Dua Perspektif
Sudah hampir dua minggu sejak Raka resmi bekerja. Rutinitas mulai terbentuk. Setiap pagi Raka berangkat menggunakan motor tuanya. Selalu berhenti di lampu merah yang sama. Selalu membeli roti di minimarket yang sama. Selalu tiba sekitar pukul delapan kurang lima menit. Begitu masuk kantor, suara pertama yang hampir selalu ia dengar adalah...
"Pagi Raka."
Saras. Dengan senyum yang sama. Nada bicara yang sama. Dan secangkir kopi di tangannya. Kadang kopi itu untuk dirinya sendiri. Kadang untuk Raka.
"Masih belum sempat sarapan ya?"
Raka hanya tertawa.
"Kelihatan banget ya?"
"Iya. Mas-mas editor itu wajahnya gampang dibaca."
Hari-hari berikutnya dipenuhi revisi. Coretan merah. Komentar. Diskusi. Sesekali Saras meminta pendapat Raka.
"Kalau tokohnya begini gimana?"
"Kalau endingnya diganti?"
"Kalau dialognya dipotong?"
Yang membuat Raka heran, Saras tidak pernah merasa paling benar. Ia selalu mendengarkan. Bahkan ketika pendapat Raka berbeda.
"Raka."
"Iya Sar?"
"Menulis itu gampang."
"Yang susah..."
"...adalah menerima kalau tulisan kita ternyata masih bisa lebih baik."
Kalimat itu diam-diam disimpan Raka dalam kepalanya.
...
Hari itu kantin kantor cukup sepi. Raka dan Saras duduk berhadapan. Sambil makan mereka membahas hal-hal yang sama sekali tidak penting.
"Sar."
"Iya?"
"Kalau libur biasanya ngapain?"
"Baca buku."
"Terus?"
"Masak."
"Terus?"
"Nyiram tanaman."
Raka tertawa.
"Sesederhana itu?"
"Iya. Loh emangnya harus naik gunung?"
"Ya enggak sih."
Giliran Saras bertanya.
"Kalau Kamu?"
"Hm? Kalau libur? Main laptop, buka Republik Maya."
"Republik Maya?"
"Iya. Server isinya teman-teman."
"Oh...Asik ya."
"Iya. Mereka nyebelin."
"Tapi kalau sehari gak ketemu..."
"...aneh."
Saras hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.
...
Malam. Laptop kembali menyala. Voice channel kembali ramai. Adit dan Miko sedang berteriak. Kevin sibuk mengejek. Rio hanya sesekali menyela. Mia tertawa mendengar tingkah mereka.
Sementara Nara...
tetap seperti biasanya. Lebih banyak mendengarkan. Ketika suasana mulai sepi. Nara bertanya.
"Hari ini kerja gimana?"
Raka langsung semangat.
"Capek. Tapi seru."
"Kenapa?"
"Karena kantorku keren disana, semua orang gak takut buat salah. Karena banyak orang disana Sar, memaklumi kesalahan kecil dibanding jadi sempurna"
"Oh ya?"
"Iya."
"Enak ya."
"Iya. Beruntung."
Nara hanya tersenyum.
...
Hari demi hari berlalu. Tanpa sadar Raka mulai punya kebiasaan baru. Kalau siang menemukan cerita lucu, ia berpikir...
"Nanti malam cerita ah ke Nara."
Kalau malam mendapat saran dari Nara, besok paginya ia mencoba menerapkannya di kantor. Dua dunia itu perlahan mulai saling terhubung. Meski Raka sendiri belum menyadarinya.
Suatu sore. Kevin mampir ke kantor Raka. Ia sengaja mengantarkan pesanan makan siang. Begitu melihat Saras keluar dari ruang editor. Kevin langsung terdiam beberapa detik. Saras juga melihat Kevin. Tatapan mereka bertemu. Hanya sebentar. Sangat sebentar. Namun cukup untuk saling memahami.
Kevin hanya tersenyum kecil.
Saras membalas senyum itu.
Tidak ada sapaan. Tidak ada percakapan. Raka yang sedang sibuk menerima makanan sama sekali tidak menyadari apa pun. Di dalam hati Kevin hanya bergumam,
"Pelan-pelan, dia mulai bahagia lagi."
Saras mengangguk kecil, nyaris tak terlihat.
...
Malam hanya ada Raka dan Nara.
"Nar."
"Gimana?"
"Menurutmu..."
"Kalau kita udah nyaman sama rutinitas..."
"...apa itu artinya kita udah bahagia?"
Nara tidak langsung menjawab. Ia terdengar berpikir cukup lama. Lalu berkata pelan.
"Belum tentu."
"Loh?"
"Kadang..."
"...bahagia itu bukan karena rutinitasnya."
"Tapi..."
"...karena ada seseorang yang membuat rutinitas itu layak dijalani."
Voice mendadak hening. Raka tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya tersenyum kecil.
"Selamat istirahat ya."
"Kamu juga."
Malam itu Raka memandangi langit-langit kamarnya. Entah kenapa akhir-akhir ini hidup terasa jauh lebih ringan. Pagi hari ada pekerjaan yang ia sukai. Siang hari ada senior yang sabar mengajarinya. Malam hari ada teman-teman yang selalu membuatnya tertawa.
Tanpa sadar, ia mulai menikmati kehidupan yang dulu sempat terasa begitu berat. Ia menutup mata perlahan.
Sementara di sisi lain kota. Saras juga baru saja mematikan laptopnya. Ia menatap kalender kecil di meja kerjanya. Lalu tersenyum sendiri.
"Sekarang ini gak buruk amat..."
"...gak perlu buru-buru mengenalku."
Kalimat itu hampir tak terdengar.
Comments
Post a Comment