Skip to main content

Republik Maya: Bab 22

Jejak Yang Sama

Sudah hampir satu bulan sejak Raka resmi menjadi Editor Junior. Pekerjaan yang dulu terasa asing, kini perlahan mulai menjadi rutinitas.

Sebuah naskah novel remaja memenuhi layar komputernya. Raka sedang menyusun komentar revisi ketika Saras datang membawa sebuah map berwarna cokelat.

"Gimana, Rak?"

Raka menghela napas.

"Ceritanya bagus sih, Sar."

"Cuma..."

"...dialognya masih agak kaku."

"Boleh lihat?"

Raka menggeser kursinya. Saras membaca beberapa menit tanpa berbicara. Kemudian ia mengambil mouse. Ia tidak mengubah isi dialog itu sedikit pun. Ia hanya mengganti satu kalimat komentar yang dibuat Raka. Semula Raka menulis,

"Dialog ini kurang natural, mohon diperbaiki."

Saras menghapusnya. Lalu mengetik perlahan.

"Bagaimana kalau dialog ini dibuat sedikit lebih santai? Menurutku pembaca akan lebih mudah merasakan emosi tokohnya."

Raka memperhatikan dengan saksama.

"Hah...Cuma diganti begitu?"

Saras tersenyum kecil.

"Kalimat itu isinya sama. Tapi rasanya beda."

"Maksudnya?"

"Kalau kita bilang seseorang salah..."

"...orang akan sibuk membela diri."

"Tapi kalau kita mengajak..."

"...orang akan lebih mudah menerima."

Raka mengangguk pelan. Saras menambahkan,

"Editor itu bukan polisi."

"Editor itu partner penulis."

"Kalau penulis merasa dihargai..."

"...mereka akan memperbaiki tulisannya dengan senang hati."

Entah kenapa kalimat itu langsung tersimpan di kepala Raka.

...

Siang itu mereka makan bersama di kantin. Obrolannya jauh dari pekerjaan.

"Sar."

"Yup?"

"Kalau nulis mentok biasanya ngapain?"

Saras berpikir sebentar.

"Lihat langit."

"Hah? Serius?"

"Iya."

"Kadang kita terlalu lama melihat layar."

"Padahal ide sering datang waktu kita berhenti sebentar."

Raka tertawa.

"Aneh."

Saras ikut tertawa.

"Memang."

Tidak lama kemudian seorang rekan kerja tidak sengaja menjatuhkan gelas minumnya di dekat Saras.

"Maaf... maaf..."

Saras langsung membantu membereskan. Sambil tersenyum ia berkata,

"Gapapa kok. Terima kasih ya udah langsung dibersihin."

Kalimat itu terdengar biasa. Namun Raka kembali mengingat sesuatu.

...

Malam. Voice channel kembali ramai. Adit sedang bermain game.

"HADUH!"

"Gue bikin kita kalah lagi!"

"Maaf ya, guys!"

Kevin langsung tertawa.

"Lu emang beban."

Suasana kembali ricuh. Di tengah keributan itu, suara Nara terdengar pelan.

"Dit."

"Hm?"

"Jangan minta maaf."

Adit bingung.

"Lah?"

Nara tertawa kecil.

"Coba bilang...makasih ya udah mau sabar main bareng.'

"Kalau gitu..."

"...rasanya beda."

Voice mendadak hening. Kevin berhenti tertawa. Rio yang biasanya cuek bahkan ikut berkata,

"Sepakat."

Adit menggaruk kepala.

"Oh iya ya."

"Iya juga."

Semua kembali tertawa. Namun tidak dengan Raka. Ia hanya sedang menyadari sesuatu.

...

Malam semakin larut. Voice sudah mulai sepi.

Adit keluar.

Mia pamit.

Miko sibuk dengan pekerjaan.

Rio juga meninggalkan kanal.

Kini...

tinggal Raka dan Nara.

Namun malam itu Raka tidak banyak bicara.

"Rak?"

"Iya Nar?"

"Kamu capek?"

