Skip to main content

Republik Maya: Bab 24

Janji Tiga Anak Kecil

Malam. Setelah pulang dari warung Kevin. Saras tidak langsung tidur. Ia duduk di lantai kamarnya.

Lama. Sangat lama.

Tatapannya berhenti pada sebuah kotak kayu kecil yang sudah mulai kusam. Kotak itu selalu ikut berpindah rumah. Dari suatu tempat ke tempat lain.

Tidak pernah sekali pun ia tinggalkan. Perlahan ia membukanya. Di dalamnya tidak ada barang mahal. Hanya kenangan.

Sebuah gelang anyaman benang yang warnanya mulai pudar. Batu sungai sebesar ibu jari. Foto tiga anak kecil yang sudutnya sudah menguning. Serta bungkus permen stroberi yang sudah bertahun-tahun ia simpan.

Yana mengambil foto itu. Mengusap wajah dua anak laki-laki yang berdiri di sampingnya. Air matanya menetes sebelum ia sempat tersenyum.

"Bas..."

"Jay..."

"Aku masih nyimpan semuanya..."

Dan malam itu, ingatannya perlahan kembali ke sebuah kampung kecil yang begitu hangat.

...

Kampung mereka tidak besar. Namun cukup luas bagi tiga anak kecil itu untuk merasa dunia adalah milik mereka.

Basara selalu berlari paling depan. Tidak pernah bisa diam. Kalau melihat pohon mangga, pasti selalu dipanjat. Kalau melihat sungai, juga langsung diceburi. Kalau melihat layang-layang putus, dikejar sampai lupa pulang.

Sanjay berbeda. Ia lebih tenang. Sering menjadi penengah setiap kali Basara dan Yana mulai bertengkar karena hal-hal sepele.

Sedangkan Yana. adalah satu-satunya yang mampu menghentikan Basara hanya dengan satu kalimat.

"Bas..."

"Nanti dimarahin Ibu."

Dan benar saja. Basara langsung turun dari pohon sambil cengar-cengir. Mereka bertiga hampir tidak pernah terlihat terpisah.

Ke sekolah bersama.

Pulang bersama.

Bermain bersama.

Bahkan dimarahi orang tua pun, sering bersama.

Warga kampung sampai hafal.

"Kalau nyari Bas..."

"Ya pasti ada Yana sama Sanjay."

...

Setiap hari Jumat. Ada seorang kakek penjual permen keliling. Basara selalu membeli tiga permen. Padahal uang jajannya hanya cukup untuk dua.

Akhirnya, ia rela tidak membeli es. Semua demi tiga batang permen stroberi.

"Ini buat Yana."

"Ini buat Jay."

"Kalau punyaku..."

"...yang paling kecil juga gapapa."

Yana masih ingat bagaimana Basara selalu memilihkan permen yang bungkusnya paling bagus untuknya. Sementara dirinya justru diam-diam menukar kembali agar Basara mendapat yang terbaik.

Hal kecil. Namun sampai sekarang, ia masih mengingatnya.

...

Ada sebuah ayunan tua di dekat balai desa. Tempat itu menjadi markas mereka. 

Sore hari. Yana duduk di ayunan.

Basara mendorong dari belakang. Sanjay hanya tertawa melihat keduanya saling mengejek.

"Bas!"

"Ketinggian!"

"Takut ya?"

"Enggak!"

"Dikit!"

Suara tawa mereka memenuhi sore. Mungkin saat itu mereka benar-benar percaya bahwa hidup akan selalu sesederhana itu.

...

Sore menjelang magrib. Mereka duduk di atas batu besar di pinggir sungai. Air mengalir pelan. Langit mulai berwarna jingga. Basara tiba-tiba berkata,

"Kalau udah gede..."

"...kita jangan pisah ya."

Sanjay langsung mengangguk.

"Iya."

Yana tersenyum.

"Aku juga."

Basara mengulurkan tangan.

"Sumpah."

Sanjay ikut menumpuk tangan. Yana ikut meletakkan tangannya paling atas.

Dengan polos mereka berkata,

"Aku gak bakal ninggalin kalian."

Mereka bertiga tertawa. Tidak ada yang tahu, bahwa janji itu justru akan menjadi luka terbesar dalam hidup mereka.

...

Beberapa minggu kemudian, Malam itu hujan turun cukup deras.

Suara rintiknya memukul genting rumah dengan irama yang pelan namun terus-menerus, seolah ikut membawa kegelisahan yang bahkan belum dipahami oleh seorang anak kecil bernama Yana.

Seperti biasanya, ia baru saja selesai mengerjakan pekerjaan rumah. Di atas meja masih tergeletak buku gambar yang sore tadi ia gunakan bersama Basara dan Sanjay. Di halaman terakhir, mereka bertiga menggambar sebuah rumah besar dengan pohon mangga di depannya.

