Jejak Yang Sama
Sudah hampir satu bulan sejak Raka resmi menjadi Editor Junior. Pekerjaan yang dulu terasa asing, kini perlahan mulai menjadi rutinitas.
Sebuah naskah novel remaja memenuhi layar komputernya. Raka sedang menyusun komentar revisi ketika Saras datang membawa sebuah map berwarna cokelat.
"Gimana, Rak?"
Raka menghela napas.
"Ceritanya bagus sih, Sar."
"Cuma..."
"...dialognya masih agak kaku."
"Boleh lihat?"
Raka menggeser kursinya. Saras membaca beberapa menit tanpa berbicara. Kemudian ia mengambil mouse. Ia tidak mengubah isi dialog itu sedikit pun. Ia hanya mengganti satu kalimat komentar yang dibuat Raka. Semula Raka menulis,
"Dialog ini kurang natural, mohon diperbaiki."
Saras menghapusnya. Lalu mengetik perlahan.
"Bagaimana kalau dialog ini dibuat sedikit lebih santai? Menurutku pembaca akan lebih mudah merasakan emosi tokohnya."
Raka memperhatikan dengan saksama.
"Hah...Cuma diganti begitu?"
Saras tersenyum kecil.
"Kalimat itu isinya sama. Tapi rasanya beda."
"Maksudnya?"
"Kalau kita bilang seseorang salah..."
"...orang akan sibuk membela diri."
"Tapi kalau kita mengajak..."
"...orang akan lebih mudah menerima."
Raka mengangguk pelan. Saras menambahkan,
"Editor itu bukan polisi."
"Editor itu partner penulis."
"Kalau penulis merasa dihargai..."
"...mereka akan memperbaiki tulisannya dengan senang hati."
Entah kenapa kalimat itu langsung tersimpan di kepala Raka.
...
Siang itu mereka makan bersama di kantin. Obrolannya jauh dari pekerjaan.
"Sar."
"Yup?"
"Kalau nulis mentok biasanya ngapain?"
Saras berpikir sebentar.
"Lihat langit."
"Hah? Serius?"
"Iya."
"Kadang kita terlalu lama melihat layar."
"Padahal ide sering datang waktu kita berhenti sebentar."
Raka tertawa.
"Aneh."
Saras ikut tertawa.
"Memang."
Tidak lama kemudian seorang rekan kerja tidak sengaja menjatuhkan gelas minumnya di dekat Saras.
"Maaf... maaf..."
Saras langsung membantu membereskan. Sambil tersenyum ia berkata,
"Gapapa kok. Terima kasih ya udah langsung dibersihin."
Kalimat itu terdengar biasa. Namun Raka kembali mengingat sesuatu.
...
Malam. Voice channel kembali ramai. Adit sedang bermain game.
"HADUH!"
"Gue bikin kita kalah lagi!"
"Maaf ya, guys!"
Kevin langsung tertawa.
"Lu emang beban."
Suasana kembali ricuh. Di tengah keributan itu, suara Nara terdengar pelan.
"Dit."
"Hm?"
"Jangan minta maaf."
Adit bingung.
"Lah?"
Nara tertawa kecil.
"Coba bilang...makasih ya udah mau sabar main bareng.'
"Kalau gitu..."
"...rasanya beda."
Voice mendadak hening. Kevin berhenti tertawa. Rio yang biasanya cuek bahkan ikut berkata,
"Sepakat."
Adit menggaruk kepala.
"Oh iya ya."
"Iya juga."
Semua kembali tertawa. Namun tidak dengan Raka. Ia hanya sedang menyadari sesuatu.
...
Malam semakin larut. Voice sudah mulai sepi.
Adit keluar.
Mia pamit.
Miko sibuk dengan pekerjaan.
Rio juga meninggalkan kanal.
Kini...
tinggal Raka dan Nara.
Namun malam itu Raka tidak banyak bicara.
"Rak?"
"Iya Nar?"
"Kamu capek?"
"Enggak. Cuma lagi mikir."
"Mikir apa?"
"..."
"Gak tau."
"Aneh aja."
Nara tersenyum kecil. Raka melanjutkan kalimatnya.
