Jalan Kembali
Pagi itu udara terasa jauh lebih sejuk daripada biasanya. Raka bahkan sudah bangun sebelum alarm berbunyi. Jarang sekali ia bangun sepagi ini tanpa harus menghadiri wawancara kerja.
Ia berdiri di depan rumah sambil membawa segelas kopi hangat. Jalanan masih lengang. Embun masih menempel di daun-daun yang tumbuh di halaman rumah.
Beberapa menit kemudian terdengar suara klakson pendek.
Tin.
Sebuah mobil putih berhenti tepat di depan rumah. Kevin yang baru keluar sambil masih menguap langsung tertawa.
"Waduh...kita dijemput direktur penerbit."
Saras membuka kaca mobil.
"Bukan direktur tau. Cuma sopir hari ini hihi."
Kevin membuka pintu belakang.
"Nah. Kalau gitu gue duduk belakang aja."
Raka mengernyit.
"Loh? Aturan harusnya gue gasih"
Kevin menyengir.
"Biar kalian enak ngobrol."
"Ngobrol apaan?"
"Gatau. Gue mau tidur pokoknya"
Saras langsung tertawa. Raka hanya bisa menggeleng sambil tersenyum.
Awalnya Saras yang duduk di balik kemudi. Namun belum sampai lima menit, ia menoleh.
"Raka."
"Iya Sar?"
"Boleh gantian nyetir? aku gak terbiasa nyetir jauh maaf hihi"
"Gampang capek?"
"Iya. Kemarin habis perjalanan jauh juga."
Raka mengangguk.
"Boleh."
Mereka berhenti sebentar di sebuah minimarket. Posisi pun berganti. Kini Raka menyetir. Saras duduk di samping. Kevin tetap di belakang.
Mobil kembali melaju. Perlahan meninggalkan kota. Gedung-gedung berganti menjadi hamparan sawah. Radio memutar lagu lama yang lirih. Suasana di dalam mobil terasa tenang. Tidak canggung. Namun juga belum terlalu akrab.
...
Kevin yang sejak tadi melihat keluar jendela tiba-tiba membuka obrolan.
"Saras."
"Iya?"
"Dulu waktu kecil sering main ke pedesaan gini gak?"
Saras berpikir sebentar.
"Sering kok."
"Kadang juga kalau libur, ayah sama ibu sering ajak aku ke sawah."
Kevin tertawa.
"Wah."
"Kalau Raka mah beda."
"Dia dulu gasuka main diluar, musti dibujuk berulang kali baru mau."
Raka langsung memprotes.
"Enggak ah, ya itu gara-gara lu vin, tiap ngajak main, mainnya selalu ke rawa."
"Namanya juga cowok Rak."
"Enggak vin, gue dulu liatnya lu mirip orang liar."
Kevin makin tertawa.
"Jahat banget."
Tanpa sadar...
Saras ikut tertawa.
"Bener lagi hihi."
Raka menoleh.
"Hah?"
Saras langsung terdiam. Ia baru sadar. Kalimat itu keluar begitu saja. Ia buru-buru memperbaiki.
"Maksudku..."
"Anak-anak di kampungku juga kayak begitu semuanya, kayak kevin gitu. Jadi kebayang."
"Oh..."
Raka mengangguk pelan. Sambil mengalihkan fokus pandangannya kedepan.
...
Beberapa menit berlalu. Kevin mulai tertidur. Suara dengkurannya pelan memenuhi mobil. Raka tertawa kecil.
"Tidur juga akhirnya tarzan"
Saras ikut tersenyum.
"Kasihan. Kecapekan."
Mobil terus melaju. Sunyi. Namun justru terasa nyaman. Sampai akhirnya Saras berkata pelan.
"Raka."
"Hm?"
"Kamu percaya gak..."
"...kalau ada orang yang pernah kita kenal..."
"...tapi kita lupa."
Raka berpikir sejenak.
"Ada sih. Waktu kecil. Temen-temen SD. Gue Banyak yang lupa sih."
Saras menggeleng pelan.
"Bukan itu. maksudku yang benar-benar dekat."
Raka tersenyum.
"Kalau sedekat itu..."
"Kayaknya gak mungkin lupa."
Saras memandang jalan di depan. Lalu berkata sangat pelan.
"Iya ya..."
...