Basara menggambar pohonnya.

Sanjay menggambar rumahnya.

Sedangkan Yana menggambar tiga orang anak kecil yang sedang berpegangan tangan.

Ia bahkan masih sempat tersenyum mengingat bagaimana Basara protes karena gambar dirinya dibuat terlalu pendek.

Pintu rumah terbuka. Ayah Yana masuk lebih awal dari biasanya. Namun langkahnya malam itu terasa jauh lebih berat. Jas kerjanya masih melekat di tubuhnya. Bahkan tas kerjanya belum sempat ia letakkan ketika ibu Yana menghampiri dengan wajah cemas. Mereka berbicara pelan.

Terlalu pelan.

Sampai Yana tidak bisa mendengar apa pun. Beberapa menit kemudian...

Ayah memanggilnya.

"Yan..."

"Iya, Yah?"

"Sini sebentar."

Yana berjalan menghampiri sambil memeluk buku gambarnya. Ayah tersenyum. Namun senyum itu terasa dipaksakan.

"Ayah dapat surat penugasan baru."

Yana mengangguk polos.

"Bagus dong."

Ayah menghela napas panjang.

"Iya..."

"Tapi..."

"...kita harus pindah."

Yana masih belum mengerti.

"Pindah?"

"Iya."

"Ke mana?"

"Kalimantan."

Ruangan itu mendadak sunyi. Bahkan suara hujan di luar terdengar jauh lebih jelas. Yana berkedip beberapa kali.

"Kapan?"

Ayah menunduk.

"Besok pagi. Subuh"

Seketika buku gambar di pelukan Yana terjatuh ke lantai.

"Besok?"

Ayah mengangguk pelan.

"Iya."

"Tapi..."

"Besok aku sama Bas sama Jay kan mau main layangan..."

"Dan juga..."

"...aku belum pamit..."

Suara Yana mulai bergetar. Ia menoleh kepada ibunya. Berharap semua itu hanyalah candaan. Namun ibunya justru memeluknya erat.

"Maafin Ayah ya, Nak."

"Ini perintah kantor."

"Kita gak bisa nolak."

Untuk pertama kalinya. Yana menangis sejadi-jadinya.

"Boleh gak..."

"...besok sore aja perginya?"

"Aku cuma mau bilang dadah..."

"...sebentar aja..."

Ayah memejamkan mata. Andai saja ia bisa. Namun mobil dinas akan datang sebelum matahari terbit. Tidak ada waktu. Tidak ada pilihan.

Malam itu Yana menangis sampai tertidur sambil memeluk buku gambar yang belum selesai ia warnai.

...

Langit bahkan belum benar-benar terang ketika suara mesin mobil terdengar di depan rumah. Embun masih menggantung di dedaunan.

Udara pagi terasa begitu dingin. Barang-barang sudah dimasukkan ke bagasi. Ibu Yana membantu memasukkan koper terakhir.

Sedangkan Yana, masih berdiri di depan pagar. Matanya terus melihat ke arah jalan kecil menuju rumah Basara.

Sepi. Tidak ada siapa-siapa.

Ia berharap...

sangat berharap...

Basara tiba-tiba muncul sambil berteriak memanggil namanya. Atau Sanjay datang dengan napas terengah-engah seperti biasanya.

Namun kampung itu masih tertidur. Yana menggenggam erat tiga batang permen stroberi yang kemarin sengaja ia beli. Satu untuk Basara. Satu untuk Sanjay. Satu untuk dirinya sendiri. Ia belum sempat memberikannya.

Ayah membuka pintu mobil.

"Yan..."

"Ayo."

Yana tidak bergerak. Matanya masih menatap ujung jalan.

"Sebentar lagi ya, Yah..."

"Mungkin mereka bangun."

Lima menit berlalu. Tidak ada siapa pun. Ayah kembali menghampiri. Kali ini ia berlutut di depan putrinya.

"Maaf ya..."

Yana mengangguk pelan. Dengan langkah berat, ia akhirnya masuk ke dalam mobil. Saat kendaraan mulai berjalan meninggalkan rumah. Yana membuka kaca jendela.

Angin pagi menerpa wajahnya. Ia terus menoleh ke belakang. Rumahnya semakin kecil. Pohon mangga tempat mereka bermain semakin jauh. Balai desa perlahan menghilang dari pandangan.

Sampai akhirnya...

kampung itu benar-benar lenyap di balik tikungan. Di pangkuannya, tiga permen stroberi itu masih tergenggam erat.

Satu per satu air mata jatuh membasahi bungkusnya. Dengan suara yang nyaris tidak terdengar...

ia berbisik,

"Bas..."

"Jay..."

"Maaf..."

"Aku gak bohong..."

