Skip to main content

"Seberapa Pantas" by Sheila on 7

Ada cinta yang tumbuh tanpa disadari dan diminta, namun di dalamnya selalu ada keraguan. Dalam “Seberapa Pantas”, Sheila On 7 mengajak kita melihat sisi paling rapuh dari sebuah hubungan: saat dua orang saling mencintai, namun tidak selalu sepakat tentang bagaimana cinta itu harus diperjuangkan dan penuh keraguan maupun pertanyaan.

Lagu ini menceritakan seseorang yang sedang berada di persimpangan hati. Ada perasaan sayang yang begitu besar, tetapi juga pertanyaan yang tak kalah besar: Apakah semua ini layak? Apakah aku cukup pantas untuk ditunggu, atau justru akulah yang menunggu terlalu lama?

Keraguan itu bukan datang dari hilangnya cinta, melainkan dari tidak seimbangnya langkah. Seseorang merasa sudah memberi seluruh yang ia bisa, kesabaran, waktu, keyakinan. Sementara pasangannya masih mempertanyakan ketulusan itu. Di sanalah luka kecil mulai tumbuh, luka yang tidak terlihat, tapi terasa.

Dalam setiap baitnya, lagu ini seolah menggambarkan percakapan batin yang tidak pernah terucap. Pertanyaan “seberapa pantas?” bukan sekadar tuntutan, melainkan jeritan hati yang ingin dimengerti. Bahwa cinta tidak bisa hanya berjalan ke satu arah. Bahwa perasaan yang dijaga dengan sepenuh hati pun bisa melemah bila terus diragukan.

Namun di balik kegundahan itu, ada perjuangan yang tetap bertahan. Ada seseorang yang masih percaya bahwa cinta mereka layak diberi kesempatan, meski dipenuhi ketidakpastian. Ia ingin meyakinkan, ingin tetap berada di jalur yang sama, berharap suatu hari semua keraguan itu mereda.

“Seberapa Pantas” pada akhirnya adalah renungan tentang hubungan yang tidak selalu mulus. Tentang bagaimana cinta membutuhkan usaha dari dua arah, bukan untuk membuktikan siapa yang lebih mencintai, tetapi untuk memastikan bahwa keduanya berjalan bersama, bukan saling meninggalkan.

Lagu ini mengingatkan kita bahwa cinta yang sejati bukan hanya tentang memberi, tetapi juga tentang menerima. Dan bahwa pertanyaan “seberapa pantas” bukanlah bentuk melemah, melainkan keberanian untuk jujur pada diri sendiri: bahwa cinta yang sesungguhnya tidak hanya diperjuangkan, tetapi juga dihargai.

Comments

Popular posts from this blog

Republik Maya: Prologue

Prologue Di sebuah tempat bernama Republik Maya, orang-orang hidup berdampingan tanpa pernah benar-benar saling mengenal. Mereka berbicara setiap hari, tertawa di ruang obrolan yang sama, saling mengirim meme, musik, game dan cerita tentang hidup. Namun, di balik semua itu, ada satu aturan yang tak pernah tertulis, "Jangan bawa perasaan di grup" Raka tahu aturan itu. Semua orang tahu. Lalu datanglah Nara. Awalnya biasa saja. Ia hanya anggota baru yang sering muncul di kanal musik setiap malam. Suaranya tenang, dan caranya mendengarkan membuat siapa pun merasa dihargai. Mereka semua mulai sering berbincang. Tentang film, musik, konspirasi, sampai mimpi-mimpi yang bahkan belum berani mereka ceritakan kepada dunia nyata. Tanpa sadar, Raka mulai menunggu notifikasi yang hanya berasal dari satu nama. Kalimat itu berkali-kali muncul di kepalanya. Ia ingin mengatakannya. Sangat ingin. Namun setiap kali jari-jarinya menyentuh keyboard, kata-kata itu menghilang begitu saja. "Hi.....

After Kawi's story

Kali ini aku ingin menceritakan tentang pengalaman mengerikan yang kualami setelah perjalanan kami ke Gunung Kawi beberapa tahun lalu. Demi menjaga privasi dan kerahasiaan beberapa orang yang terlibat, aku akan menggunakan nama, tempat dan latar waktu samaran dalam cerita ini. Bukan karena ingin terlihat misterius, tapi karena ada hal-hal yang tidak bisa aku ceritakan secara terbuka. Aku hanya berharap, lewat cerita ini, kalian bisa mengambil pelajaran dan lebih berhati-hati kalau suatu hari nanti memutuskan untuk datang ke tempat yang sama. 2020, Desember - Libur Natal Pada waktu itu aku masih menjadi karyawan baru di sebuah kantor di Malang, Jawa Timur. Setiap akhir tahun, tepatnya di bulan Desember — bulan yang juga bertepatan dengan perayaan Natal bagi umat Kristiani — kantor biasanya memberikan libur selama lima hari sampai awal tahun 2021. Di kantor saat itu aku sudah punya beberapa teman di lingkungan kerja, salah satunya adalah Mas Deden. Dia merupakan karyawan senior yang su...

Spion Kanan

Hari demi hari berjalan, entah itu kemarin, hari ini, atau besok, kamu selalu sama. Dan tahukah kamu? Itu adalah bagian favoritku. Aku suka setiap kita berboncengan, mengendarai motor bersama, dan merayakan setiap kilometer yang terlewat di jalanan.  Aku bahkan tahu persis apa yang akan kamu lakukan selanjutnya. Memiringkan spion kanan ke arahku, lalu berbisik, 'Cantiknya'. Kamu membiarkan angin membawa kata-kata itu bersamamu, disertai senyum dan tatapan mata yang meneduhkan. Spion kananmu menangkap segalanya: saat-saat aku menangis, tertawa, cemberut, marah, sampai mengomel. Tapi kamu hanya tersenyum manis melihat pantulanku di sana. Saat-saat itu, aku selalu berpikir kita akan terus seperti ini selamanya. Setiap obrolan dan canda tawa yang kita bagi di atas motor, rasanya seperti perjalanan pulang dengan cerita yang tak pernah usai.  Aku tidak pernah berpikir bahwa suatu hari, spion kanan itu tak lagi menangkap wajahku. Karena aku sungguh percaya, kita akan terus melewati s...