Skip to main content

Republik Maya: Bab 19

Hari Pertama

Pagi itu, suara ayam tetangga bahkan belum selesai berkokok ketika layar ponsel Raka menyala pelan di atas meja belajar.

Ting.

Satu notifikasi email masuk.

Raka yang masih setengah mengantuk hanya melirik sekilas. Awalnya ia mengira itu hanyalah email penolakan lain, sama seperti puluhan email yang beberapa bulan terakhir hampir selalu ia terima.

Ia menarik selimut lagi. Namun entah mengapa, matanya kembali tertuju pada subjek email itu.

Hasil Seleksi Rekrutmen – PT Lentera Pustaka Nusantara

Jantungnya mendadak berdetak lebih cepat. Perlahan ia membuka email tersebutBeberapa detik pertama, matanya hanya bergerak cepat membaca setiap kalimat. Lalu ia berhenti. Tangannya sedikit gemetar.

"Selamat."

Satu kata itu saja sudah cukup membuat napasnya tercekat. Ia membaca ulang dari awal. Lalu sekali lagi. Dan sekali lagi. Seolah takut ada yang salah.

"Selamat. Berdasarkan hasil wawancara dan proses seleksi, kami menyatakan Saudara Raka Basara diterima sebagai Editor Junior di PT Lentera Pustaka Nusantara."

Raka menutup mulutnya sendiri.

"..."

"...gue..."

"...diterima?"

Suara itu bahkan terdengar asing di telinganya sendiri. Beberapa bulan terakhir ia terlalu sering mendengar kata maaf, hingga hampir lupa rasanya menerima kata selamat. Tanpa sadar matanya mulai berkaca-kaca.

...

"Ibuk..!"

Suara Raka menggema ke seluruh rumah. Ibunya yang sedang menyapu halaman langsung berlari masuk.

"Ada apa, Rak?"

Raka hanya menyodorkan layar ponselnya.

"Ibuk baca..."

Ibunya menerima ponsel itu dengan bingung. Perlahan ia membaca isi email tersebut. Baru sampai paragraf kedua, sapunya terlepas dari genggaman. Tangannya menutup mulut. Air mata langsung mengalir begitu saja.

"Alhamdulillah...Ya Allah..."

Ibunya memeluk Raka erat.

"Selamat ya, Nak. Ibu bangga sama kamu."

Raka ikut memeluk ibunya. Tidak ada kata-kata. Hanya dua orang yang selama berbulan-bulan sama-sama berjuang melewati hari-hari sulit. Hari itu, akhirnya mereka boleh sedikit bernapas lega.

...

Sore harinya. Warung Indomie milik Raka dan Kevin kembali dipenuhi aroma mi rebus. Kevin baru saja menuangkan telur ke dalam panci ketika Raka datang sambil tersenyum lebar. Kevin langsung curiga.

"Kenapa? Gigi lu keliatan semua."

Raka mengeluarkan ponselnya. Kevin membaca email itu. Beberapa detik. Lalu Ia langsung memukul bahu Raka.

"ANJIR! KETERIMA!"

"TOLONG!"

Raka tertawa sambil memegangi bahunya.

"Sakit, Vin!"

Kevin langsung berteriak ke arah dapur.

"BUKKK! Hari ini aku yang traktir!"

Ibunya Kevin yang berada di dalam hanya tertawa.

"Emang punya uang?"

Kevin terdiam.

"..."

"...ngutang ibuk dulu hehe."

Raka tertawa begitu keras sampai pelanggan yang sedang makan ikut menoleh. Tak lama kemudian, dua mangkuk Indomie rebus lengkap dengan telur, sosis, dan kornet mendarat di meja. Kevin mendorong satu mangkuk ke arah Raka.

"Selamat."

Raka memandang semangkuk mi itu. Lalu tersenyum.

"Lucu ya."

"Kenapa?"

"Dulu kita buka warung ini karena sama-sama nganggur."

Kevin mengangguk.

"Sekarang..."

"...akhirnya salah satu dari kita mulai jalan."

Kevin mengambil sumpitnya.

"Mulai?"

"Iya."

"Jangan lupa. Warung ini tetap buka."

Raka tersenyum.

"Pasti."

Persahabatan mereka memang sesederhana itu. Tidak banyak pelukan. Tidak banyak kata-kata menyentuh. Kadang semangkuk Indomie hangat sudah cukup menggantikan semuanya.

...

Senin pagi. Raka berdiri di depan gedung PT Lentera Pustaka Nusantara. Gedung itu tidak terlalu tinggi. Tidak semegah perusahaan teknologi tempat ia pernah melamar. Namun entah mengapa rasanya jauh lebih hangat.