"Kadang..."
"...memang gak semua hal harus langsung dipahami."
"Iya juga ya."
Obrolan mereka tidak berlangsung lama. Setelah saling mengucapkan selamat malam, voice pun berakhir.
...
Beberapa hali berlalu, malam itu Raka belum tidur. Ia duduk di depan meja belajarnya. Di samping laptop terdapat sebuah buku kecil. Sejak menjadi editor, ia memang mulai membiasakan diri mencatat hal-hal menarik.
Ia membuka beberapa halaman. Di salah satu halaman tertulis.
"Editor bukan polisi. Editor adalah partner penulis."
Kalimat dari Saras. Raka tersenyum.
"Lumayan keren."
Tanpa sengaja, matanya tertuju pada Republik Maya yang masih terbuka.
Ia menggulir percakapan lama bersama Nara. Beberapa minggu lalu. Saat Adit sempat merasa bersalah karena kalah bermain.
Nara pernah menulis.
"Daripada minta maaf terus, lebih baik bilang terima kasih ke orang yang tetap bertahan."
Raka membeku. Tangannya berhenti menggulir. Ia kembali melihat buku catatannya. Lalu melihat Republik Maya.
Buku.
Layar.
Buku.
Layar.
Semakin lama, semakin terasa mirip. Bukan kalimatnya. Tetapi cara berpikirnya.
...
Keesokan harinya. Saat sedang berdiskusi tentang sebuah manuskrip, Saras tampak berpikir. Tanpa sadar ujung jarinya mengetuk meja.
Tok.
Tok.
Tok.
Raka spontan menoleh. Seketika ia teringat sesuatu. Malam-malam sebelumnya ketika Nara sedang berpikir sebelum menjawab pertanyaan. Melalui mikrofon selalu terdengar suara yang sama.
Tok.
Tok.
Tok.
Saat itu Raka sempat bertanya.
"Itu suara apa?"
Dan Nara hanya menjawab santai.
"Oh maaf Rak, Ganggu ya? Aku kalau lagi mikir emang suka ngetuk meja."
Waktu itu Raka menganggapnya biasa saja. Namun sekarang suara itu kembali terdengar. Persis. Tidak kurang. Tidak lebih.
...
Sepulang kerja. Raka mampir ke warung. Seperti biasa membawa dua bungkus makanan. Melihat wajah Raka yang sedang melamun, Kevin langsung tertawa.
"Kenapa? Lagi mikirin revisi?"
Raka menggeleng.
"Vin."
"Hm?"
"Menurutmu..."
"...dua orang bisa gak sih..."
"...punya kebiasaan yang hampir sama?"
Kevin berhenti mengunyah. Sedetik. Dua detik. Ia menatap Raka. Lalu menjawab santai.
"Bisa aja. Kembar?"
"Bukan."
"Ya..."
"...mungkin kebetulan aja mirip dan cocok."
Raka mengangguk pelan.
"Iya ya."
Kevin hanya tersenyum tipis.
...
Malam itu. Setelah semua lampu kamar dimatikan. Raka masih terbaring dengan mata terbuka. Pikirannya kembali mengulang satu per satu kejadian beberapa hari terakhir.
Cara Saras memilih kata.
Cara Nara menenangkan orang.
Kebiasaan mengetuk meja.
Cara mereka mendengarkan.
Cara mereka membuat orang lain merasa dihargai.
Semuanya terasa begitu mirip. Ia menggeleng pelan. Lalu tertawa kecil pada dirinya sendiri.
"Ah..."
"...ngaco."
"Masa iya..."
"...ada dua orang yang semirip itu?"
Kalimat itu menghilang bersama matanya yang perlahan terpejam.
Sementara di sisi lain kota. Saras memandangi layar laptop yang menampilkan nama Nara di Republik Maya. Ia tersenyum tipis. Tanpa ia sadari orang yang selama ini berusaha ia tuntun kembali mengingat masa lalunya, akhirnya mulai mengikuti jejak-jejak kecil yang ia tinggalkan. Dan untuk pertama kalinya Raka tidak lagi menganggap semuanya sebagai kebetulan.
Comments
Post a Comment