"Enggak. Cuma lagi mikir."

"Mikir apa?"

"..."

"Gak tau."

"Aneh aja."

Nara tersenyum kecil. Raka melanjutkan kalimatnya.

"Kadang..."

"...memang gak semua hal harus langsung dipahami."

"Iya juga ya."

Obrolan mereka tidak berlangsung lama. Setelah saling mengucapkan selamat malam, voice pun berakhir.

...

Beberapa hali berlalu, malam itu Raka belum tidur. Ia duduk di depan meja belajarnya. Di samping laptop terdapat sebuah buku kecil. Sejak menjadi editor, ia memang mulai membiasakan diri mencatat hal-hal menarik.

Ia membuka beberapa halaman. Di salah satu halaman tertulis.

"Editor bukan polisi. Editor adalah partner penulis."

Kalimat dari Saras. Raka tersenyum.

"Lumayan keren."

Tanpa sengaja, matanya tertuju pada Republik Maya yang masih terbuka.

Ia menggulir percakapan lama bersama Nara. Beberapa minggu lalu. Saat Adit sempat merasa bersalah karena kalah bermain.

Nara pernah menulis.

"Daripada minta maaf terus, lebih baik bilang terima kasih ke orang yang tetap bertahan."

Raka membeku. Tangannya berhenti menggulir. Ia kembali melihat buku catatannya. Lalu melihat Republik Maya.

Buku.

Layar.

Buku.

Layar.

Semakin lama, semakin terasa mirip. Bukan kalimatnya. Tetapi cara berpikirnya.

...

Keesokan harinya. Saat sedang berdiskusi tentang sebuah manuskrip, Saras tampak berpikir. Tanpa sadar ujung jarinya mengetuk meja.

Tok.

Tok.

Tok.

Raka spontan menoleh. Seketika ia teringat sesuatu. Malam-malam sebelumnya ketika Nara sedang berpikir sebelum menjawab pertanyaan. Melalui mikrofon selalu terdengar suara yang sama.

Tok.

Tok.

Tok.

Saat itu Raka sempat bertanya.

"Itu suara apa?"

Dan Nara hanya menjawab santai.

"Oh maaf Rak, Ganggu ya? Aku kalau lagi mikir emang suka ngetuk meja."

Waktu itu Raka menganggapnya biasa saja. Namun sekarang suara itu kembali terdengar. Persis. Tidak kurang. Tidak lebih.

...

Sepulang kerja. Raka mampir ke warung. Seperti biasa membawa dua bungkus makanan. Melihat wajah Raka yang sedang melamun, Kevin langsung tertawa.

"Kenapa? Lagi mikirin revisi?"

Raka menggeleng.

"Vin."

"Hm?"

"Menurutmu..."

"...dua orang bisa gak sih..."

"...punya kebiasaan yang hampir sama?"

Kevin berhenti mengunyah. Sedetik. Dua detik. Ia menatap Raka. Lalu menjawab santai.

"Bisa aja. Kembar?"

"Bukan."

"Ya..."

"...mungkin kebetulan aja mirip dan cocok."

Raka mengangguk pelan.

"Iya ya."

Kevin hanya tersenyum tipis.

...

Malam itu. Setelah semua lampu kamar dimatikan. Raka masih terbaring dengan mata terbuka. Pikirannya kembali mengulang satu per satu kejadian beberapa hari terakhir.

Cara Saras memilih kata.

Cara Nara menenangkan orang.

Kebiasaan mengetuk meja.

Cara mereka mendengarkan.

Cara mereka membuat orang lain merasa dihargai.

Semuanya terasa begitu mirip. Ia menggeleng pelan. Lalu tertawa kecil pada dirinya sendiri.

"Ah..."

"...ngaco."

"Masa iya..."

"...ada dua orang yang semirip itu?"

Kalimat itu menghilang bersama matanya yang perlahan terpejam.

