Sebelum Republik Maya
Setiap orang memiliki cerita sebelum akhirnya mereka menemukan tempat untuk pulang.
Begitu pula dengan Raka.
Ia adalah seorang fresh graduate S1 Teknik Nuklir. Empat tahun ia habiskan untuk mempelajari sesuatu yang begitu rumit, berharap suatu hari nanti semua perjuangan itu akan membawanya pada pekerjaan yang layak. Namun kenyataan sering kali berjalan dengan cara yang tidak pernah diajarkan di bangku kuliah.
Raka sudah berusaha sebisa mungkin mencari pekerjaan. Lamaran demi lamaran ia kirimkan, wawancara demi wawancara ia jalani. Sayangnya, hasilnya selalu sama.
Penolakan.
Jurusan yang ia pilih ternyata terlalu spesifik. Di negaranya sendiri, pengembangan teknologi nuklir masih sangat terbatas. Kesempatan bekerja di bidang yang sesuai dengan ilmunya hampir tidak ada. Karena banyak yang menganggap ijazah raka terlalu tinggi jika hanya bekerja sebagai karyawan kantoran, makannya dia selalu mengalami penolakan. Oleh karenannya banyak orang menyarankan satu saran yang sama.
"Coba cari pekerjaan di luar negeri."
Saran yang terdengar sederhana itu justru menjadi hal paling sulit bagi Raka.
Ia hanya tinggal bersama ibu dan seorang adik perempuannya. Sejak kecil bapak raka sudah meninggalkan mereka bertiga. Meninggalkan rumah berarti meninggalkan dua orang yang selama ini menjadi alasan ia terus berjuang. Ia tahu, jika benar-benar ingin mengejar karier di bidang yang ia pelajari, mungkin ia harus pergi sangat jauh.
Namun Raka belum siap. Bukan karena ia takut merantau, melainkan karena ia belum tega meninggalkan rumah dan keluarganya. Maka ia memilih bertahan. Terus mencari pekerjaan di negaranya sendiri, meskipun harapan itu semakin hari terasa semakin kecil. Tapi dia terus berjuang.
Sayangnya, urusan karier bukan satu-satunya hal yang membuat hidupnya terasa rumit. Jauh sebelum semua ini, Raka pernah jatuh cinta.
Perempuan itu bernama Selena, mereka bertemu semasa kuliah.
Kalau boleh jujur, mendapatkan hati Selena jauh lebih sulit daripada menyelesaikan skripsinya. Bahkan perjuangan Raka mengejar Selena sempat menjadi cerita yang terkenal di kampus. Semua orang tahu betapa keras usahanya hanya untuk membuat perempuan itu percaya bahwa cintanya benar-benar tulus.
Dan entah bagaimana, Raka berhasil.
Di antara begitu banyak laki-laki yang mendekati Selena, justru dialah yang akhirnya dipilih. Hubungan mereka berjalan cukup lama. Mereka tumbuh bersama, saling menemani, saling menguatkan, bahkan saling mengenal sisi-sisi yang tidak pernah diperlihatkan kepada orang lain.
Namun seperti kebanyakan kisah cinta di dunia nyata, waktu perlahan mengubah segalanya.
Cinta yang dulu terasa sederhana perlahan berubah menjadi pertanyaan-pertanyaan yang sulit dijawab. Hubungan mereka tidak dipenuhi pertengkaran besar.
Tidak ada pengkhianatan.
Tidak ada orang ketiga.
Yang ada hanyalah dua orang yang sama-sama mulai memikirkan masa depan.
Puncaknya terjadi ketika Selena bertanya,
"Raka... sebenarnya hubungan kita menuju ke arah mana"
Pertanyaan yang sederhana. Namun terasa jauh lebih berat daripada sidang skripsi mana pun yang pernah Raka hadapi. Bukan karena ia tidak mencintai Selena.
Justru sebaliknya. Ia terlalu mencintainya.
Hanya saja, Raka sendiri masih bingung dengan hidupnya. Ia belum memiliki pekerjaan tetap. Belum memiliki penghasilan yang pasti. Dan juga sementara ini dia adalah tulang punggung untuk keluarganya.
