Skip to main content

Republik Maya: Bab 10

Kalau Bukan Kita, Siapa Lagi?

Bengkel kembali sunyi. Suara mesin kompresor terdengar dari kejauhan. Ethan duduk di bangku kayu kecil. Tangannya sibuk membersihkan oli di sela-sela jarinya menggunakan kain lap yang sudah menghitam.

Seolah pembicaraan barusan tidak pernah terjadi. Rio berdiri di depannya. Masih menggenggam flashdisk yang diberikan Oji.

"Ethan."

Lelaki itu mengangkat kepala.

"Apa?"

"Kita udah nemuin saksi."

"Iya."

"Kita juga nemuin video."

"Iya."

"Kita bisa buka lagi kasus ini."

Ethan hanya mengangguk pelan.

"Bagus."

Rio mulai kehilangan kesabarannya.

"Bagus?"

"Iya."

"Cuma itu?"

Ethan tersenyum tipis.

"Makasih."

Rio menarik napas panjang.

"Makasih?"

"Selesai?"

Ethan kembali menatap motornya.

"Rio...Udah. Gue Capek."

Kalimat itu keluar begitu pelan. Namun justru itu yang membuat Rio semakin marah.

"Capek?"

Rio tertawa kecil. Tawa yang terdengar jauh dari kata bahagia.

"Lo capek?"

Rio melangkah mendekat.

"Oke. Gue ngerti. Lo capek. Terus Mia?"

Ethan diam.

"Nyokap lo?"

Masih diam.

"Dia capek juga, Than."

Rio kini berbicara lebih keras.

"Lo pikir yang dihancurin cuma hidup lo? Enggak!"

"Mia tumbuh sambil ngelihat kakaknya disebut preman."

"Nyokap lo tiap malam nangis diam-diam."

"Bokap lo berubah jadi orang yang gak pernah bisa percaya sama anaknya sendiri."

"Semuanya hancur."

"Dan lo..."

"...milih nyerah?"

Suasana bengkel berubah sangat sunyi. Raka dan Kevin saling berpandangan. Mereka belum pernah melihat Rio seperti ini. Rio, yang biasanya berbicara seperlunya. Kini seolah menumpahkan semua yang ia simpan selama bertahun-tahun.

Ethan menundukkan kepala.

"Aku tahu."

Rio menggeleng.

"Enggak."

"Lo gak tahu."

"Kalau lo tahu..."

"...lo gak bakal bilang 'udah'."

Ethan mengepalkan tangannya.

"Apa lagi yang bisa gue lakuin?"

Rio langsung menjawab.

"Hidup."

Satu kata. Pendek. Namun membuat Ethan terdiam. Rio melanjutkan.

"Lo boleh capek."

"Lo boleh marah."

"Lo boleh nangis."

"Tapi jangan pernah nyerah."

"Karena selama lo masih hidup..."

"...masih ada orang yang berharap nama lo kembali bersih."

Ethan memejamkan mata. Air mata mulai jatuh. Bukan karena kata-kata Rio. Melainkan karena untuk pertama kalinya, ada seseorang yang memaksanya untuk kembali berharap.

Beberapa menit berlalu. Tak ada yang berbicara. Ethan akhirnya mengangguk pelan.

"Apa yang harus gue lakuin?"

Rio tersenyum. Untuk pertama kalinya hari itu. Lalu menjawab pertanyaan Ethan

"Kembali pulang."

...

Malam harinya. Lampu LED di kamar Mia mulai menyala. Kamera menghadap meja. Monitor kedua sudah menampilkan halaman livestream. Jumlah penonton perlahan bertambah.

Seratus.

Lima ratus.

Seribu.

Dua ribu.

Biasanya sebelum siaran dimulai, Mia selalu memutar musik. Menyapa penonton. Melempar candaan. Namun malam itu, ia hanya duduk diam. Tangannya gemetar.

Ponselnya berbunyi. Republik Maya. Rio mengirim pesan.

"Kami semua di sini."

Beberapa detik kemudian.

Pesan lain masuk dari Kevin

"Kalau panik. Bayangin aja gue lagi nyanyi."

Mia tersenyum kecil. Tak lama. Adit ikut mengirim.

"Kalau ada yang toxic. Kasih tau. Gue bacotin."

Mia tertawa pelan. Lalu muncul satu pesan lagi. Dari Raka

"Tenang. Cerita aja."

Dan terakhir...pesan dari Nara.

"Kamu gak sendiri Mia."

Hanya empat kata. Namun cukup membuat Mia menarik napas lebih lega. Ia menekan tombol.

Start Streaming.

Lampu merah di kamera menyala. Komentar mulai berdatangan.

"Kak Mia semangat."

"Main game apa hari ini?"

"Karaoke dong."

"Ditunggu horornya."

Mia memandang layar beberapa detik. Lalu tersenyum.

"Halo semuanya..."

"Maaf ya."

"Hari ini..."

"...aku gak main game."

Kolom chat mulai dipenuhi tanda tanya. Mia menarik napas panjang.

"Hari ini..."

"...aku cuma pengen cerita."

