Luka Yang Belum Selesai
Warung Indomie mulai sepi. Raka baru saja pulang. Kevin membereskan meja. Tak lama bel pintu berbunyi.
Ting...
Yang masuk adalah Saras. Bukan sebagai Nara. Bukan sebagai penulis. Hanya sebagai pelanggan tetap. Kevin tersenyum.
"Lama gak mampir."
Saras membalas senyum.
"Satu Indomie goreng ya."
"Pedes?"
"Seperti biasa."
Mereka duduk. Tidak banyak bicara. Namun dari tatapan mereka, terlihat mereka menyimpan sesuatu.
...
Dua Tahun lalu, Kevin yang seperti biasa setelah menutup warungnya, ia membuka ponsel dan tiba-tiba ada sebuah notifikasi masuk, dia menerima pesan Facebook, dari akun yang tidak dikenalnya, hanya nama facebook yang terlihat.
Narayana Sarasvati
Kevin mengernyit.
"Narayana?"
Ia membuka chat.
"Jay...Ini aku."
Kevin membeku. Lalu membalas pesan Yana.
"Kok kamu tahu nama kecilku?"
"Iya ini aku Yana, temen kamu Sanjay, sama Basara waktu kecil dulu"
...
Kevin tidak membalas pesan itu. Bukan karena marah. Bukan pula karena ragu. Melainkan karena ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.
Nama Yana sudah bertahun-tahun tidak pernah muncul lagi dalam hidupnya. Nama itu perlahan berubah menjadi sebuah kenangan masa kecil yang terkubur bersama waktu. Ia bahkan sempat berpikir, mungkin Yana sudah melupakan mereka berdua.
Namun kini, nama itu muncul kembali di layar ponselnya. Dengan tangan sedikit gemetar, Kevin menekan tombol panggil.
Nada sambung pertama.
Kedua.
Ketiga.
Lalu terdengar suara perempuan yang sangat pelan.
"...Halo?"
Kevin terdiam. Suara itu memang sudah jauh berubah. Tidak lagi cempreng seperti anak kecil yang selalu berlari paling depan ketika bermain petak umpet.
Namun...
ia masih mengenali satu hal. Cara perempuan itu mengucapkan huruf "h".
"Yan?"
Tidak ada jawaban. Yang terdengar hanya napas yang bergetar.
"Yan?"
Beberapa detik kemudian...suara tangis pecah dari seberang telepon.
"Jay..."
"...maaf..."
Kevin memejamkan mata. Entah mengapa dadanya ikut terasa sesak. Sudah bertahun-tahun. Dan kata pertama yang keluar dari mulut Yana tetaplah permintaan maaf.
"Aku..."
"...maaf ya..."
"Aku ninggalin kalian."
Tangisan itu semakin keras. Kevin tidak menyela. Ia tahu ada begitu banyak hal yang selama ini dipendam perempuan itu.
Hampir lima menit mereka hanya saling terdiam. Hanya suara tangis Yana yang sesekali terdengar. Baru setelah napasnya mulai teratur, Kevin berkata pelan.
"Yan..."
"Gak usah buru-buru."
"Ceritain pelan-pelan."
"Aku dengerin."
...
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun. Yana menceritakan semuanya.
Beberapa hari setelah kepindahan keluarganya, ia sebenarnya masih sempat menulis surat untuk Basara dan Sanjay.
Namun surat itu tidak pernah sampai. Alamat mereka berubah. Nomor telepon keluarga juga berganti. Ketika keluarganya pindah lagi ke Kalimantan, hidup Yana berubah sepenuhnya. Ia harus beradaptasi dengan sekolah baru. Teman baru. Lingkungan baru. Semua terasa asing.
"Tiap ulang tahun..."
"...aku selalu inget kalian."
Kevin hanya diam mendengarkan.
"Kalau lihat pohon mangga..."
"...aku inget Bas."
"Kalau lihat anak-anak main bola..."
"...aku inget Jay."
Tangisnya kembali pecah.
"Aku pengin pulang."
"Tapi..."
"...aku gak tau harus pulang ke mana."
Beberapa tahun kemudian, keluarganya kembali pindah. Kali ini ke Jakarta. Yana mulai memiliki akses internet yang lebih baik. Ia membuat akun media sosial. Satu demi satu nama ia cari.
Basara. Tidak ada.