Selama ini, hampir setiap keputusan penting dalam hidupnya selalu ia diskusikan bersama Selena. Ia terlalu bergantung kepadanya, hingga tanpa sadar belum benar-benar tumbuh menjadi laki-laki yang mampu berdiri di atas kakinya sendiri.
Sementara itu, Selena adalah kebalikannya.
Ia tumbuh sebagai perempuan yang mandiri, pintar, cantik, dewasa, dan memiliki naluri keibuan yang membuat siapa pun merasa nyaman berada di dekatnya.
Tidak heran jika sejak masa kuliah banyak laki-laki yang ingin mendapatkan hatinya.
Kalau diibaratkan langit dan bumi, mungkin begitulah Raka dan Selena.
Bukan karena Raka tidak cukup beruntung dan berani, melainkan karena jarak nasib Raka kepada Selena terlampau jauh jika dibandingkan. Sekeras apapun Raka berjuang takdir selalu berkata lain.
Pada akhirnya, mereka memilih mengakhiri hubungan itu.
Tidak ada air mata yang disertai kebencian.
Tidak ada kata-kata yang saling menyalahkan.
Mereka hanya dua orang yang sama-sama sadar bahwa cinta saja ternyata tidak selalu cukup untuk mempertahankan sebuah hubungan.
Raka sadar, selama ini ia terlalu lama menahan Selena untuk menunggu seseorang yang bahkan belum mampu memastikan arah hidupnya sendiri.
Sementara Selena juga sadar, ia tidak ingin memaksa Raka menjadi seseorang yang belum siap untuk menjadi pasangan hidupnya.
Raka sudah berjuang.
Selena juga sudah sabar dan bertahan.
Namun waktu...waktu dengan kejam membunuh impian dua orang yang sebenarnya masih saling mencintai.
Jauh di dalam hati mereka, keduanya percaya bahwa jodoh memang sudah dituliskan oleh Tuhan.
Namun mereka berfikir untuk tidak ada salahnya mencoba. tapi ternyata, siapa mereka yang sedang berusaha melawan takdir ini.
Mereka berpisah dengan satu harapan yang sama.
"Semoga suatu hari nanti...mereka dipertemukan kembali. Dalam keadaan yang jauh lebih baik."
Untungya meski hidup terasa begitu rumit, setidaknya Raka masih memiliki satu alasan untuk tetap tersenyum.
Namanya Kevin. Mereka berteman sejak kecil. Bermain bersama, tumbuh bersama, bahkan melewati kerasnya hidup bersama. Hubungan mereka bahkan sudah lebih pantas disebut saudara daripada sekadar sahabat.
Bagi Raka, Kevin adalah pengingat bahwa hidup tidak selalu seburuk yang ia bayangkan. Begitu pula sebaliknya, bagi Kevin, Raka adalah orang yang selalu mengingatkannya untuk terus berjalan, meskipun langkah mereka sama-sama terseok.
Nasib mereka memang tidak jauh berbeda. Sama-sama belum memiliki pekerjaan tetap, sama-sama sedang mencari jalan hidup.
Namun mereka juga tidak tinggal diam. Di depan rumah Kevin, mereka membuka sebuah warung Indomie sederhana.
Tidak besar.
Tidak mewah.
Kadang sehari penuh bahkan tidak ada satu pun pelanggan yang datang. Tetapi mereka tetap membuka warung itu setiap hari. Sambil memasak mi, sambil bercanda, sambil berdebat, siapa di antara mereka yang akan lebih dulu sukses.
Perdebatan yang tidak pernah benar-benar menemukan pemenangnya.
Karena jauh di dalam lubuk hati mereka, keinginan mereka hanya satu.
Jika nanti salah satu berhasil mengubah hidupnya...mereka ingin melihat yang lain ikut berhasil.
Dan begitulah kisah Raka dimulai. Sebelum ia mengenal sebuah tempat bernama Republik Maya.
Comments
Post a Comment