Skip to main content

Republik Maya: Bab 15

Dibalik Layar

Pagi hari. Raka sedang membantu Kevin membuka warung. Dari arah parkiran Rio datang tergesa-gesa menuju ke warung. 

Sontak Kevin langsung meledek.

"Buset, tumben jam segini udah mandi."

Rio hanya mengangguk.

"Gue dapet kabar."

Raka langsung menghentikan pekerjaannya.

"Tentang Adit?"

Rio menyerahkan ponselnya. Salah satu admin server lama akhirnya memberikan informasi lebih lengkap.

"Namanya Adit Prasetyo. Tapi kalau di kampus dipanggilnya Tyo"

"Semester akhir."

"Jurusan Ilmu Politik. Unversitas Jakarta"

"Udah hampir dua bulan gak masuk kampus."

Yang membuat mereka semakin terkejut...Adit ternyata satu kota dengan mereka.

Kevin spontan berkata,

"Lah... selama ini ternyata deket?"

Rio mengangguk.

"Bahkan... kampusnya cuma dua puluh menit dari sini."

...

Rio menghubungi beberapa kenalannya. Kevin mencoba bertanya kepada pelanggan warung yang kebetulan alumni kampus tersebut. Raka membuka media sosial Adit lagi. Tidak ada aktivitas.

Sampai akhirnya...Seseorang membalas pesan Rio.

"Kalau kalian nyari Tyo..."

"Coba tanya ke Fakultas Ilmu Politik."

"Dia udah lama gak kelihatan."

Matahari mulai condong ke arah barat ketika mobil Rio berhenti di depan gerbang Fakultas Ilmu Politik. Suasana kampus masih ramai. Mahasiswa berlalu-lalang sambil membawa laptop, beberapa duduk di taman kampus mengerjakan tugas, sementara yang lain sibuk mengantre di kantin.

Raka memperhatikan semuanya.

Entah kenapa...

tempat seramai ini justru membuatnya semakin merasa sepi.

"Jadi ini kampusnya Adit..."

gumam Kevin pelan.

Rio mengangguk.

"Mudah-mudahan kita gak salah alamat."

Mereka bertiga mulai berjalan memasuki area fakultas. Beberapa mahasiswa yang sedang duduk mereka hampiri.

"Permisi..."

Raka membuka percakapan.

"Mau tanya, kalian kenal Adit Prasetyo?"

Mahasiswa itu berpikir sejenak.

"Oh..."

"Tyo."

"Iya kenal."

Raka langsung tersenyum lega.

"Syukurlah."

"Tapi..."

Mahasiswa itu melanjutkan.

"...kenal wajahnya doang."

Kevin yang berdiri di belakang mulai mengernyit.

"Maksudnya?"

"Ya..."

"Dia anaknya pendiem."

"Dateng kuliah."

"Duduk."

"Pulang."

"Gitu aja."

Rio mencoba bertanya lagi.

"Dia punya temen deket?"

Mahasiswa itu menggeleng.

"Kayaknya enggak."

"Minimal satu tongkrongan?"

"Enggak juga."

"Organisasi?"

"Enggak pernah lihat."

"Sering ngobrol sama siapa?"

Mahasiswa itu tersenyum canggung.

"Jujur aja..."

"Kayaknya gak pernah lihat dia ngobrol lama sama siapa-siapa."

Mereka bertiga saling berpandangan. Raka masih sulit mempercayainya. Orang yang setiap malam memenuhi voice dengan suara paling berisik, ternyata di kampus, nyaris tak pernah berbicara.

...

Selama hampir satu jam mereka berkeliling. Mencari. Bertanya. Namun jawaban yang mereka dapat hampir selalu sama.

"Adit?"

"Oh yang pendiem itu ya?"

"Baik sih."

"Tapi gak pernah ngobrol."

"Kayaknya anaknya introvert."

"Sering sendirian."

"Jarang senyum."

Semakin banyak jawaban mereka dengar, semakin aneh rasanya. Kevin akhirnya tertawa kecil.

