Waktu terus berjalan, berputar, dan melewati isi kepala kita setiap saat tanpa pernah menyadari apa yang sedang kita rasakan. Entah saat itu menyenangkan, memusingkan, atau bahkan menyedihkan, baginya semua tetap sama. Memang begitulah cara kerjanya.
Pada dasarnya, waktu tidak pernah memberikan makna atas apa yang telah kita lewati. Ia hanya datang, berlalu, lalu menghilang tanpa membawa rasa. Waktu adalah kekosongan yang nyata, tetapi justru sering menjadi hal yang disalahkan.
Pada akhirnya, bukan waktu juga yang membuat sesuatu terasa semakin jauh. Waktu hanya lewat, tanpa pernah memilih siapa yang harus dipertemukan atau dipisahkan. Yang membuat jarak terasa menyakitkan adalah harapan, ekspektasi, dan keinginan untuk dimengerti oleh seseorang yang mungkin tak pernah benar-benar melihat kita seperti kita melihat mereka.
Mungkin itu sebabnya waktu kadang terasa begitu sunyi. Bukan karena waktu kehilangan sesuatu di dalamnya, melainkan karena keinginan kita untuk menjadi bagian dari waktu itu, sementara waktu itu tak pernah benar-benar mengerti apa yang sedang terjadi pada kita.
Yang paling menyakitkan bukanlah ketika sesuatu hilang dan pergi, melainkan ketika itu tetap ada, tetapi tidak pernah benar-benar mengenaimu. Kamu menghabiskan begitu banyak waktu untuk memahaminya, mengingat hal-hal kecil tentang itu, sementara dirimu sendiri hanya menjadi seseorang yang lewat di garis waktu itu tanpa menyadari dirimu telah hilang dalam diri seseorang. Ada jarak yang tidak bisa diukur oleh waktu ataupun tempat. Jarak yang tercipta karena perasaan yang terus tumbuh meskipun tanpa balas.
Pada akhirnya, kita tidak selalu menginginkan balasan yang sempurna. Terkadang, kita hanya ingin dipahami. Ingin seseorang melihat isi kepala yang selama ini terlalu ramai untuk dijelaskan dengan kata-kata. Barangkali itulah mengapa kita sering berharap bisa "menghilang" ke dalam dunia orang lain maupun waktu, agar mereka akhirnya mengerti tanpa perlu kita menjelaskan apa pun. Namun kenyataannya, tidak semua orang akan melihat kita dengan cara yang sama seperti kita melihat mereka.
Barangkali itu tidak mengapa. Ada perasaan yang memang tidak ditakdirkan untuk dimiliki, hanya untuk dirasakan. Kita hanya perlu menerima bahwa semua awal akan menjadi akhir dengan tenang. Sebab terkadang, memiliki pun juga berarti belajar merelakan, tanpa pernah berhenti menghargai apa yang sempat tumbuh di dalam hati.
Comments
Post a Comment