Layar di monitor kedua tetap terbuka. Semua anggota Republik Maya berada di voice. Tidak ada yang berbicara. Mereka hanya mendengarkan. Mia mulai bercerita. Tentang dirinya. Tentang tekanan. Tentang bagaimana setiap hari ia harus menjadi streamer yang ceria.

Padahal...

sering kali ia sendiri tidak tahu bagaimana cara membahagiakan dirinya.

Chat mulai berubah. Tidak lagi meminta game. Tidak lagi meminta karaoke.

Semua mendengarkan. Beberapa penonton mulai menulis.

"Gapapa Kak."

"Cerita aja."

"Kami dengerin."

Mia menatap kamera. Air matanya mulai menggenang.

"Aku sebenarnya..."

"...capek."

Kalimat itu membuat seluruh voice channel ikut hening. Mia melanjutkan.

"Tapi..."

"...yang paling capek bukan aku."

Ia menunduk.

"Yang paling capek..."

"...adalah kakakku."

Di kanal Republik Maya. Rio memejamkan mata. Raka mengepalkan tangan. Kevin menatap layar tanpa berkedip. Nara menggigit bibirnya pelan. Sementara Miko langsung membuka folder berisi semua bukti yang telah mereka kumpulkan.

Mia kembali mengangkat wajah.

"Hari ini..."

"...aku gak minta kalian percaya sama aku."

"Aku cuma minta..."

"...dengerin dulu ceritanya."

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, ribuan orang di internet tidak datang untuk menonton seorang streamer. Mereka datang, untuk mendengar seorang adik, yang akhirnya berani membela kakaknya.

Comments

Popular posts from this blog

Republik Maya: Prologue

Prologue Di sebuah tempat bernama Republik Maya, orang-orang hidup berdampingan tanpa pernah benar-benar saling mengenal. Mereka berbicara setiap hari, tertawa di ruang obrolan yang sama, saling mengirim meme, musik, game dan cerita tentang hidup. Namun, di balik semua itu, ada satu aturan yang tak pernah tertulis, "Jangan bawa perasaan di grup" Raka tahu aturan itu. Semua orang tahu. Lalu datanglah Nara. Awalnya biasa saja. Ia hanya anggota baru yang sering muncul di kanal musik setiap malam. Suaranya tenang, dan caranya mendengarkan membuat siapa pun merasa dihargai. Mereka semua mulai sering berbincang. Tentang film, musik, konspirasi, sampai mimpi-mimpi yang bahkan belum berani mereka ceritakan kepada dunia nyata. Tanpa sadar, Raka mulai menunggu notifikasi yang hanya berasal dari satu nama. Kalimat itu berkali-kali muncul di kepalanya. Ia ingin mengatakannya. Sangat ingin. Namun setiap kali jari-jarinya menyentuh keyboard, kata-kata itu menghilang begitu saja. "Hi.....

After Kawi's story

Kali ini aku ingin menceritakan tentang pengalaman mengerikan yang kualami setelah perjalanan kami ke Gunung Kawi beberapa tahun lalu. Demi menjaga privasi dan kerahasiaan beberapa orang yang terlibat, aku akan menggunakan nama, tempat dan latar waktu samaran dalam cerita ini. Bukan karena ingin terlihat misterius, tapi karena ada hal-hal yang tidak bisa aku ceritakan secara terbuka. Aku hanya berharap, lewat cerita ini, kalian bisa mengambil pelajaran dan lebih berhati-hati kalau suatu hari nanti memutuskan untuk datang ke tempat yang sama. 2020, Desember - Libur Natal Pada waktu itu aku masih menjadi karyawan baru di sebuah kantor di Malang, Jawa Timur. Setiap akhir tahun, tepatnya di bulan Desember — bulan yang juga bertepatan dengan perayaan Natal bagi umat Kristiani — kantor biasanya memberikan libur selama lima hari sampai awal tahun 2021. Di kantor saat itu aku sudah punya beberapa teman di lingkungan kerja, salah satunya adalah Mas Deden. Dia merupakan karyawan senior yang su...

Spion Kanan

Hari demi hari berjalan, entah itu kemarin, hari ini, atau besok, kamu selalu sama. Dan tahukah kamu? Itu adalah bagian favoritku. Aku suka setiap kita berboncengan, mengendarai motor bersama, dan merayakan setiap kilometer yang terlewat di jalanan.  Aku bahkan tahu persis apa yang akan kamu lakukan selanjutnya. Memiringkan spion kanan ke arahku, lalu berbisik, 'Cantiknya'. Kamu membiarkan angin membawa kata-kata itu bersamamu, disertai senyum dan tatapan mata yang meneduhkan. Spion kananmu menangkap segalanya: saat-saat aku menangis, tertawa, cemberut, marah, sampai mengomel. Tapi kamu hanya tersenyum manis melihat pantulanku di sana. Saat-saat itu, aku selalu berpikir kita akan terus seperti ini selamanya. Setiap obrolan dan canda tawa yang kita bagi di atas motor, rasanya seperti perjalanan pulang dengan cerita yang tak pernah usai.  Aku tidak pernah berpikir bahwa suatu hari, spion kanan itu tak lagi menangkap wajahku. Karena aku sungguh percaya, kita akan terus melewati s...