"Bisa-bisanya...lu dit boongin kita"

Raka menoleh.

"Kenapa?"

Kevin menggeleng pelan.

"Kalau gue cerita ke orang-orang ini..."

"Kalau Adit itu tiap malam bisa ngomong lima jam tanpa napas..."

"...kayaknya mereka gak bakal percaya."

Rio menatap keramaian kampus. Lalu berkata pelan.

"Mereka cuma kenal wajahnya."

"Kita..."

"...cuma kenal avatarnya."

Kalimat itu membuat semuanya terdiam.

...

Sore menjelang malam. Warung Indomie kembali menjadi tempat mereka pulang. Kevin langsung masuk ke dapur.

"Gue masak dulu."

Rio duduk sambil membuka Republik Maya di ponselnya. Raka hanya memandangi jalan raya. Hari itu terasa melelahkan. Namun mereka tetap belum menemukan apa pun. Kevin meletakkan tiga mangkuk Indomie di meja.

"Asli. Baru kali ini gue makan mie rasanya hambar."

Belum sempat ada yang menjawab. Bel kecil di pintu berbunyi.

Ting...

"Permisi..."

Suara perempuan terdengar lembut. Raka spontan menoleh. Lalu sedikit terkejut.

"Lho..."

Perempuan itu tersenyum hangat.

"Masih ingat?"

Kevin ikut memperhatikan.

"Oh iya!"

"Yang dulu pesan es teh sama mie goreng. Terus digoadin sama Raka kan"

Perempuan itu mengangguk kecil.

"Iya."

"Kebetulan lewat lagi."

"Pesen seperti biasa ya."

Kevin tersenyum.

"Siap."

...

Saras duduk tidak jauh dari meja mereka. Awalnya ia hanya membaca buku sambil menunggu pesanannya. Namun perlahan...

obrolan Raka, Kevin, dan Rio mulai terdengar.

"...Adit...Prasetyo"

"...Ilmu Politik..."

"...udah beberapa hari gak ada kabar..."

"...temen kampusnya juga gak ada yang tahu..."

Jari Saras berhenti membalik halaman buku. Ia menoleh sekilas. Ekspresinya tetap tenang. Ia menarik napas pelan. Lalu berdiri menghampiri meja mereka.

"Maaf..."

"Boleh aku gabung?"

Raka langsung mengangguk.

"Boleh kok."

Saras tersenyum.

"Tadi aku gak sengaja denger."

"Kalian lagi nyari seseorang ya?"

Rio mengangguk.

"Iya. Temen."

Saras kembali bertanya.

"Namanya Adit Prasetyo?"

Raka tampak heran.

"Iya. Kok tahu?"

Saras tertawa kecil.

"Kan tadi kalian nyebutin namanya beberapa kali."

"Oh iya juga ya."

Kevin menggaruk kepala sambil nyengir.

"Maaf kak. Kita terlalu berisik tadi."

"Gapapa."

Saras tersenyum.

"Jangan panggil kak, kayaknya kita seumuran. Lagian..."

"...aku kerjaannya memang sering nyari informasi orang."

Rio mulai tertarik.

"Lho?emang lu kerja dimana?"

"Penerbit. Jadi Penulis."

"Oh..."

Raka spontan menoleh.

"Penerbit?"

"Iya."

Raka langsung teringat sesuatu.

"Eh...Gue pernah interview di perusahaan penerbit juga."

Saras pura-pura berpikir.

"Serius?"

"Iya. Nama perusahaannya..."

Raka menyebut nama perusahaan itu. Saras hanya mengangguk pelan.

"Oooh...Keren kamu"

Padahal ia tahu siapa Raka. Bahkan berkas lamaran Raka masih tersimpan di meja kantornya. Namun ia memilih menyimpan rahasia itu rapat-rapat.

...

Saras mengeluarkan ponselnya.

"Kalau kalian gak keberatan... boleh aku coba bantu cari."

Rio mengangguk.

"Okey."

