Kembali Pulang
Livestream Mia berakhir hampir dua jam kemudian. Jumlah penonton telah menembus ratusan ribu. Potongan siaran mulai dipotong dan dibagikan di berbagai media sosial. Tagar mengenai Ethan perlahan mulai masuk ke daftar pembicaraan hangat. Media independen mulai menghubungi Rio untuk meminta dokumen tambahan. Beberapa saksi lain mulai berani menghubungi Miko.
Kebenaran...akhirnya mulai menemukan jalannya sendiri.
...
Sementara itu...Mia mematikan kamera. Lampu LED dimatikan. Ruangan mendadak gelap. Ia menghela napas panjang. Tubuhnya terasa sangat ringan. Namun juga sangat lelah. Tiba-tiba...
Ting
Tong.
Bel rumah berbunyi. Mia mengusap matanya. Membuka pintu. Dan...ia membeku. Di depan rumah. Berdiri Ethan. Di sampingnya...Ayah mereka. Tidak ada yang berbicara. Ayah Mia menatap putrinya.
Sudah bertahun-tahun...
ia selalu menjadi orang yang paling sulit mengakui kesalahan. Namun malam itu...harga dirinya tidak lagi lebih besar daripada keluarganya. Ia melangkah mendekat. Tangannya gemetar.
"Mia...Maaf."
Satu kata itu nyaris tidak terdengar. Tetapi cukup membuat air mata Mia kembali jatuh. Ayahnya kemudian menoleh kepada Ethan. Tatapan mereka bertemu.
Lama.
Sangat lama.
Lalu...
untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun...ayah memeluk anak laki-lakinya. Pelukan yang selama ini tertunda.
"Ayah salah."
Ethan tidak mampu menjawab. Ia hanya membalas pelukan itu. Di belakang mereka, ibu Mia berdiri sambil menangis.
Tangannya menutup mulut. Seolah tak percaya bahwa rumah yang selama bertahun-tahun dipenuhi keheningan...akhirnya kembali terdengar seperti rumah.
Malam itu...
tidak ada yang benar-benar menang. Tidak ada yang benar-benar kalah. Yang ada hanyalah...sebuah keluarga...
yang akhirnya memilih saling mendengarkan.
...
Malam semakin larut. Rumah keluarga Mia yang selama bertahun-tahun terasa dingin, malam itu perlahan kembali hidup. Tidak ada rapat perusahaan. Tidak ada pembicaraan soal saham. Tidak ada telepon bisnis yang terus berbunyi. Hanya ada empat orang yang duduk mengelilingi meja makan.
Ayah.
Ibu.
Ethan.
Dan Mia.
Makanan yang tersaji sebenarnya sederhana. Semangkuk sup hangat, beberapa lauk rumahan, dan nasi yang masih hangat. Namun entah mengapa, malam itu terasa jauh lebih mewah daripada makan malam mana pun yang pernah mereka lakukan.
Sudah lama sekali mereka tidak makan bersama. Ayah Mia memandang Ethan cukup lama.
"Ayah masih gak bisa mengembalikan semua tahun yang hilang."
Ethan hanya menggeleng pelan.
"Gak perlu, Yah."
"Kita mulai dari hari ini aja."
Kalimat itu sederhana. Namun membuat ibu Mia kembali menitikkan air mata. Mia tersenyum.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, senyum itu bukan untuk kamera. Bukan untuk penonton. Bukan untuk pengikutnya. Melainkan untuk keluarganya. Begitulah akhir bahagia keluarga Mia malam itu.
...
Di sisi lain kota. Warung Indomie milik Raka dan Kevin masih buka. Meski jam sudah melewati pukul sebelas malam, mereka berdua masih duduk di depan warung. Satu gelas kopi. Dua bungkus mi rebus. Dan sebuah laptop yang masih menampilkan berita tentang Ethan. Kevin menyandarkan tubuhnya ke kursi plastik.
"Selesai juga ya."
Raka mengangguk pelan.
"Iya."
"Seneng?"
"Seneng."
"Lega?"
"Lega."
Kevin tertawa kecil.
"Gue baru sadar."
"Apa?"
"Kita kenal Mia juga baru beberapa bulan."
"Iya."
