Nyaris Bertemu
Malam itu Jakarta baru saja diguyur hujan.
Rintik-rintik kecil masih menempel di kaca apartemen Saras ketika ia membuka pintu kamarnya. Lampu ruang tamu sengaja tidak ia nyalakan. Hanya cahaya kota dari balik jendela yang menerangi ruangan. Tas kerjanya ia letakkan begitu saja di sofa. Sepatunya bahkan belum sempat dilepas. Pikirannya masih tertinggal di warung Indomie milik Kevin. Ucapan Kevin terus berputar di kepalanya.
"Udah cukup, Yan..."
"Jangan lagi jadi Nara."
"Jangan lagi jadi Saras."
"Jadilah Yana."
Ia mengembuskan napas panjang. Selama bertahun-tahun ia hidup dengan dua nama. Di kantor, semua mengenalnya sebagai Saras. Di Republik Maya, semua mengenalnya sebagai Nara. Namun hanya ada satu nama yang tidak pernah lagi ia gunakan. Yana.
Nama yang terakhir kali dipanggil oleh dua anak laki-laki kecil di tepi sungai. Ia berjalan menuju rak buku. Dari sana, ia mengambil sebuah kotak kayu kecil yang sudah mulai usang. Perlahan ia membukanya. Masih ada foto itu.
Basara.
Sanjay.
Dan dirinya.
Masih ada gelang benang yang dulu dibuat Basara dengan bentuk yang sangat jelek hingga membuat mereka bertiga tertawa seharian. Masih ada bungkus permen stroberi yang warnanya sudah memudar. Saras tersenyum kecil.
"Bas..."
"Aku capek..."
"...terus sembunyi."
Ia memejamkan mata. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar mengambil keputusan.
"Aku akan bilang semuanya."
...
Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Saras membuka WhatsApp. Nama Raka berada paling atas. Jarinya berhenti cukup lama di kolom chat. Ia mengetik.
"Rak, besok sore ada waktu?"
Ia mengetik lagi.
"Aku pengin ngobrol."
Dihapus.
"Ah..."
"...garing."
Ia mengusap wajahnya sendiri. Lalu tersenyum kecil.
"Ayo, Yan."
"Kalau sekarang aja takut..."
"...kapan lagi?"
Akhirnya ia mulai mengetik pelan.
"Rak..."
"Besok sore kalau gak ada kegiatan, kita ngopi yuk di kafe yang biasa."
"Aku ada sesuatu yang pengin aku ceritain."
"Sesuatu yang harusnya udah dari dulu aku bilang."
Jarinya menggantung di tombol kirim. Detik demi detik berlalu. Lalu...
Sent.
Pesan itu terkirim. Beberapa menit kemudian, layar ponselnya menyala. Balasan dari Raka datang jauh lebih cepat daripada yang ia bayangkan.
"Boleh banget Sar."
"Jam lima ya?"
"Aku yang traktir kopi."
Tanpa sadar Saras tertawa kecil.
"Masih aja..."
"...kalau ngajak ngopi selalu bilang mau nraktir."
Ia membalas singkat.
"Deal. Jangan telat ya. :)"
...
Sejak bangun pagi, tidak ada satu pekerjaan pun yang benar-benar bisa membuat Saras fokus. Di kantor, ia berkali-kali salah mengetik. Beberapa kali ia bahkan kehilangan konsentrasi saat membaca naskah.
Rekan kerjanya sampai bertanya,
"Mbak Saras lagi sakit?"
Saras hanya tersenyum.
"Enggak kok."
Padahal yang sakit bukan tubuhnya. Melainkan jantungnya yang sejak pagi terus berdegup lebih cepat dari biasanya. Ia berkali-kali melihat jam.
Masih pukul sebelas.
Masih pukul satu.
Masih pukul tiga.
Waktu berjalan begitu lambat. Di sela-sela pekerjaannya, ia membuka kamera ponsel. Bukan karena ingin berdandan berlebihan. Melainkan karena ia tiba-tiba merasa canggung.
"Bas bakal sadar gak ya..."
"...kalau aku Yana?"
Lalu ia tertawa sendiri.
"Ya jelas sadar lah..."
"Kan Yana cantik hihi."
...
Pukul empat sore. Saras sudah berada di apartemennya. Lemari pakaian terbuka lebar. Berbagai pakaian tergantung di depan matanya. Ia mengambil kemeja putih.
Menggeleng.
Mengembalikannya.
Mengambil sweater.
Menggeleng lagi.
"Malah kayak mau interview."