Saras mulai mengetik sesuatu. Jemarinya bergerak cepat, seolah sudah terbiasa melakukan pencarian data. Sesekali ia membuka media sosial. Menutupnya lagi. Membuka laman lain. Lalu beberapa menit kemudian ia berhenti.

"Hmm..."

Kevin langsung mendekat.

"Dapet, Sar?"

Saras mengangguk pelan.

"Kayaknya iya."

Ia memperlihatkan layar ponselnya.

"Ini nama lengkapnya kan?"

Rio langsung mengangguk.

"Iya."

"Nah... dulu dia pernah ikut seminar kampus. Dari situ aku nemu nama organisasi yang pernah ngundang."

Raka memperhatikan.

"Terus?"

"Terus aku coba hubungi salah satu panitianya."

"Wuihh..."

Kevin melongo.

"Relasi lu luas juga ya."

Saras hanya tersenyum kecil.

"Namanya juga penulis. Relasinya musti luas kan hihi"

Raka mengangguk kagum.

"Pantes."

...

Tak lama kemudian, ponsel Rio berdering. Ia melihat nama yang muncul di layar. Ekspresinya langsung berubah.

"Gue musti cabut."

Kevin menoleh.

"Kenapa?"

"Nyokap. Lagi butuh gue."

Tidak ada yang bertanya lebih jauh. Rio memang seperti itu. Jarang menjelaskan. Ia berdiri sambil meraih jaketnya.

"Rak, Vin, Saras."

..titip masalah ini ya."

Mereka mengangguk pelan. Rio kemudian menatap Raka.

"Kalau nanti udah ketemu Adit..."

"...jangan langsung banyak nanya."

"Dia bukan orang yang suka dipaksa cerita."

Raka mengangguk mantap.

"Oke."

Rio tersenyum tipis.

"Laporan nanti malam."

Ia pun pergi. Meninggalkan tiga orang yang kini harus melanjutkan pencarian.

...

Sekitar empat puluh menit kemudian, setelah mereka mendapatkan informasi tempat tinggal kos Adit. Raka, Kevin, dan Saras langsung menuju kesana.

Bangunannya sederhana. Cat temboknya mulai memudar. Beberapa motor terparkir di depan. Kevin melihat papan nama.

"Ini ya?"

Saras mengangguk.

"Iya."

Mereka bertiga turun dari mobil. Seorang bapak paruh baya yang sedang menyapu halaman menyambut mereka.

"Cari siapa nak?"

Raka maju.

"Pak... kami nyari Mas Adit."

Bapak itu langsung mengangguk.

"Oh...Mas Adit."

"Iya Pak."

Bapak itu menghela napas.

"Udah pindah nak."

Seketika jantung Raka seperti berhenti.

"Pindah?"

"Iya. Udah hampir dua minggu."

Kevin langsung memandang Raka. Raka juga tampak terkejut.

"Lho...Dua minggu?"

"Iya. Katanya pulang kampung."

Raka buru-buru bertanya lagi.

"Pak..."

"Alamat rumahnya masih ada?"

Penjaga kos tampak ragu.

"Sebenernya gak boleh kasih."

Raka menunduk sopan.

"Kami cuma khawatir sama temen kami, Pak."

"Dia udah beberapa hari gak bisa dihubungi."

Bapak itu memandangi wajah mereka satu per satu. Mungkin ia melihat ketulusan di mata ketiga anak muda itu. Akhirnya ia mengangguk.

"Sebentar."

Ia masuk ke ruang administrasi. Tak lama kemudian kembali membawa sebuah buku besar. Ia membuka beberapa halaman. Lalu menuliskan sebuah alamat di secarik kertas.

"Inih. Rumah orang tuanya."

Raka menerima kertas itu.

"Terima kasih banyak ya Pak."

Bapak itu hanya tersenyum.

"Kalau ketemu..."

"...bilang aja Bapak kos nitip salam."

"Iya Pak."

...

Mereka kembali masuk ke mobil. Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik. Kevin akhirnya memecah keheningan.

"Gue gak nyangka."

"Adit ternyata udah lama pulang."

Raka menggenggam secarik alamat itu.