"Tapi rasanya kayak ikut berjuang bertahun-tahun."
Raka tersenyum.
"Mungkin..."
"...karena kita dengerin ceritanya yang mengharukan itu."
Beberapa saat mereka hanya menikmati angin malam. Jalanan mulai sepi. Lampu-lampu pertokoan satu per satu padam. Kevin kembali berbicara.
"Republik Maya aneh ya."
"Kenapa?"
"Kita semua awalnya cuma orang asing."
"Tapi sekarang..."
"...kok bisa peduli banget sama hidup orang lain."
Raka memandang langit.
"Kayaknya..."
"...justru itu tujuan tempat itu ada."
"Buat mempertemukan orang-orang yang saling butuh."
Kevin mengangguk pelan.
"Iya juga."
...
Malam itu, Republik Maya kembali ramai. Tidak seramai dulu. Namun cukup hangat. Voice channel dipenuhi tawa. Mia akhirnya kembali bergabung.
"HALO STREAMER!"
teriak Adit.
"WOI."
"Sekarang udah artis nasional ya."
Kevin langsung menyahut.
"Kalau udah kaya jangan lupa traktir Indomie."
Mia tertawa.
"Siap, Bos."
Rio hanya berkata singkat.
"Welcome back."
"Makasih... :)"
jawab Mia lirih.
Ethan memang belum pernah masuk ke Republik Maya. Namun malam itu, semua orang merasa seolah ia juga ikut duduk di sana. Miko yang biasanya paling cerewet soal politik hanya berkata,
"Untung kemarin kita gak nyerah."
Rio menjawab pendek.
"Belum selesai."
Semua menoleh.
"Maksud lu?"
Rio terdiam beberapa detik. Lalu tersenyum tipis.
"Maksud gue..."
"...hidup."
"Masih panjang."
Suasana kembali dipenuhi tawa. Mereka kembali bermain. Kembali bercanda. Kembali saling mengejek. Seolah beberapa hari terakhir tidak pernah terjadi apa-apa. Namun kali ini berbeda. Mereka tahu, di balik setiap suara yang terdengar bahagia, selalu ada seseorang yang bersedia mendengarkan ketika salah satunya mulai kehilangan arah.
Satu per satu anggota mulai keluar dari voice.
"Night semua."
"Dadah."
"Besok ketemu lagi."
"Jangan begadang."
Notifikasi keluar-masuk memenuhi layar.
Kevin left the voice channel.
Rio left the voice channel.
Mia left the voice channel.
Miko left the voice channel.
Kini hanya tersisa dua nama. Raka dan Adit. Adit tertawa seperti biasa. Masih melempar meme. Masih bercanda. Masih membuat suasana tetap hidup.
"Turu sono Rak...Besok cari kerja lagi."
"Siap Bos."
"Hidup jangan dibikin serius mulu."
Raka tertawa.
"Iya."
Beberapa detik kemudian...Adit juga keluar.
Adit left the voice channel.
Raka ikut menekan tombol disconnect. Laptop ditutup perlahan. Sebelum benar-benar mematikannya, matanya sempat melihat daftar anggota yang masih online. Avatar Adit masih menyala hijau. Padahal, ia sudah keluar dari voice.
Raka tersenyum kecil.
"Dasar."
"Pasti lagi bikin meme lagi."
Ia mematikan laptop. Lampu kamar ikut dipadamkan. Tak ada yang tahu, di malam yang sama, di sebuah kamar kos yang sempit. Adit masih duduk sendirian.
Monitor komputernya masih menyala. Republik Maya masih terbuka. Namun tidak ada lagi suara tawa. Di atas meja, terdapat beberapa bungkus mi instan kosong. Gelas kopi yang belum dicuci. Dan secarik kertas kecil, bertuliskan hasil pemeriksaan dari seorang psikolog. Adit menatap kertas itu cukup lama. Lalu melipatnya kembali. Memasukkannya ke dalam laci. Menarik napas panjang. Membuka Republik Maya sekali lagi. Melihat foto profil teman-temannya.
Kemudian tersenyum.
Senyum yang sama, yang selalu ia tunjukkan setiap malam. Namun kali ini, tidak ada seorang pun yang melihatnya.
Comments
Post a Comment