Jejak Digital
Pagi hari. Raka terbangun dengan pikiran yang masih dipenuhi pesan Nara semalam.
"Orang yang paling sering membuat semua orang tertawa..."
"...kalau tiba-tiba diam..."
"...aku selalu takut ada sesuatu."
Entah kenapa, kalimat itu terus terngiang. Saat sedang menyapu halaman, Kevin datang membawa dua bungkus gorengan.
"Pagi Rak."
"Pagi Vin."
Kevin langsung duduk.
"Semalam tidur?"
"Kurang."
"Kenapa?"
Raka berpikir sejenak.
"Adit."
Kevin tertawa kecil.
"Lu juga kepikiran?"
"Iya."
"Gue juga."
Untuk pertama kalinya, Kevin juga merasa ada yang aneh.
...
Malam harinya, Raka membuka Republik Maya. Server terasa jauh lebih sepi. Mia sedang live. Rio belum online. Miko sedang offline. Kevin masih di warung.
Sementara...
Nara sudah berada di voice sendirian. Biasanya voice selalu ramai. Malam itu...hanya ada satu nama. Raka menarik napas. Lalu menekan tombol.
Join Voice.
"...Halo."
Suara Nara terdengar lebih pelan dari biasanya.
"Hai."
Sunyi. Sekitar lima detik. Tidak ada yang berbicara. Raka tertawa kecil.
"Kayaknya pertama kali ya kita VC cuma berdua."
"Iya...hihi"
Nara ikut tertawa.
"Agak canggung ya."
"Banget hihi."
Mereka tertawa bersamaan. Canggung itu perlahan menghilang.
Setelah beberapa saat, tiba-tiba Nara melemparkan sebuah celetukan.
"Raka...aku tadi coba DM Adit."
"Oh iyakah, Masuk?"
"Masuk."
"Dibales?"
"Enggak."
"Aku coba telepon juga. Tapi enggak diangkat."
Raka mulai membuka ruang chat dengan Adit.
"Dia terakhir online kapan?"
"Dua hari lalu Rak..."
"Spotify?"
"Berhenti juga."
"Steam?"
"Offline."
"Instagram?"
"Enggak update."
"Twitter?"
"Kosong."
Raka mulai sadar. Ini bukan sekadar sibuk. Semua aktivitas digital Adit berhenti. Padahal dulu Adit orang yang selalu update dengan kegiatan online dan sosmednya.
...
Jam menunjukkan pukul 01.37. Mereka masih mencari. Kadang membuka akun. Kadang membuka server lama. Kadang mencari mutual friend.
Sampai akhirnya...
Raka berkata,
"Nara."
"Iya Raka?"
"Kamu capek gak?"
"Tadinya capek."
"Sekarang?"
"Udah lupa."
"Loh? kok bisa gitu"
"Hihi soalnya ngobrol sama kamu. Seru sambil berlagak jadi polisi-polisian hihi"
Raka tertawa.
"Aku juga...hihi"
Sunyi lagi. Namun kali ini...sunyinya terasa nyaman.
...
Obrolan mulai melebar. Tidak lagi hanya tentang Adit. Raka tiba-tiba bertanya.
"Kamu waktu kecil kayak gimana?"
"Hmm..."
Nara berpikir.
"Anak kampung. Lari-larian. Main hujan. Bikin rumah-rumahan dari kardus."
Raka tertawa.
"Serius?"
"Iya...terus sering dimarahin sama yang lain."
"Kenapa?"
"Soalnya rumahnya sering rusak hihi."
Raka langsung tertawa keras.
"Hahaha...Kasihan."
"Iya....soalnya ada anak iseng, dia bikin bendungan di selokan..."
"...tapi airnya malah masuk ke rumah-rumahan aku."
Raka tiba-tiba ikut tertawa.
"Parah banget."
"Iya kan? Anaknya nyebelin. hihihi"
Raka mengangguk.
"Iya."
"Eh tapi...dulu aku juga pernah bikin bendungan tau. Saking gedenya...
"...hampir dimarahin satu kampung. Soalnya kalau jebol bisa banjir sebetis"
Nara tertawa. Mereka tertawa.
Lalu, ganti topik. Tidak ada yang sadar, bahwa mereka sedang menceritakan masa kecil mereka hingga topik lainnya.
...
Jam sudah menunjukkan pukul dua lewat. Tiba-tiba...
Rio joined the voice channel.
"Belum tidur?"
Raka menjawab,
"Belum. Lagi nyari Adit."
Rio terdiam beberapa detik. Lalu berkata,
"Aku mungkin bisa bantu."
"Kamu tahu sesuatu?"
"Belum."
"Tapi..."
"Aku kenal beberapa admin server lama."
"Mungkin ada yang kenal dia."
Harapan mulai muncul. Waktu menunjukkan hampir pukul tiga pagi. Salah satu admin lama akhirnya membalas pesan Rio.
"Kayaknya gue pernah satu kampus sama Adit."
Rio langsung menegakkan badan.
"Serius?"
"Iya."
"Tapi..."
"Namanya bukan Adit."
Semua langsung terdiam.
"Hah?"
Rio membaca pesan itu pelan.
"Laki-laki."
"Jurusan Ilmu Politik."
"Semester akhir."
"Katanya..."
"...udah lama gak masuk kampus."
Voice channel kembali sunyi. Miko mungkin benar. Adit memang sedang sibuk. Namun...bukan sibuk seperti yang mereka bayangkan.
Rio akhirnya pamit.
"Besok gue cari lagi."
"Oke io."
Voice kembali hanya berisi dua orang. Raka dan Nara. Raka melihat jam.
"Udah jam tiga."
Nara tertawa kecil.
"Iya."
"Besok kerja?"
"Iya. Kalau Kamu?"
"Nyari kerja Nara hihi."
Raka ikut tertawa.
"Gapapa Raka...yang penting kan usaha dulu kan, aku yakin kamu bakal sukses suatu hari nanti"
Raka hanya tersenyum tipis, tak lama mereka sama-sama diam. Lalu...Nara berkata pelan.
"Raka"
"Hm?"
"Makasih ya."
"Buat apa?"
"Udah mau nemenin nyari Adit."
Raka tersenyum.
"Kan kita sama-sama nyari."
"Iya."
"Tapi..."
"...rasanya kalau sendirian..."
"...aku gak bakal seberani ini."
Raka tidak langsung menjawab. Ia hanya memandang daftar anggota Republik Maya. Lalu berkata pelan.
"Kamu juga keren. Makasih ya Nar..."
Voice kembali sunyi. Namun untuk pertama kalinya, Raka merasa sunyi tidak selalu berarti kesepian ternyata.
Comments
Post a Comment