Ia tertawa pelan. Akhirnya ia memilih blouse berwarna krem sederhana yang selama ini jarang dipakai. Dipadukan dengan celana panjang hitam dan sepatu putih. Sederhana. Namun cukup membuatnya nyaman.
Di depan cermin ia hanya memakai riasan tipis. Tidak berlebihan. Ia merapikan rambutnya. Lalu berhenti menatap bayangannya sendiri.
"Saras..."
"...terima kasih udah nemenin aku selama ini."
Ia tersenyum. Kemudian menggeleng pelan.
"Hari ini..."
"...aku gak mau jadi Saras."
Ia menarik napas panjang.
"Dan aku juga..."
"...gak mau jadi Nara."
Matanya mulai berkaca-kaca.
"Hari ini..."
"...aku pengin jadi Yana."
Nama itu keluar begitu saja dari bibirnya. Nama yang bertahun-tahun hanya hidup di dalam hati. Ia mengambil tasnya. Menggenggam sebuah permen stroberi yang sengaja ia bawa dari rumah. Permen itu ia masukkan ke dalam saku kecil tasnya.
"Mudah-mudahan..."
"...kamu masih ingat."
...
Sementara itu. Raka sudah lebih dulu tiba di kafe. Ia memilih meja yang berada di dekat jendela. Meja yang beberapa kali pernah mereka gunakan ketika berdiskusi soal naskah.
Pelayan datang.
"Mau pesan, Mas?"
"Americano satu boleh."
Raka sempat berpikir sejenak.
"Terus..."
"...satu strawberry latte."
Pelayan tersenyum.
"Untuk Mbak Saras ya?"
Raka ikut tersenyum kecil.
"Iya."
"Soalnya biasanya itu favorit dia."
Ia tidak sadar, bahwa pilihan minuman itu nantinya akan menjadi salah satu kenangan yang paling menyakitkan.
...
Saras menyetir sendiri sore itu. Langit Jakarta mulai berubah jingga. Lalu lintas sedikit lebih padat dari biasanya. Beberapa ratus meter sebelum kafe, kendaraan mendadak berhenti total.
Kemacetan. Saras melihat jam.
16.57.
"Ya ampun..."
Ia menggigit bibir. Tangannya mulai gelisah mengetuk setir. Lampu merah terasa jauh lebih lama. Beberapa kali ia melirik ponselnya. Ingin memberi kabar kepada Raka. Namun berpikir,
"Ah... paling cuma lima menit."
Ia tidak tahu, bahwa lima menit itu akan mengubah segalanya.
...
Jam di dinding kafe menunjukkan pukul 17.08. Raka sesekali melirik pintu masuk. Belum ada tanda-tanda Saras datang.
Pelayan menghampiri sambil meletakkan secangkir Americano dan Strawberry Latte di atas meja.
"Silakan, Mas."
"Terima kasih."
Raka hanya mengangguk kecil. Tangannya memainkan sendok, mengaduk kopi tanpa benar-benar meminumnya. Ia tersenyum sendiri.
"Kira-kira Saras mau cerita apa ya?"
Selama bekerja bersama berbulan-bulan, Saras bukan tipe orang yang mudah mengajak seseorang bertemu di luar urusan pekerjaan. Kalaupun bertemu, biasanya selalu berkaitan dengan naskah. Namun kali ini berbeda.
"Ada sesuatu yang harusnya udah dari dulu aku bilang."
Kalimat itu terus terngiang di kepala Raka. Entah kenapa, ia juga ikut merasa gugup. Tiba-tiba bel kecil di pintu kafe berbunyi.
Ting...
Raka spontan menoleh. Namun senyumnya perlahan menghilang.
"Sel..."
Perempuan yang baru saja masuk itu ikut berhenti melangkah. Matanya membesar.
"Raka?"
Mereka saling menatap beberapa detik. Sama-sama terkejut. Tidak ada yang menyangka akan bertemu di tempat itu. Di belakang Selena berdiri seorang pria dengan postur tinggi mengenakan kemeja biru muda. Pria itu membawa sebuah map cokelat dan beberapa kantong belanja.
Selena menoleh kepadanya.
"Mas, aku ngobrol sebentar ya sama teman kuliah."
Pria itu tersenyum ramah.
"Oh, iya. Aku pesan minum dulu."
Ia berjalan menuju kasir tanpa menunjukkan sedikit pun rasa curiga.
Raka berdiri.
"Eh..."
"Silakan duduk."
Selena mengangguk pelan. Ia menarik kursi di depan Raka. Suasana menjadi sedikit canggung. Sudah hampir tiga tahun sejak pertemuan terakhir mereka. Begitu banyak hal berubah.
