Skip to main content

Republik Maya: Bab 17

Setelah Hujan

Malam datang lebih cepat daripada biasanya.

Hujan baru saja reda. Jalanan di depan rumah Raka masih memantulkan cahaya lampu jalan yang berwarna kekuningan. Udara terasa lebih dingin, sementara suara tetesan air dari ujung atap masih terdengar jatuh satu per satu ke tanah.

Setelah melakukan kegiatan seharian di luar dan juga di rumah, Raka pulang beristirahat dan masuk ke kamarnya.

Hari itu tidak ada wawancara kerja. Tidak ada lamaran yang perlu dikirim. Tidak ada kabar baru dari perusahaan penerbit tempat ia sempat mengikuti proses seleksi beberapa hari lalu.

Semuanya masih menggantung. Namun entah mengapa malam itu ia tidak terlalu memikirkannya.

Ia menyalakan laptop. Suara kipas yang mulai berisik kembali memenuhi kamar kecilnya. Layar menyala. Ikon biru keunguan itu kembali muncul di sudut layar. Republik Maya.

Raka tersenyum kecil.

"Gue pikir-pikir lagi kayaknya...udah jadi rutinitas ya."

Klik.

...

Begitu masuk ke server, kanal suara sudah ramai.

"OI GUYSS!"

Suara Adit langsung memekakkan telinga.

"Pahlawan DATENG!"

"Anjir..." gumam Raka sambil tertawa.

"Adit lu baru sembuh udah, jangan sampai kambuh lagi."

"Justru karena sembuh! Harus dirayain!"

Kevin langsung menyela.

"Rayain apaan? Lu traktir."

"Lu mulu yang minta traktir perasaan vin, kelaperan lu"

Mia ikut tertawa.

"Mending traktir skin game."

"Gak."

"Aku maunya mie gacoan level 8 Dit hihi"

"Eh itu Nara? Tumben minta traktir HAHAHAHA!"

Suasana malam itu kembali dipenuhi suara tawa. Miko mulai memperdebatkan update game terbaru. Rio sesekali melontarkan komentar singkat yang selalu berhasil membuat semua orang tertawa. Obrolan berpindah-pindah. Dari makanan. Film. Game. Sampai membahas teori konspirasi aneh yang entah didapat Miko dari mana.

"Menurut gue ya..."

"...presiden kita tuh sebenernya..."

"Mik!"

Rio memotong.

"Iya iyaa io, gue paham, udah enggak, entar kita disamperin tukang bakso lagi"

Semua langsung pecah tertawa.

...

Waktu berjalan tanpa terasa. Jam di pojok layar menunjukkan pukul dua belas malam. Satu per satu mulai berpamitan.

Mia menguap.

"Guys...aku besok ada kegiatan pagi. Gud Night semuanya."

"Night Mia."

Miko ikut pamit.

"Gue mau ke dekan besok. Ngurusin berkas-berkas buat yudisium."

Adit langsung bersorak.

"WOOO! Semangat calon sarjana! Kalau gak lulus gue bunuh lu."

"Entar lu gue viralin Dit", Sahut Miko

Rio ikut keluar.

"Gue cabut. Night"

"Gue juga io, gue mau cabut, mau belajar gimana jadi keren kek lu"

"Gabakal bisa"

"Tau tau lu paling keren io"

Suara notifikasi keluar masuk kanal mulai terdengar bergantian. Beberapa menit kemudian, Kevin ikut bersuara.

"Rak."

"Hm?"

"Besok warung buka agak siang ya."

"Oke."

"Gue belanja dulu pagi."

"Siap."

Kevin tertawa kecil.

"Nah. Gue cabut. Jangan begadang."

"Lu juga."

Notifikasi kembali berbunyi. Kevin left the voice channel.

Raka masih duduk. Ia baru sadar. Daftar anggota yang tadi memenuhi sisi kanan layar, kini tinggal dua anggota.

...

Sunyi. Tidak ada yang berbicara. Hanya terdengar suara kipas laptop. Dan sesekali suara hujan yang kembali turun perlahan di luar rumah. 

Raka menggaruk kepalanya dan bersuara.