Setelah perjalanan yang menempuh lama hampir 2 jam. Mereka akhirnya tiba menjelang siang.
Rumah itu sederhana. Halaman luas. Pohon mangga berdiri di depan. Seorang perempuan paruh baya sedang menyapu.
"Permisi Bu."
Perempuan itu menoleh.
"Iya?"
"Kami temannya Adit."
Senyum ibu itu langsung berubah hangat.
"Oh...kalian dari Jakarta ya?"
Raka dan Kevin saling berpandangan.
"Ibu kok tahu?"
Ibu Adit tertawa kecil.
"Tiap malam dia cerita."
"Ada Raka."
"Ada Kevin."
"Ada Rio."
"Ada Mia."
"Ada Miko."
"...dan Nara."
Saras sedikit menunduk. Menyembunyikan senyumnya.
Ibu melanjutkan.
"Terima kasih ya...udah nemenin anak saya."
Kalimat itu membuat Raka tercekat. Rumah lain. Republik Maya. Selama ini mereka mengira hanya sedang bermain bersama. Ternyata...bagi Adit, tempat itu adalah rumah.
Ibu Adit mempersilakan mereka masuk ke teras. Beliau menyeduhkan teh hangat. Suasananya begitu tenang.
Setelah beberapa menit, Raka akhirnya memberanikan diri bertanya.
"Bu..."
"Adit baik-baik aja kan?"
Ibu itu mengangguk pelan.
"Baik nak..."
"...hanya saja sekarang dia lagi menenangkan diri."
Raka, Kevin, dan Saras mendengarkan dengan saksama.
"Sejak kecil..."
"...Adit memang anak yang pendiam."
"Dia lebih suka mendengarkan daripada berbicara."
"Kalau punya masalah..."
"...dia selalu menyimpannya sendiri."
Beliau tersenyum kecil.
"Lucunya..."
"Setelah kenal kalian..."
"...rumah ini jadi jauh lebih berisik."
Kevin tersenyum bingung.
"Lho kok bisa, Bu?"
"Karena tiap malam..."
"...dia ketawa sendiri di kamar."
Semua ikut tertawa kecil.
"Kadang saya sampai berpikir..."
"...anak saya lagi ngobrol sama siapa."
"Lalu dia keluar kamar sambil bilang..."
"...bu aku dikamar ya kalau nyariin, lagi ngobrol sama temen-temen ini."
Ibu Adit menatap halaman rumah.
"Padahal..."
"...yang saya lihat cuma laptop."
"Tapi saya tahu."
"Anak saya memang sedang bersama teman-temannya."
Hening. Hanya suara angin yang menggerakkan daun mangga. Beliau kembali berkata dengan suara pelan.
"Terima kasih ya..."
"Karena kalian..."
"...anak saya akhirnya bisa tertawa lagi."
Tidak ada yang mampu menjawab. Kalimat sederhana itu terasa begitu berat. Tepat saat suasana mulai hening...
terdengar suara pintu dibuka dari dalam rumah. Seorang pria paruh baya keluar sambil membawa topi caping di tangannya. Kulitnya sedikit gelap karena terbiasa bekerja di luar rumah. Ia memandang ketiga tamu itu.
"Temennya Adit?"
Raka langsung berdiri.
"Iya Pak."
Pria itu mengangguk pelan. Lalu menarik sebuah kursi dan duduk. Tidak banyak bicara. Sifatnya tampak jauh lebih pendiam dibanding istrinya.
Beberapa detik berlalu. Barulah ia berkata.
"Hatur Nuhun."
Hanya dua kata. Namun terdengar sangat tulus. Raka tersenyum kecil.
"Pak..."
"Harusnya kami yang minta maaf."
"Kami baru sadar kalau Adit sedang dalam masa sulit."
Pria itu menggeleng pelan.
"Bukan salah kalian."
"Lagian..."
"...kadang kita orang tua aja yang suka telat sadar."
Kalimat itu membuat istrinya menoleh. Pria itu tersenyum pahit.
"Saya ini bapaknya."
"Tiap hari ketemu."
"Tapi..."
"...malah teman-teman yang lebih dulu sadar kalau anak saya sedang butuh ditolong."
Tidak ada nada menyalahkan. Tidak ada penyesalan yang berlebihan. Hanya sebuah pengakuan yang jujur. Lalu Ia memandang ke arah bukit di belakang rumah.