"Aku benar-benar gak pengin pergi..."

...

Hari berganti menjadi minggu. Minggu menjadi bulan. Bulan berubah menjadi tahun.

Yana tumbuh. Sekolah baru. Rumah baru. Teman baru. Kota baru. Namun setiap kali seseorang bertanya,

"Kamu punya sahabat?"

Jawabannya selalu sama.

"Iya."

"Mereka tinggal jauh."

Tidak pernah sekali pun ia berkata "dulu".

Karena di dalam hatinya. Basara dan Sanjay tidak pernah menjadi masa lalu. Mereka hanya belum bertemu lagi.

Setiap ulang tahun, ia masih membeli tiga permen stroberi. Satu ia makan sendiri. Dua lainnya ia simpan. Entah untuk siapa. Entah sampai kapan.

Saat internet mulai mudah diakses. Yana menghabiskan malam-malamnya mencari Facebook. Friendster. Lalu media sosial lainnya.

Ia mengetik berbagai nama. Basara. Tidak ada.

Raka. Ratusan hasil muncul.

Tidak satu pun wajah yang ia kenali.

Sanjay.

Kevin.

Semuanya ia cari. Berkali-kali. Hingga larut malam. Sering kali ia tertidur di depan layar laptop yang masih menampilkan kolom pencarian.

Pernah suatu malam, ia berhasil menemukan seseorang bernama Raka.

Jantungnya berdegup sangat cepat. Namun setelah membuka profilnya...

bukan dia.

Yana menutup laptop. Lalu menangis sendirian. Ia mulai bertanya kepada dirinya sendiri.

"Mungkin..."

"...mereka benar-benar udah lupa."

"Tapi..."

"...aku gak bisa."

...

Belasan tahun berlalu. Harapan itu mulai memudar.

Sampai suatu malam, secara tidak sengaja Yana melihat sebuah unggahan sederhana.

Bukan foto liburan. Bukan foto wisuda. Bukan pencapaian besar.

Hanya semangkuk Indomie. Di belakangnya terlihat sebuah warung kecil. Caption-nya sangat singkat.

"Kalau capek, pulanglah. Di sini selalu ada Indomie hangat."

Yana memperhatikan foto itu cukup lama. Bukan Indomienya yang menarik perhatiannya. Melainkan senyum laki-laki yang berdiri di belakang mangkuk itu.

Senyum yang sangat ia kenal.

Mungkin bentuk wajahnya berubah. Rambutnya berbeda. Tubuhnya jauh lebih tinggi. Namun...mata itu. Senyum itu. Yana tidak mungkin salah.

Tangannya mulai gemetar. Ia memperbesar foto itu berkali-kali. Lalu membaca nama akunnya.

Kevin Djay.

Air mata langsung jatuh begitu saja. Tanpa sadar ia menutup mulutnya sendiri agar tangisnya tidak terdengar oleh orang tuanya.

"Jay..."

"Ini benar-benar kamu..."

Malam itu, ia menghabiskan hampir satu jam hanya untuk menatap foto tersebut. Jarinya berkali-kali bergerak ke tombol "Kirim Pesan". Namun selalu kembali. Takut.

"Bagaimana jika Kevin marah?"

"Bagaimana jika Kevin membencinya?"

"Bagaimana jika..."

"Basara memang sudah melupakannya?"

Akhirnya setelah mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa... ia menulis.

"Jay..."

Tangannya berhenti. Ia menghapus. Menulis lagi. Menghapus lagi. Sampai akhirnya, hanya tiga kata yang berhasil ia kirim.

"Jay...Ini aku"

Pesan itu terkirim. Yana langsung meletakkan ponselnya di atas meja. Jantungnya berdegup begitu kencang. Malam itu ia tidak tidur. Ia hanya menunggu.

Menunggu satu balasan, yang telah ia nantikan selama lebih dari belasan tahun.

...

Tidak berselang terlalu lama, ponselnya berdering. Nama yang muncul di layar membuat napasnya tercekat. Kevin.

Dengan tangan yang masih gemetar, ia mengangkat telepon itu.

Belum sempat Kevin berbicara. Yana sudah lebih dulu menangis. Tangis yang selama bertahun-tahun ia tahan akhirnya pecah tanpa bisa dihentikan.

Di seberang sana, Kevin tidak langsung bertanya apa pun. Ia hanya tersenyum kecil. Karena ia tahu, akhirnya sahabat kecilnya itu benar-benar menemukan jalan pulang.

"Yan..."

"Gausah buru-buru"

"Ceritain pelan-pelan"

Setelah Yana bercerita dan tangis Yana mulai mereda, Kevin berkata pelan,

"Aku masih ingat janji kita dulu."

Yana terdiam. Kevin melanjutkan,

"Bas juga belum benar-benar lupa dan marah sama kamu."