Raka. Ratusan hasil muncul. Tidak ada satu pun yang benar.
Sanjay. Tidak ada.
Kevin. Puluhan nama. Sampai akhirnya...ia menemukan satu foto.
Seorang laki-laki sedang berdiri di depan warung kecil sambil tersenyum memegang semangkuk Indomie. Di pojok foto tertulis,
Kevin Djay.
Yana langsung menangis.
"Jay..."
"...akhirnya ketemu juga."
Namun ia tidak langsung berani menghubungi. Ia hanya melihat akun itu hampir setiap hari. Berulang kali membuka kolom pesan.
Mengetik. Menghapus. Mengetik lagi. Menghapus lagi.
Butuh waktu hampir enam bulan...sampai akhirnya ia mengirim satu kalimat sederhana.
"Jay...Ini aku."
Setelah suasana mulai tenang, Yana bertanya dengan suara yang nyaris berbisik.
"Jay..."
"...Bas gimana sekarang?"
Kevin tidak langsung menjawab. Ia berjalan keluar rumah. Duduk di teras. Menatap langit malam.
"Bas..."
"...udah beda."
"Dulu dia masih sering nyebut nama kamu."
"Setelah ayahnya meninggal..."
"...dia berubah."
Yana terdiam.
Kevin mulai menceritakan semuanya. Bagaimana Basara kecil yang selalu paling berisik perlahan menjadi anak yang pendiam. Bagaimana ia lebih sering duduk sendirian di bawah pohon mangga. Bagaimana setiap sore ia masih menunggu seseorang yang tak pernah datang.
"Dia sempat marah."
"Bukan sama kamu."
"Tapi sama keadaan."
"Lama-lama..."
"...dia berhenti nyebut nama Yana."
"Kayak..."
"...dia maksa dirinya buat lupa."
Yana menutup mulutnya. Air matanya jatuh tanpa bisa dihentikan.
"Semua..."
"...gara-gara aku."
Kevin langsung memotong.
"Bukan."
"Jangan nyalahin diri sendiri."
"Kita semua waktu itu masih kecil."
"Tidak ada yang punya pilihan."
...
Percakapan mereka tidak berhenti malam itu. Justru sejak hari itu, Kevin dan Yana mulai sering saling berkabar.
Kadang seminggu sekali.
Kadang dua minggu sekali.
Topiknya hampir selalu sama. Basara.
"Masih nyari kerja ya?"
"Masih suka gambar?"
"Masih suka begadang?"
Kevin mulai sadar. Selama bertahun-tahun, ternyata Yana tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya kehilangan jalan untuk kembali.
Suatu malam, setelah selesai menutup warung, Kevin duduk sendirian. Ia membuka Republik Maya. Memandangi layar kosong cukup lama. Lalu sebuah ide muncul.
"Kalau..."
"...gue gak bisa mempertemuin mereka di dunia nyata..."
"...kenapa gak bikin tempat..."
"...biar mereka ketemu sendiri?"
Esok harinya, lahirlah sebuah server kecil. Awalnya hanya berisi Kevin. Kemudian Adit. Rio. Mia. Miko.
Sedikit demi sedikit server itu mulai hidup. Sampai akhirnya, Kevin mengirim tautan undangan kepada Raka.
Raka masuk.
Beberapa hari kemudian. Kevin membuka daftar teman. Ia mengetik satu nama. Yana.
Pesannya hanya satu.
"Sekarang waktunya."
Balasan dari Yana datang cukup lama.
"Aku takut."
Kevin tersenyum. Lalu membalas.
"Aku juga. Tapi Bas gak boleh terus hidup sama luka yang sama."
Beberapa menit kemudian, sebuah nama baru muncul di daftar anggota. Nara. Kevin hanya memandangi layar. Senyum kecil perlahan muncul di wajahnya.
"Selamat datang..."
...
Hari-hari berikutnya, Kevin memilih diam. Ia melihat Raka mulai tertawa lagi. Ia melihat Yana perlahan kembali menjadi dirinya sendiri setiap kali berbicara dengan Basara.
Ia melihat dua sahabat kecil yang dulu terpisah oleh keadaan, kini dipertemukan kembali oleh suara. Bukan wajah. Bukan nama. Hanya suara.
Ada banyak momen ketika Kevin hampir saja membongkar semuanya. Saat melihat Raka mulai nyaman dengan Nara. Saat melihat Yana diam-diam memperhatikan Raka.