"Tiga hari yang lalu..."
"saya sendiri yang nganter dia ke air terjun."
Raka spontan bertanya.
"Bapak?"
Pria itu mengangguk.
"Adit bilang, kalau apa namanya itu, yang suka dengerin curhat orang, psikolog ya, nah itu bilang..."
"...katanya Adit butuh mengingat kenangan indah waktu masa kecilnya gitu nak."
"Terus tambahnya itu, kalau terus dipaksa menjalani hidup yang sama..."
"...kepalanya gak bakal pernah tenang."
"Jadi saya bilang ke Adit..."
"Kalau kamu mau sendiri sebentar, pergilah ke tempat itu. Air terjun itu kan yang penuh memori masa kecilmu Dit..."
"...tapi inget Dit, jangan lupa jalan pulang."
Pria itu tersenyum tipis.
"Saya percaya..."
"...anak saya pasti pulang."
"Lambat atau cepat."
"Lalu kenapa Bapak gak jemput?" tanya Kevin pelan.
Pria itu menatap Kevin, lalu tersenyum.
"Karena..."
"...ada perjalanan yang gak bisa diwakilin siapa pun."
"Seorang anak..."
"...kadang harus menemukan jalannya sendiri."
"Tugas orang tua..."
"...cuma memastikan rumahnya tetap menyala."
Sunyi.
Tidak ada satu pun yang berbicara. Lalu pria itu berdiri. Mengambil sebotol air mineral dari dapur. Menyerahkannya kepada Raka.
"Air terjunnya sekitar dua kilometer dari sini."
"Jalannya lumayan menanjak."
"Nanti kalian bakal nemu tenda warna hijau."
"Kalau dia masih di sana..."
"...tolong bilang..."
"...cepet pulang, ibuk sama bapak sudah siapin mie goreng kesukaannya."
...
Setelah berpamitan dengan bapak dan ibu Adit, mereka mulai berjalan ke arah air terjun, mereka dapat arahan petunjuk jalan dari bapaknya Adit. Awalnya jalan masih berupa cor semen. Namun semakin jauh...jalan berubah menjadi tanah merah.
Rumput liar mulai tumbuh di kanan kiri. Udara semakin dingin. Suara kendaraan perlahan menghilang. Yang tersisa hanya suara burung. Dan desir angin.
Kevin berjalan paling depan. Sesekali membuka Google Maps.
"Belok kiri."
"Eh salah."
"Eh lurus ding."
Raka langsung tertawa.
"Maps aja bingung sama lu."
Kevin menoleh.
"Lu kalau jago sini depan."
"Gak ah. Udah enak gue."
Saras hanya tersenyum melihat keduanya. Entah kenapa, candaan receh seperti itu selalu berhasil membuat suasana terasa ringan.
Mereka terus berjalan. Sesekali Kevin memotret pemandangan. Sesekali Raka mengambil ranting untuk mengusir ilalang yang menghalangi jalan.
Sementara Saras...lebih banyak menikmati sekitar.
"Disini bagus ya."
gumamnya pelan.
Raka mengangguk.
"Iya. Kayak desa tempat gue dulu."
Saras menoleh.
"Dulu?"
"Iya. Waktu kecil. Gue pernah tinggal di desa. Seru."
Saras tersenyum tipis.
"Main sama banyak temen?"
"Iya. Tapi gue gak inget sih siapa aja, yang jelas gue selalu main sama kevin sama satu lagi namanya yana"
Kevin langsung nyeletuk dari depan.
"Pacarnya Raka tuh satunya"
"Anjir. Bukan. Temen..."
"...jadi kita dulu sering main tiap sore. Naik pohon. Nyari ikan. Kadang bikin bendungan."
Saras spontan tertawa kecil.
"Bendungan? hihi"
Raka menoleh.
"Loh? Kok ketawa?"
Saras menggeleng.
"Gak. Cuma lucu aja. Kenapa harus bendungan hihi"
...
Setelah berjalan panjang, akhirnya mereka mulai mendengar suara air. Semakin dekat. Semakin deras. Kabut tipis mulai memenuhi udara.
Kevin berkata pelan.
"Kayaknya udah deket."
Begitu mereka melewati tikungan... terlihat sebuah tenda. Masih berdiri. Tas carrier. Sepatu. Kompor portable. Tetapi...
tak ada orang.