Ia menarik napas panjang.

"Oke. Semangat."

Di ruang HR, beberapa karyawan baru sudah duduk berjajar. Setelah pengarahan singkat, seorang perempuan memasuki ruangan.

"Selamat pagi semuanya. Saya Saras. Saya penulis senior di sini sekaligus kepala divisi penyuntingan..."

"...hari ini saya akan mendampingi beberapa rekan baru."

Raka spontan menoleh.

"Saras..."

Perempuan itu tersenyum.

"Raka...Selamat bergabung."

Nada bicaranya tetap tenang. Tetap profesional. Seolah pertemuan mereka di supermarket beberapa hari lalu hanyalah sebuah kebetulan biasa.

...

Hari pertama diisi dengan pengenalan sistem kerja. Cara menyunting naskah. Memberi catatan kepada penulis. Menyusun alur revisi. Raka mendengarkan dengan serius. Beberapa kali Saras sengaja menghampiri mejanya.

"Raka."

"Iya?"

"Coba baca paragraf ini."

Raka membaca perlahan.

"Menurutku..."

"...kalimat pembukanya terlalu panjang."

Saras tersenyum tipis.

"Kenapa?"

"Karena pembaca bisa kehilangan fokus di awal."

"Kalau dipotong dua paragraf..."

"...ritmenya lebih enak."

Saras mengangguk pelan.

"Bagus."

Raka sedikit heran.

"Emang benar?"

"Iya. Aku juga mikir begitu."

Raka tersenyum kecil. Ia tidak menyangka pendapatnya benar-benar didengar.

...

Jam menunjukkan pukul lima sore. Raka keluar dari gedung sambil membawa tas ransel. Hari itu melelahkan. Namun menyenangkan.

Sudah lama ia tidak pulang dengan perasaan seperti ini. Di parkiran, Saras kebetulan juga sedang bersiap pulang.

"Raka."

"Iya Sar?"

"Hari pertama gimana?"

Raka tersenyum.

"Capek. Tapi seneng."

Saras ikut tersenyum.

"Bagus. Besok kita lanjut seperti tadi ya..."

"Aman aja hehe, tengkyu Sar"

Mereka berpisah. Tidak ada percakapan panjang. Namun bagi Raka, Saras benar-benar memberikan kesan sebagai senior yang ramah.

...

Malam kembali datang. Seperti kebiasaan yang mulai sulit ia tinggalkan. Raka membuka laptopnya. Ikon Republik Maya langsung ia klik. Belum sempat masuk ke kanal suara, notifikasi demi notifikasi sudah memenuhi layar.

"WOI CEPET MASUK!", Pesan masuk dari Adit

"Anak editor jangan sombong."

"Katanya ada yang mau traktir virtual."

Raka tertawa kecil.

Ia menekan tombol Join Voice.

"Haii!"

Suara Adit langsung menyambut.

"EDITOR DATANG!"

Kevin langsung menimpali.

"Salam dulu sama calon editor terkenal."

"Anjir. Jangan gitu."

Mia ikut tertawa.

"Selamat ya Raka."

Rio hanya berkata singkat.

"Congrats."

Miko ikut menyusul.

"Semoga betah."

Obrolan malam itu dipenuhi candaan. Adit sibuk menghitung kapan ia bisa minta ditraktir. Kevin berkali-kali menyebut Raka sebagai "orang kantoran.". Bahkan Rio beberapa kali ikut tertawa mendengar tingkah mereka. Republik Maya masih tetap terasa seperti rumah.

...

Satu per satu anggota mulai pamit. Tak lama kemudian kanal suara kembali sunyi. Tinggal dua nama yang masih menyala. Raka dan Nara.

Beberapa detik tidak ada yang berbicara. Lalu suara Nara terdengar pelan.

"Raka."

"Iya?"

"...selamat ya."

Hanya tiga kata. Tidak lebih. Namun entah mengapa ucapan itu terdengar berbeda. Tidak seberisik Adit. Tidak seheboh Kevin. Tidak seramai yang lain. Justru karena sederhana, rasanya terasa lebih tulus.

Raka tersenyum sendiri.

"Makasih."

"Aku sempat takut gak bakal keterima lagi."

"Tapi..."

"...akhirnya bisa juga."

Nara ikut tersenyum.

"Aku tahu."

"Kenapa?"

"Orang yang berusaha terus..."

"...biasanya memang menemukan jalannya."

Raka terdiam beberapa saat. Kalimat itu sederhana. Namun entah mengapa membuat rasa lelahnya hari itu perlahan menghilang. Mereka mengobrol sebentar. Tentang pekerjaan baru. Tentang buku. Tentang bagaimana rasanya memulai sesuatu dari nol. Hingga akhirnya.

