Skip to main content

Republik Maya: Bab 21

Dua Perspektif

Sudah hampir dua minggu sejak Raka resmi bekerja. Rutinitas mulai terbentuk. Setiap pagi Raka berangkat menggunakan motor tuanya. Selalu berhenti di lampu merah yang sama. Selalu membeli roti di minimarket yang sama. Selalu tiba sekitar pukul delapan kurang lima menit. Begitu masuk kantor, suara pertama yang hampir selalu ia dengar adalah...

"Pagi Raka."

Saras. Dengan senyum yang sama. Nada bicara yang sama. Dan secangkir kopi di tangannya. Kadang kopi itu untuk dirinya sendiri. Kadang untuk Raka.

"Masih belum sempat sarapan ya?"

Raka hanya tertawa.

"Kelihatan banget ya?"

"Iya. Mas-mas editor itu wajahnya gampang dibaca."

Hari-hari berikutnya dipenuhi revisi. Coretan merah. Komentar. Diskusi. Sesekali Saras meminta pendapat Raka.

"Kalau tokohnya begini gimana?"

"Kalau endingnya diganti?"

"Kalau dialognya dipotong?"

Yang membuat Raka heran, Saras tidak pernah merasa paling benar. Ia selalu mendengarkan. Bahkan ketika pendapat Raka berbeda.

"Raka."

"Iya Sar?"

"Menulis itu gampang."

"Yang susah..."

"...adalah menerima kalau tulisan kita ternyata masih bisa lebih baik."

Kalimat itu diam-diam disimpan Raka dalam kepalanya.

...

Hari itu kantin kantor cukup sepi. Raka dan Saras duduk berhadapan. Sambil makan mereka membahas hal-hal yang sama sekali tidak penting.

"Sar."

"Iya?"

"Kalau libur biasanya ngapain?"

"Baca buku."

"Terus?"

"Masak."

"Terus?"

"Nyiram tanaman."

Raka tertawa.

"Sesederhana itu?"

"Iya. Loh emangnya harus naik gunung?"

"Ya enggak sih."

Giliran Saras bertanya.

"Kalau Kamu?"

"Hm? Kalau libur? Main laptop, buka Republik Maya."

"Republik Maya?"

"Iya. Server isinya teman-teman."

"Oh...Asik ya."

"Iya. Mereka nyebelin."

"Tapi kalau sehari gak ketemu..."

"...aneh."

Saras hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.

...

Malam. Laptop kembali menyala. Voice channel kembali ramai. Adit dan Miko sedang berteriak. Kevin sibuk mengejek. Rio hanya sesekali menyela. Mia tertawa mendengar tingkah mereka.

Sementara Nara...

tetap seperti biasanya. Lebih banyak mendengarkan. Ketika suasana mulai sepi. Nara bertanya.

"Hari ini kerja gimana?"

Raka langsung semangat.

"Capek. Tapi seru."

"Kenapa?"

"Karena kantorku keren disana, semua orang gak takut buat salah. Karena banyak orang disana Sar, memaklumi kesalahan kecil dibanding jadi sempurna"

"Oh ya?"

"Iya."

"Enak ya."

"Iya. Beruntung."

Nara hanya tersenyum.

...

Hari demi hari berlalu. Tanpa sadar Raka mulai punya kebiasaan baru. Kalau siang menemukan cerita lucu, ia berpikir...

"Nanti malam cerita ah ke Nara."

Kalau malam mendapat saran dari Nara, besok paginya ia mencoba menerapkannya di kantor. Dua dunia itu perlahan mulai saling terhubung. Meski Raka sendiri belum menyadarinya.

Suatu sore. Kevin mampir ke kantor Raka. Ia sengaja mengantarkan pesanan makan siang. Begitu melihat Saras keluar dari ruang editor. Kevin langsung terdiam beberapa detik. Saras juga melihat Kevin. Tatapan mereka bertemu. Hanya sebentar. Sangat sebentar. Namun cukup untuk saling memahami. 

Kevin hanya tersenyum kecil.

Saras membalas senyum itu.

Tidak ada sapaan. Tidak ada percakapan. Raka yang sedang sibuk menerima makanan sama sekali tidak menyadari apa pun. Di dalam hati Kevin hanya bergumam,

"Pelan-pelan, dia mulai bahagia lagi."

Saras mengangguk kecil, nyaris tak terlihat.

...

Malam hanya ada Raka dan Nara.

"Nar."

"Gimana?"

"Menurutmu..."

"Kalau kita udah nyaman sama rutinitas..."

"...apa itu artinya kita udah bahagia?"

Nara tidak langsung menjawab. Ia terdengar berpikir cukup lama. Lalu berkata pelan.

"Belum tentu."

"Loh?"