Namun anehnya, tidak ada lagi rasa marah. Tidak ada lagi rasa kecewa. Yang tersisa hanyalah dua orang yang pernah saling mengenal dengan sangat baik.
...
Selena memandangi wajah Raka beberapa saat. Ia tersenyum tipis.
"Kamu berubah."
Raka tertawa kecil.
"Kamu juga."
"Hmm?"
"Kelihatan lebih bahagia."
Selena menunduk.
"Iya..."
Beberapa detik mereka sama-sama diam. Seolah sedang mencari kalimat pertama yang tepat. Akhirnya Selena yang lebih dulu membuka percakapan.
"Rak..."
"Maaf ya."
Raka sedikit mengernyit.
"Maaf buat apa?"
"Buat semuanya."
"Buat waktu itu."
"Buat semua sikapku."
Raka menggeleng pelan.
"Udah lama kok."
"Udah lewat."
"Tapi..."
Selena menarik napas panjang.
"Aku tetap merasa bersalah."
Ia menggenggam kedua tangannya sendiri. Seolah sedang mengumpulkan keberanian.
"Aku sadar..."
"Selama kita pisah..."
"...aku masih sering ngasih harapan."
"Aku masih sering ngehubungin kamu."
"Masih sering cerita."
"Padahal..."
"...aku sendiri gak pernah benar-benar balik."
Raka hanya mendengarkan. Tanpa menyela. Selena tersenyum pahit.
"Itu egois ya."
Raka perlahan menggeleng.
"Kita sama-sama belajar."
"Bukan salah kamu sendirian."
Selena mengangkat wajah. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Makasih..."
"...udah gak benci sama aku."
Raka tersenyum kecil.
"Capek kalau terus nyimpen benci."
Kalimat itu membuat Selena ikut tersenyum. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka berbicara tanpa beban.
Tidak sebagai mantan. Tidak pula sebagai dua orang yang masih saling menunggu. Hanya dua manusia yang sedang menutup sebuah bab lama dalam hidup mereka.
Selena kemudian membuka tas kecilnya. Ia mengeluarkan sebuah amplop putih. Meletakkannya perlahan di atas meja.
"Aku sebenarnya..."
"...mau ngasih ini."
Raka menatap amplop itu. Tanpa perlu membukanya pun, ia sudah tahu isinya.
Selena berkata lirih,
"Aku akan menikah bulan depan."
Suara di dalam kafe seolah menghilang. Raka menatap undangan itu cukup lama. Tidak ada rasa sesak seperti yang dulu pernah ia bayangkan. Tidak ada amarah. Tidak ada keinginan untuk menahan. Yang ada hanyalah...keheningan.
Selena melanjutkan,
"Aku sengaja pengin bilang langsung."
"Aku gak mau..."
"...kamu tahunya dari orang lain."
Raka akhirnya tersenyum. Senyum yang tulus.
"Selamat ya."
Selena menatapnya tidak percaya.
"Kamu serius?"
"Iya."
"Aku doain..."
"...semoga kamu bahagia."
Kalimat sederhana itu justru membuat air mata Selena jatuh.
"Rak..."
"Makasih."
"Dan..."
"...tolong."
Raka mengangguk pelan. Selena mengembuskan napas panjang. Seolah beban yang dipikulnya bertahun-tahun akhirnya akan dilepaskan.
"Jangan nunggu aku lagi."
"Kamu juga pantas bahagia."
Raka memandangi cangkir kopinya. Lalu tertawa pelan.
"Bahkan..."
"...aku udah lama berhenti nunggu."
"Aku cuma belum sempat bilang selamat tinggal."
Selena tersenyum sambil mengusap sudut matanya.
"Nah..."
"Sekarang udah."
Suasana haru berubah menjadi tawa kecil diantara mereka.
...
Di luar kafe, Saras akhirnya berhasil memarkir mobilnya. Ia buru-buru mengambil tas. Menarik napas panjang.
"Oke..."
"Tenang, Yan."
"Hari ini."
"Semuanya selesai."
Ia menggenggam permen stroberi di dalam saku tasnya. Lalu melangkah menuju pintu kaca kafe. Bel pintu berbunyi pelan.
Ting...
Begitu memasuki ruangan, pandangan pertamanya langsung tertuju pada meja dekat jendela.
Di sana Raka sedang duduk. Di depannya seorang perempuan cantik sedang tersenyum sambil mengusap air mata.
Beberapa detik kemudian. Raka ikut tersenyum. Lalu mendorong sebuah tisu ke arah perempuan itu. Tidak ada satu kata pun yang terdengar oleh Saras.
Yang ia lihat hanyalah dua orang yang tampak begitu akrab. Sementara di atas meja terdapat dua cangkir kopi yang hampir habis.