"Apa aku keluar aja ya..."

Belum sempat ia menekan tombol disconnect, terdengar suara pelan.

"Kok diem?"

Raka sedikit terkejut.

"Oh...kirain kamu udah AFK."

Nara terkekeh kecil.

"Belum."

"Lagi lihat langit."

Raka memandang layar.

"Loh? emang kelihatan? bukannya habis hujan ya"

"Iya. Ini aku lagi di balkon."

Raka spontan menoleh ke arah jendela kamarnya. Perlahan ia berdiri. Membuka tirai. Hujan sudah berhenti. Langit mulai bersih. Beberapa bintang kembali terlihat.

"Oh...bintangnya banyak ya."

"Iya."

Nara menjawab pelan.

"Di tempatmu juga?"

"Iya."

Mereka kembali diam. Padahal mereka sedang memandangi langit yang sama.

...

Raka kembali duduk. Ia tersenyum sendiri.

"Nar."

"Iya?"

"Boleh nanya sesuatu?"

"Boleh."

"Kamu tim hujan apa tim panas?"

Nara tertawa kecil.

"Loh. Random banget."

"Hehe. Jawab dulu."

"Hujan."

"Kenapa Nar?"

Nara terdiam beberapa detik.

"Soalnya..."

"...kalau hujan..."

"...orang-orang biasanya pulang lebih cepat."

Raka mengernyit.

"Itu alasannya?"

"Iya. Aku suka suasana rumah."

Raka mengangguk pelan.

"Hoo macam tu. Keren"

"Kenapa?"

"Soalnya aku juga."

Mereka tertawa kecil. Obrolan pun berlanjut. Tentang makanan favorit. Film yang paling sering diulang. Musik yang didengar ketika sedang sedih. Makanan yang tidak disukai. Sampai hal-hal yang sama sekali tidak penting.

"Nar kamu penjudi bukan?"

"Hah? Bukan dong emang kenapa?"

"Gapapa sih Nar, cuman nanya aja hihi."

"Ih, Raka..."

"...jangan bikin orang overthinking."

"Oke... oke... gini."

"Anggap kita lagi duduk di meja kasino."

"Kita punya dadu."

"Terus kita dikasih kesempatan melempar tiga kali."

"Menurutmu..."

"...berapa peluang kita buat dapet angka enam?"

Nara terdiam beberapa detik.

"Hmm..."

"Sekali lempar kan satu banding enam."

"Iya."

"Kalau tiga kali..."

"...berarti tiga banding enam?"

Raka langsung tertawa.

"Hahaha."

"Salah ya?"

"Iya."

"Terus berapa?"

"Justru bukan dijumlah."

"Kalau probabilitas..."

"...yang dicari malah peluang gagal dulu."

Nara menghela napas panjang.

"Aduh..."

"Ini kenapa malah jadi kuliah statistik."

Raka masih tertawa.

"Sebentar."

"Misalnya..."

"Setiap lemparan peluang gak dapet enam itu lima per enam."

"Iya."

"Kalau tiga kali berturut-turut gagal..."

"...berarti lima per enam dikali lima per enam dikali lima per enam."

"Oh...Terus?"

"Berarti peluang gagal semuanya sekitar lima puluh tujuh persen."

"Nah."

"Kalau peluang berhasil minimal sekali..."

"...tinggal seratus persen dikurangi itu."

Nara langsung menjawab cepat.

"Jadi sekitar empat puluh dua persen?"

"Empat puluh dua koma satu."

"Hah..."

"Berarti..."

"...walaupun dikasih tiga kesempatan..."

"...belum tentu dapet enam?"

"Betul."

"Makanya..."

"...peluang itu lucu."

"Kadang dikasih banyak kesempatan..."

"...belum tentu berhasil."

Nara mendadak terdiam. Raka yang sadar suasana berubah langsung berkata,

"Loh. Kenapa diem?"

Nara tertawa kecil.

"Gapapa. Cuma kepikiran."

"Apa?"

"Kayaknya..."

"...hidup juga mirip ya."

Raka tidak menjawab. Nara melanjutkan pelan.

"Kita sering mikir..."

