Skip to main content

Across The Room

Ada kalanya sebuah ruangan terasa begitu luas, bukan karena ukurannya, melainkan karena jarak tak kasat mata yang membentang di antara dua orang. Di tengah riuhnya percakapan dan tawa, selalu ada keheningan yang lahir bukan karena sepi, melainkan karena dua hati yang sama-sama memilih untuk diam.

Ini adalah tentang rasa yang tertahan di balik keraguan. Tentang dua orang yang berada di bawah atap yang sama, saling menyadari kehadiran satu sama lain, namun tak pernah memiliki cukup keberanian untuk melangkah lebih dekat. Beribu-ribu kalimat telah dirangkai di dalam kepala, berkali-kali disusun agar terdengar sempurna. Namun, semuanya berakhir menjadi rahasia yang tak pernah menemukan jalan untuk diucapkan.

Secara fisik, mungkin mereka hanya dipisahkan oleh beberapa langkah. Namun secara psikologis, jarak itu terasa sejauh jutaan kilometer. Bukan karena tak ada kesempatan, melainkan karena rasa takut yang perlahan tumbuh lebih besar daripada keinginan untuk mendekat. Takut diacuhkan, takut salah mengartikan, takut merusak semuanya, hingga akhirnya memilih bertahan di tempat yang sama.

Sesekali tatapan mata saling bertemu. Waktu seolah berhenti sejenak, memberi ruang bagi harapan untuk muncul. Namun momen itu kembali berlalu begitu saja, dikalahkan oleh kecemasan yang lebih dahulu mengambil alih. Yang tersisa hanyalah isyarat-isyarat kecil yang sengaja dibuat samar, dengan harapan orang di seberang sana cukup peka untuk memahaminya. Ironisnya, mungkin ia pun sedang melakukan hal yang sama.

Mengapa kita begitu takut melangkah, padahal hati keduanya mungkin sedang saling memanggil dalam diam?

Pertanyaan itu terus menggantung tanpa jawaban. Sebab sering kali bukan perasaan yang menjadi penghalang, melainkan bayangan-bayangan yang diciptakan oleh pikiran sendiri. Kita berulang kali membolak-balikkan lembaran kertas untuk menebak kemungkinan terburuk, hingga lupa bahwa kesempatan akan benar-benar hilang ketika tidak pernah diambil.

Waktu tidak pernah berhenti menunggu keberanian seseorang. Ia terus berjalan, membawa pergi setiap momen yang sebelumnya terasa begitu dekat. Riuh perlahan mereda, pertemuan berubah menjadi kenangan, dan ruang yang dahulu penuh harapan akhirnya hanya menyisakan keheningan yang diciptakan oleh diri sendiri.

Pada akhirnya, penyesalan terdalam sering kali bukan berasal dari kesalahan yang pernah dilakukan, melainkan dari langkah yang tidak pernah berani diambil. Karena ada hal-hal yang tidak bisa diulang, ada kesempatan yang tidak selalu datang untuk kedua kalinya, dan ada perasaan yang akhirnya hanya hidup sebagai pertanyaan tanpa jawaban.

Barangkali, kata yang paling berat untuk diucapkan bukanlah "aku mencintaimu", melainkan "maaf". Maaf karena membiarkan rasa itu tenggelam oleh ketakutan. Maaf karena memilih diam ketika semesta telah berkali-kali memberi kesempatan untuk berbicara. Dan maaf, karena pada akhirnya, yang tersisa hanyalah sebuah kemungkinan yang tidak pernah benar-benar diperjuangkan.

Comments

Popular posts from this blog

Republik Maya: Prologue

Prologue Di sebuah tempat bernama Republik Maya, orang-orang hidup berdampingan tanpa pernah benar-benar saling mengenal. Mereka berbicara setiap hari, tertawa di ruang obrolan yang sama, saling mengirim meme, musik, game dan cerita tentang hidup. Namun, di balik semua itu, ada satu aturan yang tak pernah tertulis, "Jangan bawa perasaan di grup" Raka tahu aturan itu. Semua orang tahu. Lalu datanglah Nara. Awalnya biasa saja. Ia hanya anggota baru yang sering muncul di kanal musik setiap malam. Suaranya tenang, dan caranya mendengarkan membuat siapa pun merasa dihargai. Mereka semua mulai sering berbincang. Tentang film, musik, konspirasi, sampai mimpi-mimpi yang bahkan belum berani mereka ceritakan kepada dunia nyata. Tanpa sadar, Raka mulai menunggu notifikasi yang hanya berasal dari satu nama. Kalimat itu berkali-kali muncul di kepalanya. Ia ingin mengatakannya. Sangat ingin. Namun setiap kali jari-jarinya menyentuh keyboard, kata-kata itu menghilang begitu saja. "Hi.....

After Kawi's story

Kali ini aku ingin menceritakan tentang pengalaman mengerikan yang kualami setelah perjalanan kami ke Gunung Kawi beberapa tahun lalu. Demi menjaga privasi dan kerahasiaan beberapa orang yang terlibat, aku akan menggunakan nama, tempat dan latar waktu samaran dalam cerita ini. Bukan karena ingin terlihat misterius, tapi karena ada hal-hal yang tidak bisa aku ceritakan secara terbuka. Aku hanya berharap, lewat cerita ini, kalian bisa mengambil pelajaran dan lebih berhati-hati kalau suatu hari nanti memutuskan untuk datang ke tempat yang sama. 2020, Desember - Libur Natal Pada waktu itu aku masih menjadi karyawan baru di sebuah kantor di Malang, Jawa Timur. Setiap akhir tahun, tepatnya di bulan Desember — bulan yang juga bertepatan dengan perayaan Natal bagi umat Kristiani — kantor biasanya memberikan libur selama lima hari sampai awal tahun 2021. Di kantor saat itu aku sudah punya beberapa teman di lingkungan kerja, salah satunya adalah Mas Deden. Dia merupakan karyawan senior yang su...

Spion Kanan

Hari demi hari berjalan, entah itu kemarin, hari ini, atau besok, kamu selalu sama. Dan tahukah kamu? Itu adalah bagian favoritku. Aku suka setiap kita berboncengan, mengendarai motor bersama, dan merayakan setiap kilometer yang terlewat di jalanan.  Aku bahkan tahu persis apa yang akan kamu lakukan selanjutnya. Memiringkan spion kanan ke arahku, lalu berbisik, 'Cantiknya'. Kamu membiarkan angin membawa kata-kata itu bersamamu, disertai senyum dan tatapan mata yang meneduhkan. Spion kananmu menangkap segalanya: saat-saat aku menangis, tertawa, cemberut, marah, sampai mengomel. Tapi kamu hanya tersenyum manis melihat pantulanku di sana. Saat-saat itu, aku selalu berpikir kita akan terus seperti ini selamanya. Setiap obrolan dan canda tawa yang kita bagi di atas motor, rasanya seperti perjalanan pulang dengan cerita yang tak pernah usai.  Aku tidak pernah berpikir bahwa suatu hari, spion kanan itu tak lagi menangkap wajahku. Karena aku sungguh percaya, kita akan terus melewati s...