Skip to main content

Republik Maya: Bab 13

Orang Yang Selalu Tertawa

Kasus Mia telah berlalu hampir dua minggu. Republik Maya kembali seperti biasanya. Malam-malam kembali dipenuhi tawa. 

Mia sudah kembali melakukan siaran. Ethan kini mulai membantu bisnis keluarga bersama ayahnya. Miko sibuk menyelesaikan persiapan sidang terakhir skripsinya. Rio tetap menjadi Rio yang muncul sesuka hati. Kevin masih sibuk menjaga warung Indomie bersama Raka. Dan Adit, Tetap menjadi manusia paling berisik di server.

"...WOI KALIAN CEPET MASUK VC!"

Spam mention.

Spam stiker.

Spam GIF.

Spam meme.

Kalau ada orang baru masuk server. Adit yang pertama menyambut. Kalau suasana mulai sepi, Adit yang pertama memancing obrolan.

"Eh gue nemu meme lucu."

"Liat nih."

"WOI MIKO!"

"MANA LU?"

Voice channel kembali dipenuhi suara tawa. Kevin tertawa sambil menggeleng.

"Gue yakin nih orang kalau tidur juga sambil ngomong."

Miko langsung menyahut.

"Dia mah tidur sambil ngelawak."

Rio menjawab singkat.

"Berisik."

Semua tertawa. Adit pura-pura tersinggung.

"Rio! Gue tuh sumber kebahagiaan server ini."

Rio menjawab datar.

"Iya. Makanya volume-lu dikecilin. Itu bisa buat gue bahagia"

Voice kembali pecah oleh tawa. Di sudut layar, Nara hanya tertawa kecil mendengar mereka saling mengejek. Raka memperhatikan semuanya. Ia baru sadar, sudah cukup lama Republik Maya tidak sesepi dulu.

Tempat itu kembali hidup.

Dan entah sejak kapan, ia mulai menganggap orang-orang di dalamnya seperti keluarga kedua.

...

Pagi hari. Raka kembali menjalani rutinitasnya. Membuka email. Masih belum ada kabar dari perusahaan penerbitan tempat ia pernah diwawancarai. Statusnya masih sama.

Sedang dipertimbangkan.

Ia menghela napas pelan.

Raka menutup layar laptopnya perlahan. Ia menyandarkan tubuh ke kursi kayu yang mulai berderit dimakan usia. Di ruang tamu, ibunya sedang menyapu lantai. Adiknya sudah berangkat kuliah sejak pagi. Rumah itu kembali sunyi.

Sunyi seperti kebanyakan pagi yang ia lalui sejak lulus. Ditengah kesunyian itu ibu Raka bertanya.

"Belum ada kabar nak?"

Raka menggeleng.

"Belum, Bu."

Ibunya tersenyum.

"Gapapa...yang penting kamu udah berusaha."

Kalimat sederhana itu selalu berhasil membuat Raka sedikit lebih tenang.

Pandangan Raka berubah menuju sudut ruang tamu yang masih berdiri sebuah lemari kaca tua. Di dalamnya tersimpan beberapa foto keluarga yang warnanya mulai memudar.

Pandangan Raka berhenti pada satu foto. Foto ketika usianya mungkin baru delapan tahun. Di sana, ia berdiri di atas bahu ayahnya sambil tertawa lepas. Tangan kecilnya memegang layang-layang yang baru saja berhasil diterbangkan.

Raka tersenyum kecil.

Dulu...

ayahnya selalu punya cara sederhana untuk membuatnya percaya bahwa tidak ada yang mustahil.

Kalau layang-layang putus...

ayahnya akan berkata,

"Ya sudah. Besok kita buat lagi yang lebih tinggi."

Kalau ia kalah lomba...ayahnya hanya menepuk pundaknya.

"Yang penting pulang nanti kan masih ada masakan ibu, makan kita."

Bahkan ketika Raka pertama kali gagal masuk sekolah impiannya, ayahnya justru orang yang paling santai.

"Kalau pintu depan ditutup..."

"Cari pintu samping."

"Kalau gak ada..."

"Ya bikin pintu sendiri."

Waktu itu Raka menganggap ayahnya hanya sedang menghibur. Baru sekarang ia sadar, menjalani hidup ternyata memang sesulit itu.

Tidak lama dari itu, Ibunya keluar membawa dua cangkir kopi. Satu diletakkan di depan Raka. 

Satunya lagi...

secara refleks hampir ia letakkan di kursi kosong di sampingnya. Tangan ibunya berhenti di udara beberapa detik. Lalu ia tersenyum tipis.