"...kalau dikasih kesempatan berkali-kali..."

"...berarti pasti berhasil."

"Padahal..."

"...belum tentu."

"Dan kadang..."

"...cuma satu kesempatan..."

"...malah bisa mengubah semuanya."

Hening. Raka memandangi langit di luar jendela. Lalu tersenyum tipis.

"Iya."

"Aku suka cara kamu ngelihatnya."

"Tapi..."

"...aku masih percaya satu hal Nar."

"Apa?"

"Kalau tiga kali gagal..."

"...ya lempar lagi."

Nara spontan tertawa.

"Hah? Emang masih boleh?"

"Kalau di kasino mungkin enggak."

"Tapi kalau hidup..."

"...kayaknya Tuhan gak pernah ngebatasin jumlah kesempatan.", Jawab Raka

Beberapa detik, tidak ada suara. Lalu terdengar tawa kecil dari Nara.

"Raka..."

"Hm?"

"Pantes ya."

"Kenapa?"

"Kamu susah nyerah."

Raka tersenyum.

"Bukannya susah nyerah."

"Cuma..."

"...aku belum selesai aja."

Setelah mengucapkan kata itu, keduanya sama-sama terdiam. Entah kenapa kata-kata itu terdengar sedikit berbeda malam itu.

...

Tanpa terasa jam menunjukkan pukul setengah tiga dini hari. Raka baru sadar.

"Loh. Kita ngobrol selama ini?"

"Iya ya."

Nara ikut tertawa. Padahal tidak ada topik penting. Tidak ada gosip. Tidak ada permainan. Mereka hanya berbicara. Dan waktu berjalan begitu saja. Raka lalu berkata pelan.

"Nar."

"Iya?"

"Kamu sadar gak..."

"...Republik Maya udah berubah."

"Maksudnya?"

"Dulu..."

"...aku masuk cuma buat rame-rame."

"Sekarang..."

"...rasanya tempat ini lebih kayak rumah."

Beberapa detik, Nara tidak menjawab. Lalu terdengar suaranya yang sangat pelan.

"Aku juga ngerasa begitu."

"Di sini..."

"...gak ada yang nuntut aku jadi siapa-siapa."

"...cukup jadi Nara aja."

Kalimat itu membuat Raka terdiam. Ia tidak tahu kehidupan seperti apa yang sedang dijalani perempuan itu. Namun ia bisa merasakan satu hal. Kalimat tadi bukan sekadar jawaban. Melainkan sesuatu yang benar-benar berasal dari hatinya.

...

Hening kembali menyelimuti voice channel. Tidak canggung. Justru terasa nyaman. Sampai akhirnya Raka memecah keheningan.

"Nar."

"Iya?"

"Boleh nanya lagi?"

"Boleh."

"Kamu sebenarnya orang mana sih?"

Beberapa detik tidak ada jawaban. Raka buru-buru tertawa kecil.

"Gapapa kalau gak mau jawab. Aku cuma penasaran."

Nara menarik napas pelan.

"Bukan aku gak mau cerita."

"Lalu?"

"Aku cuma..."

"...lebih suka kalau suatu hari nanti kita kenal karena waktu."

"Bukan karena rasa penasaran."

Jawaban itu membuat Raka tersenyum tipis.

"Iya juga. Mungkin memang gak semua orang harus langsung diceritain."

"Betul."

"Lagian Rak.."

"...kalau semua misteri langsung dibuka..."

"...hidup jadi gak seru hihi."

Raka mengangguk.

"Iya. Aku setuju."

...

Jam menunjukkan pukul tiga lewat lima belas menit.

"Kayaknya aku tidur dulu ya."

"Iya. Besok kerja?"

"Iya. Kamu?"

"Jaga warung sambil nemenin Kevin yapping"

Nara terkekeh.

"Semangat ya. Warung Indomie kan"

"Kamu juga...bentar...kok kamu tau?"

"Eh enggak, nebak aja. Selamat malam, Raka."

"Selamat malam, Nara."

Tak lama kemudian, sebuah notifikasi kecil muncul di sudut layar.

Nara has disconnected.