"Udah malam."

"Iya."

"Besok kerja kan?"

"Iya."

"Jangan begadang."

"Hahaha. Siap."

"Selamat istirahat ya."

"Kamu juga, Nar."

Voice pun kembali sunyi.

...

Raka menutup laptopnya perlahan. Hari itu benar-benar terasa panjang. Pagi ia diterima bekerja. Siang bertemu kembali dengan Saras. Malam menghabiskan waktu bersama teman-temannya di Republik Maya.

Sambil merebahkan tubuh di atas kasur, ia tersenyum kecil. Entah kenapa hari pertama bekerja terasa jauh lebih ringan karena ada seorang senior yang sabar membimbingnya.

"Senior gue baik juga..."

gumamnya pelan sebelum memejamkan mata.

Di sisi lain kota. Saras baru saja mematikan tabletnya. Senyum kecil masih tersisa di wajahnya. Besok pagi ia akan kembali menyambut Raka sebagai senior.

Comments

Popular posts from this blog

Republik Maya: Prologue

Prologue Di sebuah tempat bernama Republik Maya, orang-orang hidup berdampingan tanpa pernah benar-benar saling mengenal. Mereka berbicara setiap hari, tertawa di ruang obrolan yang sama, saling mengirim meme, musik, game dan cerita tentang hidup. Namun, di balik semua itu, ada satu aturan yang tak pernah tertulis, "Jangan bawa perasaan di grup" Raka tahu aturan itu. Semua orang tahu. Lalu datanglah Nara. Awalnya biasa saja. Ia hanya anggota baru yang sering muncul di kanal musik setiap malam. Suaranya tenang, dan caranya mendengarkan membuat siapa pun merasa dihargai. Mereka semua mulai sering berbincang. Tentang film, musik, konspirasi, sampai mimpi-mimpi yang bahkan belum berani mereka ceritakan kepada dunia nyata. Tanpa sadar, Raka mulai menunggu notifikasi yang hanya berasal dari satu nama. Kalimat itu berkali-kali muncul di kepalanya. Ia ingin mengatakannya. Sangat ingin. Namun setiap kali jari-jarinya menyentuh keyboard, kata-kata itu menghilang begitu saja. "Hi.....

After Kawi's story

Kali ini aku ingin menceritakan tentang pengalaman mengerikan yang kualami setelah perjalanan kami ke Gunung Kawi beberapa tahun lalu. Demi menjaga privasi dan kerahasiaan beberapa orang yang terlibat, aku akan menggunakan nama, tempat dan latar waktu samaran dalam cerita ini. Bukan karena ingin terlihat misterius, tapi karena ada hal-hal yang tidak bisa aku ceritakan secara terbuka. Aku hanya berharap, lewat cerita ini, kalian bisa mengambil pelajaran dan lebih berhati-hati kalau suatu hari nanti memutuskan untuk datang ke tempat yang sama. 2020, Desember - Libur Natal Pada waktu itu aku masih menjadi karyawan baru di sebuah kantor di Malang, Jawa Timur. Setiap akhir tahun, tepatnya di bulan Desember — bulan yang juga bertepatan dengan perayaan Natal bagi umat Kristiani — kantor biasanya memberikan libur selama lima hari sampai awal tahun 2021. Di kantor saat itu aku sudah punya beberapa teman di lingkungan kerja, salah satunya adalah Mas Deden. Dia merupakan karyawan senior yang su...

Spion Kanan

Hari demi hari berjalan, entah itu kemarin, hari ini, atau besok, kamu selalu sama. Dan tahukah kamu? Itu adalah bagian favoritku. Aku suka setiap kita berboncengan, mengendarai motor bersama, dan merayakan setiap kilometer yang terlewat di jalanan.  Aku bahkan tahu persis apa yang akan kamu lakukan selanjutnya. Memiringkan spion kanan ke arahku, lalu berbisik, 'Cantiknya'. Kamu membiarkan angin membawa kata-kata itu bersamamu, disertai senyum dan tatapan mata yang meneduhkan. Spion kananmu menangkap segalanya: saat-saat aku menangis, tertawa, cemberut, marah, sampai mengomel. Tapi kamu hanya tersenyum manis melihat pantulanku di sana. Saat-saat itu, aku selalu berpikir kita akan terus seperti ini selamanya. Setiap obrolan dan canda tawa yang kita bagi di atas motor, rasanya seperti perjalanan pulang dengan cerita yang tak pernah usai.  Aku tidak pernah berpikir bahwa suatu hari, spion kanan itu tak lagi menangkap wajahku. Karena aku sungguh percaya, kita akan terus melewati s...