapa.

"Selamat malam, warga Republik Maya."

Kalimat sederhana itu entah kenapa selalu membuat suasana server langsung terasa hidup. Namun malam itu Voice Channel masih kosong. Raka melihat daftar anggota.

Rio masih offline.

Miko offline.

Adit offline.

Dan Kevin juga sedang offline

Dan nama yang paling pertama ia cari...

Nara.

Abu-abu.

Offline.

"Belum online ya..."

gumamnya pelan. Ia masuk ke voice sendirian. Beberapa jam kemudian Rio masuk.

"Woy editor!"

"Hadir."

Rio tertawa.

"Mana Nara?"

"Gatau."

"Mungkin masih sibuk."

"Oooh."

Tidak lama kemudian Kevin ikut bergabung. Suaranya terdengar sedikit lebih pelan dari biasanya.

"Malam."

Adit masuk sambil berteriak.

"Yow guys!"

Suasana mulai ramai. Namun ada satu suara yang tidak terdengar. Mia akhirnya bertanya.

"Eh..."

"Nara mana ya?"

Rio menjawab santai.

"Paling lagi lembur."

"Iya kali."

Semua mengangguk. Mereka tidak terlalu memikirkannya. Karena sesekali Nara memang terlambat masuk.

Hanya Raka yang beberapa kali tanpa sadar terus melihat daftar anggota. Berharap nama itu berubah hijau. Namun sampai voice selesai malam itu, Nara tetap tidak muncul.

...

Di kantor, kursi Saras masih kosong. Tanaman kecil di mejanya mulai terlihat sedikit layu. Raka diam-diam menyiramnya sebelum mulai bekerja.

"Kalau gak disiram..."

"...nanti mati."

Entah kenapa ia merasa bersalah membiarkan tanaman itu mengering.

...

Malamnya Republik Maya kembali berkumpul. Nara masih offline.

Raka kembali mengirim pesan.

"Sar, semoga sehat-sehat ya."

Tidak dibalas.

Hari berikutnya.

Tidak ada jawaban.

Hari Selanjutnya.

Voice Channel mulai terasa berbeda. Tidak ada lagi seseorang yang menenangkan ketika Rio dan Adit mulai berdebat soal hal-hal receh. Tidak ada lagi yang mengingatkan Miko agar jangan begadang. Tidak ada lagi suara tawa pelan yang selalu muncul ketika Kevin melontarkan candaan bapak-bapak.

Republik Maya masih ramai. Namun kehangatannya perlahan berkurang. Seolah ada satu bagian kecil yang hilang.

...

Malam yang kesekian kalinya. Voice kembali ramai. Rio tiba-tiba membuka pembicaraan.

"Eh serius deh."

"Nara kemana sih?"

Mia ikut menimpali.

"Iya..."

"Aku chat juga gak dibales."

Miko berkata pelan.

"Aku juga."

"Aneh."

"Soalnya biasanya minimal kasih emoji."

Kevin yang sedari tadi diam hanya menjawab singkat.

"Mungkin lagi capek."

Tidak ada yang menyadari bahwa Kevin sengaja menghindari pembicaraan itu. Ia sendiri masih teringat wajah Yana malam itu. Tangisan yang bahkan belum pernah ia lihat sejak mereka kecil.

Adit yang tidak tahu apa-apa tiba-tiba tertawa.

"Waduh..."

"Jangan-jangan Nara kabur gara-gara ada yang PDKT."

Rio langsung menyahut.

"Siapa emang?"

Adit terkekeh.

"Lah..."

"Sapa lagi."

"Editor kita lah."

Semua langsung tertawa. Raka ikut tersenyum kecil. Namun senyum itu terasa hambar. Adit kembali menggoda.

"Gimana Rak?"

"Pacarnya ilang?"

"Apaan sih Dit."

"Bukan juga."

"Nah berarti masih ada harapan."

Suasana kembali dipenuhi tawa. Hanya Kevin yang tidak ikut tertawa. Ia mematikan mikrofon sebentar. Mengusap wajahnya perlahan.

Dalam hati ia berbisik,

"Kalau aja kalian tahu..."

"Semuanya gak sesederhana itu."

...

Beberapa hari berlalu. Malam itu hampir pukul sebelas. Obrolan mulai sepi. Satu per satu anggota pamit tidur. Tiba-tiba.

Ting!

Sebuah notifikasi muncul di kanal umum. Semua yang masih online langsung membukanya. Nama yang muncul membuat mereka terdiam. Nara.

Bukan masuk voice. Bukan online. Hanya sebuah pesan.

"Halo semuanya."

"Maaf ya akhir-akhir ini aku gak muncul."

"Kayaknya untuk beberapa waktu ke depan aku bakal jarang online juga."

"Tenang aja kok, aku baik-baik aja. Jangan pada khawatir. 😊"

"Titip Republik Maya ya. Sampai ketemu lagi."

Beberapa detik, kanal itu benar-benar sunyi. Rio yang pertama membalas.

"Semangat Nar."

Mia mengirim emoji peluk.

Miko menulis,

"Jaga kesehatan ya."

Adit tetap menjadi Adit.

"Balik nanti traktir Indomie!"