Raka tidak langsung menutup laptopnya. Ia masih memandangi daftar anggota yang kini hanya menyisakan namanya sendiri. Entah mengapa, malam itu ada satu pertanyaan yang terus berputar di kepalanya. Dari semua teman dekatnya di Republik Maya.  Hanya satu orang yang masih menjadi teka-teki. Nara.

Ia menatap langit di balik jendela kamarnya sekali lagi. Lalu tersenyum kecil.

"Banyak ya teka-tekimu Nar..."

Comments

Popular posts from this blog

Republik Maya: Prologue

Prologue Di sebuah tempat bernama Republik Maya, orang-orang hidup berdampingan tanpa pernah benar-benar saling mengenal. Mereka berbicara setiap hari, tertawa di ruang obrolan yang sama, saling mengirim meme, musik, game dan cerita tentang hidup. Namun, di balik semua itu, ada satu aturan yang tak pernah tertulis, "Jangan bawa perasaan di grup" Raka tahu aturan itu. Semua orang tahu. Lalu datanglah Nara. Awalnya biasa saja. Ia hanya anggota baru yang sering muncul di kanal musik setiap malam. Suaranya tenang, dan caranya mendengarkan membuat siapa pun merasa dihargai. Mereka semua mulai sering berbincang. Tentang film, musik, konspirasi, sampai mimpi-mimpi yang bahkan belum berani mereka ceritakan kepada dunia nyata. Tanpa sadar, Raka mulai menunggu notifikasi yang hanya berasal dari satu nama. Kalimat itu berkali-kali muncul di kepalanya. Ia ingin mengatakannya. Sangat ingin. Namun setiap kali jari-jarinya menyentuh keyboard, kata-kata itu menghilang begitu saja. "Hi.....

After Kawi's story

Kali ini aku ingin menceritakan tentang pengalaman mengerikan yang kualami setelah perjalanan kami ke Gunung Kawi beberapa tahun lalu. Demi menjaga privasi dan kerahasiaan beberapa orang yang terlibat, aku akan menggunakan nama, tempat dan latar waktu samaran dalam cerita ini. Bukan karena ingin terlihat misterius, tapi karena ada hal-hal yang tidak bisa aku ceritakan secara terbuka. Aku hanya berharap, lewat cerita ini, kalian bisa mengambil pelajaran dan lebih berhati-hati kalau suatu hari nanti memutuskan untuk datang ke tempat yang sama. 2020, Desember - Libur Natal Pada waktu itu aku masih menjadi karyawan baru di sebuah kantor di Malang, Jawa Timur. Setiap akhir tahun, tepatnya di bulan Desember — bulan yang juga bertepatan dengan perayaan Natal bagi umat Kristiani — kantor biasanya memberikan libur selama lima hari sampai awal tahun 2021. Di kantor saat itu aku sudah punya beberapa teman di lingkungan kerja, salah satunya adalah Mas Deden. Dia merupakan karyawan senior yang su...

Spion Kanan

Hari demi hari berjalan, entah itu kemarin, hari ini, atau besok, kamu selalu sama. Dan tahukah kamu? Itu adalah bagian favoritku. Aku suka setiap kita berboncengan, mengendarai motor bersama, dan merayakan setiap kilometer yang terlewat di jalanan.  Aku bahkan tahu persis apa yang akan kamu lakukan selanjutnya. Memiringkan spion kanan ke arahku, lalu berbisik, 'Cantiknya'. Kamu membiarkan angin membawa kata-kata itu bersamamu, disertai senyum dan tatapan mata yang meneduhkan. Spion kananmu menangkap segalanya: saat-saat aku menangis, tertawa, cemberut, marah, sampai mengomel. Tapi kamu hanya tersenyum manis melihat pantulanku di sana. Saat-saat itu, aku selalu berpikir kita akan terus seperti ini selamanya. Setiap obrolan dan canda tawa yang kita bagi di atas motor, rasanya seperti perjalanan pulang dengan cerita yang tak pernah usai.  Aku tidak pernah berpikir bahwa suatu hari, spion kanan itu tak lagi menangkap wajahku. Karena aku sungguh percaya, kita akan terus melewati s...