Manuskrip
Pagi itu Raka datang lebih awal. Jam masih menunjukkan pukul 07.30. Sebagian besar meja kerja masih kosong.
Ia menyalakan komputer, membuka catatan hasil orientasi kemarin, lalu mulai membaca ulang istilah-istilah editorial yang semalam sempat ia pelajari.
Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki.
"Raka..."
Ia menoleh. Saras datang sambil membawa dua gelas kopi.
"Selamat pagi."
"Pagi Sar"
Saras meletakkan salah satu gelas di meja Raka.
"Belum sempat sarapan?"
Raka tersenyum malu.
"Ketahuan ya?"
"Keliatan. Kopi dulu."
"Terima kasih."
Raka memandangi gelas kopi itu beberapa detik. Ia baru sadar, Saras ternyata cukup perhatian kepada rekan kerjanya.
...
Setelah briefing pagi selesai. Saras datang membawa setumpuk kertas.
"Rak...ada tugas pertama."
Raka langsung duduk tegak.
"Ini?"
"Draft novel."
"Bukan buat diedit semuanya."
"Cuma baca lima puluh halaman pertama."
"Terus kasih komentar sejujur-jujurnya."
Raka melihat nama penulis di sampul. Tertulis nama...
N. Sarasvati.
Ia sedikit mengernyit.
"Eh? kamu juga nulis?"
Saras tersenyum kecil.
"Sedikit. Kebetulan."
"Kalau jelek bilang jelek."
"Kalau bagus bilang bagus."
"Jangan karena penulisnya senior terus sungkan. Oke Rak?"
"Aman aja Sar"
...
Dua jam kemudian. Raka mengetuk meja Saras.
"Permisi Sar"
"Gimana?"
"Ada beberapa catatan."
"Boleh."
Raka duduk. Awalnya ia tampak ragu. Namun akhirnya mulai bicara.
"Menurutku..."
"...bab satunya terlalu cepat."
Saras hanya mengangguk.
"Lanjut."
"Tokoh utamanya menarik."
"Tapi..."
"...emosinya belum kerasa."
"Pembaca belum sempat dekat."
Saras tetap diam. Raka semakin percaya diri.
"Kalau aku..."
"...bab awalnya diperpanjang."
"Kasih ruang pembaca buat kenal tokohnya dulu."
"Jadi pas konflik datang..."
"...lebih sakit."
Ruangan mendadak sunyi. Raka mulai panik.
"Aku kebanyakan ngomong ya?"
Saras justru tersenyum.
"Lanjut aja, gapapa kok"
"Serius?"
"Aku masih dengerin."
Raka akhirnya menunjukkan beberapa bagian yang ia tandai. Setelah hampir lima belas menit berdiskusi. Saras menutup naskah itu.
"Raka."
"Iya?"
"Terima kasih."
"Masukan seperti ini..."
"...yang aku cari."
Raka benar-benar tidak menyangka. Ia pikir tulisannya akan dicecar habis-habisan oleh sang penulis. Ternyata justru sebaliknya.
...
Siang menjelang. Saras kembali duduk di mejanya. Tablet gambar terbuka. Keyboard mulai berbunyi. Raka yang duduk tak jauh darinya beberapa kali tanpa sadar memperhatikan. Saras tidak pernah menulis dengan cepat. Ia mengetik beberapa kalimat.
Berhenti.
Menghapus.
Menulis lagi.
Lalu membaca keras-keras pelan. Seolah sedang mendengarkan irama setiap kalimat.
Raka bergumam sendiri.
"Pantes..."
Kevin pernah berkata...
"Orang yang jago bukan yang paling cepat."
"Tapi yang paling sabar."
Hari itu. Raka melihat sendiri arti kalimat tersebut.
...
Jam istirahat tiba. Saras berdiri.
"Raka makan yuk?"
Raka menoleh.
"Hah?"
"Kok masih bengong Rak."
"Oh...Boleh."
Mereka berjalan menuju kantin kantor. Suasananya jauh lebih santai dibanding ruang kerja. Obrolan mereka pun mulai keluar dari urusan pekerjaan.
"Raka kamu dari dulu suka baca?"
"Iya. Kebetulan dulu sering didongengin ibuk"
"Oh...pantes kamu udah terbiasa dengan gaya penulisan cerita."
Raka tertawa.
"Kalau kamu?"
"Sama kok, aku mulai suka menulis pas aku pindah ke suatu daerah, aku gapunya teman, satu-satunya hiburanku cuman nulis akhirnya."
"Eh..."
"Atau lebih tepatnya..."
"...udah pindah-pindah dari kecil."
Raka mengangguk.
"Berarti sering adaptasi ya."
"Iya. Capek sih."
Mereka tertawa. Tak lama kemudian Saras melihat isi piring Raka.
"Rak..."
"...kok sayurnya sedikit?"
Raka langsung salah tingkah.
"Hehe...Kurang suka."
"Pantes."
"Kenapa tuh?"
"Wajahnya kayak kurang vitamin. Maaf bercanda hihi"
Raka tertawa.
"Kejam. Tapi itu fakta sih."
Obrolan receh seperti itu justru membuat suasana menjadi jauh lebih cair.
...
Hari kerja selesai. Tanpa sengaja mereka kembali bertemu di parkiran.
"Hujan."
"Iya."
Raka melihat langit.
"Mudah-mudahan gak deres."
Saras membuka bagasi mobilnya. Mengambil payung lipat. Lalu menyodorkannya.
"Pakai dulu."
"Hah? lah kamu?"
"Aku masih ada satu."
Raka menerimanya.
"Terima kasih. Nanti aku balikin."
"Boleh."
Saras masuk ke mobil. Raka memandangi payung itu.
"Orangnya...baik juga ternyata."
...
Malam. Republik Maya kembali ramai. Namun malam itu hanya tersisa Raka dan Nara setelah anggota lain satu per satu keluar. Nara bertanya pelan.
"Gimana kantor?"
Raka langsung semangat.
"Nar."
"Iya?"
"Seniorku keren banget."
"Oh ya?"
"Iya. Dia penulis juga."
"Serius?"
"Iya."
"Terus?"
"Dia nyuruh aku ngoreksi tulisannya."
"Wah. Berani juga. Terus?"
Raka tertawa.
"Aku kira bakal dimarahin."
"Ternyata malah seneng."
"Oh..."
"Bagus dong."
"Iya. Jarang ada orang yang mau dikritik."
Nara menahan senyum.
...
Obrolan mereka terus berlanjut. Tentang buku. Tentang penulis favorit. Tentang bagaimana sebuah cerita bisa mengubah hidup seseorang. Sebelum pamit, Nara berkata pelan.
"Rak."
"Iya?"
"Kalau nanti..."
"...suatu hari kamu jadi editor hebat."
"Jangan pernah takut ngasih kritik."
"Karena..."
"...kritik yang jujur itu bentuk penghargaan paling tinggi untuk seorang penulis."
Raka mengangguk.
"Iya. Aku bakal ingat."
Malam itu, ia tidur dengan satu pikiran sederhana.
"Saras ternyata bukan cuma penulis yang hebat..."
"...tapi juga orang yang sangat menghargai pendapat orang lain."
Di sisi lain kota. Saras tersenyum kecil sambil menutup laptopnya. Ia masih mengingat bagaimana Raka dengan serius mengkritik setiap bab yang ia tulis. Tidak banyak orang yang berani melakukan itu. Dan entah mengapa, hal sederhana itu membuatnya semakin yakin.
Keputusan menerima Raka sebagai editor pendamping, bukanlah sebuah kesalahan.
Comments
Post a Comment