Semua kembali tertawa kecil. Namun satu nama, tidak kunjung membalas. Raka. Ia hanya membaca pesan itu. Berulang kali. Kalimat demi kalimat. Ada sesuatu yang terasa aneh. Sangat aneh. Seolah-olah Nara sedang berpamitan. Bukan sekadar beristirahat. Tangannya perlahan berpindah ke daftar anggota. Lalu membuka profil Nara. Statusnya masih sama. Offline.

Raka menghela napas pelan. Ia membuka WhatsApp. Chat terakhir dengan Saras.

"Sar, semoga baik-baik aja ya. Kalau ada yang bisa aku bantu, kabarin aja."

Masih centang dua. Tanpa balasan. Entah mengapa, untuk pertama kalinya, Raka menghubungkan dua hal yang selama ini tidak pernah ia pikirkan.

Saras menghilang.

Nara juga menghilang.

Terjadi di waktu yang hampir bersamaan. Ia menggeleng pelan. Lalu tertawa kecil pada dirinya sendiri.

"Ah..."

"Mana mungkin."

Namun malam itu, untuk pertama kalinya, sebuah pertanyaan kecil mulai muncul di benaknya.

"Kenapa ya..."

"...rasanya Saras dan Nara itu terasa sama?"

Ia mematikan layar laptop. Kamar kembali gelap. Di luar jendela, hujan mulai turun perlahan. Sementara di tempat lain, seorang perempuan bernama Narayana Sarasvati juga sedang menatap hujan dari balkon apartemennya.

Sama-sama terdiam. Sama-sama menyimpan rindu. Dan sama-sama tidak tahu bahwa mereka sedang saling merindukan orang yang sama.

Comments

Popular posts from this blog

Republik Maya: Prologue

Prologue Di sebuah tempat bernama Republik Maya, orang-orang hidup berdampingan tanpa pernah benar-benar saling mengenal. Mereka berbicara setiap hari, tertawa di ruang obrolan yang sama, saling mengirim meme, musik, game dan cerita tentang hidup. Namun, di balik semua itu, ada satu aturan yang tak pernah tertulis, "Jangan bawa perasaan di grup" Raka tahu aturan itu. Semua orang tahu. Lalu datanglah Nara. Awalnya biasa saja. Ia hanya anggota baru yang sering muncul di kanal musik setiap malam. Suaranya tenang, dan caranya mendengarkan membuat siapa pun merasa dihargai. Mereka semua mulai sering berbincang. Tentang film, musik, konspirasi, sampai mimpi-mimpi yang bahkan belum berani mereka ceritakan kepada dunia nyata. Tanpa sadar, Raka mulai menunggu notifikasi yang hanya berasal dari satu nama. Kalimat itu berkali-kali muncul di kepalanya. Ia ingin mengatakannya. Sangat ingin. Namun setiap kali jari-jarinya menyentuh keyboard, kata-kata itu menghilang begitu saja. "Hi.....

After Kawi's story

Kali ini aku ingin menceritakan tentang pengalaman mengerikan yang kualami setelah perjalanan kami ke Gunung Kawi beberapa tahun lalu. Demi menjaga privasi dan kerahasiaan beberapa orang yang terlibat, aku akan menggunakan nama, tempat dan latar waktu samaran dalam cerita ini. Bukan karena ingin terlihat misterius, tapi karena ada hal-hal yang tidak bisa aku ceritakan secara terbuka. Aku hanya berharap, lewat cerita ini, kalian bisa mengambil pelajaran dan lebih berhati-hati kalau suatu hari nanti memutuskan untuk datang ke tempat yang sama. 2020, Desember - Libur Natal Pada waktu itu aku masih menjadi karyawan baru di sebuah kantor di Malang, Jawa Timur. Setiap akhir tahun, tepatnya di bulan Desember — bulan yang juga bertepatan dengan perayaan Natal bagi umat Kristiani — kantor biasanya memberikan libur selama lima hari sampai awal tahun 2021. Di kantor saat itu aku sudah punya beberapa teman di lingkungan kerja, salah satunya adalah Mas Deden. Dia merupakan karyawan senior yang su...

Spion Kanan

Hari demi hari berjalan, entah itu kemarin, hari ini, atau besok, kamu selalu sama. Dan tahukah kamu? Itu adalah bagian favoritku. Aku suka setiap kita berboncengan, mengendarai motor bersama, dan merayakan setiap kilometer yang terlewat di jalanan.  Aku bahkan tahu persis apa yang akan kamu lakukan selanjutnya. Memiringkan spion kanan ke arahku, lalu berbisik, 'Cantiknya'. Kamu membiarkan angin membawa kata-kata itu bersamamu, disertai senyum dan tatapan mata yang meneduhkan. Spion kananmu menangkap segalanya: saat-saat aku menangis, tertawa, cemberut, marah, sampai mengomel. Tapi kamu hanya tersenyum manis melihat pantulanku di sana. Saat-saat itu, aku selalu berpikir kita akan terus seperti ini selamanya. Setiap obrolan dan canda tawa yang kita bagi di atas motor, rasanya seperti perjalanan pulang dengan cerita yang tak pernah usai.  Aku tidak pernah berpikir bahwa suatu hari, spion kanan itu tak lagi menangkap wajahku. Karena aku sungguh percaya, kita akan terus melewati s...