Skip to main content

"Fade Into You" by Mazzy Star

 


Waktu terus berjalan, berputar, dan melewati isi kepala kita setiap saat tanpa pernah menyadari apa yang sedang kita rasakan. Entah saat itu menyenangkan, memusingkan, atau bahkan menyedihkan, baginya semua tetap sama. Memang begitulah cara kerjanya.

Pada dasarnya, waktu tidak pernah memberikan makna atas apa yang telah kita lewati. Ia hanya datang, berlalu, lalu menghilang tanpa membawa rasa. Waktu adalah kekosongan yang nyata, tetapi justru sering menjadi hal yang disalahkan.

Pada akhirnya, bukan waktu juga yang membuat sesuatu terasa semakin jauh. Waktu hanya lewat, tanpa pernah memilih siapa yang harus dipertemukan atau dipisahkan. Yang membuat jarak terasa menyakitkan adalah harapan, ekspektasi, dan keinginan untuk dimengerti oleh seseorang yang mungkin tak pernah benar-benar melihat kita seperti kita melihat mereka.

Mungkin itu sebabnya waktu kadang terasa begitu sunyi. Bukan karena waktu kehilangan sesuatu di dalamnya, melainkan karena keinginan kita untuk menjadi bagian dari waktu itu, sementara waktu itu tak pernah benar-benar mengerti apa yang sedang terjadi pada kita.

Yang paling menyakitkan bukanlah ketika sesuatu hilang dan pergi, melainkan ketika itu tetap ada, tetapi tidak pernah benar-benar mengenaimu. Kamu menghabiskan begitu banyak waktu untuk memahaminya, mengingat hal-hal kecil tentang itu, sementara dirimu sendiri hanya menjadi seseorang yang lewat di garis waktu itu tanpa menyadari dirimu telah hilang dalam diri seseorang. Ada jarak yang tidak bisa diukur oleh waktu ataupun tempat. Jarak yang tercipta karena perasaan yang terus tumbuh meskipun tanpa balas.

Pada akhirnya, kita tidak selalu menginginkan balasan yang sempurna. Terkadang, kita hanya ingin dipahami. Ingin seseorang melihat isi kepala yang selama ini terlalu ramai untuk dijelaskan dengan kata-kata. Barangkali itulah mengapa kita sering berharap bisa "menghilang" ke dalam dunia orang lain maupun waktu, agar mereka akhirnya mengerti tanpa perlu kita menjelaskan apa pun. Namun kenyataannya, tidak semua orang akan melihat kita dengan cara yang sama seperti kita melihat mereka.

Barangkali itu tidak mengapa. Ada perasaan yang memang tidak ditakdirkan untuk dimiliki, hanya untuk dirasakan. Kita hanya perlu menerima bahwa semua awal akan menjadi akhir dengan tenang. Sebab terkadang, memiliki pun juga berarti belajar merelakan, tanpa pernah berhenti menghargai apa yang sempat tumbuh di dalam hati.

Comments

Popular posts from this blog

Republik Maya: Prologue

Prologue Di sebuah tempat bernama Republik Maya, orang-orang hidup berdampingan tanpa pernah benar-benar saling mengenal. Mereka berbicara setiap hari, tertawa di ruang obrolan yang sama, saling mengirim meme, musik, game dan cerita tentang hidup. Namun, di balik semua itu, ada satu aturan yang tak pernah tertulis, "Jangan bawa perasaan di grup" Raka tahu aturan itu. Semua orang tahu. Lalu datanglah Nara. Awalnya biasa saja. Ia hanya anggota baru yang sering muncul di kanal musik setiap malam. Suaranya tenang, dan caranya mendengarkan membuat siapa pun merasa dihargai. Mereka semua mulai sering berbincang. Tentang film, musik, konspirasi, sampai mimpi-mimpi yang bahkan belum berani mereka ceritakan kepada dunia nyata. Tanpa sadar, Raka mulai menunggu notifikasi yang hanya berasal dari satu nama. Kalimat itu berkali-kali muncul di kepalanya. Ia ingin mengatakannya. Sangat ingin. Namun setiap kali jari-jarinya menyentuh keyboard, kata-kata itu menghilang begitu saja. "Hi.....

After Kawi's story

Kali ini aku ingin menceritakan tentang pengalaman mengerikan yang kualami setelah perjalanan kami ke Gunung Kawi beberapa tahun lalu. Demi menjaga privasi dan kerahasiaan beberapa orang yang terlibat, aku akan menggunakan nama, tempat dan latar waktu samaran dalam cerita ini. Bukan karena ingin terlihat misterius, tapi karena ada hal-hal yang tidak bisa aku ceritakan secara terbuka. Aku hanya berharap, lewat cerita ini, kalian bisa mengambil pelajaran dan lebih berhati-hati kalau suatu hari nanti memutuskan untuk datang ke tempat yang sama. 2020, Desember - Libur Natal Pada waktu itu aku masih menjadi karyawan baru di sebuah kantor di Malang, Jawa Timur. Setiap akhir tahun, tepatnya di bulan Desember — bulan yang juga bertepatan dengan perayaan Natal bagi umat Kristiani — kantor biasanya memberikan libur selama lima hari sampai awal tahun 2021. Di kantor saat itu aku sudah punya beberapa teman di lingkungan kerja, salah satunya adalah Mas Deden. Dia merupakan karyawan senior yang su...

Spion Kanan

Hari demi hari berjalan, entah itu kemarin, hari ini, atau besok, kamu selalu sama. Dan tahukah kamu? Itu adalah bagian favoritku. Aku suka setiap kita berboncengan, mengendarai motor bersama, dan merayakan setiap kilometer yang terlewat di jalanan.  Aku bahkan tahu persis apa yang akan kamu lakukan selanjutnya. Memiringkan spion kanan ke arahku, lalu berbisik, 'Cantiknya'. Kamu membiarkan angin membawa kata-kata itu bersamamu, disertai senyum dan tatapan mata yang meneduhkan. Spion kananmu menangkap segalanya: saat-saat aku menangis, tertawa, cemberut, marah, sampai mengomel. Tapi kamu hanya tersenyum manis melihat pantulanku di sana. Saat-saat itu, aku selalu berpikir kita akan terus seperti ini selamanya. Setiap obrolan dan canda tawa yang kita bagi di atas motor, rasanya seperti perjalanan pulang dengan cerita yang tak pernah usai.  Aku tidak pernah berpikir bahwa suatu hari, spion kanan itu tak lagi menangkap wajahku. Karena aku sungguh percaya, kita akan terus melewati s...