Skip to main content

Republik Maya: Bab 11

Orang Yang Selama Ini Memilih Diam

Live Mia masih berlangsung. Jumlah penonton terus bertambah.

Sepuluh ribu.

Dua puluh ribu.

Tiga puluh ribu.

Kolom komentar bergerak begitu cepat hingga hampir mustahil dibaca. Namun Mia tidak lagi memperhatikan angka. Ia hanya memandang kamera.

"Aku tahu..."

"...mungkin banyak yang mikir aku cuma sedang membela keluargaku."

"Itu gak salah."

"Karena memang aku sedang membela keluargaku."

"Tapi..."

"...aku gak pernah minta kalian percaya sama aku."

Mia mengusap air matanya.

"Aku cuma minta..."

"...lihat semua buktinya."

Di layar livestream mulai muncul dokumen. Timeline. Foto. Potongan berita. Video pendek yang diberikan Oji.

Semua telah disusun rapi oleh Miko. Narasinya dibantu oleh Nara. Sementara Rio sesekali menghubungi beberapa jurnalis yang dikenalnya. Raka dan Kevin duduk di warung Indomie, menatap layar laptop tanpa berkedip.

Tak ada satu pun yang berbicara. Mereka membiarkan Mia menyelesaikan ceritanya sendiri.

...

Di sebuah rumah besar di sisi lain kota. Seorang pria paruh baya duduk di ruang kerja. Jasnya masih melekat. Dasi belum dilepas. Di atas meja masih bertumpuk dokumen perusahaan yang belum sempat disentuh.

Namun malam itu...

pandangan matanya hanya tertuju pada satu layar. Livestream putrinya. Dialah ayah Mia.

Sejak awal, ia tidak melewatkan satu menit pun. Di belakangnya berdiri seorang perempuan. Ibunda Mia. Selama bertahun-tahun, ia selalu berdiri di tempat yang sama. Di belakang. Tidak pernah benar-benar ikut berbicara. Tidak pernah benar-benar ikut menentukan. Hanya melihat. Hanya mendengar. Dan hanya menangis ketika semua orang sudah tertidur.

...

Mia kembali berbicara.

"Dulu..."

"...aku selalu marah sama Ayah."

"Aku pikir Ayah lebih sayang perusahaan daripada keluarga."

"Tapi semakin aku dewasa..."

"...aku sadar."

"Ayah cuma takut kehilangan semuanya."

"Tapi..."

"...karena terlalu takut kehilangan nama keluarga..."

"...Ayah justru kehilangan keluarganya."

Kalimat itu membuat ayah Mia memejamkan mata. Tangannya perlahan mengepal. Ibunya menoleh. Sudah bertahun-tahun...ia ingin mengatakan kalimat yang sama. Namun tidak pernah memiliki keberanian.

...

Livestream terus berjalan. Mia memperlihatkan foto Ethan semasa kuliah. Foto keluarga. Foto ketika mereka masih sering tertawa bersama.

"Ini kakakku."

"Orang yang selalu ngajarin aku naik sepeda."

"Orang pertama yang ngajarin aku main game."

"Orang pertama yang ngebela aku kalau aku dibully."

"Tapi..."

"...ketika kakakku butuh dibela..."

"...aku gak bisa ngapa-ngapain."

Air mata Mia akhirnya pecah. Ia menangis. Bukan sebagai streamer. Bukan sebagai influencer. Melainkan sebagai seorang adik.

...

Di ruang kerja. Ayah Mia menundukkan kepala. Layar di depannya memperlihatkan putrinya yang selama ini selalu tampak ceria. Namun malam itu...ia baru sadar. Senyum yang selama ini dilihat jutaan orang, ternyata dibangun di atas luka yang tidak pernah ia lihat.

...

Ibunya melangkah perlahan. Untuk pertama kalinya. Ia berjalan mendekati suaminya. Bukan sebagai istri. Melainkan sebagai seorang ibu.

Ia mengambil remote televisi yang sejak tadi berada di tangan suaminya. Lalu meletakkannya di meja.

"Jangan dimatikan yah."

Ayah Mia menoleh.

"Biarkan Mia bicara sampai selesai."

Ruangan kembali sunyi. Beberapa detik berlalu. Lalu...ibu Mia mulai berbicara.

Pelan.

Namun setiap katanya terasa begitu berat.

"Aku sudah diam hampir sepuluh tahun lamanya."

"Aku pikir..."

"...dengan aku diam..."

"...keluarga ini akan baik-baik saja."

Ia tersenyum pahit.

"Ternyata aku salah."

Air matanya mulai jatuh.

"Diamku..."

"...justru ikut menghancurkan anak-anakku."

Ayah Mia masih terdiam.

"Ayah..."

panggilnya lirih.

"Kamu masih ingat..."

"...waktu Ethan umur delapan tahun?"