Kalimat itu membuat Yana kembali menangis. Namun kali ini bukan karena sedih. Melainkan karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tahu bahwa harapan itu ternyata belum benar-benar hilang meskipun kecil.

Beberapa saat kemudian Kevin menarik napas panjang.

"Kalau kamu memang masih pengin ketemu Bas..."

"...jangan langsung datang."

"Kasih dia waktu."

"Kasih dia kesempatan buat mengenal kamu lagi."

Yana mengusap air matanya.

"Gimana caranya?"

Kevin tersenyum.

"Percaya sama aku."

"...aku udah nyiapin cara buat itu."

"Apa?"

Suara Kevin terdengar mantap.

"Nanti juga kamu tahu kok."

Yana memandangi langit senja dari balik jendela kamarnya. Ia belum tahu bahwa satu keputusan sederhana dari rencana Kevin akan mengubah hidupnya.

Ia juga belum tahu, bahwa di balik nama Raka, masih hidup seorang anak kecil bernama Basara yang diam-diam belum pernah benar-benar melepaskan janji mereka di tepi sungai dan dibawah pohon mangga waktu itu.

Comments

Popular posts from this blog

Republik Maya: Prologue

Prologue Di sebuah tempat bernama Republik Maya, orang-orang hidup berdampingan tanpa pernah benar-benar saling mengenal. Mereka berbicara setiap hari, tertawa di ruang obrolan yang sama, saling mengirim meme, musik, game dan cerita tentang hidup. Namun, di balik semua itu, ada satu aturan yang tak pernah tertulis, "Jangan bawa perasaan di grup" Raka tahu aturan itu. Semua orang tahu. Lalu datanglah Nara. Awalnya biasa saja. Ia hanya anggota baru yang sering muncul di kanal musik setiap malam. Suaranya tenang, dan caranya mendengarkan membuat siapa pun merasa dihargai. Mereka semua mulai sering berbincang. Tentang film, musik, konspirasi, sampai mimpi-mimpi yang bahkan belum berani mereka ceritakan kepada dunia nyata. Tanpa sadar, Raka mulai menunggu notifikasi yang hanya berasal dari satu nama. Kalimat itu berkali-kali muncul di kepalanya. Ia ingin mengatakannya. Sangat ingin. Namun setiap kali jari-jarinya menyentuh keyboard, kata-kata itu menghilang begitu saja. "Hi.....

After Kawi's story

Kali ini aku ingin menceritakan tentang pengalaman mengerikan yang kualami setelah perjalanan kami ke Gunung Kawi beberapa tahun lalu. Demi menjaga privasi dan kerahasiaan beberapa orang yang terlibat, aku akan menggunakan nama, tempat dan latar waktu samaran dalam cerita ini. Bukan karena ingin terlihat misterius, tapi karena ada hal-hal yang tidak bisa aku ceritakan secara terbuka. Aku hanya berharap, lewat cerita ini, kalian bisa mengambil pelajaran dan lebih berhati-hati kalau suatu hari nanti memutuskan untuk datang ke tempat yang sama. 2020, Desember - Libur Natal Pada waktu itu aku masih menjadi karyawan baru di sebuah kantor di Malang, Jawa Timur. Setiap akhir tahun, tepatnya di bulan Desember — bulan yang juga bertepatan dengan perayaan Natal bagi umat Kristiani — kantor biasanya memberikan libur selama lima hari sampai awal tahun 2021. Di kantor saat itu aku sudah punya beberapa teman di lingkungan kerja, salah satunya adalah Mas Deden. Dia merupakan karyawan senior yang su...

Spion Kanan

Hari demi hari berjalan, entah itu kemarin, hari ini, atau besok, kamu selalu sama. Dan tahukah kamu? Itu adalah bagian favoritku. Aku suka setiap kita berboncengan, mengendarai motor bersama, dan merayakan setiap kilometer yang terlewat di jalanan.  Aku bahkan tahu persis apa yang akan kamu lakukan selanjutnya. Memiringkan spion kanan ke arahku, lalu berbisik, 'Cantiknya'. Kamu membiarkan angin membawa kata-kata itu bersamamu, disertai senyum dan tatapan mata yang meneduhkan. Spion kananmu menangkap segalanya: saat-saat aku menangis, tertawa, cemberut, marah, sampai mengomel. Tapi kamu hanya tersenyum manis melihat pantulanku di sana. Saat-saat itu, aku selalu berpikir kita akan terus seperti ini selamanya. Setiap obrolan dan canda tawa yang kita bagi di atas motor, rasanya seperti perjalanan pulang dengan cerita yang tak pernah usai.  Aku tidak pernah berpikir bahwa suatu hari, spion kanan itu tak lagi menangkap wajahku. Karena aku sungguh percaya, kita akan terus melewati s...