Skip to main content

Gabut 🗿

Di tulisan kali ini, gue gak lagi ngasih spoiler tentang kelanjutan Republik Maya. Gak ada cerita horor, gak ada tulisan yang menginspirasi, dan gak ada juga bahasan soal cinta-cintaan. Gue masih rehat sementara, guys.

Semua ini bermula dari mamak gue yang lagi rebahan di kasur. Kebetulan gue lagi duduk di samping beliau. Gue perhatiin dari subuh sampai sekitar jam tujuh pagi, beliau cuma main game terus. Gamenya juga sederhana, gonta-ganti. Mulai dari game pipa-pipa, Block Blast, sampai Brick.

Isenglah gue nanya.

"Mak, tak liat-liat dari tadi main game mulu. Emang gak bosen?"

Mamak gue langsung jawab,

"Enggak. Wong ibuk suka kok main game. Lagian mending ibuk main game daripada ngeliatin story WhatsApp atau TikTok. Ibuk juga gak suka ngomongin orang. Mending waktu ibuk dipakai buat kayak gini aja, main game, nyiram tanaman, sama masakin buat kalian."

Anjay... asli, gue langsung ngerasa kayak ditampar.

Abis percakapan itu, beberapa hari gue kepikiran terus. Sesekali gue tetap nulis, sesekali buka media sosial, bahkan sempat update story. Tapi entah kenapa, perkataan mamak gue terus muter di kepala.

Dari situ muncul satu pertanyaan sederhana.

"Gimana ya rasanya hidup tanpa media sosial? Gue sanggup gak ya?"

Entah ini keputusan yang bego atau enggak, tapi akhirnya gue mutusin buat nyobain.

Anggap aja ini eksperimen kecil dari gue. Gue pengen ngerasain sendiri gimana rasanya detoks dari media sosial. Berapa lama? Gue juga gak tahu. Gue gak mau nentuin batas waktunya. Pokoknya sampai gue merasa cukup.

Soalnya, setiap orang pasti punya masalah. Kadang kita terlalu sibuk ngeliatin kehidupan orang lain di media sosial, sementara masalah kita sendiri malah terus numpuk dan gak pernah benar-benar diberesin.

Jadi yaudah, gue mau coba jalan ini dulu.

Doain eksperimen kecil gue berhasil ya, guys. Hahaha. 😂 😁 ✌︎㋡



Comments

Popular posts from this blog

Republik Maya: Prologue

Prologue Di sebuah tempat bernama Republik Maya, orang-orang hidup berdampingan tanpa pernah benar-benar saling mengenal. Mereka berbicara setiap hari, tertawa di ruang obrolan yang sama, saling mengirim meme, musik, game dan cerita tentang hidup. Namun, di balik semua itu, ada satu aturan yang tak pernah tertulis, "Jangan bawa perasaan di grup" Raka tahu aturan itu. Semua orang tahu. Lalu datanglah Nara. Awalnya biasa saja. Ia hanya anggota baru yang sering muncul di kanal musik setiap malam. Suaranya tenang, dan caranya mendengarkan membuat siapa pun merasa dihargai. Mereka semua mulai sering berbincang. Tentang film, musik, konspirasi, sampai mimpi-mimpi yang bahkan belum berani mereka ceritakan kepada dunia nyata. Tanpa sadar, Raka mulai menunggu notifikasi yang hanya berasal dari satu nama. Kalimat itu berkali-kali muncul di kepalanya. Ia ingin mengatakannya. Sangat ingin. Namun setiap kali jari-jarinya menyentuh keyboard, kata-kata itu menghilang begitu saja. "Hi.....

Memoar Horor Masa Kecil: They Came When I Was Little

Ada memori yang memudar tertelan oleh waktu. Namun, ada pula memori yang tetap hidup, seolah menunggu malam tiba untuk kembali menghantui ingatan. Masa kecilku bukan hanya dipenuhi tawa dan permainan, tetapi juga pengalaman tak terlupakan yang hingga hari ini belum pernah berhasil aku jelaskan dengan logika. Seluruh cerita dalam tulisan ini adalah potongan-potongan pengalaman yang masih aku ingat dengan jelas. Aku tidak meminta siapa pun untuk mempercayainya. Aku hanya ingin menceritakan apa yang pernah aku lihat, dengar, dan rasakan. Karena terkadang, hal yang paling menyeramkan bukanlah hantu—melainkan kenyataan bahwa sebagian memori tidak pernah benar-benar pergi dan terus menghantui kita. Semoga kalian bisa menikmati cerita horor masa kecilku ini, mari kita masuk ke palung memori dan ingatan terdalamku—sebelum itu aku sarankan, lebih baik kalian matikan lampu kamar, pasang selimut, dan kuucapkan selamat membaca. 1. Teror Lampor: Keranda Terbang Sidoarjo, 2006. Saya masih kecil sa...

Republik Maya: Bab 2

Selamat Datang Malam selalu menjadi waktu yang paling panjang bagi Raka. Dulu, pukul sembilan malam adalah waktu ketika ia menunggu pesan dari Selena. Kini, yang ia tunggu hanyalah balasan lamaran pekerjaan yang entah kapan datangnya. Ponselnya bergetar, Layar latopnya selalu membuka tampilan email. Seperti seseorang yang tanpa tau kejelasan, Raka terus menerus digantung oleh HRD dan perusahaan, dalam suasana bosan dan suntuk, tiba-tiba kevin menegur Raka lewat pesan singkat. "Rak, lagi ngapain, jangan kayak orang bingung terus lu" "Nggak ngapa-ngapain vin, lu sendiri ngapain" "Masuk sini lah sebentar Rak" "Kemana vin, ke rumah lu?" "Bukan bego!" "Lah terus kemana pinter!" "Nih, masuk group server Rak" "Apaan lagi tuh vin" "Tempat orang-orang gabut kumpul, join lah, seru kok" "Gue gak kenal siapa-siapa tapi vin" "Ya makannya sini kenalan Rak" "Males" "Kocak anjir...