"Maaf...nak"

gumamnya Ibunya pelan. Sudah bertahun-tahun berlalu. Namun kebiasaan Ibu rupanya belum benar-benar hilang. Raka tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengambil cangkir itu. Lalu meletakkannya kembali di dapur. Tanpa suara. Tanpa air mata. Karena beberapa kehilangan, tidak pernah benar-benar selesai. Hanya perlahan menjadi bagian dari kehidupan.

"Gapapa bu, nanti biar Raka buatin kopi lagi"

entah kenapa ucapan Raka tersebut, semakin mengingatkan Ibunya dengan mendiang Suaminya.

Ibunya kemudian duduk di samping Raka. Ibunya tersenyum.

"Makasih ya nak... :)"

Kalimat itu membuat Raka tersenyum. Entah kenapa, ucapan itu terdengar sangat mirip dengan ayahnya.

....

Siangnya, ia membantu Kevin di warung.

Lalu Sore, mereka bermain catur sambil menunggu pelanggan.

Malamnya, sudah pasti Republik Maya.

Hari-harinya terasa berulang. Namun, untuk pertama kalinya, Raka tidak lagi membencinya. Karena kini, selalu ada alasan untuk menunggu hari berikutnya dengan segala macam kejutannya.

....

Malam itu mereka bermain game lagi. Adit kembali menjadi pusat keributan.

"WOI MIA! Jangan heal musuh!"

"ITU GUE WOI!", Sahut Raka

"Aduh!", Ucap Mia

Semua tertawa. Mia bahkan sampai tidak bisa berbicara karena terlalu banyak tertawa. Kevin menepuk meja.

"Gue sumpah kebayang"

"Kalau Adit jadi dosen..."

"Satu kampus DO semua."

Adit tertawa keras.

"Lah kenapa?"

"Karena kalian pada gak bisa bedain dosen sama stand up comedian.", Jawab Kevin

Rio menghela napas.

"Receh."

Namun, ia tetap tertawa kecil.

Malam itu terasa sempurna. Tak ada yang tahu, bahwa itu adalah malam terakhir mereka mendengar suara Adit.

...

Besok malam. Raka selesai beraktivitas hari ini. Seperti biasa membuka laptop. Masuk ke Republik Maya. Terlihat Kevin sudah online. Rio juga. Mia sedang live. Miko baru masuk.

Namun...

ada satu nama yang tidak muncul. Adit.

Kevin melihat daftar anggota.

"Loh."

"Si bocah belum online?"

Miko menjawab santai.

"Paling tidur."

Rio ikut menimpali.

"Jarang."

"Tapi bisa aja."

Mia berkata,

"Mungkin lagi sibuk."

Semua mengangguk. Tidak ada yang berpikir macam-macam. Karena setiap orang berhak punya kehidupan di luar Republik Maya. 

Malam itu tetap berjalan. Hanya saja...terasa sedikit lebih sepi.

...

Malam berikutnya. Adit masih belum muncul. Kevin mengirim mention.

Tidak dibalas.

Miko mengirim meme.

Tidak dibaca.

Rio mencoba menghubungi lewat pesan singkat.

Tidak aktif.

"Anak ini ngilang ke mana ya."

Kevin mulai heran.

"Biasanya paling gak spam stiker."

Mia mencoba bercanda.

"Jangan-jangan akhirnya dia dapet pacar."

Kevin langsung menjawab.

"Mustahil."

Semua kembali tertawa.

Namun...ada seseorang yang tidak ikut tertawa.

Nara. 

Sejak tadi, ia hanya diam.

...

Malam semakin larut. Voice channel mulai kosong. Satu per satu anggota keluar.

Kevin pamit.

Rio menghilang.

Mia menutup livestream.

Miko kembali mengerjakan kerjaannya.

Kini hanya tinggal Raka. Ia hendak menutup laptop. Tiba-tiba...

Ting.

Sebuah Direct Message masuk.

Pengirimnya...Nara.

Raka sedikit terkejut. Selama ini Nara jarang menghubunginya secara pribadi, kecuali menanyakan kabar.

Ia membuka pesan itu.

"Raka..."

Beberapa detik kemudian. Pesan kedua masuk.

"Boleh ganggu sebentar?"

Raka tersenyum kecil namun heran. Jarinya mulai mengetik.

"Boleh kok."

Balasan datang hampir seketika.

"Aku kepikiran Adit."

Raka membaca kalimat itu pelan. Lalu membalas.

"Iya. Udah dua hari ya."