Sementara di sisi lain kota. Saras memandangi layar laptop yang menampilkan nama Nara di Republik Maya. Ia tersenyum tipis. Tanpa ia sadari orang yang selama ini berusaha ia tuntun kembali mengingat masa lalunya, akhirnya mulai mengikuti jejak-jejak kecil yang ia tinggalkan. Dan untuk pertama kalinya Raka tidak lagi menganggap semuanya sebagai kebetulan.

Comments

Popular posts from this blog

Republik Maya: Prologue

Prologue Di sebuah tempat bernama Republik Maya, orang-orang hidup berdampingan tanpa pernah benar-benar saling mengenal. Mereka berbicara setiap hari, tertawa di ruang obrolan yang sama, saling mengirim meme, musik, game dan cerita tentang hidup. Namun, di balik semua itu, ada satu aturan yang tak pernah tertulis, "Jangan bawa perasaan di grup" Raka tahu aturan itu. Semua orang tahu. Lalu datanglah Nara. Awalnya biasa saja. Ia hanya anggota baru yang sering muncul di kanal musik setiap malam. Suaranya tenang, dan caranya mendengarkan membuat siapa pun merasa dihargai. Mereka semua mulai sering berbincang. Tentang film, musik, konspirasi, sampai mimpi-mimpi yang bahkan belum berani mereka ceritakan kepada dunia nyata. Tanpa sadar, Raka mulai menunggu notifikasi yang hanya berasal dari satu nama. Kalimat itu berkali-kali muncul di kepalanya. Ia ingin mengatakannya. Sangat ingin. Namun setiap kali jari-jarinya menyentuh keyboard, kata-kata itu menghilang begitu saja. "Hi.....

Memoar Horor Masa Kecil: They Came When I Was Little

Ada memori yang memudar tertelan oleh waktu. Namun, ada pula memori yang tetap hidup, seolah menunggu malam tiba untuk kembali menghantui ingatan. Masa kecilku bukan hanya dipenuhi tawa dan permainan, tetapi juga pengalaman tak terlupakan yang hingga hari ini belum pernah berhasil aku jelaskan dengan logika. Seluruh cerita dalam tulisan ini adalah potongan-potongan pengalaman yang masih aku ingat dengan jelas. Aku tidak meminta siapa pun untuk mempercayainya. Aku hanya ingin menceritakan apa yang pernah aku lihat, dengar, dan rasakan. Karena terkadang, hal yang paling menyeramkan bukanlah hantu—melainkan kenyataan bahwa sebagian memori tidak pernah benar-benar pergi dan terus menghantui kita. Semoga kalian bisa menikmati cerita horor masa kecilku ini, mari kita masuk ke palung memori dan ingatan terdalamku—sebelum itu aku sarankan, lebih baik kalian matikan lampu kamar, pasang selimut, dan kuucapkan selamat membaca. 1. Teror Lampor: Keranda Terbang Sidoarjo, 2006. Saya masih kecil sa...

Republik Maya: Bab 2

Selamat Datang Malam selalu menjadi waktu yang paling panjang bagi Raka. Dulu, pukul sembilan malam adalah waktu ketika ia menunggu pesan dari Selena. Kini, yang ia tunggu hanyalah balasan lamaran pekerjaan yang entah kapan datangnya. Ponselnya bergetar, Layar latopnya selalu membuka tampilan email. Seperti seseorang yang tanpa tau kejelasan, Raka terus menerus digantung oleh HRD dan perusahaan, dalam suasana bosan dan suntuk, tiba-tiba kevin menegur Raka lewat pesan singkat. "Rak, lagi ngapain, jangan kayak orang bingung terus lu" "Nggak ngapa-ngapain vin, lu sendiri ngapain" "Masuk sini lah sebentar Rak" "Kemana vin, ke rumah lu?" "Bukan bego!" "Lah terus kemana pinter!" "Nih, masuk group server Rak" "Apaan lagi tuh vin" "Tempat orang-orang gabut kumpul, join lah, seru kok" "Gue gak kenal siapa-siapa tapi vin" "Ya makannya sini kenalan Rak" "Males" "Kocak anjir...