"Semoga..."

"...dia baik-baik aja."

Saras menyalakan mesin mobil.

"Guys. Rumahnya gak terlalu jauh sih. Sekitar 2 jam dari sini."

Kevin tersenyum.

"Berarti gas kah besok?"

Saras mengangguk.

"Okey...kita kesana besok"

Mobil perlahan melaju ke arah jalan pulang.

Comments

Popular posts from this blog

Republik Maya: Prologue

Prologue Di sebuah tempat bernama Republik Maya, orang-orang hidup berdampingan tanpa pernah benar-benar saling mengenal. Mereka berbicara setiap hari, tertawa di ruang obrolan yang sama, saling mengirim meme, musik, game dan cerita tentang hidup. Namun, di balik semua itu, ada satu aturan yang tak pernah tertulis, "Jangan bawa perasaan di grup" Raka tahu aturan itu. Semua orang tahu. Lalu datanglah Nara. Awalnya biasa saja. Ia hanya anggota baru yang sering muncul di kanal musik setiap malam. Suaranya tenang, dan caranya mendengarkan membuat siapa pun merasa dihargai. Mereka semua mulai sering berbincang. Tentang film, musik, konspirasi, sampai mimpi-mimpi yang bahkan belum berani mereka ceritakan kepada dunia nyata. Tanpa sadar, Raka mulai menunggu notifikasi yang hanya berasal dari satu nama. Kalimat itu berkali-kali muncul di kepalanya. Ia ingin mengatakannya. Sangat ingin. Namun setiap kali jari-jarinya menyentuh keyboard, kata-kata itu menghilang begitu saja. "Hi.....

After Kawi's story

Kali ini aku ingin menceritakan tentang pengalaman mengerikan yang kualami setelah perjalanan kami ke Gunung Kawi beberapa tahun lalu. Demi menjaga privasi dan kerahasiaan beberapa orang yang terlibat, aku akan menggunakan nama, tempat dan latar waktu samaran dalam cerita ini. Bukan karena ingin terlihat misterius, tapi karena ada hal-hal yang tidak bisa aku ceritakan secara terbuka. Aku hanya berharap, lewat cerita ini, kalian bisa mengambil pelajaran dan lebih berhati-hati kalau suatu hari nanti memutuskan untuk datang ke tempat yang sama. 2020, Desember - Libur Natal Pada waktu itu aku masih menjadi karyawan baru di sebuah kantor di Malang, Jawa Timur. Setiap akhir tahun, tepatnya di bulan Desember — bulan yang juga bertepatan dengan perayaan Natal bagi umat Kristiani — kantor biasanya memberikan libur selama lima hari sampai awal tahun 2021. Di kantor saat itu aku sudah punya beberapa teman di lingkungan kerja, salah satunya adalah Mas Deden. Dia merupakan karyawan senior yang su...

Spion Kanan

Hari demi hari berjalan, entah itu kemarin, hari ini, atau besok, kamu selalu sama. Dan tahukah kamu? Itu adalah bagian favoritku. Aku suka setiap kita berboncengan, mengendarai motor bersama, dan merayakan setiap kilometer yang terlewat di jalanan.  Aku bahkan tahu persis apa yang akan kamu lakukan selanjutnya. Memiringkan spion kanan ke arahku, lalu berbisik, 'Cantiknya'. Kamu membiarkan angin membawa kata-kata itu bersamamu, disertai senyum dan tatapan mata yang meneduhkan. Spion kananmu menangkap segalanya: saat-saat aku menangis, tertawa, cemberut, marah, sampai mengomel. Tapi kamu hanya tersenyum manis melihat pantulanku di sana. Saat-saat itu, aku selalu berpikir kita akan terus seperti ini selamanya. Setiap obrolan dan canda tawa yang kita bagi di atas motor, rasanya seperti perjalanan pulang dengan cerita yang tak pernah usai.  Aku tidak pernah berpikir bahwa suatu hari, spion kanan itu tak lagi menangkap wajahku. Karena aku sungguh percaya, kita akan terus melewati s...