Nara kembali mengetik. Kali ini...agak lebih lama. Titik tiga di layar muncul dan menghilang beberapa kali. Seolah ia sedang memilih kata-kata yang tepat. Akhirnya pesan itu terkirim.

"Rak...Aku takut. Jadi Kepikiran"

Raka mengernyit.

"Takut kenapa?"

Lagi-lagi, Nara tidak langsung menjawab. Beberapa detik berlalu. Kemudian muncul satu kalimat. Kalimat yang sederhana. Namun membuat Raka mendadak ikut terdiam.

"Raka...orang yang paling sering membuat semua orang tertawa tuh..."

"...biasanya kalau tiba-tiba diam..."

"...aku selalu takut ada sesuatu yang terjadi di hidupnya."

Raka memandangi layar laptopnya cukup lama. Entah mengapa, untuk pertama kalinya, ia merasa Nara mungkin benar.

Di luar sana, ada seseorang, yang benar-benar sedang membutuhkan pertolongan. Hanya saja...dia tidak berani mengakuinya.

Comments

Popular posts from this blog

Republik Maya: Prologue

Prologue Di sebuah tempat bernama Republik Maya, orang-orang hidup berdampingan tanpa pernah benar-benar saling mengenal. Mereka berbicara setiap hari, tertawa di ruang obrolan yang sama, saling mengirim meme, musik, game dan cerita tentang hidup. Namun, di balik semua itu, ada satu aturan yang tak pernah tertulis, "Jangan bawa perasaan di grup" Raka tahu aturan itu. Semua orang tahu. Lalu datanglah Nara. Awalnya biasa saja. Ia hanya anggota baru yang sering muncul di kanal musik setiap malam. Suaranya tenang, dan caranya mendengarkan membuat siapa pun merasa dihargai. Mereka semua mulai sering berbincang. Tentang film, musik, konspirasi, sampai mimpi-mimpi yang bahkan belum berani mereka ceritakan kepada dunia nyata. Tanpa sadar, Raka mulai menunggu notifikasi yang hanya berasal dari satu nama. Kalimat itu berkali-kali muncul di kepalanya. Ia ingin mengatakannya. Sangat ingin. Namun setiap kali jari-jarinya menyentuh keyboard, kata-kata itu menghilang begitu saja. "Hi.....

After Kawi's story

Kali ini aku ingin menceritakan tentang pengalaman mengerikan yang kualami setelah perjalanan kami ke Gunung Kawi beberapa tahun lalu. Demi menjaga privasi dan kerahasiaan beberapa orang yang terlibat, aku akan menggunakan nama, tempat dan latar waktu samaran dalam cerita ini. Bukan karena ingin terlihat misterius, tapi karena ada hal-hal yang tidak bisa aku ceritakan secara terbuka. Aku hanya berharap, lewat cerita ini, kalian bisa mengambil pelajaran dan lebih berhati-hati kalau suatu hari nanti memutuskan untuk datang ke tempat yang sama. 2020, Desember - Libur Natal Pada waktu itu aku masih menjadi karyawan baru di sebuah kantor di Malang, Jawa Timur. Setiap akhir tahun, tepatnya di bulan Desember — bulan yang juga bertepatan dengan perayaan Natal bagi umat Kristiani — kantor biasanya memberikan libur selama lima hari sampai awal tahun 2021. Di kantor saat itu aku sudah punya beberapa teman di lingkungan kerja, salah satunya adalah Mas Deden. Dia merupakan karyawan senior yang su...

Spion Kanan

Hari demi hari berjalan, entah itu kemarin, hari ini, atau besok, kamu selalu sama. Dan tahukah kamu? Itu adalah bagian favoritku. Aku suka setiap kita berboncengan, mengendarai motor bersama, dan merayakan setiap kilometer yang terlewat di jalanan.  Aku bahkan tahu persis apa yang akan kamu lakukan selanjutnya. Memiringkan spion kanan ke arahku, lalu berbisik, 'Cantiknya'. Kamu membiarkan angin membawa kata-kata itu bersamamu, disertai senyum dan tatapan mata yang meneduhkan. Spion kananmu menangkap segalanya: saat-saat aku menangis, tertawa, cemberut, marah, sampai mengomel. Tapi kamu hanya tersenyum manis melihat pantulanku di sana. Saat-saat itu, aku selalu berpikir kita akan terus seperti ini selamanya. Setiap obrolan dan canda tawa yang kita bagi di atas motor, rasanya seperti perjalanan pulang dengan cerita yang tak pernah usai.  Aku tidak pernah berpikir bahwa suatu hari, spion kanan itu tak lagi menangkap wajahku. Karena aku sungguh percaya, kita akan terus melewati s...