Raka memanggil.
"Dit..."
Tidak ada jawaban.
Kevin ikut.
"WOI!"
Hanya gema. Saras mulai cemas.
"Jangan-jangan..."
Raka langsung memotong.
"Jangan ngomong gitu."
Mereka berpencar. Raka menuju sisi sungai. Kevin menuju tenda. Saras melihat ke arah bebatuan.
Tiba-tiba...
Raka berhenti. Di balik derasnya air terjun...ia melihat sebuah bayangan. Seseorang. Sedang berdiri diam. Menghadap jurang kecil. Jantung Raka langsung berdegup.
"A...Adit?"
Tidak ada jawaban. Suara air terlalu keras. Raka berteriak sekuat tenaga.
"ADITTT!!"
Lalu tanpa berpikir panjang...ia berlari. Kevin yang melihat ikut panik.
"RAK!"
Saras juga ikut berlari. Mereka benar-benar mengira...Adit akan melompat.
Begitu sampai...
bayangan itu perlahan menoleh. Lalu tertawa.
"Buset."
"Kaget ya?"
Kevin langsung melempar sandal.
"BANGSAT! bener bener lu ya Dit, sini lo jangan lari tai."
Dari suasana yang semula tegang kini suasana berubah menjadi cair dan penuh dengan canda tawa, Raka dan Saras pun juga ikut tertawa melihat tingkah Adit dan juga Kevin.
...
Tidak lama dari peristiwa Adit tadi. Mereka terlihat duduk melingkar di dekat sungai.
Adit akhirnya bercerita. Tentang psikolog. Tentang kesepian. Tentang kelelahan. Tentang alasan ia memilih pergi sejenak.
"Aku gak kabur."
"Aku cuma pengen istirahat."
"Psikologku bilang..."
"...gak semua masalah harus langsung diselesaikan."
"Kadang..."
"...kita cuma butuh berhenti sebentar."
Tidak ada yang menghakimi. Tidak ada yang menasihati panjang lebar. Raka hanya berkata,
"Kalau sekarang..."
"...udah cukup istirahatnya?"
Adit melihat satu per satu wajah teman-temannya. Lalu tersenyum.
"Iya."
"Kayaknya..."
"...udah."
Kevin berdiri.
"Kalau gitu."
"Pulang."
Adit mengangguk.
"Pulang?"
"...ke rumah?"
"...atau ke Republik Maya?"
Semua tertawa.
Tiba-tiba Adit malah melontarkan celetukan aneh.
"Ini siapa btw, kok gapernah liat ya, pacar lu ya Rak?".
"Cieeelah Rak..Rakk", Sahut Kevin.
"Bukan...ini.."
Sebelum Raka selesai melanjutkan kalimatnya, saras langsung menyela.
"Kenalin aku Saras, aku temennya Raka dan Kevin, salam kenal ya Dit."
Suasana kembali ramai dengan gelak tawa dan lelucon yang silih berganti dilemparkan.
Sampai akhirnya tiba waktu untuk kembali.
Dalam perjalanan pulang menuju rumah Adit, langit mulai berubah jingga. Kevin dan Adit berjalan beberapa langkah di depan, sibuk saling mengejek seperti biasa. Di belakang mereka, Raka dan Saras berjalan berdampingan tanpa banyak bicara.
Setelah beberapa menit, Raka memecah keheningan.
"Makasih ya."
Saras menoleh.
"Untuk apa?"
"Udah mau ikut sejauh ini."
Saras tersenyum kecil.
"Kalau aku gak ikut..."
"...mungkin kalian tetap bakal nemuin Adit."
Raka menggeleng.
"Belum tentu."
"...justru kamu yang nuntun kita sampai sini."
Saras menatap jalan setapak di bawah kakinya. Lalu berkata pelan,
"Lucu ya Rak, kadang..."
"...kita gak harus kenal lama untuk memutuskan peduli sama seseorang."
Raka mengangguk pelan.
"Iya..."
"Aku setuju."
Angin sore berembus pelan di antara pepohonan. Tak ada yang menyadari bahwa alam waktu itu memberikan pertanda, sampai akhirnya alam berhenti memperlihatkan risalahnya dan mereka benar-benar sampai ke tempat kembali.
...
Comments
Post a Comment