Saat mereka bertemu di warung.
Saat mereka bertemu di kantor.
Namun setiap kali itu pula. Kevin menahan diri.
Ia percaya satu hal. Jika hubungan itu dipaksakan, mereka hanya akan mengingat luka. Tetapi jika mereka saling mengenal kembali sebagai orang dewasa, mereka akan mencintai satu sama lain bukan karena masa lalu. Melainkan karena siapa mereka hari ini.
...
Suara sendok yang beradu dengan mangkuk memecah keheningan warung. Indomie yang dipesan Saras sudah hampir habis. Ia meletakkan sumpitnya pelan.
"Masih seenak dulu."
Kevin tersenyum.
"Resepnya gak pernah berubah."
Saras ikut tersenyum.
"Tapi orang-orangnya berubah."
Kalimat itu membuat Kevin terdiam beberapa saat. Ia memandangi sahabat masa kecilnya itu. Perempuan kecil yang dulu selalu paling cerewet kini berbicara jauh lebih pelan. Namun satu hal tidak berubah.
Tatapan matanya ketika menyebut nama Basara. Masih sama seperti belasan tahun yang lalu.
Kevin akhirnya berkata pelan.
"Yan..."
Saras mengangkat wajah.
"Bas mulai sadar."
"Aku tahu."
"Dia mulai nyari hubungan antara Nara sama Saras."
Saras menggigit bibirnya.
"Aku kepikiran Jay."
"Gimana kalau dia masih benci."
"Gimana kalau dia ngerasa dibohongin."
Kevin menggeleng.
"Yang dia benci dulu..."
"...bukan kamu."
"Yang dia benci..."
"...adalah perpisahan."
Air mata kembali menggenang di mata Saras. Kevin melanjutkan dengan suara yang jauh lebih lembut.
"Selama ini..."
"...kamu udah cukup lama sembunyi."
"Udah cukup lama minta maaf sama diri sendiri."
"Sekarang..."
"...coba kasih kesempatan Bas buat denger penjelasanmu."
Saras menatap meja. Tangannya menggenggam gelas teh hangat.
"Aku masih belum siap."
Kevin tersenyum kecil.
"Gak ada orang yang benar-benar siap."
"Tapi kalau terus nunggu siap..."
"...kalian bakal terus saling mencari."
Warung kembali sunyi. Hanya suara kipas angin tua yang berputar pelan di langit-langit.
...
Saras berdiri di depan pintu warung. Udara malam terasa sejuk setelah hujan yang baru saja reda. Ia menoleh sekali lagi ke arah Kevin.
"Jay..."
"Makasih."
"Buat semuanya."
Kevin menggeleng sambil tersenyum.
"Gue gak ngelakuin apa-apa."
"Gue cuma..."
"...ngembaliin dua sahabat yang pernah dipisahin keadaan."
Saras mengangguk pelan. Lalu berjalan menuju mobilnya.
Kevin memandangi punggungnya hingga menghilang di balik tikungan jalan. Di atas meja kasir masih tergeletak sebuah foto lama yang selalu ia simpan di laci.
Tiga anak kecil.
Basara.
Yana.
Sanjay.
Ketiganya tersenyum lebar di bawah pohon mangga tua. Kevin mengambil foto itu. Mengusap permukaannya dengan ibu jari. Lalu tersenyum tipis.
"Bas..."
"Lo udah nemuin dia."
"Yan..."
"Lo juga udah nemuin jalan pulang."
Ia memasukkan kembali foto itu ke dalam laci. Lampu warung dimatikannya satu per satu. Sebelum benar-benar menutup rolling door, Kevin menatap langit malam yang dipenuhi bintang. Lalu berbisik pelan, seolah mengirim doa kepada dua sahabat masa kecilnya.
"Sekarang..."
"...tinggal lo yang jujur sama dia, Yan."
"Sisanya..."
"...biarin waktu yang nyelesaiin."
Rolling door pun perlahan tertutup. Dan untuk pertama kalinya sejak Republik Maya berdiri. Kevin merasa perannya sebagai penjaga jembatan hampir selesai. Kini, yang tersisa bukan lagi soal mempertemukan mereka, melainkan keberanian dua hati yang sejak kecil saling mencari untuk akhirnya saling mengenali kembali.
Comments
Post a Comment