Jantung Saras mendadak terasa jatuh. Tangannya yang menggenggam permen stroberi perlahan mengendur. Permen itu terlepas. Jatuh ke lantai.
Tok.
Namun suara kecil itu tenggelam di antara riuh percakapan para pengunjung. Saras tidak mengambilnya. Ia hanya berdiri mematung. Bibirnya berusaha tersenyum. Namun matanya mulai dipenuhi air.
"Jadi..."
"Aku memang terlambat."
Tanpa sadar, ia mundur satu langkah. Lalu satu langkah lagi. Dan sebelum Raka sempat menoleh ke arah pintu. Saras sudah berbalik.
Pergi.
Meninggalkan permen stroberi yang masih tergeletak di lantai kafe. Sementara di dalam, Raka sama sekali tidak menyadari.
Bahwa seseorang yang telah menyiapkan keberanian selama bertahun-tahun...baru saja datang. Dan pergi. Tanpa sempat mengucapkan satu kata pun.
...
Beberapa menit setelah Selena berpamitan ke Raka. Tunangannya menghampiri.
"Udah, Sel?"
Selena mengangguk.
"Iya."
Ia menoleh sekali lagi kepada Raka.
"Jaga diri ya."
"Kamu juga."
Selena tersenyum. Lalu berjalan keluar bersama calon suaminya. Raka memandangi punggung mereka hingga menghilang di balik pintu kaca. Ia tersenyum kecil. Bukan senyum bahagia. Melainkan senyum seseorang yang akhirnya berhasil menutup sebuah bab lama dalam hidupnya. Ia mengembuskan napas panjang.
"Selamat ya, Sel..."
Lalu tanpa sadar ia melihat jam di dinding.
17.42
"Saras kok lama ya..."
Ia mengambil ponselnya. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan.
Ia menoleh ke arah pintu. Masih berharap Saras muncul.
...
Sementara itu. Saras sudah berada di dalam mobil. Mesinnya belum dinyalakan. Tangannya masih berada di atas setir. Matanya sembab. Ia terus menatap layar ponselnya. Ada belasan panggilan dari Raka.
Tidak satu pun ia angkat. Beberapa pesan masuk.
"Sar, masih di jalan?"
Lima menit kemudian.
"Aku masih nunggu kok."
Sepuluh menit kemudian.
"Macet ya? Santai aja."
Saras menggigit bibirnya. Air mata kembali jatuh.
"Maaf..."
"...aku gak kuat."
Ia mulai mengetik. Jarinya gemetar. Beberapa kali ia menghapus kalimat yang sudah ditulis. Akhirnya...hanya satu kebohongan sederhana yang ia kirim.
"Maaf ya Rak."
"Tiba-tiba ada urusan keluarga yang mendadak."
"Kayaknya kita jadwal ulang aja."
Pesan itu terkirim. Saras langsung mematikan layar ponselnya. Ia tahu tidak ada urusan keluarga. Yang sebenarnya mendadak adalah hatinya yang kembali hancur.
...
Di dalam kafe. Ponsel Raka bergetar. Ia langsung membukanya. Pesan dari Saras. Raka membacanya pelan. Lalu tersenyum kecil.
"Gapapa, Sar."
"Keluarga memang lebih penting."
"Lain kali aja ya."
Pesan itu terkirim. Raka kembali menaruh ponselnya di atas meja. Ia meminum kopi yang sudah mulai dingin. Pandangannya kosong.
Pelayan datang menghampiri.
"Maaf Mas..."
"Kafe kami mau tutup."
"Oh..."
Raka baru sadar. Hari sudah hampir malam. Ia berdiri. Mengambil tasnya. Saat hendak melangkah keluar, matanya sempat menangkap sesuatu di dekat pintu masuk.
Sebuah permen stroberi.
Masih utuh. Terbungkus rapi.
"Permen siapa ya?"
Ia mengambilnya. Mengamatinya beberapa detik. Lalu meletakkannya di meja kasir.
"Mbak..."
"Kalau ada yang nyari permen ini, tolong kasih ya."
Pelayan mengangguk.
"Baik, Mas."
Raka pun keluar dari kafe. Tidak pernah tahu bahwa permen kecil itu sebenarnya adalah hadiah pertama yang ingin diberikan Yana kepadanya setelah belasan tahun berpisah.
Dan lebih tidak ia ketahui lagi, bahwa hari itu, ia nyaris bertemu dengan cinta pertamanya. Hanya saja, mereka dipisahkan oleh lima menit dan sebuah kesalahpahaman.
Comments
Post a Comment