Ayah Mia mengangkat wajah.

"Waktu dia pulang sekolah."

"Lalu nangis karena dipukul temannya."

"Kamu yang bilang ke dia..."

"'Kalau kamu benar, jangan pernah takut membela dirimu sendiri.'"

Ibunya tersenyum getir.

"Lalu..."

"...kenapa waktu Ethan benar-benar membela adiknya..."

"...kamu justru gak pernah membelanya?"

Ruangan mendadak sunyi. Tidak ada jawaban. Hanya suara Mia yang masih terdengar dari televisi. Ayah Mia memejamkan mata. Kenangan itu kembali satu per satu.

Ethan kecil.

Mia kecil.

Istrinya.

Rumah yang dulu penuh tawa. Lalu perlahan...semuanya berubah. Bukan karena satu kasus. Tetapi karena dirinya sendiri.

...

Ia berdiri. Mengambil jasnya. Tanpa sepatah kata. Melangkah menuju pintu. Ibunya bertanya pelan.

"Mau ke mana?"

Ayah Mia berhenti. Masih membelakangi istrinya. Dengan suara yang nyaris tak terdengar, ia menjawab,

"Menjemput anak kita."

Comments

Popular posts from this blog

Republik Maya: Prologue

Prologue Di sebuah tempat bernama Republik Maya, orang-orang hidup berdampingan tanpa pernah benar-benar saling mengenal. Mereka berbicara setiap hari, tertawa di ruang obrolan yang sama, saling mengirim meme, musik, game dan cerita tentang hidup. Namun, di balik semua itu, ada satu aturan yang tak pernah tertulis, "Jangan bawa perasaan di grup" Raka tahu aturan itu. Semua orang tahu. Lalu datanglah Nara. Awalnya biasa saja. Ia hanya anggota baru yang sering muncul di kanal musik setiap malam. Suaranya tenang, dan caranya mendengarkan membuat siapa pun merasa dihargai. Mereka semua mulai sering berbincang. Tentang film, musik, konspirasi, sampai mimpi-mimpi yang bahkan belum berani mereka ceritakan kepada dunia nyata. Tanpa sadar, Raka mulai menunggu notifikasi yang hanya berasal dari satu nama. Kalimat itu berkali-kali muncul di kepalanya. Ia ingin mengatakannya. Sangat ingin. Namun setiap kali jari-jarinya menyentuh keyboard, kata-kata itu menghilang begitu saja. "Hi.....

Memoar Horor Masa Kecil: They Came When I Was Little

Ada memori yang memudar tertelan oleh waktu. Namun, ada pula memori yang tetap hidup, seolah menunggu malam tiba untuk kembali menghantui ingatan. Masa kecilku bukan hanya dipenuhi tawa dan permainan, tetapi juga pengalaman tak terlupakan yang hingga hari ini belum pernah berhasil aku jelaskan dengan logika. Seluruh cerita dalam tulisan ini adalah potongan-potongan pengalaman yang masih aku ingat dengan jelas. Aku tidak meminta siapa pun untuk mempercayainya. Aku hanya ingin menceritakan apa yang pernah aku lihat, dengar, dan rasakan. Karena terkadang, hal yang paling menyeramkan bukanlah hantu—melainkan kenyataan bahwa sebagian memori tidak pernah benar-benar pergi dan terus menghantui kita. Semoga kalian bisa menikmati cerita horor masa kecilku ini, mari kita masuk ke palung memori dan ingatan terdalamku—sebelum itu aku sarankan, lebih baik kalian matikan lampu kamar, pasang selimut, dan kuucapkan selamat membaca. 1. Teror Lampor: Keranda Terbang Sidoarjo, 2006. Saya masih kecil sa...

Republik Maya: Bab 2

Selamat Datang Malam selalu menjadi waktu yang paling panjang bagi Raka. Dulu, pukul sembilan malam adalah waktu ketika ia menunggu pesan dari Selena. Kini, yang ia tunggu hanyalah balasan lamaran pekerjaan yang entah kapan datangnya. Ponselnya bergetar, Layar latopnya selalu membuka tampilan email. Seperti seseorang yang tanpa tau kejelasan, Raka terus menerus digantung oleh HRD dan perusahaan, dalam suasana bosan dan suntuk, tiba-tiba kevin menegur Raka lewat pesan singkat. "Rak, lagi ngapain, jangan kayak orang bingung terus lu" "Nggak ngapa-ngapain vin, lu sendiri ngapain" "Masuk sini lah sebentar Rak" "Kemana vin, ke rumah lu?" "Bukan bego!" "Lah terus kemana pinter!" "Nih, masuk group server Rak" "Apaan lagi tuh vin" "Tempat orang-orang gabut kumpul, join lah, seru kok" "Gue gak kenal siapa-siapa tapi vin" "Ya makannya sini kenalan Rak" "Males" "Kocak anjir...