"Kadang..."

"...bahagia itu bukan karena rutinitasnya."

"Tapi..."

"...karena ada seseorang yang membuat rutinitas itu layak dijalani."

Voice mendadak hening. Raka tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya tersenyum kecil.

"Selamat istirahat ya."

"Kamu juga."

Malam itu Raka memandangi langit-langit kamarnya. Entah kenapa akhir-akhir ini hidup terasa jauh lebih ringan. Pagi hari ada pekerjaan yang ia sukai. Siang hari ada senior yang sabar mengajarinya. Malam hari ada teman-teman yang selalu membuatnya tertawa.

Tanpa sadar, ia mulai menikmati kehidupan yang dulu sempat terasa begitu berat. Ia menutup mata perlahan.

Sementara di sisi lain kota. Saras juga baru saja mematikan laptopnya. Ia menatap kalender kecil di meja kerjanya. Lalu tersenyum sendiri.

"Sekarang ini gak buruk amat..."

"...gak perlu buru-buru mengenalku."

Kalimat itu hampir tak terdengar.

Comments

Popular posts from this blog

Republik Maya: Prologue

Prologue Di sebuah tempat bernama Republik Maya, orang-orang hidup berdampingan tanpa pernah benar-benar saling mengenal. Mereka berbicara setiap hari, tertawa di ruang obrolan yang sama, saling mengirim meme, musik, game dan cerita tentang hidup. Namun, di balik semua itu, ada satu aturan yang tak pernah tertulis, "Jangan bawa perasaan di grup" Raka tahu aturan itu. Semua orang tahu. Lalu datanglah Nara. Awalnya biasa saja. Ia hanya anggota baru yang sering muncul di kanal musik setiap malam. Suaranya tenang, dan caranya mendengarkan membuat siapa pun merasa dihargai. Mereka semua mulai sering berbincang. Tentang film, musik, konspirasi, sampai mimpi-mimpi yang bahkan belum berani mereka ceritakan kepada dunia nyata. Tanpa sadar, Raka mulai menunggu notifikasi yang hanya berasal dari satu nama. Kalimat itu berkali-kali muncul di kepalanya. Ia ingin mengatakannya. Sangat ingin. Namun setiap kali jari-jarinya menyentuh keyboard, kata-kata itu menghilang begitu saja. "Hi.....

After Kawi's story

Kali ini aku ingin menceritakan tentang pengalaman mengerikan yang kualami setelah perjalanan kami ke Gunung Kawi beberapa tahun lalu. Demi menjaga privasi dan kerahasiaan beberapa orang yang terlibat, aku akan menggunakan nama, tempat dan latar waktu samaran dalam cerita ini. Bukan karena ingin terlihat misterius, tapi karena ada hal-hal yang tidak bisa aku ceritakan secara terbuka. Aku hanya berharap, lewat cerita ini, kalian bisa mengambil pelajaran dan lebih berhati-hati kalau suatu hari nanti memutuskan untuk datang ke tempat yang sama. 2020, Desember - Libur Natal Pada waktu itu aku masih menjadi karyawan baru di sebuah kantor di Malang, Jawa Timur. Setiap akhir tahun, tepatnya di bulan Desember — bulan yang juga bertepatan dengan perayaan Natal bagi umat Kristiani — kantor biasanya memberikan libur selama lima hari sampai awal tahun 2021. Di kantor saat itu aku sudah punya beberapa teman di lingkungan kerja, salah satunya adalah Mas Deden. Dia merupakan karyawan senior yang su...

Spion Kanan

Hari demi hari berjalan, entah itu kemarin, hari ini, atau besok, kamu selalu sama. Dan tahukah kamu? Itu adalah bagian favoritku. Aku suka setiap kita berboncengan, mengendarai motor bersama, dan merayakan setiap kilometer yang terlewat di jalanan.  Aku bahkan tahu persis apa yang akan kamu lakukan selanjutnya. Memiringkan spion kanan ke arahku, lalu berbisik, 'Cantiknya'. Kamu membiarkan angin membawa kata-kata itu bersamamu, disertai senyum dan tatapan mata yang meneduhkan. Spion kananmu menangkap segalanya: saat-saat aku menangis, tertawa, cemberut, marah, sampai mengomel. Tapi kamu hanya tersenyum manis melihat pantulanku di sana. Saat-saat itu, aku selalu berpikir kita akan terus seperti ini selamanya. Setiap obrolan dan canda tawa yang kita bagi di atas motor, rasanya seperti perjalanan pulang dengan cerita yang tak pernah usai.  Aku tidak pernah berpikir bahwa suatu hari, spion kanan itu tak lagi menangkap wajahku. Karena aku sungguh percaya, kita akan terus melewati s...